
Jam menunjukkan pukul 14.15, Luvi merasa sedikit pegal dibahunya, ia kemudian memijat pelan bahunya. Rasanya lega mengingat Luvi bisa bekerja sekarang, ia berharap semua hal yang dia kerjakan dapat membantu kehidupannya dan ia bisa menabung untuk membeli album, aksesoris bahkan tiket konser nanti. Luvi melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan dokumen yang di minta Jestin, bekerja sambil bersenandung rasanya membuat Luvi lebih semangat, ia menyanyikan lagu Love Myself yang dinyanyikan boyband kebanggaannya itu.
Namun tiba2 Luvi teringat ...
"teman"
"Kita bisa berteman"
"Sebenarnya maksud pak Jestin apa sih?"
"Teman yang bagaimana?"
Seketika Luvi terperangah dan menutup mulutnya
"HAAAHHHHH!!!" Matanya melotot
Luvi tersadar, mungkin yang dimaksud adalah teman di ranjang atau seperti yang ia tau di drama2 dan novel hubungan CEO dan sekretaris begitu. Luvi menelan saliva nya membayangkan bila itu benar.
Sebenarnya, sebelum jadi sekretaris dia juga takut dengan keadaan seperti yang ada dipikirannya saat ini, namun saat tadi makan siang ketika membahas perkara teman, ia terlalu lapar hingga tidak berpikir sejauh itu.
CLEKK...
Pintu terbuka dan masuklah sesosok lelaki tampan, dengan tubuh atletis terbalut setelan jas rapi namun tidak terlalu formal, memakai sepatu sneaker dan model rambut front puff.
"Luvi, kecilin musiknya" tegur Jestin
Luvi sibuk dengan pikirannya, hingga ia tidak menyadari Jestin datang.
Menyaksikan hal itu, muncul lah ide konyol Jestin.
"LUVVIIIIII!!! ia berteriak di telinga Luvi dan bersamaan dengan itu ia mengencangkan suara musik hingga full.
BRRRAAKKKK..
Luvi oleng dan terjatuh dari mejanya, ruangan dipenuhi suara gaduh dan berisik musik.
"HAHAHAHAHAHAHHHHHHHAH" Jestin yang melihat hal itu tertawa terpingkal2, hingga perutnya terasa sakit, namun tidak di dengar oleh Luvi karena suara musik.
Luvi yang terjatuh dilantai menetralkan detak jantungnya yang berdegub kencang karena kaget, ditambah lagi ketakutannya, yang ternyata Jestin lah yang meneriakkan namanya.
"Matilah aku, melamun di tempat kerja, ga profesional" batin Luvi
Ia berusaha berdiri, karena tadi ia terjatuh ke samping kursinya tepat di bawah mejanya, Luvi buru2 mematikan musik dan menghadap Jestin, dan anehnya Jestin tertawa seperti melihat pertunjukkan badut.
Melihat hal itu, hilang sudah ketakutan Luvi
Ia malah merasa kesal dan spontan melempar buku catatan ke arah Jestin.
"GAK LUCU YA JESTINN" geram Luvi tanpa memperhatikan kata2nya lagi
Jestin menghentikan tawanya, dan memungut buku catatan yang di lempar Luvi namun terus tersenyum
"jadi ternyata begitu, sekretarisku yang Lugu dan profesional ini ketika kaget..hehe" jawabnya sambil berlalu keluar
Luvi mengacak pinggang, ia benar2 kesal.
Tadi ia mengira bakal diperhadapkan dengan wajah dingin dan marah seorang CEO yang mengetahui pekerja nya tidak becus bekerja, karena melamun. Tapi malah kebalikannya, Jestin tertawa hingga sempoyongan.
"Iiihh aneh seorang CEO kayak gitu" gumam Luvi
Namun ia tertegun, mengingat reaksi dan kata2 nya tadi.
MELEMPAR Buku catatan, dan berteriak menyebut nama Jestin tanpa panggilan pak
"Segitu lucukah mukaku, hingga aku melempar buku dan meneriakkan namanya, ia tampak tak peduli malah terus tersenyum dan tertawa" Luvi berpikir tentang keanehan kejadian itu
"Apa itu yang ia maksud teman"
"Jadi dia telah menganggapku teman, makanya dia tidak marah?" Luvi bergumam dan bingung sendiri
"Dasar CEO aneh" cibir Luvi memutar bola matanya malas
Ia kembali duduk dan hendak kembali bekerja, rencana nanti sebelum pulang ia akan ke ruangan Jestin dan meminta maaf.
Sekalipun mungkin teman seperti itu yang dimaksud Jestin, Luvi tetap merasa tak enak telah melempar buku dan meneriakkan namanya, yaa Luvi berusaha profesional.
Tok... tok
Luvi mengetuk pintu ruangan Jestin dan masuk, ternyata Jestin sedang bersiap pulang dan merapikan dokumen2 nya.
Melihat Luvi yang datang, Jestin langsung menahan tawa dan memandang ke arah lain.
"Maaf mengganggu pak, saya ingin minta maaf atas kejadian tadi" ucap Luvi dengan lembut
"Dan perkara saya melamun, ada hal penting yang saya pikirkan hingga membuat saya tidak fokus bekerja, jadi saya minta maaf atas semua itu" Luvi memberi penjelasan
"Kamu yakin meminta maaf saya?" Tanya Jestin menatap Luvi
Deg
Luvi seketika merasa gentar, dengan kata2 itu ia teringat hal2 penyebab ia melamun tadi
"Iya saya yakin, dan mohon maaf pak Jestin jangan mengagetkan saya lagi, karena saya orangnya tremor dan latahan pak" jawab Luvi supaya pembicaraan tidak mengarah ke yang ia pikirkan
"Kamu traktir saya ya makan malam nanti, baru saya maafkan" jawab Jestin enteng sambil berlalu keluar yang ternyata pak Dino telah menunggu di depan pintu
Luvi termangu, traktir? CEO minta traktir? Makan malam?
Aneh... anehh...
Makanan apa yang harus ku traktir? Di restoran mana?
Kenapa harus traktir dan makan malam? Apa salahnya langsung memaafkan saja atau traktir makan siang saja misalnya....
****
"Anjirrr ni si Jekey kamu lucuuuu bettt disini"
"Itu kenapa Taehyung usil banget sama si dedek Jekey"
Hahahah... haha
Luvi tertawa dan bertingkah gemas akan apa yang ia tonton di smartphone nya. Luvi berbaring ke kiri dan ke kanan.
Trrtttttt...trrrtttttttttt...
Nama pak Dino muncul dilayar panggilan hp Luvi
"Ada apa pak Dino malam2 telepon" gumam Luvi
Nomor pak Dino memang sudah disimpan Luvi di hp nya, karena semenjak datang ke kantor dan menjadi sekretaris, pak Dino meminta saling menyimpan nomor telepon agar mudah mengabarinya mengenai keperluan Jestin dan pekerjaan.
Luvi mengusap layar Hp nya "Iya, selamat malam pak Dino. Ada apa?"
"Luvi, Jestin telah menunggu kamu di restoran" terdengar suara pak Dino dari kejauhan
Luvi teringat perkataan Jestin tadi sore, yang sebenarnya ia malas menanggapinya. Ia hanya berharap Jestin hanya bercanda. Ternyata dia serius.
"Nerafa Caffe ya" nanti saya share lokasinya langsung
Luvi hanya mengiyakan pembicaraan pak Dino itu, Luvi telah menebak pasti Jestin yang meminta pak Dino menghubunginya. huhh.. sok berwibawa pake nyuruh asisten...
Kemudian, secepat kilat ia bergegas memakai hoodie hitam bertuliskan Jeon Jungkook dan ripped jeans, tas dan sepatu sneaker kesayangannya. Ia benar2 tampil apa adanya sekarang mengingat Jestin yang telah menunggu.
Ia hanya takut, ia yang rencananya mau meminta maaf malah tidak dapat maaf karena di cap lupa janji, apalagi ini atasannya.
Luvi meluncur ke Caffe tersebut, 15 menit kemudian ia sampai.....
Luvi mencari2 keberadaan Luvi, dan seorang waitres menghampirinya dan menunjukkan meja Jestin.
Jestin yang memakai baju santai oversize dan celana ripped jeans juga terlihat santai, seperti anak kuliahan ia juga memakai topi hitam yang membuatnya semakin menawan. Namun dimata Luvi Jestin tetaplah aneh.. CEO anehh
"Hallo pak, maaf saya lupa kalo malam ini saya harus traktir pak Jestin makan malam" Luvi menyapa seraya menarik kursi untuk duduk
Jestin memandang Luvi sambil memperhatikan pakaiannya "penampilan kamu benar2 jauh dari seorang sekretaris" celotehnya
"Sikap bapak juga jauh dari seorang CEO" balas Luvi tak mau kalah
"Sekretarisku yang profesional, aku mau pesan kamu boleh ga?" Tanya Jestin melirik Luvi smirk
Apa2an ini lirih Luvi, ia bergelut lagi dengan pikirannya seperti tadi siang
"Pesan apa pak? Nanti saya yang bayar, sesuka bapak, terserah bapak?" Jawab Luvi gelagapan dan langsung memanggil pelayan
"Sphagetty Brulee dan es Americano" jawab Jestin cepat menahan senyum ke arah Luvi
"Aku Chocomilk shake saja, aku sudah makan" Luvi menyebutkan pesananya sambil melirik Jestin,
"Kamu tinggal dekat sini?" Tanya Jestin menetralkan suasana canggung Luvi
"Iya pak, tak jauh dari sini"
"Kamu tinggal sama siapa?" Tanya Jestin lagi
"Saya kost pak, saya sendirian di kota ini sejak SMA, Keluarga saya di kampung" jawab Luvi
"Hmmm... " gumaman itu yang terdengar dari mulut Jestin
"Luvi, sebenarnya aku gak masalah tentang yang tadi siang di kantor, aku kesini hanya ingin mengajakmu makan ya itung2 biar lebih saling mengenal, kan kamu sekretaris aku" Jestin menjelaskan dengan santai tak ada yang aneh dengan tatapannya
"Lagian kita seumuran, dan tadi siang kita juga dah bahas kalo kita berteman" sambungnya lagi
"Mungkin kamu merasa aneh atas sikapku tadi, tapi kamu itu lucu. Jujur aku kagum sama setiap penuturan kamu dan cara kamu bersikap terhadap aku, aku aja belum tentu bisa kayak gitu padahal kan kita seumuran" terangnya lagi
Ya, itu adalah kejadian siang tadi selepas makan siang, Luvi membantu menjelaskan perseteruan kecil Jestin dan client nya, mereka berdebat mengenai gaya pemasaran yang menurut mereka masing2 berbeda.
Dengan penuturan lembut namun tegas, Luvi menengahi dan memberikan jalan keluar atas persoalan itu.
Jestin yang mudah tersulut emosi merasa kagum dengan penjelasan Luvi. Namun ia berlalu begitu saja meninggalkan Luvi dan clientnya itu.
"Terus dibalik profesionalnya kamu itu, kamu suka joget2 ga jelas, menghayal ga jelas.. hahaha..ha" sindirnya terkekeh
"Itukan tugas seorang sekretaris, kalau masalah joget dan menghayal itu mah urusan gue pribadi" jawab Luvi judes
"Saat ga di kantor atau kita berdua doang, emang panggilan seperti itu yang gue mau" jawabnya beralih topik ke masalah panggilan
"Berasa tua gue di panggil bapak..hehe"
Pesanan mereka pun datang.
"Selamat menikmati" waitres tersenyum ramah
"Thanks ya" jawab Jestin sambil mengedipkan matanya menggoda waitres tersebut
Waitres tersebut tersipu malu, dan segera berlalu
"Ihhhhh... genitnya ..."lirih Luvi
Mereka pun menikmati makan malam tersebut, tepatnya hanya Jestin yang makan. Mereka saling bercerita tentang pendapat mereka mengenai dunia kerja dan perkhayalan dan perhaluan Luvi yang menurut Jestin tak masuk akal"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hai Readers, ini karya pertama aku jadi masih jauh dari kata sempurna. happy reading💜