My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#12 pajang fotoku



Dalam keadaan hati yang di selimuti kekhawatiran Jestine kembali ke kantor, langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa itu menghadirkan suara hentakan sepatu di setiap ubin yang dilalui.


"Vi..." tubuh atletis itu merangkul tubuh ramping Luvi yang sedang mengatur letak buku di lemari penyimpanan.


Luvi terkejut dan hendak memalingkan tubuhnya kepada Jestine namun kedua tangan lelaki itu telah mengunci pergerakannya, siapa lagi yang berani memeluknya terang-terangan jika bukan Jestine


"kamu kenapa sih Jest, lepasin, ini kantor" Luvi berusaha memisahkan kedua tangan yang tampak berurat itu dari pinggangnya.


"biarkan saja"


Jestine mengeratkan dekapannya, Dia pun bingung kenapa begini. yang terpikir di otaknya tadi ketika sampai dikantor adalah memastikan Luvi baik-baik saja.


"Pak Jestine sayang... ini kantor, bukan praktek jasa peluk-peluk, jadi tolong lepaskan" Luvi seolah merayu dengan penuh penekanan.


Jestine melepaskan pelukannya, dia beralih mengenggam tangan Luvi yang halus bagaikan sutra itu


"Vi... aku..."


"kenapa? kamu jatuh cinta sama aku?" Luvi bertanya seraya melepas genggaman Jestin dan merapikan dokumen di meja tanpa memandang Jestine


mendengar pertanyaan itu, wajah Jestine seketika bersemu merah, sedikit senyum tergambar disana.


"Gak, ntar aku di serang Jungkook lagi" elaknya tertawa menatap ke arah Luvi, Jestine tahu betul saat seperti ini bukanlah waktu yang pas untuk serius.


"Tepar kamu, Jungkook sabuk itam taekwondo loh"


"aku juga sabuk itam taekwondo" Jestine tak mau kalah menunjukkan kepantasan dirinya. dan memang benar dia mengikuti pelatihan taekwondo awal-awal kuliah dulu.


"hmmmm... tapi kamu tetap kalah"


"kenapa? tarung aja belum"


Jestine menopangkan tangannya ke meja Luvi, berharap Luvi menatapnya kembali


"sekalipun Jungkook kalah, dia tetap pemenang dihati aku" Luvi tersenyum bangga menoel hidung mancung Jestin


Deg


Rasa itu datang lagi, Raut wajah jestine berubah muram, dia merasa kesal ketika Luvi dengan bangganya menyebut Jungkook di hadapannya.


arrgghhhhh


Jestine berlalu keluar ruangan begitu saja, ketika meraih handle Luvi menoleh dan meneriakkan kalimat, tapi Jestine sudah tak fokus lagi


"Postermu boleh aku copot tidak sebagian?"


dengan sedikit berteriak, namun tak dihiraukan oleh Jestine.


Luvi menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Jestine,


"hmmm padahal aku mau ngomong itu dari tadi pagi"


Luvi duduk dan termenung, Luvi menyadari perhatian Jestine sudah melebihi seorang teman.


tatapan matanya yang hitam bulat mengandung kekaguman dan Luvi bisa merasakan hal itu.


"lelaki brengsek ... desahan.. perselingkuhan"


seperti bergema dalam pikiran Luvi, menciptakan kenangan buruk yang membuat hatinya begitu rapuh, bayangan masa lalu yang kelam menghantui pikirannya.


Luvi tersadar dari lamunan nya, menghela nafas, dan meraih botol minum bergambar BTS di mejanya


membuka tutup botol dan kemudian meneguknya, untuk membasahi tenggorokan nya yang kering serasa gurun sahara.


Luvi memijat pelipisnya, dan menyandarkan tubuhnya pelan ke sandaran kursi. kembali membayangkan hal yang baru saja Jestine lakukan.


"aku tau Jest, kamu menyukai ku"


Luvi bergumam pelan, berbicara pada dirinya sendiri. menghela nafas frustasi akan keadaan hati yang menimpanya.


Luvi mengambil sling bag berwarna coklat miliknya, memasukkan ponselnya dan bersiap untuk pulang.


Luvi menuju ruangan Jestine terlebih dahulu dengan maksud menanyakan perihal poster di kamarnya. Luvi membuka pintu perlahan, dan melangkah masuk...


Jestine melihat kedatangan Luvi dengan wajah datar, beberapa dekik kemudian dia mematung...


memandangi tubuh tinggi ramping itu berjalan ke arahnya,


rambut sedikit pirang tergerai lembut mengikuti gerakan tubuhnya, senyuman manis wanita bergigi ginsul itu terlukis sempurna dari sudut bibirnya, sungguh pemandangan itu memabukkan bagi Jestine.


"JESTINNNNN" Luvi memanggil setengah berteriak untuk kesekian kalinya


Jestin terkejut "Ah iya ...iya" menampilkan wajah bingung dan malu secara bersamaan


"segitu cantikkah aku? sampai kamu tak berkedip?" Luvi bertanya malas dengan maksud menyindir


"kayak nenek sihir tau gak" dengusnya berbohong.


"ku kutuk kamu jadi kodok" spontan Luvi menirukan gerakan penyihir, mengacungkan jari telunjuknya dan mengarahkan kepada Jestine


Jestine meraih jari telunjuk itu pelan dan menyingkirkan nya perlahan


"kamu jadi putri keongnya ya" senyumnya mengambang seraya menaikkan alis matanya menggoda Luvi


arghhhh Luvi sudah malas jika Jestine menggombalinya.


"Jest, boleh ga aku copot sebagian gambar kamu dikamar itu?"


"hmmm gak boleh"


"iya sih aku tau" Luvi berlalu dengan wajah cemberut menyadari permintaan nya itu yang akan seolah berkuasa.


Jestine yang baru menyadari hal itu, merasa tidak enak hati pada Luvi.


"bukan itu maksudnya, kamu copot aja yang menurut kamu gak cocok" Jestine berusaha membetulkan maksud perkataannya takut menyakiti hati Luvi.


"Jestin... sebenarnya.."


"sudah... apartemen itu milikmu sekarang, aku sudah mengurus semuanya atas namamu"


"ini sebagai ucapan terimakasihku sebagai temanmu, orang yang selalu kamu temani saat suka dan duka" Jestine meraih helaian anak rambut diwajah Luvi dan menyisipkan ke telinga bagian belakang Luvi


"jangan menolak, dan jangan berpikir macam-macam" Jestine tau arah pikiran Luvi yang merasa tak enak hati menerima semua kebaikan Jestine.


"ayo pulang, kamu aku antar. sekaligus aku bantu mendekor ulang kamar" Jestine merangkul bahu Luvi dan berjalan menuju pintu


"Lepasin Jest, ini kantor"


"aku bosnya disini, suka-suka aku lah"


Luvi menepuk pinggang ramping Jestine, yang terbalut ikat pinggang coklat itu, menambah kesan atletis di tubuhnya.


mereka berjalan beriringan keluar gedung tersebut, memasuki mobil dan melesat menuju apartemen.


*


"hmmm.. kamu sering ya ngajak Cia nginap disini dulu?" selidik Luvi sambil membuka pintu apartemen tersebut.


"Cia gak tahu kalau aku punya apartemen ini" Jestine menjawab dengan santai


"wah, pantes dia selingkuh. ternyata kamu pacar yang membosankan..hehe" tawa Luvi meledek Jestine puas


mendengar ocehan itu, Jestine meraih bahu Luvi dan membalikkan tubuh Luvi kepadanya,


wajah mereka sangat dekat hanya berjarak beberapa centi, setiap hembusan nafas Luvi bisa dirasakan oleh Jestine. Jestine memiringkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir tipis merah muda yang begitu menggoda bagi kaum adam itu.


sontak Luvi terbelalak dan tertahan, merasakan bibir lembut saling bertautan.


Jestin melepaskan ciumannya dan tersenyum seraya menyentil jidat Luvi "jangan bilang begitu lagi"


detak jantung Luvi yang berdegub kencang tak bisa dia pungkiri, pipinya yang merona tak bisa ia sembunyikan. dia malu menatap Jestine dan segera berlalu ke kamarnya.


dasar si jestin sialan itu.. omel Luvi sambil melempar tasnya sembarang arah


"Luvi kamu kenapa?" Clara keheranan melihat Luvi datang sudah mengomel tidak jelas


"Eh ra.. lo sedang ngerapiin pakaian?"


"hmmm.. gue juga udah ngedekor kamar buat lo" Clara membentangkan tangannya mengisyaratkan Luvi melihat semuanya.


"kenapa lo copot semua gambar2 milik Jestin itu?"


"Luvi ini kan kamar lo sekarang, masak iya ada poster-poster yang menyeramkan itu" menunjuk poster seorang binaragawan yang memiliki badan kekar dengan otot-otot seperti kawat dan besi.


"tenang, Jestin tak akan marah" bisiknya pelan seraya melirik ke arah pintu dimana Jestine berada


"bagus dekornya" Jestine memuji hasil dekoran Clara dan berjalan ke arah kasur lalu merebahkan tubuhnya disana


Jestine menyadari tak ada gunanya dia memasang poster-poster itu tadi malam.


bukan memperindah, malah menambah suasana kamar jadi aneh.


Luvi yang keheran melihat Jestine tiduran di ranjangnya sontak meraih bantal dan memukul Jestine, menyuruhnya bangun.


"apaan si kamu. itu tempat tidurku sekarang" gerutu Luvi menarik lengan baju Jestin.


Jestin hanya tersenyum tanpa dosa, dia duduk disudut ranjang dan mengedarkan pandangan mengitari ruangan ini.


ada poster besar Jungkook berukuruan 1,5 m × 1 m berhadapan dengan kasur, seakan Jungkook mengawasi siapapun yang tidur dikasur itu.


disisi kiri dekat jendela kaca, tergantung kata-kata penyemangat dan bunting flag yang terangkai indah, serta lampu tumbler yang berwarna silver nampak membuat pemandangan sangat mewah.


untunglah cat kamar ini bukan warna gelap seperti kamar Jestine di rumah, sehingga dekorannya terlihat sesuai saja karena warna temboknya putih bersih.


"kenapa foto jungkook yang terpajang disitu, harusnya fotoku" celoteh Jestin memicingkan mata dan mengerutkan dahi seolah sedang menilai hasil dekoran Clara


"Emang kamu artis" ledek Luvi dengan tawa khasnya


"hmm liat aja, nanti fotoku yang akan terpajang dikamarmu" Jestine menjawab tak mau kalah


"foto nikah ya.. haha" Ledek Clara yang paham maksud perkataan Jestine


Luvi hanya bergidik ngeri, membayangkan Jestine suami nya. rasanya aneh. selama ini hubungan mereka hanya berteman, saling bercerita,sebatas pekerjaan sekretaris dan boss.


Luvi akui Jestine selalu memberi perhatian lebih kepadanya walaupun Jestine selalu mencap nya nenek sihir, wanita aneh, tapi perlakuannya sangat bertolak belakang dengan ucapannya.


Jestin akan bersikap seolah seorang pahlawan yang akan menjaga Luvi, kemana pun dan kapanpun.


Tapi memikirkan menikah dengan Jestine rasanya benar-benar aneh.


"kita masak mie yuk, aku lapar" Luvi mengalihkan pembicaraan dan segera berlalu ke dapur.


"eh lupa belum belanja" Luvi menepuk jidat saat dilihatnya kulkas kosong melompong.


"kamu malu ya" Suara Jestine di dekat telinga Luvi, membuatnya terhuyung kaget ke dalam kulkas yang terbuka.


"hahahaa...." Jestine tertawa sambil menaikkan pantatnya diatas meja pantry, blazernya yang telah dibuka menyisakan kaos putih yang membuat tubuh atletisnya tercetak jelas.


"aishhhh..." Luvi bangun hendak memukul Jestine geram, perut lapar ditambah lagi ke usilan Jestine membuat marahnya memuncak.


tapi ketika hendak melangkah, Kaki nya tersandung pintu kulkas yang masih terbuka. membuatnya jatuh terhuyung kedepan tepat di tubuh Jestine.


dan tanpa sengaja bibir tipis itu menyentuh pipi Jestin, memberi kesan seolah sedang menciumnya.


Jestine yang menyadari hal itu tak disengaja berdiam diri saja, menikmati adegan romantis yang terjadi saat ini.


Jestine tertawa pelan saat mendapati Wajah Luvi memerah, dia menunduk dan membenarkan posisinya.


"Dasar kulkas sialan" gerutu Luvi menendang pintu kulkas itu dan berlalu dari hadapan Jestine


"dia lucu sekali" gumam Jestine menatap punggung Luvi yang berjalan menjauh


Jestine mengambil ponselnya dan menelpon sebuah restorant, memesan dan menyuruh mengantarkan makanan ke apartemen itu.


Jestine masih saja terus tersenyum mengingat kejadian tadi, dia menutup ponselnya dan menyimpan kembali dikantong celana polo berwarna coklat itu.


"aku akan berusaha menghilangkan trauma mu Vi" gumamnya seraya berlalu dari dapur tersebut.


...■■■■■■■■...


...happy reading, maafkan author yang masih banyak kekurangan ya....