
...~6 bulan kemudian~...
Hubungan Jestine dan Luvi semakin baik hari demi hari.
Trauma di pikiran Luvi perlahan hilang, sejalan dengan perlakuan dan kebaikan Jestine yang senantiasa berada di sisinya.
Bahkan saat ini Luvi sudah dinyatakan Lulus oleh Universitas tempat dia kuliah, setelah mengikuti sidang akhir beberapa waktu lalu.
perjuangan yang panjang bagi Luvi untuk mendapatkan gelarnya dengan otak yang pas-pasan di jurusan yang ia jalani, itu sama sekali bukan bidang yang diminatinya.
Jestine pun telah menjadi pengusaha besar yang handal, berbagai prestasi telah di pecahkan selama Ia menjabat sebagai CEO, dia berhasil membuka beberapa cabang perusahaan di kota-kota lain.
Dulu Jestine banyak disukai para wanita diluar sana karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul, sekarang Jestin berubah jadi sosok yang dingin dan pendiam terhadap orang asing, membuat wanita lain segan untuk mendekatinya.
perubahan itu Jestine lakukan untuk membuktikan pada Luvi bahwa ada laki-laki yang mengagumi, menyayangi dan mencintainya sesuai dengan kriteria karakter lelaki yang diidamkan Luvi.
bagi Luvi Jestine tak pernah berubah, Jestine tetap orang yang menyebalkan dan sifat itu juga yang membuat Luvi sangat merindukan Jestine ketika dia tak berada di Jakarta. karena alasan beberapa hal Jestine pernah harus berada di Kota B selama beberapa bulan untuk mengurusi kepentingan usaha bisnis, saat itulah Luvi merasa kehadiran Jestine sangat berarti, ia berusaha menepis kesepian dan menghubungi Jestine setiap hari.
walaupun hanya membicarakan ledekan atau candaan ringan.
selama seminggu terakhir ini, Luvi tak lagi menjadi sekretaris Jestine. karena Luvi memilih resign untuk menjadi penulis novel dan mengembangkan jiwa seninya dengan mengikuti kegiatan melukis dan mendesain baju.
Sekretaris Jestin di gantikan oleh Triananda, teman sekelas Luvi, yang kebetulan membutuhkan pekerjaan ketika Luvi hendak berencana resign.
Hubungan Jestine dan Luvi semakin dekat, seperti halnya pasangan. padahal keduanya tak pernah menyatakan perasaan satu sama lain.
tapi sudah jelas bukan, bahwa perasaan itu tak perlu diungkapkan, cukup buktikan dengan tindakan. dan begitulah mereka.
Jestine merasa belum pantas menyatakan dirinya bisa menjaga dan melindungi wanita yang di kaguminya itu sepenuhnya, sedangkan Luvi merasa ragu dengan perasaannya, takut saja jika Jestine suatu saat berubah dan membuka luka lama kembali
itulah mengapa mereka masih tetap berdiam diri, dan tidak pernah mengungkapkan perasaan satu sama lain.
Jestine juga sudah menceritakan Luvi kepada Lusi mamanya, dan Jolyn adiknya.
kedua orang terdekat Jestine itu mendukung dan selalu memberikan saran kepada Jestine agar bisa meluluhkan hati Luvi.
Jollyn yang jahil selalu memberi saran dengan imbalan uang jajan, ya begitulah akal bulus Jolyn mengelabui kakaknya sedang di mabuk asmara.
****
hari ini Luvi mengiyakan ajakan Erick dan Clara untuk pergi makan malam bersama.
sebenarnya Luvi sedikit keberatan karena seharian lelah mengerjakan aktivitasnya.
tapi karena menghargai Clara dan Erick, Luvi menyetujui ajakan tersebut.
Clara baru saja kembali dari kota A karena omanya meninggal beberapa waktu lalu. sudah lama tak bertemu tentu membuat Clara merindukan Luvi
semenjak kejadian malam di apartemen Luvi, Clara merasa tidak enak kepada Luvi yang membawa masuk orang asing karena dia dibawah pengaruh alkohol, dengan kesungguhan permintaan maaf dia pindah mencari tempat tinggal lain berpisah dengan Luvi.
Sifat Clara yang buruk juga sudah mulai hilang semenjak dia mengenal Erick yang bersifat penyabar dan lembut.
Erick mengirim lokasi Caffe tujuannya kepada Luvi, dan sepakat bertemu disana saja. sengaja tak mau dijemput oleh Erick dan Clara karena tak mau merepotkan.
dia juga tak memberitahukan ini pada Jestine, karena berpikir Jestine akan meminta ikut.
itu akan mempersulit gerak Luvi karena Jestine suka memarahi nya dengan alasan yang tak jelas ketika ada lelaki lain bersama mereka. ya sekalipun Erick adalah teman dan sepupu Jestine. hehe...
Luvi telah bersiap untuk pergi. Luvi tetap mengenakan gaya berpakaian kasualnya.
memakai kaos putih dan celana jeans simple, dipadukan dengan sepatu boots nike membuat penampilannya seperti anak tongkrongan.
Taxi online yang dipesan Luvi melesat dengan sangat cepat melewati jalan raya yang tak terlalu macet malam ini.
tak butuh waktu lama, Luvi telah tiba di Caffe yang menjadi tujuannya.
kejauhan sana terlihat Clara dan Erick telah menunggu dengan banyak macam hidangan yang mereka pesan terlebih dahulu
"wah... kalian pasti sangat lapar" Luvi memandangi hidangan yang sangat banyak tersebut.
"hai Vi..." Clara menempelkan pipinya ke pipi kiri dan kanan Luvi
"lama ga jumpa ra, kamu makin cantik" puji Luvi tersenyum
"kecantikan ku takkan pernah pudar" Clara menirukan orang yang sedang berpidato
dengan keyakinan nya
"ah.. sudah ayo makan dulu" ajak Erick langsung mencomot sepotong ayam Crispy
"yudah ayo makan..." Luvi mempersilahkan mereka makan dan melahap steak kesukaannya.
mereka melakukan cheers atas kebersamaan mereka malam ini
setelah selesai menikmati makanan, Luvi permisi untuk pergi ke toilet.
ketika Luvi hilang dari pandangan Erick dan Clara mereka keliatan sibuk menelpon seseorang.
Luvi memasuki toilet wanita, di ruangan yang agak sedikit sempit itu terlihat antrian panjang. Luvi menghela nafas malas. dia berlalu dan mencari toilet lain yang lebih sepi.
ketika hendak mencari toilet, Luvi melihat punggung seorang lelaki yang tak asing baginya sedang menggandeng seorang wanita yang tak dikenali Luvi.
penasaran dengan apa yang dilihatnya Luvi mengikuti dua orang itu diam-diam ke dalam Cafe di lantai dua
disebuah meja besar bersofa, tepat disudut ruangan duduklah pria yang tak asing bagi Luvi tadi bersama wanita tersebut.
ketika lelaki itu duduk menyamping memperlihatkan 3/4 wajahnya, mata Luvi terbelalak. karena tepat seperti dugaanya itu Jestine.
dari balik tanaman hias indoor, Luvi mengintip tampak Jestine tertawa lepas dan sangat menikmati pertemuan itu.
Luvi menundukkan kepalanya, menetralkan hatinya yang terasa sakit. dadanya serasa sesak...
tak mau gegabah, dia kembali menyaksikan Jestine bersama wanita itu...
wanita itu cantikk... sama seperti Luvi. dengan rambut hitam panjang di curly indah. memakai gaun dan heels menambahkan kesan anggun padanya.
berbeda dengan Luvi yang berpakaian tak semewah itu dan tak seanggun itu.
Luvi masih terus mengawasi Jestin dari kejauhan, disana terlihat dengan Jelas bahwa Jestine menyuapi wanita itu es krim dengan mesranya.
tak terasa buliran air mata yang menggenang di matanya jatuh, orang yang membuatnya nyaman selama ini ternyata...
sudah memiliki kekasih...
itulah hal pertama yang terlintas dipikiran Luvi karena memang mereka tak terikat dengan hubungan pacaran.
lagipula Jestine tak pernah mengungkapkan perasaan padanya, Luvi merasa hanya dia yang terlalu membawa perasaan atas semua kebaikan Jestine selama ini.
Luvi berlalu meninggalkan tempat itu, seperti yang dikatakan Jestine waktu pertama kenal
"Rooftop adalah tempat ternyamanya ketika gundah galau gulana"
Luvi menuju rooftop menaiki tangga darurat bermaksud menenangkan pikirannya yang berkecamuk, Luvi berjalan perlahan sambil menangis menyesali perasaannya.
dia menyesal telah jatuh cinta tapi kembali lagi tersakiti.
Luvi merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh.
setelah menaiki anak tangga dengan langkah gontai dan sampai ke rooftop, Luvi menyusuri pagar pembatas, memperhatikan sekeliling yang terlihat suram, tak ada lampu. hanya ada cahaya minim dari gedung-gedung lain di sekeliling Caffe tersebut.
Luvi merasa lemas dan duduk memeluk lututnya, membuka sepatu heelsnya yang terasa sudah tak nyaman. dia menangis menumpahkan kebodohannya.
dia tak punya hak apa-apa untuk protes. andai saja Jestine adalah pacarnya, ingin sekali dia menampar Jestine dan menyiram Es krim ke wajah wanita itu.
Luvi terus menangis, hingga dia tersedu-sedu dengan suara serak.
"Jestine.... kamu JAHATTTTTT" lirih Luvi sambil mengacak rambutnya
"kenapa bukan aku yang jadi wanita itu?" lirihnya lagi disela sela tangisannya.
JLABBB
seketika semua lampu di rooftop itu menyala, suasana yang tadi tampak suram remang-remang, sekarang berubah jadi berwarna indah.
banyak bunga disetiap sudut rooftop, dan bertaburan dilantai.
Luvi mendengar derap kaki melangkah dari belakangnya, spontan Luvi menoleh dengan keadaan mata yang masih merah penuh airmata.
tampak seorang lelaki berpakaian formal, namun tak memakai dasi. sepatu fantopel dan rambut yang halus sedikit berponi.
"Jestine"....lirihnya pelan
Jestine berjalan pelan tepat di hadapan Luvi, mengulurkan tangannya yang tampak berurat kepada Luvi
Luvi bingung dengan kedatangan Jestine namun merasa malas untuk menanyakkan itu, Luvi hanya membuang muka kesal seraya menepis tangan Jestine
Jestine tersenyum, kemudian berjongkok dan mensejajarkan wajahnya dan wajah Luvi.
memegang bahu Luvi dan mengajaknya berdiri, kemudian merangkul dan memeluk tubuh ramping Luvi itu.
Luvi hanya diam sambil sedikit terisak. dia bingung dengan keadaan ini. tapi pelukan inilah yang dibutuhkan nya saat-saat dia merasa sedih seperti ini.
Luvi membalas pelukan Jestine erat, Luvi berpikir sekalipun Dia bukan wanita yang dipilih Jestine setidaknya ini yang terakhir dia merasakan pelukan lembut ini...
Luvi menangis menumpahkan perasaannya, yang begitu sangat disesalinya
...■■■■■■■■■...
...happpy reading!...