
...ATTENTION!!!...
...FULL NC...
...²¹+...
...BE WISE...
...untuk yang tidak berkenan atau berusia di bawah ²¹ tahun, silahkan lewati saja bab ini, oke. Terima kasih atas perhatiannya....
...[•]...
Turun dari pelaminan, seluruh anggota keluarga menuju hotel yang sudah disiapkan oleh pengantin untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah. Hotel yang disewa jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi resepsi.
Retno dan Linda pun bermalam di tempat yang sama dengan para tamu keluarga. Akan tetapi, tempat mereka lebih spesifik, lebih elegan, dinaungi nuansa pengantin baru yang begitu kental.
Setelah berhasil melewati bilah pintu jati yang ukurannya cukup tebal, Linda dapat melihat pemandangan yang membuatnya seketika membolakan mata dengan jantung berdegup kencang. Sebenarnya sudah lumrah, dia juga sudah sempat melihat gambar yang ditawarkan pihak hotel saat membooking nya dulu. Tapi, melihatnya dengan nyata seperti ini? Mengapa ia malah gugup?
Aroma harum vanilla menguar saat kakinya melangkah lebih masuk ke dalam ruangan luas berisi perabot yang identik dengan warna merah dan putih itu. Linda bahkan sempat terkejut ketika pintu kamar itu di katupkan kembali oleh Retno.
Dari tempatnya berdiri, dia melihat diatas ranjang ada satu stel handuk yang dibentuk menjadi seekor bebek yang terlihat cantik. Taburan kelopak bungan mawar dan putih memenuhi lantai ruangan, beserta lilin aroma terapi yang menyala.
Sayangnya, malam pertama tidak akan terjadi hari ini. Linda mengembuskan nafas antara merasa lega, dan sedikit kecewa. Mau bagaimanapun, Linda itu manusia normal. Dia juga ingin tau bagaimana rasanya menjadi pengantin baru dan ... seorang istri yang sesungguhnya.
Retno berjalan melewati Linda, lantas meletakkan koper berisi pakaiannya dan juga Linda disisi ranjang. Ia duduk di kursi yang tersedia di bagian bawah ranjang, kemudian melepas sepatu, jas, dan dasi yang mengekang lehernya. “Mandi dulu sana. Setelah itu istirahat.”
Linda yang gugup setengah mati memilih diam dengan anggukan, kemudian berjalan menuju kopernya, mengambil beberapa produk kecantikan untuk membasuh wajah, dan juga penampung tamu bulanannya.
“Oh iya,” langkah Linda yang terburu-buru itu terpaksa berhenti karena seruan Retno. “Kamu tidak lupa harus ngapain setelah ini, kan?”
***
Empat hari setelah tertunda karena tamu bulanan, serta bepergian keluar kota untuk menemui keluarga Retno di Kalimantan, akhirnya pasangan pengantin baru itu kembali ke Jakarta. Lusa, Linda sudah harus kembali menjalankan aktifitasnya, dan Retno juga sudah harus mulai mengelolah bisnis yang sempat ia tinggal dan serahkan kepada salah satu orang yang ia percaya.
Sesampainya di kompleks tempat tinggal Linda—yang secara otomatis akan menjadi tempat tinggalnya Retno juga—mereka membersihkan diri, lantas beristirahat didalam kamar sembari ngobrol ringan tentang masa depan keduanya nanti. Terutama, anak.
“Ibu, jam segini biasanya sudah tidur belum?” tanya Retno sambil memainkan beberapa helai surai Linda yang sedang bersandar di lengannya
Linda menengok sebentar ke arah jam dinding. Pukul sebelas malam. “Biasanya sih sudah. Memangnya kenapa?”
Retno menarik Linda semakin erat kedalam pelukannya. Lalu mengecup kening sang istri lembut penuh perasaan. “Tamunya udah pulang kan?”
Linda mendongak, menatap wajah Retno yang sepertinya sudah diselimuti kabut gai-rah. Bagaimanapun, Linda juga harus mengerti, ini sudah menjadi kewajiban seorang istri yang tentu akan memberikannya sebuah kebaikan.
“Udah, kemarin. Mau hari ini?” tawarnya sambil menggambar pola melingkar di dada Retno yang tertutup kaos tipis.
Retno tersenyum. “Iyalah. Udah nahan hampir seminggu, tau?”
Linda yang merasa malu memilih menarik diri dari pelukan sang suami, kemudian duduk di tepian ranjang, bersiap turun.
“Yaudah, sana cek dulu, ibu udah tidur apa belum. Aku mau ke kamar mandi dulu.”
Dengan penuh semangat menggelora, Retno melompat turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar untuk mengecek keadaan seperti yang diperintahkan oleh Linda. Sedangkan Linda sendiri, berusaha menata hati dan mempersiapkan diri didalam kamar mandi. Ia bahkan merasa gugup sekaligus takut secara bersamaan. Ini adalah pertama kali untuknya yang kata Tika, rasanya sedikit menyiksa.
“Oke, cepat atau lambat, Retno juga pasti akan meminta hak nya.” gumamnya pelan. “Dan aku sebagai istri, juga harus melakukan kewajiban untuk menuruti keinginannya itu.” Linda mantap dan melangkah menuju pintu kamar mandi dan berpapasan dengan Retno yang membawa segelas air putih. Gelagat keduanya terlihat canggung, tapi Retno buru-buru mengambil inisiatif. Ia tersenyum dan mengajak Linda untuk kembali ke kamar.
“Yuk. Ibu udah tidur nyenyak kayaknya.” ajak Retno, menyambar pergelangan tangan Linda, kemudian menggiringnya menuju kamar tidur yang tadi sudah sempat ia bersihkan dan rapikan.
Sesampainya di ranjang bersprei biru langit polos diantara temaram lampu tidur yang menyala, baik Retno maupun Linda duduk pada tepian ranjang. Mata mereka bertemu untuk saling tatap dan menyelami perasaan satu sama lain. Lalu dengan gerakan lembut, Retno menyelipkan anakan rambut Linda di belakang telinga.
“Cantik.” bisiknya disemati senyuman manis.
Linda yang terpesona, menyambut telapak tangan Retno yang sekarang sedang menyentuh pipinya yang sedang bersemu. Hingga akhirnya, bibir mereka bertemu.
***
“Awss ... ” rin-tih Linda saat Retno mulai kembali berjuang. Tidak ada kata menyerah, yang penting berjuang, begitu maunya. Tapi kenyataan membuat Retno mau tidak mau merasa tidak tega melihat perempuan yang disayanginya menahan sesuatu yang menurutnya memang terasa sedikit menyakitkan.
“Sekali lagi, ya? Kalau masih nggak bisa, kita udahan.” bisiknya sembari mengusap kening Linda yang mengkilat akibat keringat. Linda mengangguk patuh, dan Retno kembali mencoba mempertaruhkan sisa tenaga dan kegagahannya.
Ia memakan kuat sembari memperhatikan bagaimana miliknya bekerja. Dan sumpah, hal ini membuat dirinya justru tidak ingin berhenti meskipun rasa sakit yang ia rasakan mungkin tidak jauh beda dengan yang dirasakan oleh sang istri.
Perlahan, namun pasti. Sesuatu yang ia harapkan sejak tadi pun terwujud. Miliknya mulai menemukan jalan masuk, namun Linda tak bisa menahan suara rin-tihan yang cukup keras.
Linda bahkan bisa merasakan sesuatu memang mulai menerobos masuk ke dalam dirinya. Disusul Retno yang bergerak memposisikan diri hendak mengangkat kedua paha Linda dengan lengannya, mereka hampir berhasil.
Namun,
Suara pintu diketuk terdengar cukup mengejutkan. Nama Linda disebut beberapa kali oleh suara yang amat sangat Linda dan Retno kenali.
Apa yang mereka lakukan sekarang, terpaksa berhenti. Mata mereka bertemu dan saling bersitatap mencari keputusan bersama apakah menjawab atau tidak.
Hingga akhirnya Retno memutuskan untuk menarik diri dan menyudahi semuanya meskipun belum sepenuhnya berhasil tenggelam. Agaknya, malam ini bisa dikatakan gagal lagi. Mau dilanjut, juga tidak mungkin.
Buru-buru dia meraih celana miliknya dan memakai secepatnya. Tidak peduli terbalik atau panjang sebelah, yang terpenting aman. Sedangkan Linda juga melakukan hal yang sama. Linda buru-buru memakai brasier dan setelan baju tidurnya, tanpa celana da-lam. Lalu berbisik, “Nanti dilanjut lagi.”
Retno setuju dan segera naik ke ranjang dan menutup tubuhnya yang tanpa memakai baju atas, dengan selimut. Linda menyalakan lampu utama dan membuka pintu.
“Ada apa, Bu?”
Lastri yang sudah berbalik arah pun kembali menoleh. “Ibu mau minta tolong sebentar.”
Linda yang merasa tidak nyaman dengan pangkal pahanya, berusaha terlihat normal didepan ibunya. Ia berjalan menahan rasa nyeri dan perih yang tertinggal karena senjata perang milik Retno yang hampir menembusnya, tadi.
“Ibu kenapa?” tanya Linda lembut, ikut berjalan di balik punggung ibunya yang sekarang berjalan ke ruang tengah.
“Retno sudah tidur?”
“I-iya. Baru saja.”
“Maaf ganggu kamu sama suamimu. Tapi perut ibu kembung, tolong keroki sebentar ya? Kayaknya ibu masuk angin.”
Linda tersenyum dan menggiring Lastri kembali ke kamarnya. Menjalankan kewajiban sebagai seorang istri kepada suami itu wajib, tapi Linda juga sadar jika masih ada ibu yang juga harus ia perhatikan lantaran sudah sepuh. Kalau bukan dia, siapa lagi?
“Sini, Linda kerokin. Habis ini Linda bikinin minum hangat juga.. Setelah itu ibu istirahat ya?”
***
Hampir satu jam Linda meninggalkan Retno di kamar dengan keadaan menahan has-rat. Tapi, setelah mampu menguasai diri dan has-rat nya, Retno pun bisa merasa lebih tenang dan memilih bermain ponsel, sembari menunggu Linda kembali.
Tiba-tiba ia mendengar pintu kamar berderit terbuka dan sosok Linda muncul dengan wajah memicing dan mendesis samar.
“Ibu kenapa?”
“Minta dikerokin.” jawab Linda singkat, kemudian naik ke ranjang dan tidur telentang disamping Retno. “Mau dilanjut apa buat besok aja?” tanya Linda mencoba bernegosiasi. Nanggung juga jika dilanjut sekarang. Retno sepertinya juga sudah turn off.
Retno yang mendapat tawaran begitu, jelas memilih lanjut lah. Dia meletakkan ponsel diatas nakas, kemudian tanpa mematikan lampu utama dia kembali memancing Linda dan dirinya sendiri agar kembali On.
Dan benar saja, tidak butuh waktu lama, keduanya kembali disapa gai-rah. Dan semua berjalan lancar karena sudah bukan pemula lagi. Namun Linda masih merasa sakit saat Retno mulai kembali mencoba memasukinya.
Akan tetapi, semua tidak sesulit sebelumnya. Kali ini, hanya dengan satu kali hentakan kuat, Retno berhasil menembus pertahanan Linda yang sulit sekali di runtuhan. Keduanya menyatu, dan suasana pun berubah syahdu dengan suara keduanya yang saling bersinergi.
Hingga akhirnya, Linda merasakan apa itu sebuah pelepasan yang sesungguhnya, untuk pertama kali. Matanya semakin sayu ketika menatap Retno yang masih berusaha mengejar pelepasannya. Dari tempatnya terbaring, dia bisa melihat betapa mengagumkannya ciptaan Tuhan itu. Retno begitu tampan dalam situasi seperti ini, membuat Linda yang semula sudah tenang, kembali menggelin-jang. Ia bahkan mendapatkan pelepasan yang kedua kalinya bersamaan dengan Retno yang juga mengerang panjang saat melepaskan semua has-rat yang sedari tadi membuat mereka mendayu dalam rayuan malam yang indah.
Malam pertama mereka berjalan dengan baik. Dan keduanya berdo'a, semoga benih yang baru saja tanam segera tumbuh dirahim Linda, memberi garis keturunan yang baik, seperti yang mereka harapkan. []
...—FINAL—...
###
Maaf jika tulisannya terlalu gamblang. 🙏🙏🙏
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di lapak NIGHTFALL yang sudah bisa dipastikan bakalan semakin seru. Jangan sampai ketinggalan ya man-teman ...
Bye, See you