
"ini pesanan paket makan siang atas nama Jestine Walton"
tampak seorang kurir memakai seragam restorant bertuliskan Bento menyerahkan sebuah paper bag berisi 2 kotak makanan yang telah dipesan Jestine tadi.
"ohya.. makasih ya" Jestin mengambil paperbag itu dengan wajah datar karena merasa agak sedikit kesal mengganggu waktunya bersama Luvi.
"saya permisi" kurir itu menunduk lalu berlalu pergi.
Jestine segera menutup pintu dan berjalan mengarah ke dapur menuju meja pantry.
dia menggenggam tangan Luvi dan menariknya untuk ikut bersamanya menuju dapur.
tanpa berlama-lama Jestine membuka kotak makan itu dan menyodorkan nya kepada Luvi.
"nih buat kamu sudah laparkan?" ucapnya sambil tersenyum manis
kotak makan itu berisi menu sayuran hijau, beef panggang yang di iris kecil, telur, selada dan udang. Luvi sangat menyukai menu ini
Luvi mengambil sumpit dan segera melahapnya.
Jestine tersenyum memandangi wajah polos Luvi yang fokus melahap makanan tersebut
"pelan-pelan"
"enak Jest, kamu harus cobain" Luvi mengapit udang diujung sumpitnya dan mengarahkannya ke mulut Jestine
"aaaaa" Luvi mengisyaratkan untuk membuka mulut
"Jestin membuka mulutnya dan melahapnya dengan cepat" dia sangat bahagia mendapat suapan pertama kali dari Luvi.
tak henti-hentinya dia tersenyum melahap makannya, sesekali melihat Luvi.
Jestine menuangkan air putih ke gelas kaca bening, dan memberikan pada Luvi.
"jaga kesehatan ya"
"aku sangat senang dan kenyang" Luvi meminum air tersebut.
Jestine yang telah selesai makan dari tadi hanya memandangi Luvi sambil tersenyum
"aku bisa diabetes kalau kamu terus begitu" Luvi yang baru menyadari tatapan Jestine, berusaha menggodanya.
"karena aku terlalu manis?" Jestine menjawab dengan PD nya dan tertawa pelan.
"husss...."
"lalu apa?"
"aku emang diabetes" Luvi mengelak godaan Jestine.
"huss... jangan sembarangan" dengus Jestine tak suka Luvi mengaku-ngaku punya penyakit diabetes.
Jestine mengambil tasnya yang tergelatak disofa, merogoh beberapa tablet pil disana dan kembali ke meja makan.
"apa itu?" Luvi penasaran seraya memajukan wajahnya
"obat penangkal alergi, aku alergi seafood" Jestine menjawab seraya membuka obat tersebut memasukkan ke mulutnya, menelannya lalu minum air putih
"lalu kenapa kamu makan tadi?"
"kan sayang, suapan langka dari kamu masak iya di sia-siakan" senyumnya menggoda Luvi
Luvi melemas dan merasa bersalah, "maaf Jestin, kalau tau..."
"ssttttt.." Jestin memotong ucapan Luvi
"gakkan terjadi apa2, sudah biasa" wajahnya sangat meyakinkan dan emang terlihat baik-baik saja.
Jestine memang mengidap penyakit alergi terhadap seafood tapi dia akan aman selama mengonsumsi obat setelah memakannya.
"kemana?"
"ke rumahku, kita akan membicarakan hari dan tanggal pernikahan bersama mama"
"oh.. kalau gitu aku siap-siap dulu"
Luvi segera berlari kecil menuju kamarnya, masuk ke walk in closet dan memilih milih baju yang sekiranya pas.
"aku harus tampil cantik di depan calon mertuaku" Luvi bergumam sambil mengacak acak isi lemari
15 menit kemudian Luvi belum juga menemukan baju yang pas, dia sudah mencoba semua baju yang menurutnya anggun tapi tak satupun yang cocok.
arggggghhh
Luvi menghela nafas cemberut, saat dia menoleh ke belakang "HAAAAHHHHH"
Luvi teperanjat melihat Jestine yang sudah berpangku tangan di pintu ruangan walk in closet.
"Vi, kamu lama banget"
"belum berganti pakaian juga?" Jestine menatap Luvi dari ujung kaki sampai ujung kepala yang masih sama seperti tadi. mengenakan hoodie oversize berwarna peach dan celana pendek yang tenggelam oleh hoodienya. membuat kesan imut pada wajah Luvi yang berambut tergerai panjang itu.
"aku tak menemukan baju yang cocok" Luvi memelas memandang Jestine.
"yasudah, ayo pergi, kamu seperti mau ketemu presiden aja, ribet" Jestine menarik tangan Luvi keluar kamar dan mengambil hp Luvi.
tanpa mendengar kata-kata Luvi, Jestine mengunci pintu apartemen dan memegang tangan Luvi menuju mobilnya.
Luvi hanya diam mengikuti langkah kaki Jestin.
"mama lebih suka punya menantu yang apa adanya" Jestine membukakan pintu kiri mobil dan mempersilahkan Luvi masuk
Luvi hanya diam... takut saja jika calon mertuanya merasa risih dengan gaya berpakaiannya yang tak seperti wanita lain yang begitu anggun.
Jestin menyalakan mobil berkecepatan tinggi itu dan melesat menuju rumahnya.
"Jest.. kamu beli mobil baru?" tanya Luvi yang baru menyadari interior mobil itu berbeda dari mobil yang biasa di bawa Jestine.
"iya baru, baru kamu lihat" godanya sombong
"huss... sombong" dengus Luvi.
"lalu, kenapa kau tak pernah membawanya? tanya Luvi lagi penasaran
"kalau aku membawanya terus, pasti saingan kamu semakin banyak" jawabnya dengan penuh percaya diri mengemudikan stir dengan mahir.
lagi lagi Luvi merasa malas mendengar jawaban Jestine...
"mamaku orang baik kok, dia pasti akan menyayangi kamu seperti dia menyayangi kedua anaknya" Jestine mengalihkan pembicaraan mengenai mamanya.
"aku selalu menceritakan tentangmu pada mama, semenjak mengenalmu aku selalu curhat sama mama, padahal sebelumnya aku malas membahas masalah perasaan dengan mama" Jestine masih terus fokus pada jalanan di hadapannya.
"kamu membuatku bingung, itu sebabnya aku selalu butuh bantuan mama" tambahnya lagi terus terang
"lalu kenapa kamu seyakin itu Jest, padahal kan kita tak berpacaran"
"kurasa kamu tau jawabannya, setiap hari bersamamu sudah cukup membuatku mengenalmu" Jestine tersenyum menoleh kepada Luvi.
Luvi mangut-manggut mengerti, benar juga. selama ini mereka menghabiskan waktu bersama. meskipun tanpa ikatan, tapi mereka sudah lebih dari orang2 yang memiliki ikatan.
"I love you" ucapnya lagi dengan senyuman manis yang menjadi andalan itu.
"i love u too" Luvi membalas dengan wajah sumringah...
...■■■■■■■...
...happy reading!...