MOMENT

MOMENT
Part 21




...Moment...


...|Part 21|...


...Happy reading...


...[•]...


“Terima kasih atas kerja samanya ya, pak.” ucap Retno kepada si pemilik tanah. Mereka baru selesai melakukan pembayaran sisa uang tanah yang sekarang sudah berubah kepemilikan menjadi sepenuhnya milik Retno. Rumah di pemilik tanah itu tidak cukup bagus. Bapak itu bilang, jika ia menjual tanahnya itu untuk menutup hutang yang dulu sempat ia buat dengan salah satu temannya, dan harus ia lunasi sekarang karena temannya itu sudah menagih bahkan siap menuntut jika tidak dibayar sesegera mungkin.


“Saya yang harusnya terima kasih sama nak Retno, karena sudah bersedia membayar cepat untuk sisa uangnya. Maaf merepotkan ya nak?” kata si bapak yang Retno ketahui bernama Ruslan itu.


Keduanya berjabat tangan, dan Retno berniat undur diri setelahnya. Namun pak Ruslan malah membuka topik pembahasan baru, dimana putri bungsunya lah yang menjadi topik.


Sepanjang pembicaraan, pria itu tak henti-hentinya mengatakan rasa kagumnya pada sosok si anak yang terus menyokong hidup keluarga, termasuk satu kakak laki-lakinya yang tidak bekerja dan suka menghabiskan waktu ke tempat bermain game dan terkadang memodifikasi motor dengan uang adiknya.


Pak Ruslan juga sedikit menceritakan kronologi dirinya terbelit hutang karena putranya itu juga. Beliau harus membayar uang ganti karena sertifikat rumah di gadaikan. Jika tidak di tebus, rumah akan disita. Sedangkan gaji putri bungsunya bekerja selama satu tahun pun, tidak akan mampu membayar jumlah uang pinjaman yang saat itu sama sekali tidak pernah mereka ketahui dipergunakan untuk apa. Alhasil, pak Ruslan terpaksa meminjam uang pada temannya yang seorang rentenir. Ia rela membayar bunga setiap bulan karena tidak bisa membayar uang pinjaman.


Mendengar itu, Retno merasa iba. Dia bisa merasakan seperti apa perasaan pak Ruslan, dan bagaimana lelahnya menjadi seorang adik yang terus dibebani hidup sang kakak yang tidak tau rasa terima kasih itu. Dari sini Retno merasa bersyukur karena keluarganya tidak seperti keluarga pak Ruslan. Dia juga bersyukur jika semua kakaknya adalah orang baik dan bertanggung jawab, bukan malah menjadi beban keluarga.


“Sekar sekarang bekerja di salah satu perusahaan tekstil sebagai kepala bagian.” lanjut pak Ruslan. “Bapak kadang kasihan melihat dia sampai tidak memikirkan untuk menikah di usianya yang sekarang sudah dua puluh enam tahun, nak Retno.”


Jadi usianya hampir sama dengan Linda, Retno membatin.


“Saya harap, dia nanti bisa ketemu jodohnya, yang seperti nak Retno gini lah. Baik, ganteng. Pokoknya mantu idaman.”


Retno meringis. Ia bahkan menggaruk tengkuk lehernya karena merasa sedikit malu dijadikan patokan sebagai mantu idaman.


“Nak Retno sudah berkeluarga?”


Retno menatap wajah Ruslan kemudian tersenyum. “Dalam waktu dekat saya akan menikah, pak.”


“Aduh, kenapa saya nggak kenal nak Retno dari dulu, ya?” kelakarnya sembari tertawa, yang membuat Retno terpaksa ikut tertawa.


Bersamaan dengan suara tawa dua pria yang sedang bercengkerama—karena dua pria yang datang bersama Retno sebagai saksi jual beli tadi, sudah lebih dulu pulang, sosok Sekar keluar dari dalam rumah dengan baju rumahan yang terkesan santai.


“Mau kemana Kar?” tanya pak Ruslan pada anaknya yang terlihat malu-malu dan bergegas keluar dari ruang tamu itu.


Sambil berjalan gadis itu menjawab, “Mau ke supermarket, pak. Beras habis.” jawabnya sempat menghentikan langkah.


Retno yang teringat jika dia juga perlu sesuatu untuk dibeli, langsung ikut masuk ke pembicaraan bapak-anak tersebut.


“Bareng sama saya saja. Kebetulan saya juga mau kesana.”


Perempuan bernama Sekar itu setuju karena ia pikir, dia akan bisa meminimalisir uang bensin motornya.


“Tapi, nanti pulangnya?” tanya Sekar agak ragu.


“Gampang, nanti saya antar.” sahut Retno yang sekarang berdiri dan meraih kunci mobilnya sembari memakai jaketnya, bersiap meninggalkan rumah pak Ruslan bersama Sekar. “Kalau begitu, saya pamit pulang sekalian ya, pak. Sekali lagi terima kasih atas kerja samanya ya, pak.”


Akhirnya, Retno pergi bersama putri pak Ruslan menuju supermarket. Tidak ada percakapan terlalu pribadi secara perjalanan. Hanya percakapan kecil tentang kesibukan sehari-hari, dan tentu saja pekerjaan.


Hingga akhirnya mereka sampai di area parkir supermarket dan mobil Retno berjejer bersama mobil lainnya di sana.


“Makasih lho mas, sudah baik sama saya.” kata Sekar dengan senyuman dan wajah yang mulai merona. Dia merasa nyaman saat bicara dengan Retno, karena Retno memang basicnya orang yang humble.


“Nggak apa. Lagian saya juga butuh sesuatu untuk calon istri saya.”


“Oh, mas Retno mau nikah?” tanyanya penasaran.


Retno tersenyum sembari melepas seatbelt, kemudian menjawab dengan intonasi tenang. “Iya. Dua minggu lagi.”


Sekar yang sempat berharap besar bisa meletakkan hatinya pada sosok Retno, kini harus menerima kenyataan pahit bahwa pria itu sebentar lagi akan menjadi milik orang.


“Kalau begitu selamat ya, mas.” kata Sekar dengan senyuman canggung.


“Oh, iya. Makasih ya.”


Keduanya keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Dan Sekar mengambil inisiatif untuk menunggu dan berjalan bersama dengan Retno untuk masuk ke dalam supermarket.


Retno yang sudah hampir melewati kap depan mobil, sempat mengedarkan pandangan ke berbagai arah, termasuk ke arah parkiran motor yang disana, tampak seseorang sedang menatap lurus ke arahnya.


Matanya memicing agar pandangannya menajam. Dan apa yang ia lihat saat ini, sontak membuat dua bola matanya melebar.


“Linda?” gumamnya, lalu buru-buru melangkah karena sosok yang ia lihat dengan jelas adalah calon istrinya itu, berusaha untuk bergegas meninggalkan area parkir.


Langkah cepat Retno mampu menghentikan sosok Linda yang berusaha menghindar. Retno meraih kunci motor Linda dan mematikan mesinnya, lalu melepas kunci tersebut untuk ia genggam agar Linda tidak pergi tanpa mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu.


Suasana ini jelas-jelas menimbulkan kesalahpahaman yang mungkin tidak akan diterima Linda begitu saja.


“Balikin nggak?!” ketus Linda dengan nada dan sorot tajam menatap wajah Retno.


“Kita bicara sebentar.”


Linda mendecak sebal. “Iya, tapi nggak disini.” sahutnya tidak ramah, dan justru semakin terbakar emosi saat melihat perempuan yang tadi bersama calon suaminya itu kini berjalan mendekati mereka berdua. Linda tidak suka dan memaksa Retno untuk mengembalikan kunci motornya. “Balikin!!” katanya sambil menurunkan standart samping motor. Tatapan matanya semakin bengis.


“Kamu salah paham jika menyangka aku main belakang.”


Linda mengembuskan nafasnya kasar. Ia kesal sekali karena terpojok dan harus menahan emosinya di depan umum.


“Oke. Kita bicara dirumah.” jawab Linda dengan tatapan tajam dan nggak sukanya pada sosok perempuan yang sudah semakin dekat dengannya dan Retno.


Retno yang mendengar itupun, langsung memberikan kunci motor sang kekasih dan membiarkan Linda pergi meninggalkannya, karena dia juga harus memberi penjelasan dan meminta pengertian dari Sekar.


Linda sudah berhasil berlalu saat Sekar kini berdiri di jarak yang sangat dekat dengan Retno.


“Siapa dia, mas? Calon istri?”


Retno tersenyum kaku. “Iya. Dia salah faham kayaknya.”


Kini Sekar tau, siapa dan bagaimana wajah gadis beruntung yang bisa mendapatkan hati pria yang sempat ia idamkan ini. “Cantik, ya?”


Retno hanya menoleh. Senyuman dibibirnya sudah memudar dengan sendirinya.


“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Kar.” kata Retno pelan. Ia merasa bersalah juga pada Sekar karena sudah berjanji akan mengantarnya pulang setelah belanja. Namun situasi tak terduga ini membuat Retno harus bisa mengambil sikap. Dia tidak ingin Linda sampai membatalkan rencana pernikahan hanya karena salah faham. “Kamu, bisa pulang sendiri kan? Ada sesuatu yang harus aku selesaikan sekarang juga.”


Sekar ingin memberikan jawaban sesuai isi hatinya. Namun dia tidak bisa egois dan menghancurkan kebahagiaan orang lain. Apalagi pria ini, adalah pria baik yang sudah membantu ayahnya dengan membayar uang penjualan tanah lebih cepat dari janji kesepakatan.


“Tentu saja. Saya bisa pulang sendiri kok nanti.”


Retno meminta maaf sekali lagi kepada Sekar, kemudian tanpa berfikir panjang meninggalkan area supermarket untuk bertemu Linda. Untuk sekarang dan seterusnya, Linda akan menjadi prioritas utama baginya. []


...To be continue...