
...Moment...
...|Part 09|...
...Happy reading...
...[•]...
Dia, nitip salam buat kamu, Lin.
Perasaan Linda campur aduk antara senang dan sedih. Dia tidak ingin mengingat semua kenangannya bersama Retno, tapi sekarang pria itu justru hadir tanpa diduga dan diminta.
Semua itu berdampak sangat signifikan terhadap mood Linda pagi ini. Hatinya diliputi rasa senang, bahagia, penuh bunga-bunga bermekaran, dan kupu-kupu berterbangan yang menggelitik untuk memancing senyuman.
Dan ya, se-berpengaruh itu berita yang disampaikan Tyra dari Retno, untuk Linda.
“Woy! Ngapain lu senyum-senyum kayak gitu?” solot Tika yang baru saja sampai di meja kerjanya. Sedangkan Linda, menanggapinya dengan senyuman yang semakin lebar.
“Sewot amat, bu? Nggak dapat jatah dari bapak ya?” cerocos Linda pada si penganten baru.
Tika melotot lebar. Bisa-bisanya mulut perawan ngomong begitu? Ingin sekali Tika menimpuk mulut si manis itu dengan sendal jepit miliknya dibawah meja yang sudah buluk itu.
“Dapat lah. Dobel malahan.”
Linda tertawa, Tika justru semakin penasaran. Pasalnya jarang sekali melihat Linda tertawa lepas seperti sekarang, akhir-akhir ini.
“Lu ketawa-ketawa, memang udah ketemu jodoh?”
Sialan kan? Senyuman Linda sirna, berubah wajah sinis yang biasanya Tika lihat.
“Bwahahahah, kena kan Lu?! Makanya jangan coba-coba sama gua.”
Linda memalingkan wajah, menggeleng tidak habis pikir karena temannya itu memang selalu saja membuatnya mati gaya.
“Ntar siang makan dimana? Atau bawa bekal?” tanya Tika, lalu duduk dan menyalakan komputer pribadinya untuk melakukan absensi.
“Enggak. Tadi ibu nggak masak, dan aku beli lauk matang, jadi nggak bawa bekal. Ntar ke seberang aja deh.”
Seberang itu, maksud Linda ada sebuah cafe yang juga menjual makanan. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari kantor. Hanya perlu menyeberang, lalu berjalan sekitar dua ratus meter sudah sampai.
“Nitip kopi ya.”
Linda tidak menanggapi. Sudah menjadi kebiasaan Tika menitipi Linda kopi seperti itu, dan Linda sih, oke-oke saja. Dia nggak pernah sedikitpun keberatan jika Tika yang meminta padanya.
Berhubung masih ada sisa waktu sekitar sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai, Linda membenarkan tatanan rambut dengan mengikatnya menjadi satu di bagian belakang. Kemudian menyempatkan diri juga mengobrol dengan Tika hingga topik yang diusung menyentuh masa lalu. Wajah Linda berubah gelisah ketika Tika mulai bercerita bagaimana perjuangan bersama sang suami dulu untuk meyakinkan orang tua mereka untuk memberikan restu.
“Dia ada di Jakarta, Tik.”
Tika yang semula mulai mengotak-atik laporan, kontan menoleh ke arah Linda. Tatapannya juga berubah khawatir.
“Lu nggak apa-apa kan?”
Linda tertawa sedikit sebal. Apa-apa bagaimana maksudnya?
“Ya nggak apa-apa lha, Tik. Orang dianya juga nggak nyamperin aku kok.” tukas Linda jujur.
“Jadi si jerapah lagi ada disini karena ada bisnis?”
“Nggak disini, sih. Jauh banget dari sini malahan.” jawab Linda membenarkan asumsi Tika yang mengira Retno menginap di tempat yang dekat dengan Linda. “Cuma, kemarin dia ngajak ipar ketemuan.”
Tika juga tau betul jika Tyra adalah kakak ipar Linda, yang juga memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasih sahabatnya itu. Untuk itulah Tika khawatir, karena lingkaran hubungan mereka terlalu gampang untuk kembali bertemu di satu titik, yang mungkin akan membuat Linda kembali patah hati.
“Dia nggak mampir kerumah mbak Tyra. Cuma nganter pulang setelah itu balik.” lanjut Linda, terlihat semakin sendu dengan mengalihkan tatapan pada layar komputer yang sudah aktif. “Dia kirim salam ke aku, melalui kak Tyra, Tik.” kata Linda pada akhirnya. “Menurut kamu, apa yang harus aku lakuin sekarang?”
“Lin, kamu harus tetep move on. Menatap masa depan, dan anggap saja salam itu hanya sebatas sapaan. Jangan di simpan terlalu jauh dalam hati kamu. Aku nggak pingin lihat kamu nangis-nangis lagi gara-gara cowok.”
Linda tersenyum dan menyambut telapak tangan Tika dengan usapan. “Makasih ya, udah mau perhatian sama aku dan kondisi mental aku yang memang sempat down.”
***
Jam makan siang sudah lewat sepuluh menit. Linda sudah sampai di sebuah cafe langganannya sejak dulu bersama Tika saat tidak membawa bekal. Ia juga sudah memesan dua kopi dan satu makanan siap saji yang akan ia bawa kembali ke kantor untuk di makan disana. Ia sengaja memilih take away karena takut nanti terlalu nyaman makan sampai lupa jam kerja, lalu kena tegur atasan. Kan nggak lucu.
Sambil menunggu pesanannya jadi, Linda duduk di salah satu kursi pengunjung dan bermain ponsel. Hanya membuka artikel berita dan akun sosial medianya yang sekarang dia privat agar tidak ada yang kepo dengannya. Kalian tau maksudnya, kan?
Linda mendengar suara lonceng pintu berbunyi ketika pengunjung datang dan pergi. Kali ini seseorang masuk, dan bersamaan dengan itu, seorang pegawai memanggil nomor tunggu nya, karena pesanan sudah jadi.
Linda bergegas berdiri, menyimpan kembali ponselnya pada salah satu saku seragam kerjanya, lantas mengangkat pandangan untuk menatap pegawai yang sudah siap menyambutnya dengan senyuman.
Tapi, satu hal tidak terduga membuat Linda terpaku diatas alas berdirinya. Telapak tangannya mendadak dingin, sorot matanya pun tak lepas begitu saja dari sosok yang kini berdiri menatapnya. Retno ada disini. Mereka bertemu.
Tatapan itu berakhir setelah beberapa detik seperti berhenti untuk keduanya. Linda kembali berjalan menuju meja pegawai disisi kanan untuk mengambil pesanannya, sedangkan Retno menuju meja kasir disisi kiri untuk memesan makanan.
Lajur arah keduanya bersilang hingga membuat Linda dan Retno nyaris bertabrakan jika pria itu tidak menahan langkahnya dan membiarkan Linda berjalan dihadapannya terlebih dahulu seperti orang tak saling kenal.
Sedahsyat itu efek salah faham yang mengikat mereka.
Linda buru-buru mengambil pesanan dan berniat langsung saja pergi dari sini sebelum Retno mulai menyapanya. Tapi semua urung ia lakukan. Dan sesuai prediksi, Retno sudah mendekat dan menyapanya seperti orang baru yang ingin mengajak kenalan.
“Hai, tunggu sebentar.” cegahnya agar Linda tidak pergi meninggalkannya begitu saja.
Linda yang merasa terpanggil, akhirnya berhenti dan memutar badan menghadap ke arah Retno berada. Ia sedikit pangling lantaran kini Retno tidak sekurus dulu. Badannya lebih berisi. Lengannya yang dulu kurus, kini terlihat seksih. Wajahnya pun demikian, terlihat lebih maskulin dan tentu saja ... sangat tampan dengan gaya rambut seperti yang terakhir kali Linda lihat, akan tetapi kali ini sedikit pendek.
“Maaf ganggu waktu Lo sebentar. Gue cuma mau tau kabar Lo doang, kok.”
Lo? Gue? Sialan!!
Linda mengumpat-umpat dalam hati. Panggilan itu membuatnya meradang dan ingin mencakar wajah Retno yang sialannya semakin tampan saja setelah menjadi mantan.
“Penting, ya?” ketus Linda sedikit pun jual mahal. Bagaimanapun, imagenya harus tetap dijaga.
Retno tak berhenti menatap wajah ayu gadis keturunan Jawa tulen itu dengan harapan rindunya terobati.
“Maaf jika memang nggak penting buat Lo, Lin. Gue cuma pingin nyapa dan tanya kabar.” jawab Retno sabar. Dia tidak ingin membuat mantan kekasihnya itu lebih membencinya gara-gara pertemuan mereka kali ini. “Lo baik, kan?”
Linda semakin sinis. Ekspresi yang ia tunjukkan sangat tidak bersahabat. “Bisa lihat sendiri kan? Ngapain tanya?”
Retno gemas, Linda memang selalu menggemaskan dimatanya. Apalagi kalau mode sewot begini.
“Ya syukur deh kalo gitu.” kata Retno masih tetap sabar meskipun Linda sudah sinis level maksimal padanya. “Ya udah, sorry ganggu ya? Gue cabut dulu mau nunggu pesanan. Sukses buat kerjaan kamu.” kalimat penutup yang ia semati sebuah senyuman tulus, lalu mempersilahkan Linda untuk berbalik dan meninggalkan dirinya lebih dulu. Retno paham konsep wanita seperti Linda ini. Gadis itu tidak pernah mau jika Retno mendahuluinya, situasi yang seperti sekarang ini. Dulu Linda akan selalu protes atau bahkan marah jika Retno mengambil jatah pergi terlebih dahulu dan meninggalkan dirinya.
Linda yang egonya setinggi langit pun berbalik tanpa mengucap pamit. Ia bahkan menatap Retno dengan kekesalan yang tergambar jelas di wajahnya. Ia pun bergegas pergi dengan langkah yang ia ambil buru-buru.
Tapi dia berhenti sejenak dan berbalik untuk memastikan sesuatu. Sebuah kekecewaan kembali menyambangi hatinya saat Retno juga sudah beranjak meninggalkan dirinya yang masih memasang ego.
Ditatapnya punggung yang kini terlihat begitu kekar dan padat itu semakin menjauh. Lalu tanpa malu Linda berkata dengan suara lantang hingga menarik perhatian beberapa pengunjung yang ada didalam sana.
“Nggak usah kirim-kirim salam lagi melalui orang lain. Aku nggak pingin denger itu dari orang lain!”
Setelah itu Linda benar-benar meninggalkan cafe, dan Retno ... yang masih heran, mengapa kecemburuan Linda itu terasa dan terlihat kentara sekali, sih?
Kalimat itu jelas sejak bermakna, jika Linda ingin mendengarnya langsung dari Retno. Pria itu tau maksud ucapan Linda tanpa harus bertanya secara gamblang pada wanita itu. Lalu, Retno menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil tersenyum.
Ia lantas bergumam dalam hati, “Ya, lain kali aku akan sampaikan langsung sama kamu.” []
...To be continue...