
...Sebelum mulai membaca, luangkan waktu untuk memberi dukungan dengan cara Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan....
...Terima kasih....
...❣️❣️❣️...
...Moment...
...|Part 06|...
...Happy reading...
...[•]...
“Nih!” Reno melempar sebuah undangan yang tadi sempat dititipkan padanya. Undangan pernikahan dari seorang teman perempuan Retno yang dulu sering main bersama di rumah lama mereka dulu.
Mereka sekarang berada disebuah klinik bersalin terdekat, Retno ingin menengok ponakan barunya. Istri Reno melahirkan tadi pagi.
“Nggak sopan.” cebik Retno, dia memang seorang bungsu yang selalu menjadi kesayangan kakak-kakaknya. “Si sableng udah mau nikah aja.” lanjutnya setelah berhasil tau nama si pengundangan.
“Ya emang udah waktunya, Nok. Kamu aja yang ribet nggak kawin-kawin. Nunggu besi ngambang?”
Retno tak menanggapi, dia memilih menyibukkan diri dengan undangan berdesain cantik berwarna pink ditangannya. Lihat warna pink, jadi ingat Linda. Mantan kekasihnya itu anti pink-pink lovely yang menurut Retno cocok banget di kulit Linda dan wajahnya yang manis bin cantik.
“E-ekhmm.” tiba-tiba dia berdehem tidak jelas dan berhasil membuat Reno mengerutkan kening.
“Gimana? Udah ada yang dilirik nggak? Atau Abang cariin di kantor, banyak kok yang cantik, yang tipe-tipe mirip Linda gitu.”
“Ya itu sama aja kayak nggak move-on Weh. Jan ngadi-ngadi deh.”
Reno tertawa, lalu menegakkan punggung. Ia meraih pundak adiknya, lalu menepuk-nepuk pelan seperti memberi support. “Ya mungkin memang belum jodoh, Nok. Cari deh gebetan baru. Temen sekolah kek, temen main kek.”
“Ogaaaaah ... ”
“Ya terus maunya gimana? Kamu udah tiga puluh dua lho, nok.”
Mendengar itu, Retno jadi ingat jika usianya tidak muda lagi. Sudah kepala tiga, sudah waktunya berkeluarga, dan mungkin, sudah waktunya memiliki buah hati.
Mendadak kegundahan merayap dalam hatinya. Dia ingin sekali memutar waktu dan kembali ke beberapa minggu silam, memperbaiki hubungannya dengan Linda, bukan malah lari menjadi seorang pecundang seperti ini.
“Ya nanti kalau udah ketemu yang cocok bakal langsung deh, Ren.”
“Dulu sama Linda juga gitu ngomongnya.” dumal Reno yang justru mendapat pukulan keras dari si bungsu hingga berbunyi bugh, dan si ketiga itu mengaduh dengan cengiran menahan sakit.
***
“Ayah ada yang nawarin kerja sama, Ret.”
Retno tetap melakukan pekerjaannya. Dia memberi makan anak-anak ikan nila yang sudah ia rawat seperti anak sendiri.
Terhitung sudah dua bulan dia kembali ke kampung halaman. Perlahan melupakan meskipun ya ... tidak gampang. Retno selalu berusaha mengalihkan pikirannya yang selalu tertuju pada Linda, dengan mengajak bicara ikan-ikan peliharaan ayahnya, atau mengajak bicara bebek dan ayam di kandang peternakan yang jumlahnya tidak sedikit.
Ayahnya sempat syok berat saat tau Retno bicara dengan salah satu ayam kecil yang sedang makan jagung, sore itu. Namun sekarang hal itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah, dan Kurniawan tidak mencegah. Dia hanya mengingatkan agar Retno tetap waras.
“Kerja sama, dimana lokasinya, yah?”
Kurniawan menatap sejenak punggung Retno yang terlihat sedikit berisi. Anaknya itu, putus cinta bukannya kurus, tapi malah pasar berisi.
“Eumm, Jakarta, sih. Jauh. Ayah mau menolak juga nggak enak, soalnya itu teman lama ayah waktu ikut penyuluhan di samarinda.”
Retno mengangguk. Tidak mungkin dong dia menghalangi bisnis ayahnya untuk berkembang hanya karena kota itu adalah Jakarta? Nggak etis. Nggak masuk akal juga.
“Ya udah. Ayah gimana? Mau lanjut atau enggak?” tanya Retno memastikan. Dia bergerak menuju kolam lainnya. Sejak hidup di sini, Retno jadi lebih akrab dengan apa yang dulu tidak pernah mau ia lakukan. Bukan terpaksa, tapi ini memang kemauannya untuk berubah.
“Ayah sih, mau coba dulu. Lihat-lihat lokasi dan usaha om Tio yang bergerak di bidang makanan Frozen siap saji.” kata Kurniawan, ikut meraih timba dan menabur pakan di kolam lain. “Om Tio bilang, boleh coba dulu. Nanti kalau cocok dan nggak bikin rugi, ya dilanjut.”
Retno tidak asing dengan kesepakatan seperti ini. Dulu, Tyra bahkan sering memakinya tanpa sebab karena membuat kesepakatan dengan pihak penting sebuah brand.
“Ya sudah, ayah coba saja kalau begitu.”
Jadi, aku harus ikut kesana? Astaga, demi apa?
“Retno sih nggak apa-apa kalau ayah minta antar Retno. Yang jadi masalah, siapa yang ngawasin pegawai buat ngasih makan ikan-ikan ini, yah?” kelitnya mencoba menghindar. Kalau bisa, Reno saja yang mendampingi ayahnya itu dari pada dirinya nanti yang malah melow dan bernostalgia dengan masa lalu yang sudah hampir bisa ia kendalikan.
“Ya kan ada Reno.” jawab ayahnya, lugu. “Kalau Reno yang antar ayah ke jakarta, ayah juga takut. Dia juga nggak terlalu paham ibukota, jadi nanti kalau nyasar berdua kan nggak lucu?”
Yang lebih nggak lucu itu, kalau Retno ketemu lagi sama Linda, yah!
Retno membatin ucapannya dengan penuh perasaan. Ya tidak mungkin juga kalau dia pura-pura tidak kenal kalau ketemu secara nggak sengaja. Belum lagi ayahnya ini, yang memang sudah sayang sama tuh mantan kekasih.
Retno mendengus dalam hati. Ia sudah selesai memberi makan ikan-ikan nila itu dengan perasaan penuh perhatian. Semoga ikannya cepat besar dan bisa dijual dengan harga mahal, karena dibesarkan dengan cinta. “Kapan ayah pergi kesana?”
“Minggu depan,”
Minggu depan atau Minggu tahun gajah, Retno sebenarnya ingin sekali menolak keinginan ayahnya yang memintanya ikut ke ibu kota.
“Minggu depan itu, sudah fix?”
“Fix.”
Retno berjalan menuju kran air, diikuti sang ayah dibelakangnya. Ia memutar ke arah samping, dan air mengalir deras dari lubang kran.
“Berapa hari disana?”
“Paling lama seminggu.”
Retno menelan ludah susah payah. Seminggu bukan waktu yang sebentar. Lalu dia punya satu ide.
“Kenapa ayah nggak minta dijemput saja sama Om siapa tadi? Om Tio ya?” Kurniawan hanya mengangguk mendengar pertanyaan Retno ini. “Kan enak tuh—”
“Ayah nggak mau merepotkan.” sahut Kurniawan cepat sebelum Retno menyelesaikan ucapannya.
Tak bisa lagi mengelak atau berkelit, Retno lagi-lagi mengembuskan nafasnya kasar. Kemudian berkata, “Ya sudah, Retno antar.”
***
“Mau kemana?” tanya Tika penasaran, karena baru juga selesai maksi, Linda sudah berberes dan hendak pergi dengan beberapa dokumen dan tas selempang kesayangannya.
“Di ajak pak Besuk survei ke tempat yang kemarin kita bahas di rapat.”
“Waduh, pak kepala ini nggak pernah bikin kamu anteng ya? Kenapa nggak minta orang lain aja sih?!” kesal Tika karena harus rela berpisah dengan teman kentalnya setelah jam makan siang dan belum sempat menggosip.
“Ya emang kerjaan Tik. Udah ih, aku berangkat dulu.” kata Linda, meraih telapak tangan Tika dan menyalami seperti seorang anak kepada orang tuanya.
“Ati-ati Lo. Ntar cinlok sama pak Besuk tau rasa.”
Linda memukul jidatnya dengan kepalan sebanyak tiga kali, lalu memukul tepian meja sambil berkata. “Amit-amit. Tik, kamu tega bener sih ngomong gitu?” kesal Linda yang tentu saja tidak terima saat Temannya itu mendo'akan dia jatuh cinta pada pria berusia hampir enam puluh tahun itu.
“Canda,”
“Tapi nggak lucu!”
Tika tertawa, lalu mengibaskan tangannya agar Linda bergegas sebelum pria tua itu menghampiri kubikel dan menegur dengan suara lantang khas orang marah milik pak Besuk.
“Ya udah, buru!”
Linda manyun dan berjalan pelan. “Do'ain dapet cowok ganteng anaknya si boss kek. Atau, paling nggak, dapet gebetan kenalan si boss.”
Tika tertawa lagi dengan suara yang cukup keras. “Ya udah, moga Lo ketemu mantan pacar Lo aja deh.”
Sialan! Tapi Linda suka mendengarnya. []
...To be continue...
###
Gimana? Eksekusi nggak nih do'a si Tika? 😁