My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#6 aku hanya jaminan



...~3 bulan kemudian~...


Suara tepuk tangan bergemuruh di sebuah ruang rapat di gedung 20 lantai itu, di podium sana nampaklah seorang lelaki muda tampan yang sedang menyampaikan pencapaian perusahaan selama 3 bulan terakhir. Jestin juga mengangkat beberapa petingi2 perusahaan untuk membantunya di anak2 perusahaan yang ia pegang. Sehingga sekarang ia tidak akan terlalu sibuk lagi.


"Untuk merayakan keberhasilan kita semua, saya akan mengadakan acara untuk kita semua"


"Atas semua kerja keras, waktu dan tenaga yang telah kalian sumbangkan" Jelas Jestin mantap


Wahhhhh.... semua staff dan karyawan menyambut bahagia hal tersebut. Apalagi Semua karyawan dan staff, jabatan tinggi dan rendah semua di undang tanpa terkecuali.


"Wahh... baru kali ini perusahaan mengadakan pesta begini"


"Aku akan membeli gaun tercantik nanti"


"Aku akan tampil cantik saat acara"


Semua penduduk perusahaan itu seketika heboh.


****


"Vi, aku akan ke luar kota besok, urusan perusahaan sudah aku titipkan pak Dino, kalau ada apa2 hubungi pak Dino ya" Jestin berbicara sambil menutup laptop dan dokumennya kemudian berlalu pergi


"Jadwalmu pribadi ya?, baiklah hati2" jawab Luvi yang kebetulan ada diruangan Jestin bersama pak Dino untuk membahas berkas yang perlu diperbaiki Luvi


"Pasti masalah dia dengan wanita itu lagi" gumam pak Dino sambil menggeleng kepala


*****


Di kota XYZ


Jestin tiba di hotel tujuan nya, ia menuju kamar yang telah dia pesan sebelumnya. Ia membuka handle pintu dan menempel room card kemudian melemparkan tasnya sembarang arah, mengacak pinggang dan menendang nakas di samping kasur. Jestin mengacak rambutnya frustasi.


"ARRGGHHHHhhH" Emosinya memuncak dan kembali menendang nakas, kemudian menjatuhkan dirinya ke atas kasur.


Pandangan nya kosong menatap arah langit2 kamar hotel tersebut, ia menarik nafas dalam2 dan memijat pelipisnya perlahan, sesekali meraup mukanya yang memerah bak udang rebus.


*Flashback On*


Sebelum menuju ke hotel, Jestin sengaja mampir di Caffe dekat hotel karena menurut informasi yang ia dapat dari orang suruhan nya, Cia akan bertemu dengan orang itu di Caffe ini


Jestin duduk di sudut ruangan yang berdekatan dengan meja Cia, walaupun dekat namun terhalang oleh sebuah gucci besar dan tumbuhan hijau sebagai hiasan indoor di Cafee ini


Tak lama kemudian datang seorang pria tinggi, berhidung mancung dan bertubuh atletis nampaknya ada gen luar mengalir di tubuhnya alias Bule. Bukan teman Cia yang selalu ia unggah di media sosial, bukan pula lelaki yang selalu berfoto dengannya. Lalu siapa?


"Mike, kenapa lama?" Tanya Cia yang langsung memeluk mike kemudian tanpa segan mengecup dan ******* bibir pria itu


Jestin yang melihat kejadian itu membulatkan matanya, mengepalkan tangannya, ingin sekali ia meninju pria sialan itu.


"Aku merindukanmu" terdengar bisikan di sela2 ciuman mereka


"Mike, aku akan segera mengakhiri hubunganku dengan Jestin. Tapi sekarang bukan saat yang tepat karena Jestin sekarang sudah jadi seorang CEO di perusahaan keluarganya" Cia beralih ke dalam pelukan Mike dan mendekapnya erat


"Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya jaminan untuk hidup kita dimasa depan? Papa harus melihat bahwa kau juga pantas seperti Jestin menjadi pendampingku" Rengek Cia masih dalam pelukannya


Sialan...... darah Jestin serasa mendidih mendengar semuanya, giginya gemeretak. Namun, ia mencoba menahannya sekali lagi.


"Ternyata, aku hanya sebagai jaminan kalau Cia tidak jadi dengan pria itu, benar2 tak ku sangka ternyata kamu selicik ini Ci" lirih Jestin dalam tatapan tajamnya


"Aku akan segera memegang perusahaan papa Ci, karena itu bagianku tapi sekarang Papa belum memberikan hak penuh kepadaku" suara berat itu menjawab dan sekali2 menciumi Cia


Aishhhhhhhhh Brengsekkkkk


Seperti harimau keluar dari kandangnya, Jestine menatap tajam seperti hendak membunuh, emosinya tak bisa dikendalikan dan seketika "Brakkkkk" satu tumbukan mendarat di muka Mike


Tak puas dengan itu Jestin meraih kerah baju Mike dan menghantamnya berkali, namun Mike tak tinggal diam. Dia balik meninju Jestine berkali2 hingga di lerai oleh beberapa security Caffe tersebut.


Darah menetes di sudut bibir Jestine, ia terengah2 menatap Cia yang ketakutan sekaligus kebingungan, Cia bingung karena ini tempat yang jauh, kota yang ia rencanakan agar tak ketahuan.


Jestin berdiri dan berjalan ke arah Cia dengan tatapan yang mematikan.


"Walaupun aku sangat marah padamu, aku tak akan memukulmu, itu sebagai imbalan karena kau sudah baik padaku selama ini" ucap Jestin di depan wajah Cia


"Setahun bekalangan ini, aku selalu percaya kepadamu, meski aku selalu merasa sikapmu aneh. Aku hanya berpikir aku bisa membuktikan pikiranku dikala itu suatu saat nanti, dan ternyata hari ini semua itu terlihat jelas" Jestin Bersuara berat menahan sesak di dada


"Tak perlu kau memutuskan aku, aku yang akan memutuskan hubungan ini" Tegas Jestin menatap dalam bola mata Cia penuh penekanan.


Cia hanya diam gemetaran, selama mengenal Jestine baru kali ini ia melihat Jestin seperti itu. Bagaimana tidak? Selama mereka berpacaran Jestin adalah orang yang humoris dan romantis, Cia menelan salivanya berat. Matanya berkaca2 tidak tau apa yang harus dilakukan. Namun, ketika melihat Mike bangun sempoyongan ia berlari ke arah Mike dan membopongnya


"Jestine, aku bisa jelasin semuanya" Cia berkata seolah memohon


"Jelaskanlah yang perlu kau jelaskan, itu takkan mengubah keputusanku" tegas Jestine seraya berlalu


~Flashback off~


Jestine kemudian turun ke arah bar hotel, dan memesan beberapa gelas wine. Ia minum dan terus minum tanpa henti hingga ia diamankan oleh petugas bar.


Jestine yang sedang kacau tersebut sudah meracau, tubuhnya lunglai sedang di papah oleh petugas bar menuju kamarnya, petugas itu mengetahui kamar Jestine setelah mengecek nomor kamar yang tertera di room card hotel di kantong celana Jestine.


*


"Paling petugas bar yang mengantarku" pikir Jestine


Ah sudahlah tak perlu siapa yang mengantar, Jestin kembali teringat masalah tadi malam.


Brengsekkk!!


Sialan!!!


Jestine menggeram lagi


Ia kemudian meminum teh yang sengaja ia pesan sama petugas hotel untuk menenangkan pikirannya. sebenarnya, Jestine bersyukur atas kejadian ini, dia bisa mengetahui kelakuan Cia sebelum ia menikah, sebelum dia terikat lebih jauh dengan Cia.


Lagipula banyak orang di luaran sana yang diselingkuhi pasangannya tapi masih hidup dan bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik lagi, Jestine terus bergelut dengan pikirannya itu, dia berusaha menetral emosinya dan memaknai semua kejadian semalam, serta menyemangati dirinya sendiri yang rapuh setelah tau pengkhianatan itu.


thiingggg


"kapan, kau pulang? isi pesan tersebut yang ternyata dari Luvi


"sore aku akan pulang" balas Jestine singkat


"baiklah, aku hanya mengingatkan besok acara merayakan pencapaian di kantor" Luvi memberi alasan kenapa ia menanyakan kapan Jestine pulang.


memang selama 3 bulan belakangan ini, hubungan Jestine dan Luvi dekat. mereka selalu menghabiskan waktu bersama, apalagi waktu Cia selalu menolak untuk di temui. Jestine akan mengajak Cia keluar, sekedar makan, nonton atau hanya bermain.


Jestine pun mulai memahami sifat2 Luvi. bagi orang yang baru mengenal Luvi pasti akan menganggap Luvi wanita yang pemalu dan pendiam, tapi sebenarnya Luvi adalah wanita yang latahan dan suka menari2 mengikuti idolanya.


Luvi juga seorang yang mandiri, dia sudah terbiasa hidup tak bergantung pada orang lain.


Luvi juga seorang pendengar yang baik, selama ini Luvi adalah tempat curahan hati Jestine selain Erick sepupunya yang calon dokter itu.


****


~sore hari Jestine tiba di rumahnya~


"mam.... " Jestine langsung mencomot biskuit yang hendak mama Lusi makan


Lusi yang mengetahui sifat kekanakan Jestine sudah tak heran lagi. namun Lusi terkejut melihat lebam disudut bibir Jestine


"Jest, kamu kenapa ini? tanya Lusi seraya memegang lebam tersebut


"digigit nyamuk mam" jawab Jestine asal sambil terus memakan biskuit dengan lahap


"plakkk" Lusi memukul bahu Jestine


"mama gak bodoh juga percaya aja ini di gigit nyamuk, pasti kamu berantem ya?" tuduh mama nya yakin, karena biasanya Jestine begini kalau habis berantem


"hehe... latihan tinju ma di tempat gym, samsak nya marah mukul aku balik hehe" Jestine cengar cengir


mama Lusi hanya geleng2 kepala mendengar semua jawaban anaknya tersebut, memang tak heran Jestine akan seperti itu, hanya masalah perusahaan lah dia akan berubah sangat serius.


Jestine berlalu menuju kamarnya, ia menaiki anak tangga perlahan dan ketika melewati kamar Jolyn ia menggedor2 kasar pintu tersebut, kemudian berlalu begitu saja. dasar si Jestine usil....


mama Lusi penasaran, kemudian ia mengambil ponselnya dan menelpon Erick, ya Erick sepupu Jestine. biasanya apabila Jestine pergi berlibur, atau hanya ke bar dan ke Caffe, Erick lah yang paling tau.


"Hai Rick, maaf tante ganggu, ada yang ingin tante tanyakan" mama Lusi memulai pembicaraan


"ada apa tante?" tanya Erick di kejauhan sana


"apa kau pergi bersama Jestine ke kota XYZ kemarin?" tanya Lusi, menyampaikan tujuannya menelpon


"tidak tante, aku aja selama seminggu ini sibuk praktek. Memangnya Jestine bilang bersamaku?" Erick curiga Jestine berbohong membawa namanya


"Tidak..Tidak. tante hanya penasaran.berarti dia pergi sendiri. makasih ya Rick, salam untuk mama papa ya" Lusi buru2 menutup telepon.


Kemudian Lusi mengambil kotak p3k dan membawanya ke kamar Jestine.


Lusi melihat wajah lelah penuh kesedihan terlelap di atas kasur king size abu2 itu, ia membelai rambut Jestine lembut.


"pasti kamu ada masalah sama kekasihmu itu nak"


"mama tau cerita kamu dari Erick, dia selalu cerita sama mama bahwa kamu sedang tidak baik2 saja"


"jangan menyiksa diri dengan terus bertahan nak, perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan tinggalkan jika memang sudah tak pantas dipertahankan" gumam Lusi masih menatap Jestine teduh


karena Jestine telah tidur, ia meletakkan kotak obat tersebut di nakas saja, supaya besok bisa langsung di obati oleh Jestine. ia pun mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.


"papa pasti bangga punya anak tak gampang mengeluh seperti kamu Jestin" bisik mama Lusi berkaca2


...■■■■■■■■...


sepertinya hati Jestine remuk banget ya, tapi dia tak mau terlihat lemah. happy reading💜