
...Moment...
...|Part 11|...
...Happy reading...
...[•]...
Linda sampai dirumah Atan sekitar pukul tujuh malam. Tadi, saat menjenguk di tempat temannya yang baru saja melahirkan, Linda mendapat telepon dari Tyra agar pulangnya mampir dulu ke rumahnya. Tyra bilang ada sesuatu yang dititipkan padanya dan harus Linda ambil kerumah, dan Linda menuruti Tyra karena kangen juga pada si Ajeng, ponakan tersayang yang selalu ia rindukan jika tidak main kerumah barang sehari saja.
Linda menurunkan standart samping motor skutik nya di teras rumah Atan. Ia bergegas melangkah memasuki area teras sambil melepas sepatu. Linda mengetuk pintu rumah karena Atan sengaja tidak memasang bel, agar Tyra dan Ajeng tidak terganggu jika sedang istirahat lalu tiba-tiba bel berbunyi mengejutkan.
Setelah mengucap salam, Linda meneriakkan nama si kakak ipar dan seluruh penghuni rumah ini secara bergantian. “Mbak, mas, Ajeng?!”
Ajeng mendengar suara si Tante, berlari menerjang. Dia memeluk Linda dengan erat dan tanpa membuang waktu untuk mulai bercerita, mengajak Linda bicara dan mengubahnya menjadi pendengar setia gadis kecil itu berceloteh ria tentang apa yang ia lalui hari ini.
“Ayah dimana?” tanya Linda yang menggiring Ajeng duduk di ruang tengah.
“Ayah sama mama ke kamar mandi.”
Linda sontak mengerutkan kening, menatap tidak percaya. Otaknya sudah memikirkan hal yang aneh-aneh. Anaknya dibiarkan sendirian pula.
“Ngapain?” kata Linda dengan nada bingung tanpa melepas tatapan matanya dari si keponakan yang cantiknya minta ampun ini.
“Mama huek.” selorohnya lucu sambil membuat gestur orang yang sedang memuntahkan isi perut.
Astaga, kenapa Linda tadi malah berfikir yang iya-iya? Jelas-jelas tidak mungkinlah, kakaknya berbuat seperti itu saat anaknya masih melek lebar begini. Pada akhirnya dia menghela nafas dan tersenyum.
“Ajeng udah makan?”
“Udah tadi sama ayah. Pakai brokoli lho, tante.” jawabnya lugu, dan tidak lama kemudian Atan muncul dari dalam.
“Wah, pintar .... ” sahut Linda bertepuk tangan. Hal seperti ini perlu diberi apresiasi. Karena anak kecil itu sulit sekali makan sayuran, khususnya brokoli. Linda ingat, dulu Ajeng selalu menolak dan berkata jika brokoli itu menakutkan. Tapi sekarang? Berkat usahanya yang memberi pengertian, Ajeng mau memakan sayuran dengan bentuk yang katanya aneh itu.
“Lho, sudah lama Lin?”
Linda sontak menoleh karena mendengar suara Atan. Lalu, tanpa membuang waktu dia melayangkan protesisasi karena keteledoran yang kakaknya itu buat.
“Mas, hati-hati dong ya, jangan teledor. Kenapa pintu rumah nggak dikunci, sedangkan Ajeng sendirian. Aduh, mas ... mas.” omel Linda kepada kakaknya karena kesal sendiri melihat Ajeng tanpa pengawasan dan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Kalau ada orang asing yang berniat jahat bagaimana?
“Ah, iya. Mas lupa ngunci soalnya ngejar mbak mu ke kamar mandi. Mbak mu muntah gara-gara mas bawa durian. Lupa kalau sekarang nggak suka sama durian.” jawab Atan sambil menunjuk durian dan membereskannya dengan cepat. Untung saja di ruangan ini ada alat penyemprot otomatis rasa lavender, yang bisa dengan cepat mengubah aroma ruangan.
“Ya bagaimanapun, lain kali jangan di ulangi lagi mas. Bahaya. Kunci rumahnya biar aman!”
Atan mengangguk pasrah diomeli si adik. Tak lama kemudian Tyra muncul dengan wajah lesu dan sedikit pucat.
“Udah nyampe, Lin?”
“Baru aja mbak. Mbak kenapa?”
Tyra menoleh ke arah Atan dengan tatapan sinis. “Tanya sama mas mu ini?!”
Sedangkan Atan yang mendengarnya, tersenyum geli melihat ekspresi wajah Tyra yang sebal padanya. “Maaf sayang,” kata Atan sambil meraih puncak kepala Tyra dan mengusapnya penuh kasih. “Lupa kalau kamu sekarang nggak suka dan sensitif sama bau durian.”
Memang dulu, Atan, Linda dan Tyra selalu makan durian bersama-sama karena mereka bertiga pecinta durian. Tapi di kehamilan yang sekarang, Tyra begitu sensitif dan selalu diserang mual parah jika ada bau-bau kuat seperti si buah berduri ini.
“Jadi, ada apa mbak Tyra nyuruh aku kesini?” desak Linda sembari berdiri, lalu berjalan hendak masuk untuk mengambil air minum. Dirasa-rasa haus juga si Linda karena tadi tidak sempat minum sebelum pulang dari rumah temannya.
“Tuh, ada titipan buat kamu.” jawab Tyra yang kini sudah memposisikan tubuhnya untuk merebah di atas sofa ruang tengah. “Ada di kamar Ajeng.”
Saat Tyra berteriak begitu, posisi Linda tepat didepan kamar Ajeng yang sedang tertutup. Ia pun bergegas menurunkan handle pintu dan mendorong masuk pintu berwarna coklat yang ditempeli gambar unicorn di depannya. Pintu terayun terbuka dan hal pertama yang tertangkap pupil mata Linda adalah, boneka panda besar yang duduk nyaman diatas ranjang pinky milik si cantik Ajeng.
Panda itu begitu familiar di matanya. Tapi, dimana dia melihatnya ya?
“Boneka panda gede. Yang kecil punya Ajeng.”
Eh? Seperti yang dibawa Retno tadi bukan sih?
Linda abai dengan teriakan Tyra dan justru tertegun melihat dua boneka yang benar-benar sama dengan yang dilihatnya tadi siang. Boneka itu, adalah boneka yang tadi di bawa Retno. Atau, hanya kebetulan sama?
“Hayo!!” getak Ajeng yang melihat tantenya melamun sambil menatap boneka di kamarnya. “Tante melamun apa? Jangan ambil boneka Ajeng ya?” katanya, berlari menuju ranjang dan menggendong boneka yang ukurannya jauh lebih kecil dari si panda raksasa yang duduk menatap Linda itu.
“Jeng, mama kamu tadi bilang apa?”
Ajeng menjengitkan bahu, lalu berlari keluar kamar sambil menggendong panda miliknya. Karena tak tau apa yang tadi dikatakan Tyra, Linda akhirnya berjalan kembali ke ruang tengah dan bertanya lagi kepada Tyra.
“Titipan buatku, yang mana mbak? Lalu, kenapa Ajeng dibelikan boneka sebesar itu?”
Tyra mengembuskan nafasnya dengan cukup keras. Dia yakin jika Linda tidak mendengarnya tadi. “Ya boneka panda besar itu, buat kamu. Titipan dari si jerapah Retno.”
Apa? Jadi ...
Linda mengerutkan kening. Tatapannya bertemu dengan manik milik Tyra yang juga sedang memperhatikan dirinya.
“Retno tadi sore mampir kesini. Dia pamit balik ke Kalimantan besok pagi. Terus dia nitip boneka itu buat kamu.”
Linda mengerjap cepat. Untuk apa Retno melakukan itu? Mau membuatnya terpenjara rasa bersalah?
“Dia juga minta maaf karena nggak bisa ketemu kamu dan pamit secara langsung.”
Kenapa nggak bilang saat ketemu tadi? Jadi pertemuan tadi disembunyikan Retno dari mbak Tyra?
Linda terus membatin. Dia takut salah bicara, kemudian menangis. Atan yang berada diantara mereka hanya menyimak dan mencoba memperhatikan bagaimana ekspresi adiknya. Dia ingin memastikan jika Retno, memang sudah tidak ada lagi didalam hati adiknya. Lantas dia akan mempersilahkan Reza untuk kembali mendekati dia. Tapi, ternyata yang didapatkan Atan justru terlalu mengejutkan. Ekspresi wajah Linda terlihat kecewa.
Mungkin memiliki alasan. Tapi Atan mencoba berfikir positif. Mungkin Linda hanya merasa bersalah karena tidak di pamit Retno. Bukan karena masih mencintai pria itu. Seharusnya begitu, kan?
“Kamu masih punya nomer hapenya Retno nggak?” tanya Tyra membuyarkan lamunan Atan tentang perasaan sang adik.
Linda menjawab dengan gelengan kepala ragu. Kemudian disusul dengan suara pelan. “Enggak, mbak. Udah nggak ada.”
“Pengen ngucapin makasih ngga, sama dia?” tanya Tyra lagi-lagi, yang justru membuat Linda semakin gusar. Wajahnya terlihat sendu, kepalanya jatuh tertunduk. “Kalau mau, ku kasih nomornya.”
Memang, sehari yang lalu mereka sempat bertukar pesan. Tapi Linda sudah menghapus pesan itu karena tidak ingin mengingat apapun tentang Retno. Tapi, boneka panda itu? Mengapa Linda ingin membawanya pulang dan menjadikannya teman tidur?
“Nggak usah deh, mbak.” jawab Linda pelan, membuat Atan dan Tyra saling melirik.
“Ah, maaf kalau aku—”
“Aduh, sudah jam berapa ini? Ibu pasti nungguin.” elak Linda mengalihkan topik. Dia tidak ingin membuat Tyra merasa bersalah. Untuk boneka itu, Linda memutuskan untuk membawanya saja. Bisa dimanfaatkan sebagai samsak tinju dirumah, kalau tiba-tiba ingat Retno dan rasa kesal kembali menyapanya. “Bonekanya bisa Linda titip disini dulu nggak mbak? Besok mas Atan kalau berangkat kerja suruh ngantar kerumah bawa mobil.”
Tidak mungkin Linda membonceng boneka sebesar itu untuk dia bawa pulang malam-malam. Kalau tiba-tiba bonekanya berubah kan serem?
“Ya udah, kamu pulang aja. Ibu pasti udah nunggu kamu.” tegur Atan pada Linda yang langsung di-amini oleh gadis yang sekarang terlihat tidak bersemangat itu.
“Ya, mas. Besok tolong bawa bonekanya ke rumah ya?”
Atan mengangguk dan tersenyum pada si adik.
“Hubungi dia. Bilang makasih. Kalaupun kamu keberatan bicara, kirim pesan saja.” kata Atan memberi solusi. Dia juga tidak ingin adiknya itu tidak tau rasa terima kasih. “Dia pasti juga nunggu kamu.” []
...To be continue...
###
Atan ini memang selalu bijaksana ya?