
"hai mam..." sapa Jestine memasuki ruang tengah rumahnya sambil memegang tangan Luvi.
"hallo.. tante.. hmmm ..mama" Luvi menyapa sedikit merasa canggung memanggil mama.
"hallo Vi.. Jestine" Lusi langsung memeluk calon menantunya tersebut dan mengajaknya duduk.
"pantes mama teriakin Jestin gak ada sahutan dari kamarnya, ternyata sudah pergi ke rumah kamu" ucap Lusi sambil menyodorkan segelas matcha kepada Luvi
"aku juga mau ma" melihat perhatian itu, Jestin duduk disamping Luvi meminta segelas matcha juga.
"kamu tuang sendiri, nih" Lusi menyodorkan teko kaca bening berisi matcha hangat kepada Jestin
lalu beralih bertanya kepada Luvi,
"gimana keadaan kamu?"
"perhatian banget, padahal aku yang anak mama" Jestine bergumam sambil memandang segala arah
"aku baik ma"
"hari ini kita bicarain hari dan tanggal nikah kalian, mama sih bebas mau hari apa aja"
"hmmm... gimana kalau kita pilih tanggal 1 aja ma?, Jest?" Luvi menoleh kepada Lusi dan Jestine bergantian.
"1 adalah awal dari semua tanggal pada hari, jadi pernikahan itu awal dari perjalanan baru kita berdua" Luvi menjelaskan alasan dia memilih tanggal 1.
"its okay, tadinya sih aku mau pilih tanggal lain, tapi alasan kamu sangat menarik, aku jadi suka dan setuju" Jestin tersenyum penuh makna pada Luvi.
"betul.. mama juga setuju"
Merekapun membicarakan konsep dan tema seperti apa yang akan mereka pilih nanti, sesekali mereka bercanda ringan.
setelah selesai, Lusi mengajak Luvi Makan siang. tdi pagi Lusi meminta kepada asisten dirumahnya menyiapkan hidangan makan siang karena mengetahui Luvi akan datang.
Luvi merasa bahagia, calon mertua nya bersikap begitu ramah dan hangat kepadanya. dan benar apa yang dikatakan Jestine mamanya tak mempermasalahkan gaya berpakaian Luvi yang seperti gadis belasan tahun.
mereka telah memilih tanggal dan hari yang tepat, tema dan konsep yang telah disepakati, Jestin pun telah menelpon orang suruhan nya untuk mengurusi itu semua.
Luvi menghabiskan waktu seharian di rumah Jestine, selepas makan siang mama Lusi mendapat telepon dari teman nya untuk datang dalam perkumpulan zumba yang diikutinya.
mama Lusi yang berbadan langsing bak model itu rutin mengikuti kegiatan zumba, dan dia merupakan salah satu pemandu disana.
dan tinggal lah Luvi dan Jestine dirumah. sekarang Luvi akan menemani Jestine dulu menyelesaikan pekerjaannya, setelahnya baru ia akan pulang.
Luvi menjatuhkan tubuhnya dan berbaring telentang di kasur empuk berwarna abu kesukaan Jestine. dia memandangi seluruh isi sudut kamar.
hanya ada lampu dinding yang sepaket dengan desain mewahnya, tak ada poster ataupun gambar yang dipajang disana.
"soalnya aku udah menarik" Jestine menjawab asal sambil memandangi laptopnya di sofa membalas email mengenai pekerjaan di kantor.
"tapi aku kok gak tertarik" elak Luvi dengan wajah mengejek
"kalau gitu akan ku buat kau tertarik" sambil menutup laptopnya dan berjalan ke kasur.
Jestine menjatuhkan tubuhnya diatas Luvi yang sedang berbaring telentang, menopang kedua tangannya dan mengunci pergerakan Luvi.
Spontan Luvi terkejut memejamkan mata, melihat Jestine yang telah menindihnya seperti terjatuh, namun ketika membuka mata, Luvi tertawa melihat wajah Jestine yang berubah serius.
"Berat JESTIN" teriaknya masih tertawa merasakan berat badan Jestin.
Jestin tak menjawab, dia menatap wajah Luvi kening, alis, mata, hidung hingga bibir merah muda itu..
tangannya menelusuri setiap lekukan wajah Luvi.
Luvi terus tertawa merasa geli akan tingkah Jestin itu dan terus berontak agar Jestine tak menindihnya lagi.
lalu Jestine menempelkan wajahnya ke leher jenjang Luvi, menghirup aroma parfum vanilla dan wangi khas tubuh Luvi yang memabukkan, lalu menciuminya dengan sentuhan sensual.
Luvi berkerut memejamkan matanya, ada desiran aneh ditubuhnya yang membuatnya tak bisa segera menghentikan Jestin.
Jestine terus menciumi Luvi, meninggalkan beberapa bekas kepemilikannya disana.
"hmmhhhm..." suara itu lolos begitu saja dari mulut Luvi menandakan dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Jestine.
Jestine yang mendengar itu tertawa kecil dan segera mengangkat wajahnya.
"aku menang, kau sudah tertarik padaku" ejeknya sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur disamping Luvi
seketika Luvi menggigit bibirnya merasa malu dan kesal kepada Jestin. Jestine sialan...
Sontak Luvi memukulkan bantal ke kepala Jestin dengan wajah yang begitu kesal.
"kenapa? mau dilanjutin?" goda Jestine memandang wajah Luvi yang kesal.
Luvi tak menjawab dia malah memukul kembali kepala Jestine, Jestin hanya berdiam diri sambil terus terkekeh mendapat pukulan itu. untunglah hanya bantal jadi tidak sakit.
"awas ya kamu, akan ku balas" Luvi menatap Jestine dengan wajah dendam
"terserah, yang penting kamu sudah tertarik padaku" tawanya penuh kemenangan..
...■■■■■■...
...hi readers, jangan Lupa tinggalin jejak ya.. jaga kesehatan, see u 💜...