My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#13 membuatmu mencintaiku



Jestine melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang tampak begitu sepi menuju rumahnya.


Hujan gerimis terlihat damai jatuh beraturan bisa dilihat jelas dari pantulan cahaya lampu-lampu jalanan.


Jestine memasuki area kompleks perumahan mewah, memarkirkan mobilnya di sebuah rumah minimalis dengan taman luas, Jestin kemudian turun dan memasuki rumah.


"Mam......"


Jestin mencari Lusi diruang tengah, karena biasanya jam segini mama Lusi masih menonton acara kesukaan nya.


"Jestin... sibuk banget ya kamu?" tanya mama Lusi menoleh sekilas kepada Jestin, kemudian mengalihkan pandangan ke arah TV lagi.


"Mam... aku mau ngomong" Jestin duduk disamping Lusi dan mengambil remote di tangan Lusi, kemudian menekan sebuah tombol untuk mengurangi volume.


Lusi hanya tersenyum, tak biasanya Jestine seperti ini. pasti ada sesuatu yang akan di beritahukan nya.


Jestine sangat jarang sekali membahas masalah serius dengan mama nya, sebab itu lah saat ini Lusi merasa senang karena secara tak langsung Jestine mau terbuka kepadanya.


"Mam... udah jam 10.00 hehe.., waktunya tidur" Jestine mematikan TV dalam sekejap dan terkekeh melihat Lusi


seketika Lusi mengambil bantal sofa dan memukulkannya ke kepala Jestin..


"kamu ngerjain mama ya" geram lusi sambil tertawa riang mendumel bantal pada Jestin


"ya aku mau ngomong itu maa" Jestine membela dirinya sambil terus menerus menyengir


"mama tertipu sama tatapan buaya mu itu, mama kira kamu bakal membicarakan hal yang benar-benar serius, huss..." Lusi memangku tangan kesal pada Jestin


"hehe.. mama makin cantik kalo lagi marah" Jestin menggoda Lusi dan cepat2 berlari kabur menaiki tangga, berharap dia tak menjadi sasaran bantal Lusi lagi.


Jestine.. Jestine.


Lusi menggelengkan kepala tak heran.. sebab begitulah kelakuannya.


Jestin mengetuk pintu kamar yang terdengar sedang konser dadakan di dalamnya. namun tak ada jawaban.


Pasti Jolyn sedang karakoean, Jestin berlalu ke kamarnya dan membawa seekor ular plastik mainan yang tempo hari di temukannya diantara gantungan baju di wardrobe,


Jestine sudah yakin itu ulah Jolyn ingin menakutinya.


tok...tokk..tokk


"bentar ma" teriak Jolyn dari dalam kamar terdengar sayup


Jolyn mengira Lusi yang mengetuk, karena Jestin memang jarang dirumah belakangan ini


ketika Jolyn menarik handle pintu, Jestine melemparkan ular plastik tersebut tepat diwajah Jolyn.


Jolyn membelalakkan matanya, dan spontan berteriak histeris melihat benda panjang tersangkut di bajunya.


wajahnya memerah seperti udang rebus, pekikan dan teriakan Jolyn terdengar sampai ke bawah.


membuat Lusi buru2 menaiki anak tangga ke atas, untuk melihat apa yang terjadi.


di sela-sela itu Jestine memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa terpingkal-pingkal.


kemudian menjulurkan lidahnya kepada Jolyn dan berlalu ke kamarnya sebelum Lusi sampai di atas.


"kenapa lyn?" tanya Lusi yang melihat Jolyn memegang ular plastik keheranan


Jolyn tak menjawab, Dia hanya memandangi pintu kamar Jestin dengan wajah dendam. terlihat jelas di wajahnya masih menyimpan segudang kekesalan pada kakaknya itu.


"Lyn, buang ular-ularan itu, kalian bukan anak kecil lagi" Lusi mengambil ular plastik itu dan segera mengamankannya.


hal seperti ini sangat sering terjadi hingga tak membuat Lusi heran lagi, kalau sudah ada Jestine di rumah pasti serasa ada Tom Jerry dirumah ini.


*


Jestine keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang masih melilit dipinggangnya, seraya mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Dia melihat pantulan dirinya dari cermin, badan kekar dengan 6 kubus diperutnya, dada bidang dan otot dilengan membuatnya terlihat sangat jantan


hidung mancung, alis tebal dan kulit wajah mulus.


"ahhhh betapa tampan nya aku" Jestine tersenyum memuji dirinya sendiri


malam ini Jestin berencana menyelesaikan pekerjaan. ada beberapa hal yang harus dia tangani menyangkut perusahaan.


pak Dino sedang pergi ke Bali untuk mengurusi proyek disana, mau tak mau Jestine harus bekerja extra untuk memastikan perusahaan baik-baik saja.


jam menunjukkan pukul 01.30, sudah 2 cangkir kopi di habiskan oleh Jestin supaya menahan kantuk dimatanya.


drrrrttt drrtttt


ponsel tipis bergambar apel itu bergetar diatas nakas.


"siapa lagi yang nelpon malam-malam gini" Jestine berdiri dan meraih ponselnya.


terpampang nama Luvi disana. jestine mengerutkan kening, kemudian mengusap ponsel tersebut


"hallo vi, kenapa? belum tidur?"


namun tak ada sahutan, dan Jestine kembali melihat layar ponsel namun panggilan sudah terputus.


sebuah notif pesan masuk


"syukurlah kau masih bangun, ada seseorang masuk apartemen. sepertinya dia memiliki kunci. parah nya lagi dia dalam keadaan mabuk"


"aku mengirim pesan karena aku sedang bersembunyi di dapur, Clara sedang pergi tak tau kapan pulang"


begitulah isi pesan tersebut, Jestine langsung menyambar jaketnya dan mengambil kunci mobil, kemudian melaju dengan kecepatan penuh menuju apartemen.


sesampai di apartement, Jestine membuka pintu dengan kunci serep miliknya.


Dia melihat seorang lelaki tengah meracau mondar mandir diruang tengah.


"hmmm ternyata kau, Jestine meninju pelan lelaki tersebut" membuat dia terjatuh diatas sofa dan sepertinya langsung tepar


lelaki itu adalah teman Jestin semasa kuliah dulu, lelaki itu memiliki kunci apartemen karena sebelumnya dia tinggal bersama Jestine.


"Vi...." Jestine mencari Luvi ke dapur


Luvi sedang berjongkok dibalik kulkas, memainkan ponselnya.


"kenapa kau tak hubungi satpam aja tadi?" Jestin membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral.


"ketika dia datang aku di dapur sedang mengambil minum, aku mau ke kamar dia udah di depan kamar, dia sempat melihat dan mengejarku, tapi tak menemukan aku karena sembunyi disini" Luvi bercerita dengan rasa takut yang masih menyelimuti hatinya.


Jestine yang mendengar penuturan Luvi mengulurkan tangannya, mengajak Luvi berdiri.


uluran tangan itu di raih Luvi dan dia berusaha berdiri dihadapan Jestine.


Tanpa ragu Jestine memeluk tubuh ramping Luvi, mengusap2 pundaknya supaya Luvi lebih tenang.


"Vi, aku minta maaf ya, dia teman kuliah aku yang pernah tinggal disini sebelumnya"


"Dia memang seorang pemabuk, aku lupa memberi tahu mu, bahwa dia masih memiliki kunci apartement ini"


Luvi hanya mengangguk, membenamkan kepalanya di dada bidang Jestine.


bersamaan dengan itu terlihat sepasang sejoli masuk, ya Clara bersama lelakinya. yang sepertinya sama-sama mabuk, menuju kamar tamu yang telah menjadi kamar Clara.


"Clara...." Luvi berteriak memanggil Clara supaya tidak membawa lelaki masuk, tapi mulutnya di bekap oleh tangan Jestin.


"percuma kamu berteriak-teriak pada orang mabuk" Jestine melepaskan tangannya dari mulut Luvi.


"hmmm, sepertinya tinggal bersama Clara bukan tempat yang aman untukmu" Luvi menghela nafas pelan menahan kemarahan.


"Maaf Jestine, sebenarnya di..."


"sstttttt"


Jestine mengacungkan telunjuknya ke bibir Luvi mengisyaratkan untuk diam.


"aku mengerti, besok kita bicarakan ya. sudah jam 3 aku mengantuk karena belum tidur dari tadi" Jestine mengucek matanya yang terasa berat.


"maaf, aku merepotkanmu" Luvi tertunduk merasa bersalah.


"ku maafkan, asal jangan menyuruhku pulang" Jestine berlalu menuju kamar Luvi


Luvi yang sudah paham akal bulus Jestine pun mengekor di belakang Jestine memasuki kamar.


Jestine melepas sendalnya dan membuka jaketnya, kemudian berbaring lalu memejamkan mata.


Luvi yang tampak bingung akan tidur dimana, mengambil bantal dan memutuskan untuk tidur di sofa di ruang tengah


tapi dia kembali lagi karena mendapati lelaki mabuk tadi terbaring disana.


akhirnya, Luvi memutuskan untuk tidur di karpet dibawah ranjang yang ditempati Jestine dan terlelap bersama mimpi2 nya.


beberapa saat kemudian, Jestin terbangun. menyadari Luvi tak ada disampingnya.


tidak mungkin Luvi dikamar Clara, atau di ruang tengah?


ahhh...


Jestine menyibakkan selimutnya dan menurunkan kakinya, hampir saja dia menginjak tangan Luvi yang tidur memiringkan badan dengan tangan terulur keluar selimut.


hmmmm Jestine menggeleng-gelengkan kepala.


dasar wanita aneh..


Jestine menarik selimut Luvi, dan mengangkat Luvi ala bride style ke atas ranjang, Jestine mengangkat nya dengan perlahan supaya Luvi tak terbangun..


kemudian menyelimuti tubuh ramping itu, yang hanya mengenakan celana pendek dan baju oversize.


Jestine merebahkan badannya di samping Luvi, memiringkan badan menghadap Luvi.


sungguh teduh wajah mulus dengan mata sipit terpejam itu, Jestine menyisipkan anak rambut yang menganggu wajah Luvi ke telinga belakang.


"aku akan membuatmu mencintaiku Vi" lirihnya sambil tersenyum..


...■■■■■■■■...


...apakah yang akan terjadi selanjutnya? makasih buat teman2 yang dah like dan kommen. happy reading💜...