
...Moment...
...|Part 23|...
...Happy reading...
...[•]...
“Sebenarnya, kamu ada masalah apa?” tanya Reza mencoba mencari titik pusat mengapa Linda sampai lari padanya. Padahal beberapa waktu lalu, perempuan itu dengan tegas menolak kehadirannya. Apakah ini tidak akan menambah masalah? Atau justru kedatangan Linda kepadanya akan menambah runyam dan menjadi isu yang di angkat kepermukaan jika sampai Linda dan Retno gagal menikah?
Reza sendiri harus berfikir dua kali untuk tinggal diam tanpa penegasan. Ia tidak ingin di cap menjadi orang ketiga.
“Retno nunggu kamu didepan. Ayo, aku antar keluar.” tutur Reza, lembut sekali tanpa sedikitpun nada kesal atau marah.
“Aku males ketemu dia, mas.”
Reza mendengus, ia bahkan menggeleng samar sebagai reaksi jawaban Linda.
“Masalah nggak akan selesai kalau kamu milih menghindar.” tegurnya dewasa. Satu sifat yang ia tunjukkan kepada Linda adalah, sosok seperti seorang kakak.
Linda menatap Reza, sebenarnya bukan keinginan Reza untuk berbicara sok bijak begitu. Tapi melihat Linda yang memang sejak dulu labil, Reza sedikit sebal, lalu kembali memutar ingatan tentang banyaknya ia tau bagaimana menanggapi sosok Linda.
“Tapi aku nggak pingin bahas ini sekarang, mas.” sela Linda sedikit alot. Dia benar-benar belum ingin bertemu Retno, apalagi bicara empat mata dengannya.
“Terus gimana mau kamu, Lin? Aku juga nggak enak sama calon suami kamu kalau kamu nggak mau keluar dan ketemu sama dia.”
Linda yang sebelumnya bersikukuh menolak bertemu Retno, setelah mendengar apa yang diucapkan Reza pun kini jadi berfikir.
Benar, mungkin jika dirinya menolak keluar dan bersikeras tetap di tempat Reza, masalah baru akan muncul. Kemudian hubungannya dengan Retno semakin tidak karuan.
“Kalau kamu nggak mau karena nggak berani, aku anterin.” lanjut Reza memastikan jika Linda akan tetap aman dalam jangkauan matanya. “Retno juga pasti nggak akan ngapa-ngapain kamu.”
Airmuka Linda berubah sendu. Ia menundukkan kepala dan menatap sepatu pantofel hitam yang belum sempat ia lepas sejak pulang bekerja. Ia lantas berdiri, kemudian menyahut tas selempang miliknya dan berpamitan pada Reza.
“Oke, mas. Kalau gitu aku pulang.” katanya lesu. Linda memang tidak ingin bertemu dengan Retno sekarang, tapi isi kepalanya membenarkan apa yang di katakan oleh Reza padanya. Masalah tidak akan selesai hanya dengan lari, yang tentu saja akan menambah runyam.
Melihat punggung Linda yang sudah membelakanginya, Reza tidak serta Merta membiarkan adik sahabatnya itu keluar sendirian. Dia ikut berjalan dibelakang Linda, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Ia khawatir jika keadaan akan berada diluar prediksinya, kemudian terjadi sesuatu kepada Linda. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi pada Linda, yang notabenenya adalah perempuan yang masih menempati penuh isi hatinya.
Karena tidak ingin mengganggu pengunjung, Linda memutuskan untuk keluar dari pintu belakang, diikuti Reza hingga mata elangnya menangkap sosok Retno yang sedang berdiri di samping kap depan mobil.
Pandangan mata kedua pria itu bertemu. Retno dengan sorot yang terlihat dipenuhi rasa cemburu dan disisi lainnya, Reza dengan mata elang yang masih tenang, menyorot Retno penuh harap agar dia dan Linda tidak adu mulut, dan memancing emosinya.
Sesampainya, Linda dengan wajah sengaknya berhasil menarik atensi Retno. Ia mengubah ekspresi wajah pria itu menjadi sedikit lunak dari sebelumnya yang terlihat mengeratkan rahang.
“Tadi aku mampir ke ibu, dan bilang kalau kamu belum pulang.”
“Ayo bicara.” ajak Retno sambil menarik lembut pergelangan tangan Linda. Nahas, Linda menarik tangannya hingga cekalan longgar dari Retno terlepas.
Terkejut, Retno tidak bisa mengalihkan tatapan matanya dari telapak tangannya sendiri yang sekarang sudah kosong. Hatinya tersayat, namun dia masih ingin bertahan untuk tidak bersuara, sampai suara Linda mengudara bersama suara kendaraan yang sedang berlalu-lalang.
“Bicara apa lagi?” serunya dengan suara sendu. “Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi karena semuanya sudah jelas.”
Retno mengangkat wajah, menatap fitur ayu Linda yang terlihat sedang diselimuti oleh kemarahan yang membuncah. Matanya terlihat sengit berapi-api, dan wajahnya penuh sarat emosi.
“Kita harus bicara.” ulang Retno dengan nada sangat datar, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Ucapan Linda seakan mengisyaratkan jika mereka akan menemui jalan buntu dan juga kenyataan pahit. Retno takut.
“Astaga, Retno. Kenapa kamu lakukan ini?” de-sah Linda frustasi. “Kita udah saling kenal. Dan kamu tau, apa yang tidak aku sukai, kan?”
“Untuk itulah kita harus bicara.” sahutnya cepat, tapi semakin putus asa saat tau Linda tidak merespon dan membuat tatapan yang begitu tajam, sarat benci. “Astaga Linda, kamu masih saja seperti ini.” jawab Retno tak kalah putus asa dari Linda. Ia bahkan sampai meraup kasar wajahnya sendiri, kemudian mengembuskan nafas lelah dengan amat sangat berat. “Oke, sekarang kamu maunya gimana?” kata Retno pada akhirnya. Ia lelah jika harus memberikan penjelasan kepada orang yang tidak bisa percaya padanya.
Linda diam tidak memberikan jawaban. Tentu saja hal itu membuat Retno ... menyerah.
“Apa perlu aku panggil dia untuk memberikan penjelasan. Meluruskan rasa curiga kamu itu?” tanya Retno menuntut penuh frustasi.
“Harusnya kamu nggak perlu—”
“Aku cuma mau nolong dia, Lin. Nggak lebih.” sentak Retno dengan nada sedikit meninggi dan berhasil membuat Linda tercekat hingga membolakan kedua matanya. Retno yang melihat itu, mulai panik. “Maaf, aku nggak bermaksud—”
Linda dengan cepat menampik telapak tangan Retno yang hendak meraihnya. Bersama dengan itu, airmatanya menetes, jatuh dari ekor mata.
“Lin, kamu nangis?” kata Retno semakin panik. “Astaga. Maaf, aku nggak bermaksud—”
“Kalau kamu bikin dia nangis kayak gitu, kamu pasti tau apa yang akan aku lakukan, kan?”
Dua presensi yang sedang bersitegang itu menoleh. Menatap sumber suara diantara mereka.
Sumpah demi apapun, Retno ingin sekali mengumpati sosok itu. Sosok yang selalu hadir bak super Hero didepan Linda, yang membuatnya selalu terlihat menyedihkan. Sosok yang selalu menjadi bahan untuk membandingkan dirinya yang jauh dari kata sempurna.
Raut wajah Retno berubah tidak bersahabat setelah menangkap sosok itu. Sosok yang sejak dulu menjadi pusat kekesalan berada disekitar Linda. Orang yang dirasa Retno, jauh lebih sempurna dan jauh lebih baik darinya. Dan orang, yang menjadi pusat rasa cemburunya selama memiliki Linda, karena merasa tersaingi.
Kalian pasti tau, siapa yang berkata demikian. []
...To be continue...
###
Selamat menjalankan ibadah puasa, untuk teman-teman pembaca sekalian yang menjalankan.
Author minta maaf jika ada salah sama kalian dalam bertutur selama ini, ya ... 🙏
Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Nya. Amiiin ...