My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#18 bahuku pernah patah



Untuk sementara waktu, urusan kantor Jestine percayakan kepada pak Dino. karena Jestin akan fokus mempersiapkan pernikahannya.


pagi ini Jestine melaju menggunakan mobil sport berwarna biru berlogo Porsche yang jarang di kendarai nya itu, selama ini mobil itu hanya terparkir di bastment rumahnya, mobil itu hanya digunakan Jestine ketika pergi ke bar atau liburan bersama teman-teman sporty nya.


dengan hati riang dia menancap gas dan melesat menuju apartemen Luvi.


"hai... Vii" sapanya masuk ketika Luvi membukakan pintu


Cupppp...


sebuah kecupan mendarat di bibir Luvi. dia hanya terdiam mengedip-ngedipkan mata canggung.


melihat Luvi diam menggemaskan, Jestine kembali menciumnya sekilas.


"kenapa?" tanya Jestine penasaran


"aku hanya merasa aneh, kita berteman tapi akan menikah" Luvi menggaruk kepalanya yang tak gatal


"itu namanya teman hidup" Jestine menarik tangan Luvi menuju ruang tengah dan duduk di sofa


"kamu udah ngabarin keluarga kamu?"


"udah, semalam aku menghubungi mereka. mereka mendukung apapun pilihanku. tapi mereka tak bisa datang kesini, hanya kakak ku saja yang bisa" Luvi menghela nafas cemberut


"kita akan mengadakan resepsi disana juga" Jestine memegang tangan Luvi, memberitahukan rencana yang telah disusun nya jauh-jauh hari.


"seriusan?"


"iya Vi, aku sudah memikirkan semuanya. kamu jangan khawatir"


Jestine mengusap puncak kepala Luvi. berusaha meyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan berjalan lancar.


"kamu belum makan kan?"


"hmmm" Mengangguk pelan


"aku udah order makanan, bentar lagi datang. sabar ya" senyumnya lebar merangkul bahu Luvi


Luvi bersandar di dada bidang Jestine, rasanya masih agak sedikit aneh mengingat dia dan Jestine dulu selalu jahil-jahilan, selalu tak pernah mengakui perasaan masing-masing.


padahal mereka selalu dihantui rasa cemburu apabila masing-masing dekat dengan orang lain.


"Vi... apa kamu sudah memberi tahu Jungkook?"


suara Jestine mengagetkan lamunan Luvi, dia beberapa hari ini tak memikirkan Jungkook, karena dia sibuk memikirkan perasaan bahagianya yang terasa seperti mimpi itu.


"hmmm...Jungkook sibuk" luvi menjawab singkat, dia Tahu Jestine akan meledeknya.


"ternyata aku bisa juga mengalahkan Jungkook" menatap foto jungkook di meja dan tertawa bangga.


"Bro.. thanks ya dah buat calon istri gue bahagia walaupun bertahun-tahun jomblo" ledeknya berbicara kepada foto Jungkook


Luvi memukul bahu Jestine dengan keras, dia malu mendengar ledekan Jestine.


"aww sakitt Luvi sayang..."


Luvi kembali memukuli tubuhnya hingga membuat Jestine terbaring di sofa


"Stop.. belum juga nikah kamu udah ngelakuin KDRT loh" celoteh Jestine yang berusaha menghindar dari Luvi sambil tertawa menggoda.


"biarin, biar kamu tahu rasanya" Luvi menimpuk bantal sofa ke bahu Jestine.


"awwww sakit...." teriak Jestine dengan wajah kesakitan memegangi bahunya.


"Actingmu bagus Jes" Luvi berhenti memukul dan menatap Jestine malas, Luvi tau pasti akal-akalan Jestin mengelabui nya.


"aduhhh... " teriak Jestine keras masih memegangi bahunya, wajahnya sekarang tampak merah menahan sakit.


"sakit Vi, dulu pernah patah karena kecelakaan" Jestin tampak berusaha membenarkan posisi badannya dengan susah payah.


Luvi seketika merasa khawatir mendengar ucapan Jestine, dia tak pernah tahu kalau Jestine pernah kecelakaan dan bahunya patah.


"ma... maaf Jest, aku gak tau. mana yang sakit? bagian mana?" Luvi meraba-raba bahu Jestin yang sekiranya sakit dengan wajah panik


"Vi.... sakit banget tolong" wajah Jestine tampak melemas menahan sakit yang teramat sangat


Luvi semakin panik, dia menggoyang-goyangkan badan lemas Jestin agar tak pingsan.


"Jest ... maafin aku, gak gini maksudku" Luvi sudah hampir mau menangis karena sangat khawatir.


"dokter.. dokter.. aku harus menelpon dokter" Luvi meraba-raba ponselnya di kantong hoodienya. namun tak menemukan ponsel.


ternyata ponsel Luvi berada di kamar, Luvi beranjak berdiri untuk mengambil ponsel tersebut.


tiba-tiba..


"Vi...." Jestine menahan tangan Luvi sambil tertawa puas.


"aishhh... gak lucu ya Jest" Luvi seketika menyadari dirinya dikerjai Jestin, mengacak pinggang dan menatap Jestin tajam.


"hatiku yang pernah patah, tapi aku sudah menemukan kamu sebagai obatnya" Jestine tersenyum berdiri dan memeluk Luvi berusaha meredam kekesalan Luvi.


"aishhh Jestine, kalau kamu bukan calon suamiku, kupatahin beneran bahumu" gerutunya dalam pelukan lembut itu.


"kamu cantik ketika panik dan marah" puji Jestine sedikit menggoda


"kamu jelek banget kalo nakal begitu" balas Luvi tak mau kalah..


"Jelek-jelek gini, kamu milih aku jadi suamimu daripada Jungkook"


"Jungkook itu pacarku selamanya" celotehnya percaya diri


"hmmm... gak apa2. yang penting aku suamimu, yang memiliki mu seutuhnya"


Luvi tersenyum bahagia, dia tau perasaan nya pada Jungkook hanya sebagai bentuk obsesi karena kekaguman yang begitu mendalam,


sekarang dia telah menemukan Jungkook di kehidupan aslinya, yang bersedia menjaga dan mencintainya secara nyata. tanpa terasa luvi menjatuhkan air mata bahagia..


"makasih ya Jest... buat semuanya" Luvi melepas pelukannya dan sedikit menengadah, memandangi wajah tampan, bola mata itam bulat dan rambut yang sedikit berponi membuatnya kembali tersenyum dan sekilas mengecup bibir tipis milik Jestine.


Jestine tersenyum puas, mendapatkan perlakuan manis yang baru pertama kali dilakukan Luvi.


Jestine memiringkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dan bibir merah muda itu, Luvi yang merasakan hal itu tanpa ragu lagi membalasnya dan mengalungkan tangannya di leher Jestine, mereka saling berpelukan dalam ******* cinta yang begitu memabukkan.


Ding.....Dong....


bel pintu apartemen itu berbunyi, membuat mereka menghentikan ciuman tersebut.


"aishhh... siapa? mengganggu saja" Jestine menggerutu seraya menuju pintu untuk membukanya.


...■■■■■■■■■...


...wahh... semakin romantis saja! happy reading....