
...Moment...
...|Part 18|...
...Happy reading...
...[•]...
Siang hari begini memang sering digunakan Linda untuk makan siang sambil kembali menilik pekerjaan. Dengan ditemani layar komputer menyala yang berisi data seluruh buruh yang bekerja di pabrik-pabrik yang berdiri di kota Jakarta, Linda memakan bekal yang pagi tadi di siapkan sang ibu.
Sore nanti, dia dan Retno berencana akan membeli beberapa barang untuk seserahan ketika pernikahan nanti, dan juga ada janji dengan salah satu WO yang dikenal Retno, untuk merancang tempat pernikahan mereka nanti.
Kemarin, Linda dan Retno sempat bertemu dan makan malam diluar. Pria itu bilang, jika dia akan stay di Jakarta sampai hari H pernikahan digelar. Setelah itu, dia akan membawa Linda beberapa hari ke Kalimantan untuk dikenalkan dengan keluarga disana, dan setelah itu akan kembali ke Jakarta setelah masa cuti Linda usai.
Mereka sepakat jika akan tinggal di Jakarta, karena dia tau Linda tidak akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ditambah lagi, alasan Retno juga setuju karena ada solusi untuk pekerjaan yang ia tekuni. Retno juga sedang mencari lahan untuk memulai usaha disini. Koneksinya cukup luas, jadi dia juga tidak terlalu sulit untuk mendapatkan apa yang akan dia lakukan disini.
“Yang mau kawin, ngebut kejar target cyyyn?” goda Tika tak kenal lelah. Selain hobi menggoda Linda, Tika juga hobi merecoki pekerjaan temannya itu, ya meskipun dalam konteks hanya bercanda.
“Ya lah. Biar dapet cuan lebih buat nambah ongkos kawin yang mahalnya minta ampun.” celetuk Linda yang memilih tak mau ambil pusing. Dia memang selalu seperti itu jika bersama Tika.
“Kok tiba-tiba banget sih? Lo udah di DP sama Retno?”
Linda melotot lebar hingga bola matanya hampir melompat keluar. Ucapan Tika itu bisa saja menimbulkan fitnah jika didengar orang lain. Lagian, mengapa asumsi seperti itu selalu menjadi hal pertama yang tidak pernah lengah di tanyakan jika ada orang yang hendak menikah buru-buru? Padahal tidak semua orang dengan kesalahan yang sama, lho. Mereka punya alasan pribadi mengapa harus menyelenggarakan pernikahan dengan jalur patas.
“Sembarangan! Ngaco lu, Tik! Gimana kalau ada yang denger terus jadi fitnah ke aku? Mikir nggak sih?!” sahut Linda tajam setengah sebal, dibumbui dengan nada tersinggung. Ucapan seperti itu patut di tanggapi serius, pasalnya terdengar rancu. Sedangkan Tika yang merasa bersalah, akhirnya hanya bisa menggaruk pelipisnya canggung, kemudian meminta maaf.
“Sorry, Lin. Nyesel gue ngomong gitu. Sorry.”
Linda menarik nafas dan mengembuskan cukup kasar. “Lain kali, jangan asal ceplos gitu, Tik. Kalau ada yang nggak suka, pasti langsung ribut. Untung yang kamu ajak bercanda tadi aku, coba kalau orang lain?”
Tika menepuk kecil lengan Linda. “Iya, iya. Sorry.” ucapnya penuh penyesalan, lalu menarik kursi milik meja sebelah yang sedang makan siang diluar. “Jadi, udah dapet WO?” sambung Tika mengubah topik.
Linda mengangguk sambil memasukkan sesendok nasi pecel ke dalam mulut. “Kenalannya Retno.”
“Kali aja belum kan gue bisa rekomendasiin WO yang gue pake dulu. Lumayan lho harganya, hasilnya juga memuaskan.”
“Udah dapet kok.”
Pembicaraan terjeda beberapa saat, hingga Tika kembali bicara.
“Lo mau resign setelah nikah?”
Linda mengehentikan gerakan tangannya. “Engga. Kita udah sepakat, dia yang bakal pindah kesini. Dia juga lagi cari lahan buat buka usaha.” jawab Linda sambil kembali melanjutkan sesi maksi yang belum rampung.
“Denger-denger, calon mertua Lo itu pengusaha sukses ya, di Kalimantan?”
Linda menatap Tika dengan sorot penasaran. Darimana temannya itu tau jika Retno putra seorang pengusaha?
“Nggak usah natap gue kayak gitu. Kan Lo sendiri pernah cerita kalau Retno yang bakalan nerusin bisnis bokapnya?”
“Emang iya aku pernah cerita?”
Tika menoyor kening Linda hingga terantuk kebelakang. “Pura-pura amnesia!”
Mereka melanjutkan pembicaraan hingga jam maksi berakhir, dan kembali menjalani rutinitas.
***
Retno bilang, mereka akan melakukan banyak hal sore ini, tentu saja setelah mengantar Linda pulang dan membersihkan diri. Retno sendiri sudah kembali menyewa sebuah rumah kos yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Linda, sampai nanti pernikahan digelar.
Linda berjalan mendekat ke arah mobil dan kaca mobilpun turun dan memperlihatkan pemandangan kesukaan Linda, yakni Retno dengan pakaian casualnya yang justru membuat pria itu semakin menggoda dimata kaum hawa—bukan hanya Linda.
Wajah oriental dengan kulit putih bersih, badan tegap yang sekarang lebih berisi, serta penampilan yang sungguh mempesona, membuat beberapa mata yang melewati Linda turut melirik kedalam, lalu membuka pintu mobil dengan wajah ketusnya. Mode juteknya tiba-tiba muncul. “Tuh, dilihatin cewek-cewek.”
“Ya lah. Kan ganteng.”
Ya sudahlah, memang iya.
“Pulang dulu deh. Aku mau mandi dulu.”
“Siap tuan putri.”
Mobil melaju dengan kecepatan lumayan tinggi pada awalnya, namun berakhir merayap karena jalanan semakin macet saat hendak memasuki kawasan pusat kota.
Retno meraih ponsel, kemudian menyodorkan ponsel tersebut kepada Linda.
“Itu konsep terbaru yang ditawarin ke aku. Menurut kamu gimana?”
Linda memperhatikan setiap detail dekorasi out door yang ada di layar ponsel Retno. Gambaran konsepnya sangat menarik, persis seperti yang ia bayangkan selama ini.
“Bagus, tapi pasti mahal. Nyari yang sesuai budget aja.” seru Linda bijaksana. Dari dulu, Linda ini memang sangat bijak kalau mengurus keuangan. Ia akan mempertimbangkan timbal balik atas pengeluaran yang ia lakukan. Dan hasilnya memang nyata, dia bahkan mampu membeli sebidang tanah di salah satu tempat yang tidak jauh dari kompleks yang ia tinggali. Sebagai investasi jangka panjang, katanya.
“Nggak perlu mikirin budget. Kalau kamu suka, kita ambil.” kata Retno cepat tanpa berfikir panjang sebagai pertimbangan. Ia bahkan rela kehilangan tiga perempat tabungannya demi hari sakral mereka nanti.
“Ya nggak gitu juga, pah. Kita juga harus mikirin apa yang akan kita jalani berdua setelah ini.”
“Serius, Nda sayang. Aku ada kok, kamu nggak usah khawatir soal itu.”
Retno bukan anak tadi sore yang baru mengenal dunia kerja. Dia sudah malang melintang didunia keras, yang bahkan bisa mematahkan tulangnya, sangking kerasnya tuntutan kerja yang ia jalani. Dan hasil dari kerja keras tersebut, adalah rekeningnya yang sudah memiliki jumlah angka fantastis, tentu mungkin tidak akan habis dalam waktu dekat.
Selain itu, keuangannya juga semakin bertambah karena ditunjang dari pemasukan dari beberapa usaha dan bisnis yang di jalankan olehnya beberapa bulan lalu saat di Kalimantan.
Linda kembali menatap layar ponsel Retno. Benar, dia tidak sendirian. Ada Retno yang akan membantunya jika memang tabungannya tidak cukup untuk menyewa WO ini.
“Terserah kamu aja, deh.” putus Linda pada akhirnya yang membuat Retno tersenyum manis, lalu meraih puncak kepalanya untuk di usap.
“Jadi, kamu suka dengan dekorasi out door itu?” tanya Retno memastikan, yang diangguki oleh Linda dengan gerakan kepala yang amat sangat pelan. “Kita pesan yang itu saja kalau begitu.” lanjutnya, kemudian kembali menginjak pedal gas karena harus merayap menyusul kendaraan didepannya.
Suara sayup-sayup musik pop kesukaan Linda terdengar sebab Retno baru saja menyambungkan bluetooth dan memutar musik pada layar di dashboard mobil.
“Katering juga sudah aman, karena sepaket. Jadi nanti, semua tamu undangan dipastikan akan puas setelah datang ke pesta.”
“Ini yang punya WO beneran temen kamu?”
“Iya. Dulu kenal pas ada even yang dibuat WO ini, terus mereka kontrak Tyra jadi modelnya.”
Linda mengangguk paham. Pantas saja Retno yakin, ternyata memang sudah kenal.
“Terus, nanti mau bulan madu kemana?” []
...To be continue...
###
Honeymoon kemana enaknya gaes? 🤭