
...Moment...
...|Part 17|...
...Happy reading...
...[•]...
“Saya datang kesini bersama keluarga dengan tujuan baik Bu Lastri, mas Atan.” kata pria yang usianya lebih dari setengah abad itu didepan Atan, Linda, dan juga Lastri yang duduk sebagai tuan rumah. “Saya ingin mewakili Retno, putra saya, untuk melamar Linda, adik nak Atan, putri Bu Lastri.”
Kedatangan keluarga Retno ke Jakarta terlalu tiba-tiba. Baru seminggu yang lalu Retno memberitahukan jika keluarganya akan datang untuk menjalin silaturahim dengan keluarga Linda. Dipikir Linda jeda waktunya akan lama, tapi cuma seminggu. Ngebet atau bagaimana sih kekasihnya itu? Eh, apa calon mertuanya itu yang sudah tidak sabar pingin putranya taken? Ah, sudahlah.
“Saya senang keluarga Retno khususnya pak Kurniawan sudah bersedia datang kesini. Saya sebagai pengganti bapak, akan berusaha sebisa saya agar keluarga Retno, terutama pak Kurniawan dan ibu ini nyaman di kediaman kami.” jawab Atan sopan penuh tata Krama. Sejak awal, Atan memang pemuda yang amat sangat baik dan menjadi kebanggaan ayah dan ibunya. “Adapun tujuan bapak kesini, saya juga sudah mendengar dari dek Linda, dua hari yang lalu.” lanjut Atan sambil melirik adik kesayangannya yang sebentar lagi mungkin akan jadi milik orang.
Melihat rona di wajah sang adik, dia jadi ingat pembicaraan yang mereka lakukan sehari yang lalu.
“Reza ngomong ke mas, kalau kamu masih belum mau buka hati.”
Linda yang mendengar itu, sontak saja mengalihkan pandangannya dari wajah sang kakak. Momen berdua dipergunakan Atan untuk berbicara serius dengan Linda tentang masalah hati.
“Terus Linda harus maksa buat buka hati lagi, atau bagaimana, mas?” tanya Linda penuh dengan sarkasme saat itu. Dia tidak terima seakan-akan dia yang bersalah disini. Ia bahkan mengecap Reza sebagai ‘mulut ember’ karena menceritakan itu pada Atan.
“Ya nggak gitu, dek. Kalau ada orang lain yang lebih nyata nerima kamu, kenapa enggak? Mas juga kenal baik sama reza.”
“Masalahnya, Linda memang belum mau dan belum bisa nerima orang lain, mas.” kekeuh nya masih tidak menyerah. Linda memang keras kepala dan berprinsip. Tapi, juga terkadang memiliki sikap dan sifat yang berkebalikan. Dia bisa jadi manja bukan main kalau didepan orang yang ia anggap penting baginya. “Kalau perkara mas Reza itu teman mas Atan, Linda nggak mau kalau sampai nanti Linda yang disalahkan kalau ada apa-apa sama hubungan pertemanan mas Atan dengan dia, kalau-kalau Linda sama mas Reza ada masalah.”
“Reza orangnya nggak bakalan kayak gitu, lin.”
“Udahlah, mas. Mending orang lain aja menurut Linda. Mas Reza posisinya jadi kakak kayak mas aja, nggak lebih.”
Setelah mengatakan itu, Linda langsung pamit pulang dan tidak ada lagi percakapan apapun selain sebuah pesan dari Linda yang memberitahukan jika keluarga Retno akan datang meminang adik perempuannya tersebut.
“Syukurlah kalau nak Linda sudah menjelaskan sejak awal kepada nak Atan.”
Kalimat pak Kurniawan memecah lamunan Atan tentang bagaimana pembicaraannya bersama Linda sehari yang lalu. Atan tersenyum.
“Saya, juga merasa lega dan senang karena adik saya juga sudah menemukan orang yang tepat, yang akan mengajaknya ke pelaminan.”
Pak Kurniawan menatap kagum pada sosok Atan yang begitu tenang dan dewasa dalam bersikap. “Saya juga sangat bahagia jika ternyata memang nak Linda lah yang akan ada diantara keluarga kami.” seru pak Kurniawan lembut namun penuh kegembiraan yang terpancar dari raut wajahnya yang sudah sedikit terlihat berkeriput. “Kalau ibu, sama nak Atan, bersediakah jika anak saya menjadi bagian dari keluarga kalian?”
Lastri meraih telapak tangan Linda dan menangkupnya. “Saya percaya dengan pilihan anak saya, pak. Retno juga laki-laki baik, kami sekeluarga juga sudah mengenalnya cukup lama.”
Pak Kurniawan lega mendengar jika putranya itu diterima seperti mereka menerima Linda.
“Kalau begitu, bolehkah saya mempererat tali silaturahim ini menjadi tali kekeluargaan?” tanya Pak Kurniawan menyampaikan maksud inti dari pertemuan dua keluarga hari ini.
Atan yang saat ini berstatus kakak sekaligus wali untuk adiknya kelak, merasa merinding. Beginikah gambarannya nanti jika Ajeng—putrinya—saat dipinang seseorang?
Tiba-tiba kabut memaksa menutup pupil matanya. Bayangan bagaimana Linda menikah tanpa seorang ayah, membuat hati Atan mendadak sendu. Jika dirinya adalah seorang laki-laki yang bisa menikah tanpa didampingi seorang wali, sangat berbeda dengan seorang Linda. Dia butuh seorang wali yang akan mendampinginya ketika menikah nanti. Bahkan Atan bisa membayangkan sesedih apa hati sang adik, ketika hari ijabnya nanti.
“Saya, atas nama keluarga Linda, menerima niat baik bapak untuk mempererat tali kekeluargaan antara keluarga kami, dengan keluarga bapak.”
Ucapan syukur terdengar memenuhi ruangan. Linda sudah tidak lagi bisa membendung air mata yang sejak tadi ia tahan. Dia memeluk kakak laki-laki dan ibunya secara bergantian sembari membisikkan ucapan terima kasih dengan suara parau. Atan memeluk hangat sang adik yang masih tersedu di bahu kanannya, lalu mengusap pelan punggung Linda sambil memberikan ujaran berupa pesan untuk Linda kedepannya.
“Sudah. Kamu memang sudah waktunya melangkah ke jenjang ini, dek. Mas yang akan jadi wali kamu di pernikahan kamu nanti.”
Mendengar itu, Linda semakin terisak. Bayangan sang ayah kembali hadir di ingatannya yang memang sudah ia simpan dengan begitu rapih.
“Do'a terbaik dari mas buat kamu. Semoga apa yang menjadi pilihanmu, adalah jalan mu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia bersama Retno.”
Linda mengangguk dan mengusap air matanya. “Terima kasih, mas.”
***
Retno yang sempat membeli cincin sebelum mereka putus beberapa waktu lalu—tentu saja tanpa sepengetahuan dari Linda—sekarang dapat mewujudkan impiannya, yakni memakaikan benda emas yang hiasi berlian kecil nan cantik tersebut di jari manis Linda, sang pujaan hati.
Keduanya saling tatap, lalu memori dari pertama kali mereka bertemu kembali menguar dalam ingatan masing-masing. Tatapan keduanya seolah mengisyaratkan rasa bahagia dan syukur secara bersamaan. Mereka juga tidak menduga jika apa yang pernah mereka impikan bersama ini, sekarang menjadi kenyataan.
“Makasih udah mau nerima aku lagi, Nda. Bahkan sekarang, kamu menjadikan aku orang yang berharga buat kamu.” bisik Retno pelan, disela tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan moment sakral penyematan cincin di acara pinangan serta lamaran ini.
“Mari saling percaya, saling mencintai, saling mengasihi, dan tentu saja saling menghargai, sampai nanti kita tua dan kembali ke pangkuan sang pencipta.” lanjut Retno, kemudian menggenggam lembut jemari lentik Linda yang di percantik oleh lukisan hena.
Linda mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Retno yang akan menjadi komitmen bersama untuk mereka berdua.
Setelah acara itu berakhir sempurna tanpa drama, seluruh tamu dipersilahkan oleh pihak keluarga Atan untuk menikmati hidangan. Tak lupa juga beberapa tetangga yang ikut menyaksikan acara tersebut juga dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.
Retno mendekat ke arah Linda sambil membawa sebuah piring. Ia berdehem kecil, dan Linda mendongak untuk menangkap fitur wajah calon suaminya itu dengan sebuah senyuman manis.
“Mau di ambilin?” tawarnya dengan nada sedikit dibuat jenaka.
“Iya dong. Itung-itung simulasi istri yang baik dan tidak sombong.” celetuknya asal yang justru, mendapat tatapan sengit dari si lawan bicara.
Linda mengerucutkan bibirnya lucu hingga membuat Retno tertawa. Menggoda Linda adalah hiburan tersendiri untuknya. Linda sudah seperti vitamin yang memperkebal imun ditubuhnya hingga dia bisa lebih bersemangat kerja karena tanggal pernikahan sudah ditentukan hari ini juga. Jeda waktu tidak lama, hanya tinggal menghitung minggu.
“Gimana? Udah siap jadi nyonya Sangkala?”
Karena semakin kesal digoda, Linda mencubit pinggang Retno hingga laki-laki itu meringis menahan sakit. “Sakit, nda.”
‘Nda’ itu panggilan singkat dari panda, hewan kesukaan Linda. Sedangkan Retno, tetap dipanggil ‘Pah’, dari kata Jerapah.
“Goda mulu, sih?” cebik Linda kesal, lalu menyerahkan piring Retno yang sudah ia isi dengan satu setengah centong nasi. “Lauknya ambil sendiri.” ketus Linda kemudian berlalu menjauh karena takut di jadikan bahan candaan oleh keluarga karena terlalu dekat.
Retno cekikikan karena merasa berhasil membuat Linda kesal hingga mode juteknya kembali muncul. Sumpah demi apapun, Retno suka sekali dengan nada jutek dan posesif seorang Linda padanya. Kata orang, itu tandanya sayang. “Iya, sayang.” []
...To be continue...
###
Ekekhmmm ...