
...Moment...
...|Part 08|...
...Happy reading...
...[•]...
Singkat cerita, sore itu Tyra dan Retno benar bertemu di cafe yang pernah dulu, menjadi tempat favorit mereka menghabiskan sisa hari dengan bicara banyak tentang pekerjaan.
Lain dulu, lain sekarang. Hari ini mereka bertemu dengan pribadi berbeda, dengan status berbeda, dan tentu dengan kehidupan berbeda pula. Tyra yang sudah bahagia dengan keluarga kecil dan menjadi ibu rumah tangga produktif yang memiliki bisnis butik yang larisnya sampe manca negara. Sedangkan Retno, kini juga mencoba peruntungan menjadi seorang pebisnis yang meneruskan bisnis ayahnya—yang tentu akan menjadi pekerjaan masa depannya—sudah mulai menemukan jalan.
Tidak ada yang berbeda dari tingkah mereka saat bertemu, selain usia yang memang semakin bertambah dewasa.
“Ajeng ... ” panggil Retno saat melihat anak gadis Tyra yang cantik jelita dan gemesnya nggak ketulungan itu. Ia meraih gadis yang memiliki sepasang pipi chubby dan gembil sedang berusaha naik meja cafe yang ukurannya tidak seberapa lebar. Tingkahnya juga luar biasa petakilan. Masa anak cewek naik diatas meja sambil tepuk tangan layaknya artis, dan juga berjalan melenggang dilantai layaknya model tersohor seantero bumi?
“Nggak jauh beda sama emaknya, sih.” cebik Retno menyuarakan isi hati, semakin gemas saja karena sekarang Ajeng sedang mengembungkan pipinya karena kesal dilarang Tyra melakukan aksi heroik bak pahlawan kemalaman, yakni naik ke atas meja.
“Gue sendiri kadang heran, kenapa anak gue pecicilan kek begini ya? Padahal bapaknya itu kalem banget, nggak pernah ngajari dia macem-macem. Palingan kadang memang suka diajak nyanyi, karaokean di rumah. Nyanyinya juga lagu anak-anak doang lho, pah.”
“Lo lupa sama perumpamaan yang sering diomongin orang ya?” jawabnya setengah ketus. “Buah, jatuh nggak jauh dari pohonnya.”
Tyra nyengir kuda sambil menggaruk rambutnya yang dicepol asal namun tetap terlihat elegan.
“Seingetku, aku dulu nggak secentil dia deh, Pah. Aku dulu itu kalem, sabar, penyayang. Tingkah kayak gitu juga karena tuntutan pekerjaan aja.”
Retno melengkungkan bibirnya tidak tau diri. “Preeet!!”
Tawa Tyra meledak begitu saja. Menyebalkan, sih. Tapi ini Jerapahnya, teman beda spesies yang dia sayangi seperti kakak sendiri.
“Gimana di Kalimantan?” tanya Tyra mengubah topik menjadi lebih serius sembari menyendok puding untuk Ajeng.
“Ya nggak gimana-gimana.”
“Eh, aku nanya serius lho.” kesal Tyra tak puas dengan jawaban Retno. “Kasih jawabnya yang spesifik dong.”
“Ya Lo pikir sendiri, deh. Gue ngapain di kolam ikan, gue ngapain di kandang ayam. Gitu masih nanya.”
Jawabannya memang pedas, tapi Tyra tau betul peringai Retno. Jawaban itu bukan sebuah emosi, tapi sebuah kejujuran yang diselipi candaan garing yang nggak bikin ketawa.
Tyra menimpali, “Ya siapa tau, kamu ikutan renang dalam kolam lele, terus ngasih makan ayam sambil duduk bersila ditengah-tengah ayam, kayak pembina pramuka.”
Tai memang si T-rex ini!
“Lu pikir gue cebong renang di kolam lele?” Retno mendengus kesal. “Mending ngajak Ajeng main nggak sih? Ngomong sama Lu lama-lama bikin tensi naik, Rex.” dumal Retno yang mendapat gelegak tawa keras dari Tyra hingga wanita satu anak, ralat, calon dua anak itu terbatuk-batuk.
“Nggak pingin tau kabar adik ipar aku, nih?” canda Tyra yang membuat pergerakan Retno terhenti. Sialan memang. Udah bener diam aja dia, kalau diberi pertanyaan macam begini. “Aku ketemu dia sehari lalu, waktu dia nganter lauk dari ibu mertua ke rumah. Jadi infonya masih fresh from kompor.”
“Ya terus gue harus kepo sama kehidupan mantan, gitu?”
“Ya kali aja. Siapa tau kangen dipendem?”
Retno menepuk lengan Tyra hingga wanita itu mengaduh. Tak terima mamanya di timpuk om-om spesifikasi makhluk luar angkasa didepannya, Ajeng mode reog pun muncul. Dia balas memukul Retno karena melihat mamanya mengaduh di aniaya alien.
“Sayang, nggak boleh. Om nya cuma bercanda sama mamah.” kata Tyra menarik Ajeng yang sepertinya masih ingin menghajar habis-habisan om jerapah alien yang berani mengganggu dan menyakiti mamanya itu.
“Om alien nakal.” serbunya tak mau diam.
“Iye, maaf sayang. Om bercanda doang aduh, galak bener titisannya T-rex.”
Akhirnya Ajeng diam dan mulai memakan puding yang dipesan Tyra. Dilanjut dengan pertanyaan Retno, yang dengan wajah berekspresi ogah-ogahan.
“Udah punya pacar baru apa belum tuh, si Linda?” tanyanya pada akhirnya, lama-lama dia kepo juga dengan kehidupan asmara sang mantan kekasih—khususnya—setelah berpisah dengannya.
Tyra menahan senyuman yang sebenarnya sudah hampir tersemat di bibir dengan lipstik berwarna peach-nya.
“Kayaknya sih, belum.” jawab Tyra yang tanpa diduga membuat hati Retno lega. “Tapi pernah denger mas Atan ngomong kalau temennya mas Atan yang dulu pernah suka sama Linda, yang namanya Reza, inget ngga?” tanya Tyra menjeda sebentar, kemudian melanjutkan, “Dia kayak lagi deketin Linda lagi setelah tau kalian udahan.”
“Bakal CLBK, tuh.” cebik Retno sinis saat mendengar pria yang dulu menjadi saingannya kini kembali maju. Sialan sekali.
“Kayaknya, sih.” jawab Tyra santai.
Kalau tidak ada Ajeng, mungkin Retno akan menimpuk mulut T-rex dengan telapak tangannya karena tidak bisa mengkondisikan suasana. Nyerocos tanpa bisa di rem, dan tidak bisa menjaga perasaan si jerapah.
“Ya moga aja lancar.” ujar Retno dengan berat hati, tidak ingin mengungkit dan membawa-bawa masalalu, apalagi sampai membuka aib pacaran yang harus mereka simpan rapat-rapat.
“Kamu beneran nggak ada minat lagi pingin gaet Linda?” tanya Tyra yang justru terkejut setelah mendengar jawaban dari Retno yang terkesan santai dan tidak terprovokasi sama sekali.
“Nggak mau ganggu kesenangan orang lain, Rex. Biar dia bahagia dengan pilihannya yang sekarang. Karena aku—” Retno menunduk, meremas jemarinya diam-diam agar Tyra tidak melihatnya. “Karena aku nggak bisa kasih itu ke dia.”
***
“Lho, Ajeng sama mbak Tyra mana mas?”
Atan mengalihkan tatapan matanya sejenak pada sang adik yang baru saja datang dengan pakaian santai dan satu rantang kolak pisang, ubi, dan kacang hijau buatan sang ibu untuk diberikan pada anak, menantu, dan cucunya. Ia duduk di kursi ruang tengah bersama Atan yang selalu sibuk dengan iPad di tangannya.
“Keluar sebentar, ketemu temen katanya.” jawab Atan kembali fokus pada layar gawai yang masih menyala. Tadi pagi Tyra memang meminta izin keluar untuk bertemu teman, tapi tidak menyebutkan nama temannya itu kepada Atan. “Bawa apa?” tanya Atan penasaran karena mencium aroma yang terasa begitu manis dan lezat dari arah benda aluminium berukuran sedang yang ada di atas meja.
“Kolak kacang hijau.” jawab Linda, lalu merogoh ponsel dari saku jumper hitam yang ia pakai. Pukul delapan malam, saat matanya menatap layar ponsel yang sudah menyala. Ada sebuah ikon pengingat muncul di layar bagian atas. Karena penasaran dengan apa yang mungkin lupa ia lakukan hari ini, Linda buru-buru melihatnya.
Sebuah gambar bentuk hati berwarna merah menjadi isi dari pengingat tersebut, dimana tepat tiga tahun lalu, dia dan Retno memutuskan untuk jadian.
Hati Linda terasa ngilu, tapi bibirnya mendadak tersenyum. Mengapa dia lupa menghapus pengingat tersebut? Padahal dia sudah menghapus semua jejak hubungannya bersama Retno dulu karena ingin move on. Ya meskipun dia memang masih menyimpan beberapa foto di I-cloud nya.
Namun bersama dengan itu, Linda mendengar suara mesin mobil berhenti didepan rumah kakaknya yang sontak membuat Linda menoleh keluar ke arah pintu utama. Linda juga mendengar suara celoteh Ajeng menyebut-nyebut terima kasih, dan suara kakak iparnya yang melakukan hal yang sama.
Lalu, saat Linda mendengar suara madu yang berkata,
Salam untuk suami Lo, Atan!
Linda sontak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan karena sangat mengenali suara tersebut. Tapi sebelum dia sampai di ruang tamu dan membuka pintu, mobil terdengar menjauh, dan Linda mendapati Ajeng dan Tyra yang masuk kedalam rumah dengan beberapa tas belanja berisi mainan dan lain sebagainya.
“Tante Lin ... !” teriak Ajeng, menerjang tubuh Linda dan memeluknya erat, dan mulai mendongeng. “Tadi, Ajeng sama mama ketemu sama om alien yang baik banget.”
“Oh ya?” Linda menatap Ajeng dan Tyra bergantian. Lalu, Atan muncul dibelakang sang adik.
“Sudah lama disini, Lin?” tanya Tyra melepaskan jaket jeans dari tubuhnya, lalu duduk di sofa ruang tamu.
“Baru sepuluh menitan, mbak.” jawab Linda dengan mimik wajah penasaran.
“Pulang sama siapa?” tanya Atan menyelidik tidak mau salah paham, karena putrinya itu menyebut nama ‘Om Alien’ yang belum pernah Atan dengar.
Dengan ragu Tyra menjawab, “Retno, lagi di Jakarta karena ada urusan bisnis sama teman ayahnya.”
Dan pernyataan Tyra itu seakan melempar Linda kedalam jurang keterkejutan yang menyakitkan. Andai saja dia lebih cepat beberapa detik, dia pasti bisa melihat laki-laki itu, tadi.
Mendadak tubuh Linda diserang panas dingin. Ia gugup sekaligus bingung harus merespon ucapan Tyra dengan ekspresi seperti apa.
“Retno? Kenapa nggak diajak mampir?” kata Atan.
“Dia harus balik ke hotel, takut kemaleman karena besok ada janji sama temen ayahnya buat ketemuan lagi dan bicara masalah bisnis.”
Linda hanya bisa membeku ditempatnya. Bibir dan lidahnya kelu tanpa sanggup berkata apapun.
“Dia, nitip salam buat kamu, Lin.” []
...To be continue...
###
Lam salam, ayo yang mau kirim salam ... Saya menerima jasa kirim salam untuk mantan 😁 *canda sayang ✌️