
...Moment...
...|Part 14|...
...Happy reading...
...[•]...
“Ayah jalan duluan ya?” kata pak Kurniawan sembari menepuk kecil pundak Retno, lalu berdiri dan bersiap untuk berlalu setelah mendengar suara pemberitahuan dari pihak maskapai penerbangan untuk segera bersiap menuju garbarata yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari ruang tunggu. “Lin, om pamit ya? Nanti, kalau ada kabar baik, hubungi om cepat-cepat biar om bisa berangkat ke Jakarta lagi bersama keluarga besar.”
Linda semakin merona. Wajah dan kedua pipinya sudah seperti kepiting rebus yang siap disantap. Ia merasa malu sekaligus senang karena ternyata dirinya masih diharapkan oleh keluarga mantan. Tapi, tunggu dulu! Linda tidak ingin terlalu percaya diri dan berharap jika Retno menginginkannya. Pasalnya, dialah yang membuat semua jadi runyam seperti sekarang.
“Ah, iya, Om. Selamat jalan, ya. Selamat sampai tujuan.” kata Linda yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Seperti yang pernah dia lakukan ketika bersalaman dengan pria itu, Linda mengarahkan telapak tangan pak Kurniawan ke keningnya sebagai tanda hormat.
“Kamu hati-hati nanti pulangnya.” pinta pak Kurniawan dengan suara jelas dan lantang sebab bandara berubah sedikit berisik setelah suara dari pengeras suara tadi menginterupsi.
“Iya, om.”
Sedangkan Retno, dia masih berdiri tidak jauh dari Linda. Menatap perempuan itu cukup intens hingga nyaris tidak berkedip.
Linda terlihat lebih kurus dari terakhir dia melihatnya beberapa bulan lalu. Wajahnya terlihat sedikit tirus, dan kelopak matanya juga sedikit mencekung dibagian atas.
Apa Retno terlalu jauh berasumsi jika Linda kepikiran setelah mereka putus? Ah, benar itu terlalu jauh. Bisa jadi Linda memikirkan pekerjaan, atau kurang tidur karena pekerjaannya yang rumit di kantor. Ya, anggap saja seperti itu jika tidak ingin hatinya semakin sulit untuk lari menjauh.
Tapi, tetap saja. Pesona mantan memang jauh lebih memikat meskipun, penyebab berpisah bisa dikatakan tidak dengan cara baik-baik dan tidak patut di kenang.
“Gue balik Kalimantan, ya. Baik-baik disini.” kata Retno lembut sambil meraih tas punggung berisi beberapa berkas penting dan juga keperluan yang bisa dikatakan berharga, lalu memanggulnya.
Linda tidak memberikan jawaban. Dia hanya menatap datar fitur wajah Retno yang sekarang, dimatanya terlihat begitu indah. Linda jadi rindu masa-masa bersama Retno jika sudah bertemu begini.
“Soal omongan ayah, jangan didengar. Mungkin ayah sedang bercanda—”
“Iya, nggak apa-apa kok.” sahut Linda memotong ucapan Retno yang belum rampung. “Kamu safe flight ya.”
Retno tersenyum lembut hingga kedua matanya menyipit. “Iya. Lo juga hati-hati.”
Lantas dengan gerakan cukup yakin, Retno mengulurkan tangan didepan Linda, sebagai dia harus bergegas jika tidak ingin tertinggal pesawat. “Semoga hari Lo menyenangkan ya, Lin. Sekali lagi sorry jika gue ganggu Lo selama disini.”
Tatapan mereka bertemu, dan tanpa diminta mata Linda mulai berembun.
“Bisa nggak sih panggilnya nggak usah Lo-gue? Aku nggak nyaman, Nok.”
Seperti mendapat serangan fajar, jantung Retno seperti dipaksa memompa lebih cepat hingga menimbulkan degupan yang lumayan berisik. Mengalihkan rasa senang yang terlalu berlebihan, Retno menanggapinya dengan senyuman.
“Ya udah, sorry deh.”
Linda berjalan mendekat, mengambil inisiatif memeluk, namun Retno membawanya kedalam pelukan ringan berdurasi beberapa detik sebagai salam perpisahan mereka.
“Kabari aku jika sudah sampai rumah.” kata Retno penuh perhatian. Mau bagaimanapun, dia tidak bisa mengingkari perasaan dan kenyataan jika mereka memang pernah saling berbagi perasaan yang sama. Dan terbukti hari ini, jika baik dirinya dan juga Linda, masih memiliki perasaan itu meskipun mereka mencoba bersembunyi dalam ego masing-masing.
“Eumm.”
Retno berbalik setelah pelukan itu terlepas. Akan tetapi, langkah itu kembali tertahan saat Linda tiba-tiba berkata pelan, nyaris seperti sebuah bisikan karena teredam suara bising lobby bandara. Namun Retno masih bisa menangkapnya dengan jelas.
***
Linda berjalan keluar area bandara dengan taksi yang ia tumpangi. Perasaannya kacau balau, bahkan sempat membayangkan drama film yang pernah dia lihat. Dia sempat berharap Retno membatalkan penerbangan ke Kalimantan demi dirinya.
Akan tetapi hal itu tidak terjadi, Retno benar-benar meninggalkan dirinya seorang diri.
“Film sialan!”
Jadi menyalahkan film, padahal dia sendiri yang ketinggian ekspektasi. Nyeri nggak tuh ulu hati?
Setelah sampai di tempat kerja—karena Linda hanya mengajukan izin selama tiga jam, Linda akhirnya mulai melakukan aktifitas seperti biasa, dengan hati yang gundah karena jam seperti berputar sangat lama.
Bukan karena perkara jam yang berputar bak siput berjalan, tapi Linda saja yang terlalu menggebu ingin mendapat pesan dari Retno. Ya, yang membuat Linda sampai berharap dengan rasa cemas itu, menunggu pesan dari Retno.
Hingga jam maksi tiba, Retno yang ditunggu tak kunjung mengiriminya pesan. Alhasil, Linda gemas dan mengetik di ponselnya untuk Retno.
Udah sampai?
Centang abu-abu dua, pertanda Retno sudah mengaktifkan kembali ponselnya yang berarti, pria itu telah sampai di tujuan.
“Kenapa nggak balas?” gumam Linda setelah lima menit pesan tersebut terkirim. Nafsu makan Linda mendadak hilang hanya karena sebuah pesan. Nggak masuk akal memang, tapi itu kenyataannya.
“Lu kok manyun gitu sih dari tadi?” celetuk Tika membawa Linda kembali ke realita. “Nggak di bales do'i? Atau ... gebetan baru?”
“Kepo!” sahutnya ketus, kemudian meraih sendok dan mulai melahap makan siang miliknya.
“Dahlah Lin, kalau lu memang masih berharap, nggak usah jaim. Turunin dikit tuh ego biar dia balik lagi.”
“Ye, enak aje. Ya dia lah yang harus punya inisiatif duluan. Kok gue?”
Tika geleng-geleng kepala. “Gue yakin kalau dia sebenarnya masih pingin balik, tapi takut sama sikap Lo yang ajaib itu.”
Linda sontak menoleh. Kepalanya mendadak menerima petunjuk dari ucapan temannya itu.
“Coba deh, Lo bersikap lembut, santai, nggak jaga image kayak gini,” Tika menjeda dan melirik Linda sinis. “Dia pasti berani ambil sikap.”
“Sulit Tik. Dia udah nggak di Jakarta. Balikan pun kita bakalan LDR dan ... mungkin endingnya juga muter lagi kayak gini.”
“Optimis dong. Belum-belum udah pesimis.” cebik Tika yang pengalamannya tidak kalah pahit dari cerita Linda.
“Terus gue kudu gimana?”
Tika menepuk telapak tangan Linda dan menatap matanya dalam. “Dengerin gue. Kalau Lo memang masih suka sama dia, ya Lo tunjukin dong, jangan nunggu dia yang datang karena nggak mungkin karena jauh. Jadi, Lo yang harus berjuang sekarang.”
Ya, meskipun itu tidak perlu. Karena Retno juga masih berharap bisa kembali bersama Linda. []
...To be continue...
###
Maaf pendek dulu, authornya lagi berusaha keluar dari writers block yang beberapa hari ini sangat mengganggu, imbasnya update sering molor. Otaknya, nggak bisa mikir alur dan menyusun kalimat dengan baik.
Sekali lagi maaf ya 🙏 🥺