My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#14 Cemburu buta



Luvi terbangun dari tidurnya, menyipitkan mata melihat sekeliling. tak ada orang...


"kenapa bisa aku di ranjang?" Luvi memandangi dirinya sendiri yang masih terbalut selimut tebal.


"kemana Jestine"?


Luvi menyibakkan selimut, bangun lalu memasang sendal rumahannya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, lalu menarik ponselnya yang ternyata tergeletak di atas nakas guna mengecek jam.


bersamaan dengan itu Jestine keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang masih basah.


Tapi syukurlah dia tak melilitkan handuk dipinggangnya,


Jestine sadar ini kamar Luvi sekarang, ia tak bisa sesuka hati seperti kamarnya,


dia hanya menumpang mandi dan berganti baju langsung di wardrobe, karena kebetulan masih ada beberapa baju Jestine disini.


"kamu, mindahin aku ya tadi malam?" Luvi bertanya celingukan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"kamu pindah sendiri kayaknya" Jestine menjawab tanpa menoleh, sibuk mengeringkan rambut dengan hair dryer.


Luvi merasa malas mendengar jawaban Jestine yang menurutnya tak pernah serius.


"sudah cepat siap-siap, kita ke kantor"


*


Luvi mengenakan blazer hitam dan rok span selutut berwarna senada, menyisir rambut lebatnya yang panjang hampir ke pinggang itu lalu menggulungnya dengan curling iron, supaya terlihat sedikit bergelombang.


Luvi memoles wajahnya yang putih bersih dengan make up seadanya, serta lipstik merah muda yang membuat wajahnya tampak fresh.


Luvi mengambil sling bag nya di lemari, dan memasukkan keperluan yang akan dibawa.


"Vi.. " Jestine berdiri santai di depan pintu kamar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana


Tubuh atletis itu mengenakan kemeja putih dan kedua lengannya di gulung, ikat pinggang dan celana kerja yang sangat pas dengan porsi tubuhnya.


"lama banget kamu siap-siapnya" Jestine mematung kagum menatap Luvi yang menoleh ke arahnya, namun mulutnya tak sejalan dengan hatinya.


Jestine terus saja merasa gengsi, apabila memuji Luvi secara terang-terangan.


"iya... iyaa, ini dah siap"


Luvi menghela nafas dalam, rasanya aneh...


Jestine di rumahnya pagi-pagi begini, tidur di kamarnya tadi malam, mandi dan berganti baju di kamarnya, rasanya sudah seperti orang suami istri....


hiiiii..... Luvi menggelengkan kepalanya geli, membayangkan Jestine suaminya rasanya sangat aneh..


Luvi menuju dapur, dimana Jestine terlihat sibuk disana. lalu duduk dikursi meja pantry yang sudah terlihat rapi.


"makan nih, biar kamu gak pingsan ngeliatin makhluk tampan kayak aku disamping kamu terus" Jestine memberikan sepotong roti yang telah diberi selai kacang kesukaan Luvi.


Luvi mendengus kesal mendengar kesombongan jestine..


namun dia langsung mengambil roti itu dan melahapnya.


"Jestine. temanmu itu dah pulang?" Luvi melirik ke arah sofa karena tak ada orang lagi disana


"tadi subuh ku buang lewat jendela" Jestine menjawab enteng sambil menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya pada Luvi


lagi-lagi Luvi merasa malas dengan jawaban Jestine.


"Clara sama lelakinya itu belum bangun, mungkin mereka tepar habis bermain kuda" Jestine berbicara tanpa rem di mulutnya


"sejak kapan mulutmu jadi kotor begitu?" Luvi menatap tajam kepada Jestine


"kayaknya sejak mencium mu waktu itu" Jestine mengangkat alisnya menggoda Luvi yang hendak meminum air putih.


Luvi tersedak mendengar godaan Jestine, wajahnya merona malu..


"Jestin... maaf ya merepotkanmu tadi malam" Luvi meminta maaf tulus, karena menyadari harusnya dia bisa mengatasi nya sendiri.


"hmmmm.. gak masalah, tapi nanti kamu omongin sama Clara masalah tadi malam ya"


"btw menyenangkan tinggal bersamamu, bisa ngeliat kamu tidur sambil mangap, bisa ngerasain tendangan maut kamu pas tidur, terus muka bantal kamu pas bangun tidur..hahaha" Jestine tertawa puas membayangkan tadi malam dia tak bisa tidur dengan nyenyak karena ulah Luvi yang tidur lasak.


Luvi merasa sangat kesal mendengar Jestine bercerita panjang lebar.. ihhh si Jestine menyebalkannn


"harusnya ku usir saja kau semalam" Luvi mendengus kesal pada Jestine


"aku tau kamu gak sejahat itu sama aku" Jestine menjawab dengan percaya diri


mereka melanjutkan sarapan sambil bersenda gurau.


candaan ringan yang selalu di lontarkan Jestine adalah upaya kecil supaya Luvi merasa selalu bahagia.


Jestine menyadari perasaannya pada Luvi semakin hari semakin dalam, tapi Jestine juga menyadari tak mudah meluluhkan hati Luvi yang sudah dihancurkan oleh lelaki brengsek masa lalunya.


Jestine akan berusaha, menjadi lelaki yang pantas mendapatkan hati Luvi, Dia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga dan melindungi Luvi.


memberinya tempat teraman untuk bersandar dan menetap.


*********


"Vi, seminggu ke depan jadwal kita akan padat"


Jestine menoleh ke Luvi sambil mengemudikan stir mobilnya.


"proyek yang diborong Recta Cons tempo hari belum terselesaikan harus segera ditangani" sambungnya lagi


"nanti sampai kantor, kamu siapin semua dokumen terkait ya. mulai dari kesepakatan awal, pertemuan, keuangan. semuanya kumpulkan"


"baiklah" Luvi menjawab dengan singkat seraya menulis pokok pokok yang disampaikan Jestine di note kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.


inilah yang disukai Jestine, Walaupun hubungannya sangat dekat dengan Luvi, Luvi tak menyangkut pautkan pekerjaan dengan masalah pribadi.


Luvi selalu bersikap profesional jika dia sudah memerankan tittle sekretaris itu.


"oya, ini buat kamu" Luvi menyodorkan sebuat foto kepada Jestine


"apa?" Jestine menoleh dan mengambil foto itu lalu kembali fokus pada jalanan.


kening Jestine berkerut bingung melihat sebuah Foto wanita korea yang sedang berpose lucu dan seksi


seraya memegang dan melihat foto Jestine membagi konsentrasi pada jalanan.


"Itu namanya Lisa, dari grup idol bernama Blackpink, dia keren lo bisa nyanyi, rapp, dance. cantik dan seksi lagi" Luvi menirukan pose cantik dan seksi ala Lisa yang membuat Jestine tersenyum.


ketika bersiap-siap di kamar tadi, Luvi menemukan foto itu. Dia bermaksud memberikan foto itu pada hari-hari sebelumnya, tapi Luvi selalu lupa untuk memberikannya kepada Jestine.


"itu buat kamu, biar ada yang hibur kamu" Luvi berkata polos, karena seperti itulah yang dia rasakan semenjak menyukai dunia perkpopan,


"hmmm" Jestine tertawa kecil karena merasa lucu mendengar kepolosan ucapan Luvi.


"tapi aku lebih butuh kamu daripada foto ini" Jestine menoleh melihat Luvi yang juga sedang menoleh kepadanya.


tiba-tiba..


drrrrtt drrrttttt


Ponsel Luvi terdengar berdering, dia mengambil ponsel ditasnya, lalu mengusap dan mengangkat telepon


"Hallo"


"hai Vi, ini aku Erick. maaf, baru sempat hubungi kamu" terdengar suara lelaki yang bernama Erick di seberang sana.


ya Erick sepupu Jestine, ternyata teman SMA Luvi yang ditemui nya waktu acara Party Walton Grup.


"ohh hai ERick. gak apa2"


dahi Jestin berkerut dan melirik tidak suka kepada Luvi.


mau apa Erick menelpon Luvi.. batinnya tak tenang


"aku baik2 saja, hmm terserah kamu aja. tapi aku bisanya malam ya" Luvi tampak tersenyum ramah menerima ajakan Erick untuk bertemu


"hmmmm..." Jestine berdehem pelan


rasa cemburu begitu menghantui pikirannya,


rasa ketakutan Luvi akan merasa nyaman dengan Erick sangat menganggunya.


ketika sambungan telepon terputus. Luvi menoleh kepada Jestine, hendak menanyakan bagaimana Erick menurut Jestine.


"jangan dekat-dekat dengannya" Jestine menjawab singkat pertanyaan Luvi karena rasa cemburunya sudah membara.


"kenapa?"


"nanti Jungkook marah" Seketika Jestine mendapatkan Ide untuk menutupi kecemburuan nya, dan tentu saja itu berhasil membuat Luvi tersenyum sumringah mendengar candaan Jestine yang mendukung kehaluan nya..


...■■■■■■■■...


...hapyy reading💜, ada army ga di sini? hehe...