My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#7 rasanya nyaman saja



Luvi bersiap ke acara Party grup W, tak seperti kebanyakan wanita2 lain, yang memakai gaun panjang nan indah, lengkap dengan heels.


Luvi justru memilih memakai rok hitam selutut ala korea, dan baju sabrina warna putih berbahan satin, yang membuat bahu putihnya sedikit terekspos namun tetap anggun dengan rambut panjangnya terurai.


Kemudian Dia memakai sepatu boots yang memiliki hak, namun tak tertalu tinggi.


Luvi juga datang bersama teman dekatnya yang bernama Clara, yang baru saja kembali ke Jakarta setelah beberapa bulan di rumah oma nya di kota A.


"Dah lama gak maen sama lu, langsung diajak party gue"


Celoteh Clara dalam perjalanan sambil membenarkan posisi rambutnya yang tidak berantakan


"Gue gak ngajak lo" Luvi menjawab acuh sambil menatap jalanan yang sibuk dipenuhi kendaraan berlalu lalang.


"Haha... iyain aja kenapa sih, biar gue ada jawaban pas ditanya ntar" terkekeh sambil memasang muka memelas ke arah teman sahabatnya itu


Luvi dan Clara adalah sahabat yang sangat dekat, mereka selalu bersama2 , makan, menonton, olaharaga bahkan mereka akan berlibur bersama ketika benar2 penat.


mereka sering bergantian menginap dirumah masing2, dan hari ini Clara mendatangi Luvi dengan maksud memberi kejutan atas kepulangannya,


namun melihat Luvi yang hendak berangkat ke acara tersebut ia meminta ikut serta,


ya apalagi alasan Clara kalau bukan mencari lelaki. Clara yang bersifat fu*k girl memang memiliki kebiasaan seperti itu, dekat namun tak ada kepastian, lalu menghilang. Dasar si Clara...


Clara dan Luvi telah tiba di Lobby, mereka membayar taxi dan segera turun.


bersamaan dengan itu,


Sebuah mobil sport di depan mereka juga turun seorang lelaki berperawakan seperti Jestine dengan setelan jas hitam dan kemeja putih tanpa dasi membalut tubuhnya, alis tebal dan wajah yang begitu rupawan, tersenyum ke arah security yang akan memarkirkan mobilnya.


"Woawwwww" Clara terpesona tanpa berkedip melihat lelaki tersebut


"PLAKKKK"


"Awuh...sakit Vi" keluh Clara yang tangan nya dipukul oleh Cia


"Liat yang begitu aja lu mangap" ketus Luvi kemudian berlalu memasuki gedung


*


Jestine duduk di depan hidangan party, kemudian ia berdiri setelah melihat kedatangan lelaki berjas hitam yang ditemui Luvi dan Clara di lobby tadi.


"Hey yoo. Whats up bro?" Mereka melakukan tos tangan ala anak gaul kemudian berpelukan


"Gilak lu Sam, makin laki lu ya"


"Oh jelas, boleh dicoba" tawa nya bangga menepuk pundak Jestine


"Gimana kerjaan lo?"


"Lancar, tapi satu yang gak oke" matanya memicing melihat ke wajah Jestine


"Apaan?"


"Gue jomblo, hahaha" tawanya garing, seolah menyesali seorang lelaki tampan tidak memiliki kekasih.


"Gue juga jomblo" terdengar sahutan seseorang, dan Sam segera memutar tubuhnya bingung


"Ehmm, kenalin gue Clara sahabat sekretaris teman kamu ini" Clara memegang segelas minum dan mengulurkan tangan kanan tersenyum memandang Jestine kemudian Sam


"Jestine, ini temen ku namanya...." belum selesai Luvi berbicara Jestine menarik tangan Luvi dan membawanya ke sebuah ruangan, menutup pintu dan...


Tanpa aba-aba Jestine memeluk Luvi dengan erat.


Luvi yang dibuat bingung mendorong tubuh Jestine,


"Ada apa Jestine?" Tanya Luvi lembut, namun ia juga merasa aneh tak biasa nya Luvi seperti ini


"Tolong, biarin. Biarin aku memeluk kamu" Jestine mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Luvi


Luvi menarik nafas dalam, kemudian menepuk-nepuk pundak Jestine, dengan maksud menenangkan.


Jestine yang merasakan kenyamanan, merenggangkan pelukannya, kemudian menarik tangan Luvi keluar ruangan dan menaiki lift menuju rooftop.


"Kenapa kesini Jest?" Tanya Luvi penasaran namun juga bingung tangannya masih di genggam oleh Jestin


"Kamu pernah bilang, terkadang seseorang akan kehilangan yang baik, untuk mendapatkan yang lebih baik"


"Lalu?"


"Aku udah mengakhiri hubunganku dengan Cia" Jestine menatap pemandangan lampu2 gemerlap dari gedung2 pencakar langit dengan sayu


"Apa kamu sudah menemukan bukti?" Luvi bertanya dan melayangkan pandangan ke arah tatapan Jestin


"3 bulan terakhir aku mencari bukti atas keanehan Cia, tapi aku masih menunggu saat yang tepat untuk melihat dengan mata kepala ku sendiri, dan kemarin aku telah menyingkap semuanya" Jestine masih memandangi kota tangan memegangi pagar rooftop.


"Jestin... itu keputusanmu dengan perasaanmu, kau yang paling tau isi hatimu, aku hanya berharap setiap tindakan yang kau lakukan sudah kau pikirkan" suara lembut itu begitu menelusuk masuk ke relung hati Jestine, sungguh dalam maknanya bagi Jestine, menenangkan dan menghanyutkan.


Jestine berpaling menghadap Luvi, menatapnya dalam dan... kembali memeluknya lembut, dan mengeratkan pelukan di tengah terpaan angin malam di rooftop.


"Kau sudah 2 kali memeluk ku" Luvi memukul bahu Jestine sambil tertawa pelan


"Ntahlahh, rasanya nyaman saja" Jestin melepaskan pelukannya dan membuang muka ke sembarang arah


Rasanya Jestine benar-benar malu dan kikuk.


*


Pesta berjalan dengan aman dan lancar, Jestine juga terlihat sedang duduk bersama rekan2 kerja nya menikmati hidangan.


"Kau abis dari mana? Rambutmu berantakan?" Tak menjawab Luvi malah balik bertanya


"Hehehe, aku berciuman" bisiknya di telinga Luvi pelan sambil tersenyum puas


Luvi hanya memutar bola matanya malas, ya begitu lah seorang Clara, semenjak dia di tolak oleh lelaki yang di sukainya di semester satu, kelakuan nya berubah menjadi liar hehe...


******


Luvi berbincang2 dengan Erick yang kebetulan juga datang di acara tersebut, Erick yang sengaja di suruh datang oleh Jestine, bermaksud untuk menghabiskan waktu bersama karena ketiga sahabat itu sekarang sudah lengkap dengan kembalinya Sam dari luar negeri.


Namun ketika datang, Erick tak menemui Jestine dan Sam, ia malah menemui Luvi di pintu toilet yang secara kebetulan pula Luvi adalah teman SMA Erick tapi beda jurusan.


"Wah, gak nyangka banget ternyata kita ketemu disini lagi" Erick masih tak percaya dengan kebetulan ini


"Aku masih lebih gak nyangka, kalau kamu malah sahabatnya Jestine" Luvi ikut tertawa pelan


"Jestine itu bucin" sindir Erick pecah melihat kedatangan Jestine ke arah mereka


Bukannya menyapa Erick, Jestine malah menarik tanganmu menjauh dari keramaian, menyuruhmu duduk disebuah kursi dan meletakkan sepotong kue dan minuman.


"Tunggu disini, aku akan kembali" tegasnya tanpa memandang Luvi


Luvi kebingungan dan bertanya2 ada apa, namun tak dihiraukan oleh Jestine. Ahhh selalu saja begitu... dia pasti selalu begitu... anehhhh


PLAKKKK


"kau ya, baru dateng udah dekat2 Luvi" Jestine memukul kepala Erick dengan wajah datar


"Lah, kenapa?"


"Masih banyak tuh, yang lain" Jestine menunjuk satu-satu staff dan karyawan wanita di kantornya


"Aishhhh, mana sam?"


"Gatau, mungkin nyari mangsa"


"Wah,, kau memperbolehkan si Sam itu mencari mangsa yang notabene nya penduduk perusahaanmu?"


"Wah saraf lu Jest,"


Jestine terperangah dan kembali mengingat Luvi, ah sialan kalo Sam menggoda Luvi juga.


"Ayo pulang, acara kita bertiga di bar saja lusa" Jestine berdiri dan buru2 menuju meja Luvi,


Namun tak ditemui nya Luvi, Ia merogoh ponselnya di kantong hendak menelpon


"Jest, kamu ada liat Clara gak? Teman yang datang bersamaku tadi?" Luvi datang tiba2 mengagetkan Jestine


Jestine tak menjawab, malah meraih tangan Luvi keluar dan mengajaknya ke mobil.


"Apasih Jest, kamu dari tadi main tarik-tarik aja" Luvi berusaha melepaskan cengkreman tangan Jestine


"Clara aja ga tau dimana, aku mau cari dia dulu"


"Telpon aja" Jestine melepaskan genggaman nya dan menyodorkan ponsel.


Ahhhh tak diangkat.. kemana diaa...


"Ayo ku antar pulang, udah malam" Jestine mengambil ponsel dari telinga Luvi yang terus menerus menghubungi Clara namun tak diangkat.


"Tapi Clara...gimana..?"


"Nanti, aku suruh Sam yang mengantarnya, tapi aku melihat Clara bersama Sam" ayo masuk Jestine telah membuka kan pintu mobil menyuruh Luvi segera masuk


"kenapa gak bilang dari tadi" ketus Luvi masuk mobil


"Tenang aja, Sam sahabatku, kalau ada apa2 dengan Clara aku akan meninju wajah tampan nya itu" Jawab Jestine seraya menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan gedung tersebut.


hening selama perjalanan.... hingga Luvi membuka suaranya


"Jest, bisa ga kita mampir ke restorant SeoulWo di depan situ?" Luvi bertanya sedikit kikuk karena takut merepotkan apalagi ini sudah malam


"mau ngapain?


"aku pengen beli ramyeon, terus kalo beli disitu dapat photocard BTS loh" Luvi menjawab kegirangan dengan gemasnya


"BTS, BTS terosssss" ketus Jestine, namun ia tetap memarkirkan mobil tepat di restorant tersebut


Semenjak Kedekatan mereka Jestine telah tau, kebiasaan Luvi yang mengoleksi photo2 idolanya itu,


bahkan Luvi mengenalkan nama-nama member BTS tanpa bosan kepada Jestine tapi sialnya Jestine tak pernah hafal nama dan wajah mereka.


setiap ia dan Luvi melakukan perjalanan untk makan, nonton atau hanya berjalan-saja. ia akan menyetel lagu2 BTS di mobil Jestine. kadang membuat Jestine jengkel dan mematikannya.


Luvi juga kadang menari2 seperti idolanya itu, bernyanyi yang artinya ntah apa yang tak dipahami oleh Jestine, Jestine hanya menggeleng2 kepala bila hal itu dilakukan Luvi.


"lama2 kamu gila, sama oppa2 mu itu" ketus Jestine membuka pintu mobil


"yang penting bahagia"


"emang kek kamu galau hahaha.." Luvi segera berlari memasuki Restoran tersebut sambil tertawa senang


...■■■■■■■■...


Semakin dekat lo Jestine dan Luvi, pantengin terus ya. happy reading💜