My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#5 Tatapan Sendu



...~Sore hari di kediaman Keluarga Walton, sebelum makan malam di caffe~...


Sebuah mobil mercedez Benz tampak tiba di halaman rumah yang dipenuhi tanaman hijau itu, desain minimalis simple dengan dinding bagian halaman dipenuhi kaca menjuntai gorden yang membuat rumah tersebut tampak begitu mewah.


Jestin keluar dari mobilnya dan memasuki rumahnya.


"DORRRRRRR" Suara letusan bersama Jestin membuka pintu


"Aishhhh" rutuk Jestin menggeram


"LO ya, SINI LOO" gerutu Jestin kesal mengejar Jolyn yang dengan sengaja mengagetkannya.


Jestin dan Jolyn berlarian ke seluruh penjuru rumah, langkah Jolyn yang lincah membuat Jestin sulit mendapatkannya. Mereka berlarian ruang tengah, hingga ke dapur dimana mama Lusi dan Bi Asih sedang mengadon kue dan "BLAKKK" satu genggaman adonan kental tepung


mendarat di muka Jestin, tak mau kalah Jestin membalas Jolyn dengan mengambil segelas susu di meja dan menyiramkan ke arah Jolyn, dapur seketika penuh canda tawa mereka dan suara omelan Lusi dan Bi Asih.


"Hahaha, rasain Lo kayak nek lampir" tawa Jestin pecah melihat rambut Jolyn yang putih terkena susu


"Hahaha lo lebih parah kak, lo kayak ceo Bangkit dari kubangan lumpur got.... hahaha" tawa Jolyn sambil menghindar dan berlari keluar dapur menuju kamarnya


"Ashiittt.. anak siapa sih lo. Durhaka banget sama kakaknya" gerutu Jestin yang sudah tak berniat mengejarnya lagi


Jestin memandang ke arah mamanya dan Bi Asih, yang ternyata dari tadi memandangnya tajam.


"Hehe....mama... Bi Asih" Jestin menyengir takut karena baru menyadari tingkah usilnya


Begitulah 2 kakak beradik itu, mereka selalu bertengkar, usil satu sama lain, berlarian dan seolah tak pernah akur. Tapi dibalik itu semua mereka saling menyayangi.


*******


Sambil mengepel lantai dapur, Jestin mengambil ponsel nya dan hendak menekan nomor pak Dino. Tapi sebelum itu ia mengecek wa nya dan tak sengaja ia melihat story Cia.


"Hmmm... ternyata dia bersenang2 dengan teman nya, pantes tadi siang buru2 cabut" gumam Jestin sedikit kesal pada Cia mengingat tadi siang cia buru2 pulang dari kantornya


"Pel yang bener, Cia Cia mulu otak lo" celoteh Jolyn yang juga mengepel di dapur


Jestin dan Jolyn sudah terbiasa dengan kegiatan ini, apabila mereka bermain seperti tadi, Lusi akan menghukum mereka. Karena Mereka membuat dapur berantakan dan mereka juga harus merapikannya


"Hushhhhh" gerutu Jestin memasang muka mengejek ke Jolyn


"Awas lo ya, kalo ngagetin gue lagi, gue ambil alih duit jajan lo" ancam Jestin sambil memukul Pel Jolyn dengan pel miliknya


"Gue ambil alih juga jabatan CEO lo" tantang Jolyn enteng sambil berlalu karena sudah selesai.


"Lagian, gue baru menyadari CEO kek lo ga cocok kak! CEO tu harus berwibawa, tenang, kalem. Lah lo pecicilan" celoteh Jolyn memangku tangan mengamati Jestin dari bawah hingga atas.


"Hahh, kayak lo pantes aja, apa jadinya kalo CEO nya lo. Anak kecil yang ada kenak bentak Client nangis, haha...haha" ledek Jestin sambil berlalu ke kamarnya


"Plakkk" sebuah lap meja melayang di tengkuk Jestin


"Lo ya Lyn" namun saat Jestin menoleh ke belakang Jestin tak melihat Jolyn lagi.


"Hmmmm, pasti lo sembunyi di balik meja. Kemudian dia pelan2 mundur menuju pintu


Namun ketika sampai di pintu "BWUAAHHH" Jestin terperanjat dan refleks membanting pintu


Membuat Jolyn tertawa puas penuh kemenangan


"JOLYN... JESTINNNNN" teriak mama Lusi dari ruang makan


Jolyn dan Jestin yang mendengar teriakan tersebut langsung berlarian ke kamar mereka masing2, mereka takut akan mendapat hukuman lagi.


Dasar anak itu... Jestin mengacak2 rambutnya frustasi.


Namun teralihkan ketika mendengar notif di Ponselnya.


"Sayang, maaf ya tadi ternyata teman aku udah nungguin aku, kami ada perkumpulan buat pemotretan" Isi Chat Cia meminta maaf


Jestin lama tertegun memandangi chat tersebut, ia bergelut dengan pikirannya.


Jadi sebenarnya sudah sedari dulu Cia selalu memutuskan pergi tiba2 ketika mereka sedang bertemu, bahkan Jestin pernah memergoki Cia yang sedang masuk mobil bersama seorang lelaki menuju Villa tidak jauh dari area yang di kunjungi Jestin, saat Itu Jestin menemani pak Wira mengecek proyek renovasi Villa Walton di area sekitar Villa tempat Cia menginap, bahkan paling parahnya Jestin pernah menelepon Cia tengah malam tapi yang mengangkat telpon nya seorang lelaki.


"Iya Ci, gak papa. Lagian kan kapan kamu mau kita bisa ketemu" balas Jestin sambil tersenyum sinis, sambil melempar ponselnya ke kasur.


"I love you" balas Ciaaa..


"Jestinnn, ayo makan Jest" ajak mama Lusi di depan pintu


Jestin berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang makan


"Wahhhh" mata Jestin berbinar2 hendak melahapnya


Ketika ia mengulurkan tangan hendak mengambil kue tersebut, tanggannya langsung di pukul Jolyn dengan sigap Jolyn mengambilnya dan memakan nya tanpa dosa


"JOLYNNNN" teriak Jestin


"HUSHHHH, sudah ini masih banyak" Lusi menyodorkan se nampan kue tart lagi


"Kamu Jolyn, jangan bersikap seperti itu terus, kalian dah besar lo" mama Lusi menasehati dengan lembut


"Jestin, gimana kerjaan kamu di kantor?" Tanya Lusi dengan serius pada Jestin


"Aman ma, aku hanya perlu mempelajari beberapa proyek yang belum selesai sebelumnya, sedikit lagi aku pasti bisa seperti papa" sombong Jestin tersenyum kepasa mama nya


Mama Lusi menggeggam tangan Jestin, Lusi tau ini tidak mudah tapi ia yakin Jestin bisa.


Jestin kembali ke kamarnya, Jestin pun menghubungi pak Dino, menyuruh pak Dino untuk segera menghubungi Luvi dan mengatakan bahwa Jestin sudah di Caffe. kemudian Jestin bersiap2 dan berangkat.


...~Kembali ke Caffe~...


"Ayo pulang" ajak Jestin sembari membetulkan posisi topinya


"Bentar aku bayar dulu ya, tunggu disini" Luvi yang beranjak dari kursinya ditahan oleh Jestin dengan memegang tangan Luvi


"Kenapa??" Tanya Luvi polos


"Jestinn... kenapa?


Hallo?


Ada apa?" Tanya Luvi bertubi-tubi memandangi wajah Jestin bingung


"Ahhh... sudah, sudah aku bayar" Jestin tersadar dari lamunan nya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Lah, gimana ceritanya. Katanya aku yang traktir biar dapat maaf"


"Ayo pulang, aku antar" Jestin masih salah tingkah dan sedikit malu, buru2 ia mengajak Luvi pulang


~Di mobil perjalanan menuju kost-


"Sebenarnya itu modus ku aja, supaya kamu mau makan malam sama aku" Ucap Jestin sambil memasang seatbell nya


"Kalau gak aku bilang gitu pasti kamu gak mau aku ajak makan bareng"


"Emang kenapa kamu segitu mau nya makan sama aku?" Tanya Luvi menyelidik


"Karena kamu aja yang terpikir" jawab Jestin sambil fokus mengemudikan stir mobilnya


Husshhha anehhh Luvi mendenguss kesal..


Berkat makan malam inilah, Luvi sedikit mengerti kepribadian Jestin karena berdasarkan cerita2 mereka di Caffe tadi sepertinya Jestin punya masalah yang sulit ia utarakan mengenai hubungannya dengan Cia. Luvi bisa melihat dari sorot mata Jestin ketika ia sedang menceritakan Cia kekasihnya selama 2 tahun belakangan ini, ada kesenduan disana, kesedihan yang Luvi sendiri tidak tahu.


Luvi juga dikit sedikit mengenal Jestin yang temperamen, kadang kekanak2an kadang bersikap dewasa, kadang ceplas ceplos tanpa rem, suka iseng dan usil. Tapi sifat itu, hanya di ketahui oleh orang2 yang dekat dengannya.


Orang2 diluaran sana menilai Jestin adalah seorang anak pertama yang gagah dan tampan, punya pesona yang luar biasa dengan tubuh ideal, bibir tipis, kulit putih bersihnya, dan senyumnya yang menawan di tambah lagi kariernya yang baru di mulai CEO Walton Grup.


"Di sini saja" tunjuk Luvi menunjuk bangunan 2 lantai tempat ia tinggal


"Lain kali, kalau mau ngajak makan keluar. Ajak juga kekasihmu itu, biar tak ada kemungkinan salah paham diantara kalian" nasehat Luvi sambil sibuk melepas seatbell nya


"sudah ku lakukan, tapi Cia sangat percaya padaku. Katanya itu hak ku mau pergi sama siapa dan kemana. Bahkan kalau aku berselingkuh denganmu sepertinya Cia takkan menyadari" jawab Jestin dingin menatap lurus ke depan


Hhhhhhh Luvi menghela nafas panjang, ia kemudian menepuk bahu Jestin "berarti dia sangat menyayangimu, hingga dia tak mau merusak kebebasanmu, susah lo perempuan seperti itu nyari nya" Luvi tersenyum menatap Jestin "jangan sia-siakan, ntar menyesal" Luvi kembali menepuk bahu Jestin namun sedikit keras memberi penekanan dengan kata2 nya.


"Makasih ya, atas traktiran nya dan maafnya. Jadi duitku tetap utuh hehe..." pamit Luvi seraya membuka pintu dan keluar


Jestin hanya menatap Luvi dalam sampai ia keluar dari mobil Jestin. kata2 Luvi baru saja bergema dalam pikirannya.


Jestin menghela nafas dan berlalu meninggalkan Luvi yang masih berdiri disana


"pasti dia ada masalah sama pacarnya itu" gumam Luvi berlalu memasuki bangunan tersebut.


...■■■■■■■■■■■...


...Hai Readers, kira2 apa yang terjadi antara Jestin dan Cia ya? hehe jangan lupa tinggalin like dan komennya. ini karya pertama aku ya, masih jauh dari kata sempurna. Daaaa💜...