MOMENT

MOMENT
Part 16




...Moment...


...|Part 16|...


...Happy reading...


...[•]...


Linda pernah membayangkan jika dirinya akan dilamar oleh pria yang ia cintai dengan cara yang romantis. Satu buket bunga, sebuah cincin, ditengah taman, dan tepuk tangan orang yang melihatnya. Persis di dalam drama serial yang sering ia lihat dulu.


Bahkan, dia mengatakan keinginannya itu pada Retno saat usia hubungan dekat mereka sudah terjalin setahun. Retno yang mendengar keinginan sang kekasih pun hanya mampu meng-iyakan tanpa mau memberikan harapan terlalu jauh. Takut mengecewakan dan tidak sesuai dengan ekspektasi yang dibayangkan perempuan yang ia sayangi itu.


Lalu, diusia kedekatan mereka yang kedua tahun, Retno sudah merencanakan semua dengan matang. Dia ingin melamar Linda seperti yang diinginkan sang kekasih, namun gagal karena Linda bilang jika keinginannya saat itu terdengar kekanakan dan terlalu drama. Akhirnya Retno hanya memberi sebuket besar bunga yang masih segar dan sangat cantik sebagai hadiah anniversary yang kedua.


Menginjak tahun ke tiga, Retno bahkan menunjukkan keseriusannya dengan membawa dan memperkenalkan Linda kepada orang tua dan saudara-saudaranya di Kalimantan. Beruntungnya, mereka semua setuju dan suka dengan sosok Linda yang memang humble, sopan, serta bisa menempatkan diri cukup baik di depan keluarga Retno, mendapat restu dengan mudah.


Tapi nahas, hanya karena sebuah kesalah fahaman, hubungan mereka kandas saat usia hubungan dekat mereka ada dipenghujung angka tiga.


Dan sekarang ...


“Ayah saya,” Retno menjeda sembari mengangguk, kemudian meraup udara sebanyak mungkin untuk meredam kegugupan yang menderanya. “Ayah beserta keluarga besar. Mereka ingin saya segera meminang Linda, Bu.”


Lastri dan Linda melongo. Pasalnya kabar ini begitu mengejutkan. Meminang? Apa Retno sedang mengigau? Astaga, Linda sampai kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Berbeda dengan Linda yang masih bengong menatap Retno, Lastri sudah mampu menguasai diri dan kembali tenang lalu memberi tanggapan. “Meminang?”


Retno mengangguk. “Ayah yang meminta saya memberitahu ibu saat tau saya hendak ke Jakarta kembali.”


Lastri tersenyum hangat. “Sebelumnya ibu minta maaf karena harus bertanya tentang ini, nak Retno. Tapi, bukankah hubungan nak Retno dan Linda sudah berakhir beberapa bulan lalu?” Retno hanya mengangguk sebagai tanggapn. “Apa ayah sama ibu nak Retno tidak tau itu?”


“Mereka tau, Bu. Tapi ayah dan ibu meminta saya untuk segera membuat komitmen jika sudah serius.”


Lastri melirik Linda.


“Tujuan saya datang kesini, saya ingin kembali bertanya pada Linda,” Retno menahan degupan yang begitu meronta-ronta dalam dada. Baru sekali ini, dia harus menyatakan perasaannya didepan orang tua si gadis. “Apa Linda mau kembali bersama saya?”


Tadi sebelum sampai disini, Retno sepenuhnya percaya diri jika Linda pasti akan menerimanya kembali untuk menjalin hubungan seperti beberapa waktu lalu. Tapi, setelah melihat kehadiran Reza tadi, tiba-tiba saja rasa percaya diri Retno menciut. Dia bahkan tidak yakin Lastri juga akan menerima keinginan papanya untuk datang mempererat tali silaturahmi dengan cara meminang Linda seperti yang tadi dia sampaikan. Tapi, bisa dicoba dulu kan? Mana tau memang ini jalan yang nantinya akan membawa mereka kembali bersama?


Lastri menyentuh bahu putrinya penuh dengan senyuman hangat di bibirnya. Sudah jelas maksud Retno mengatakan ingin kembali, dan Lastri juga ingin tau bagaimana respon putri kesayangannya itu sekarang. Masih sama kah? Atau, sudah membuka hati dan bisa melawan egonya sendiri?


“Kamu dengarkan, nak?” tutur Lastri lembut. “Sekarang, semua keputusan ada ditangan kamu.” lanjut Lastri meminta keputusan dari Linda yang terlihat bimbang. Tidak salah jika dia masih mencintai Retno, tapi akan sangat memalukan jika Linda harus menjilat ludah sendiri.


Wajah ayu nan manis itu tertunduk. Jemarinya saling tertaut diatas pangkuan, dan dua tatapan penuh harap sedang menanti jawaban apa yang akan diucapkan oleh perempuan berusia hampir dua puluh enam tahun itu.


“Saya tidak akan memaksa Linda, Bu. Jika memang dia keberatan dengan ajakan saya, dan juga permintaan ayah saya,” Retno menjeda, yang justru mendapat perhatian penuh dari Linda. Perempuan itu sudah mengangkat wajahnya demi melihat wajah rupawan dari Retno Sangkala. “Saya juga rela. Karena ini bukan hanya tentang sebuah keegoisan. Tapi apa yang menjadi keputusan Linda adalah, sebuah masa depan.”


Tidak salah, keputusan Linda memang akan menjadi masa depan untuk perempuan itu sendiri.


Lastri mengangguk membenarkan. Retno jauh lebih dewasa sekarang.


“Memangnya, kamu masih mau dengan ku?”


Manik mata Retno mengedip cepat mendengar sahutan cepat dengan nada sarkas dari Linda. Tapi, entah bagaimanapun ketusnya Linda, tetap terdengar menggemaskan di telinga Retno.


Telinga Retno memerah, dia juga merasa malu ditanya seperti itu.


“Kan aku yang tanya sama kamu, apa kamu mau balik sama aku. Jadi kesimpulannya, ya aku mau, Lin.” jawab Retno tegas dan lugas. “Tapi seperti yang sudah aku bilang di awal,” Retno menarik nafas dan menghelanya perlahan. “ ... aku nggak maksa kamu mau terima aku lagi. Semua keputusan ada sama kamu.”


“Kamu nya di Kalimantan.”


Retno berkedip cepat. Nada manja Linda terdengar begitu menggoda di telinganya.


“M-memangnya kenapa? Aku kan juga bisa balik ke jakarta.”


Lastri menggelengkan kepala. Mereka berdua ini tidak pernah berubah. Linda dan Retno memang lebih sering berdebat seperti itu. Linda dengan suara manjanya pada Retno, dan Retno dengan ekspresi lucunya saat menatap Linda, adalah kombinasi yang sungguh menghibur hati Lastri.


“Aku bisa kerja disini, karena disini ayah juga punya rekan bisnisnya, Lin.”


“Tapi nanti jamunya balik ke sana lagi kan?”


Retno hanya mengedip lagi. Bibirnya masih sedikit terbuka karena tidak bisa berkata-kata. Linda ini selalu berhasil membuatnya mati gaya.


“Y-ya iya lah.”


“Tuh kan? Aku—”


“Gini lho Lin,” sela Lastri ditengah api yang sudah terpatri menyala di kubu Linda. “Kalau kamu yakin, kamu nggak usah mikir terlalu jauh sampai kemana-mana. Retno pasti juga akan tau posisinya, nanti dia juga pasti mencari solusi agar kedepannya kalian bisa sama-sama.” tutur Lastri memberi pengertian pada putrinya yang ternyata, memang labil selevel anak baru gede. Sedangkan Retno, mengatupkan bibir menahan senyuman yang hendak terbit melihat Linda yang ternyata mati kutu di depan ibunya sendiri. Dia tidak bisa ngeles dan ternyata juga tidak berkutik. “Benar kan, nak Retno?”


Retno terkesiap dan memutar pandangan ke arah Lastri. “I-iya, Bu. Semua pasti bisa diatur, nanti.”


“Jadi sekarang, bagaimana denganmu, Lin?” lagi-lagi Lastri bertanya. Ia hanya ingin memastikan jika apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini, yakni Linda masih memiliki rasa untuk Retno, tidak salah.


“Li-linda, terserah ibu saja.” jawab Linda sembari kembali menundukkan kepala, hendak bersembunyi dari kenyataan yang dirasanya cukup membuatnya malu.


Lastri menahan tawa. “Lho, kok terserah ibu. Yang jalanin kan kamu, sama Retno nantinya. Kok malah terserah ibu?”


Linda kembali mengangkat wajah, menatap Retno dengan lirikan mata, lalu menatap sang ibu dengan sorot mata berbinar. “Ba-baiklah. Ayo kita mulai dari awal.”


Retno yang tidak menyangka akan mendengar kalimat itu, terbelalak dan menelan ludah susah payah. “Kamu serius?” tanyanya tidak masuk akal. Ah, tidak. Lebih tepatnya dia sedang tidak percaya jika Linda bersedia kembali menjalin hubungan dengannya.


“Iya lah.” ketus Linda dengan wajah yang sudah merona gila-gilaan.


“Kalau begitu, ibu cuma pesen sama kalian. Jangan mudah terpancing ego dan emosi. Biar langgeng.”


Baik Retno dan Linda mengangguk mendengar wejangan dari si ibu yang memang kisah kehidupannya tidak usah diragukan lagi. Linda juga pernah bermimpi jika suatu saat nanti dia menikah, dia ingin setia pada pasangan hingga akhir, lalu mendidik anak-anaknya dengan baik agar menjadi generasi yang berguna, seperti ibu dan ayahnya mendidik dia juga kakaknya dulu.


“Saya akan membawa kabar baik ini kepada keluarga saya di rumah, bu.”[]


...To be continue...