
Clara duduk santai disebuah meja, di sudut ruangan sebuah Caffe ternama di daerah tersebut.
seraya menyeruput minuman dinginnya, Clara mengirim pesan kepada seseorang yang tadi malam mengajaknya bertemu.
"Dimana?"
namun bersamaan dengan Clara memencet tombol kirim, seorang lelaki mengenakan setelan blazer hitam dikombinasikan dengan kaos putih, dan kacamata hitam membuat penampilan lelaki itu sedikit santai namun berkelas sudah berdiri di hadapan Clara.
Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Clara.
"Hai, sorry udah bikin lama nunggu. tadi ada sedikit kendala" sapa nya kepada Clara dengan senyuman manis khas miliknya
Clara begitu terpana melihat penampakan di hadapannya itu, Dia menelan salivanya perlahan, sungguh lelaki seperti ini idaman Clara....
"Makasih ya udah mau datang" Ucapnya lagi membuyarkan lamunan Clara
"oh..iya iyaa....gak apa2" Clara menjawab gelagapan serasa menundukkan wajahnya malu.
Clara menggigit bibir bawahnya kala lelaki itu menatapnya penuh senyuman. sungguh dia merasa malu.
tiba-tiba diajak ketemu seperti ini, membuat Clara menebak-nebak hal apa yang akan dibicarakannya.
"Ra, aku langsung to the point aja ya"
"kamu teman dekatnya Luvi kan?" Lelaki itu bertanya dengan serius, yang tak lain dan tak bukan adalah Jestine Walton CEO perusahaan tempat Luvi bekerja.
Deg...
"kenapa malah menanyakan Luvi saat-saat seperti ini" Clara membatin, namun dia mencoba menjawab seadanya
"Iya, kenapa?"
"apakah dia punya hubungan? pacar misalnya" Jestine tampak bertanya ragu-ragu.
Clara menghela nafas panjang mendengar pertanyaan itu, ini bukan kali pertama lelaki menanyakan tentang Luvi kepadanya.
sudah beberapa kali, perihalnya tetap sama. menanyakan siapa pacar Luvi, hubungan apa, atau lebih tepatnya masa lalu Luvi.
Clara memiliki hubungan sangat dekat dengan Luvi, sebab itulah banyak lelaki yang menyukai Luvi bertanya pada Clara, sifat Luvi yang pendiam dan tertutup membuat sulit untuk mendekatinya.
sebenarnya Clara malas membahas masalah ini, tapi mengingat Jestine telah memberi tumpangan kepadanya dan Luvi, apa salahnya menceritakan masa lalu Luvi. lagipula mereka dekat sudah sewajarnya Jestine tau...
menunggu Luvi sendiri yang menceritakan semuanya? itu ketidakmungkinan yang hakiki.
Luvi adalah tipikal orang yang takkan menceritakan beban hidup dan kepahitannya kepada siapapun, kecuali orang yang benar-benar dia percaya.
jadi begini ceritanya....
...~flashback on~...
sejak SMA kelas 1 Luvi sudah memiliki seorang pacar bernama Dava.
Dava kala itu kelas 3, mereka memang tidak satu sekolah tapi mereka sering menghabiskan waktu bersama ketika diluar jam sekolah.
mereka terlibat dalam perkumpulan voly putra dan putri, yang membuat mereka sering bertemu.
mereka juga aktif dalam kegiatan organisasi sosial di desa mereka.
Dava bukanlah anak yang nakal, Dia sebagai anak pertama dari 4 bersaudara memiliki sifat yang ramah, rajin, Mandiri dan tekun.
Dava sangat menyayangi Luvi, dan begitupun sebaliknya. Dava selalu menjaga dan melindungi Luvi. tak pernah dia sedikitpun mengecewakan Luvi.
hingga...
ketika Luvi kelas 2 SMA, dia pindahkan ke Ibukota karena dia harus mengikuti persyaratan beasiswa yang diambilnya.
tak masalah bagi Luvi dan Dava, meskipun tak dipungkiri ada kesedihan di hati mereka. namun mengingat cita-cita mereka lebih penting, Dava selalu mendukung apapun keputusan Luvi.
6 tahun belalu, semuanya berjalan dengan baik, walaupun jarak begitu jauh tak memudarkan perasaan mereka,
mereka selalu bertukar pengalaman, cerita dan banyak hal lainnya melalui ponsel mereka.
selama 6 tahun itu, Luvi hanya pulang ke desa nya sebanyak 4 kali, hanya sebentar sekitar 2 minggu paling lama 1 bulan karena jatah libur memang hanya segitu.
kesempatan itu mereka manfaatkan untuk melepas kerinduan yang lama tak tersampaikan, mereka akan menghabiskan waktu berkeliling desa atau bermain voly bersama seperti dulu.
tak ada yang berubah, baik Luvi maupun Dava mereka tetap saling menyayangi.
semua rencana telah mereka siapkan, mulai dari keluarga yang telah merestui, persiapan tabungan untuk masa depan sudah mereka perhitungkan.
Luvi dan Dava akan berencana menikah tahun kedua setelah Luvi menyelesaikan studinya.
namun.. takdir berkata lain..
pada tahun ke7 mereka membina hubungan, Luvi bermaksud memberi kejutan untuk pulang ke desanya menemui Dava, hal ini tak tak diketahui siapa2 kecuali Clara teman dekatnya.
setelah sampai, Luvi mengirimkan pesan kepada Dava menanyakan dimana posisinya. Dava pun membalas pesan itu dan menunjukkan nama tempat dia berada sekarang, sebuah aula pertemuan di sebuah hotel.
memang Dava adalah anggota organisasi sosial kebudayaan sehingga Dava harus menghadiri banyak sekali pertemuan seperti sekarang, jadi bukan hal baru bagi Luvi jika Dava berada di hotel.
Luvi menuju hotel tersebut dengan membawa sebuah Goodie Bag, berisi hadiah Valentine, ya dia pulang tepat tanggal 14 Februari.
setelah sampai dihotel, sekitar jam 11 malam, Luvi menanyakan keberadaan Dava kepada teman2 nya. dan mereka memberitahukan Dava menginap di kamar nomor 10 lantai 3. kebetulan teman sekamar Dava memegang 1 kunci,
sehingga untuk mendukung kejutan yang direncakan Luvi dia menyerahkan kunci tersebut kepada Luvi.
dengan hati yang berbunga-bunga dan wajah berseri2 Luvi setengah berlari menaiki anak tangga hotel tersebut.
kerinduan yang begitu menumpuk selama setahun belakangan ini sebentar lagi akan tersampaikan. bertemu langsung, saling memeluk saling menumpahkan rasa rindu yang ada di dada.
itulah isi pikiran Luvi, Luvi berjingkat pelan menuju kamar nomor 10.
dia memasukkan kunci kepintu, memutarnya perlahan, mendorong handle pintu perlahan, dan masuk ke kamar hotel tersebut perlahan supaya tak diketahui oleh Dava.
namun.....
Luvi mendengar suara lenguhan dan desahan, perlahan namun semakin nyata ketika dia melangkah masuk
dan dilantai sekitar kasur, terdapat beberapa pakaian yang sepertinya sengaja dibuang tak beraturan.
"awww sayang lebih dalam lagi" suara wanita terdengar setengah meringis
"sayang, punyamu begitu sempit.. dan 2 gundukan ini begitu memabukkanku..ahh...awhh" suara lelaki itu sangat dikenali oleh Luvi.
seketika Tubuh Luvi serasa bergetar, dadanya sesak, jantung berdegub sangat kencang.
Luvi jatuh terhuyung di sudut pintu, namun karena permainan panas mereka, tak ada yang menyadari suara tubuh Luvi yang terjatuh lemas.
Luvi menetralkan suasana hatinya, berharap dia salah memasuki kamar. berharap yang dia lihat dan dengar bukan seperti apa yang ada dalam pikirannya.
Luvi berusaha bangun dan mengambil goodie bag yang di bawa, kemudian keluar menuju resepsionis untuk menyewa kamar kosong di hotel ini.
sampai dalam kamar hotel, dia mencoba menghubungi Dava namun tak diangkat walaupun sudah 30x Luvi memanggil, guna memastikan apakah benar itu Dava?
dalam keadaan dada yang sesak, serta nafas yang terengah-engah, pikiran yang kacau, yubuh yang gemetar, dan emosi yang berusaha ditahan Luvi mengambil laptopnya dan berselancar disana.
Luvi mengingat-mengingat semua password yang dia ketahui, yang memungkinkan bisa digunakan untuk membuka akun sosmed Dava, Luvi menyelediki semua akun, kontak dan apapun yang berhubungan dengan Dava.
hingga dia menemukan sebuah kontak akun yang dia kenali...
Alisa
di dalam percakapan itu berisi semua kata-kata rayuan, foto-foto mesra Dava dan Alisa. sangat terlihat jelas kebersamaan mereka disela-sela kegiatan yang mereka ikuti.
bahkan percakapan mesum layaknya suami istri, yang minta di puaskan dan memuaskan.
sungguh keterlaluan dua manusia itu.
Alisa adalah teman Dava yang sama-sama terlibat dalam organisasi sosial itu.
Luvi juga mengetahui bahwa Dava sangat dekat dengan Alisa karena Dava pun selalu bercerita jika dia sedang bersama Alisa, mereka memang selalu melakukan proyek bersama, dan pergi bersama karena rumah mereka kebetulan searah.
namun hubungan seperti ini tak pernah Luvi bayangkan.
Luvi mengacak-acak rambutnya frustasi, dadanya yang serasa sesak membuatnya sulit bernafas.
sungguh sakit perasaan itu, bagai luka yang menganga tersiram pula air garam.
Ingin rasanya Luvi membunuh kedua manusia itu, supaya tenggelam bersama kelicikan dan kemunafikan mereka.
airmata yang tak henti turun membasahi pipinya membuat matanya begitu sembab, Luvi berteriak kencang di kamar tersebut.
sungguh Luvi tak menyangka semua nya seperti ini, Dava orang terbaik yang pernah dia kenal, Dava orang tulus yang pernah dia temui..
Dava orang yang selalu menguatkan dan menemani saat suka duka, yang selalu mendukung Luvi saat semua orang menjauh, yang selalu menunggu pulang saat Luvi dikejauhan, yang terkenal begitu setia....
lelaki yang Luvi pilih untuk menjadi teman hidupnya hingga menua...
lelaki yang sangat Luvi percayai..
malah menghujamkan pedang bermata dua di hatinya, menghancurkan istana indah yang telah dibangun di hati Luvi selama bertahun-tahun ini.
meruntuhkan semua impian dan harapan yang telah dilukis dihati.
sungguh kejam, Luvi meraung dan meringis menumpahkan semua rasa sakit hatinya.
semakin dia mengingat semuanya semakin sesak dan sakit di dadanya.
Luvi memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, sungguh dia membenci semuanya. Ingin rasanya dia tak mengetahui semua yang terjadi, ingin rasanya Luvi ilang ingatan saja.
***
mulai dari kejadian itu, selama 3 bulan Luvi mengurung diri di kamar.
berat badan nya turun drastis, wajahnya pucat.
dia tak mau terlibat dalam lingkungan sosial. dia hanya menghabiskan waktunya bermain hp.
kebetulan saat itu merebak Covid 19, sehingga dia kuliah hanya dari kamar. karena belajar daring.
akhir tahun, tepatnya bulan Desember.
Luvi kembali di hadapkan dengan kepergian sang ayahanda tercinta. membuat pukulan terberat dalam hidup Luvi.
bagaimana tidak, dalam setahun Luvi dikhianati orang yang begitu dia cintai, dan di tinggalkan orang yang bgitu dia sayangi untuk selamanya..
...~flashback off~...
"sejak saat itu, Luvi berubah jadi wanita dingin kepada lelaki manapun"
"dia tak berani membuka hati bahkan kepada orang yang sangat dia kenal, seperti kamu Jest" Clara berbicara sambil memandang wajah serius Jestine yang kelihatannya berkaca-kaca dibalik kacamata itu.
"baginya, sebaik-baiknya lelaki. pasti mereka punya sifat berengsek seperti Dava mantan kekasihnya itu"
"Luvi memang sedikit aneh, tapi sebenarnya dia sangat rapuh Jest" Clara masih terus menjelaskan
"BTS... itu adalah grup yang ajaib. yang menurutku bisa mengembalikan hidup Luvi seperti sekarang, dia bisa tersenyum, bergaul dan bekerja seperti sekarang" Clara mengusap matanya yang sudah berair
Jestine menghela nafasnya dalam...
ternyata ada masa lalu yang begitu kelam menimpa hidup Luvi,
dan sejauh ini, Luvi bisa menutupi itu semua dengan rapat. sungguh Luvi wanita kuat..
...■■■■■■■■■...
...gimana kelanjutannya? pantengin terus ya....
...jangan lupa like, komen dan vote. dukung terus author yang tak sempurna ini. happy reading....
...with 💜...