
...Moment...
...|Part 20|...
...Happy reading...
...[•]...
Kalau kata orang jaman dulu, pasangan yang hendak menikah itu pasti ada saja ujiannya. Entah itu si calon pria, ataupun si wanita, pasti akan ada saja yang membuat mereka seakan diuji kesabarannya.
Linda dan Retno juga sepakat akan membicarakan dengan baik-baik jika memang hal itu nanti akan terjadi dan menimpa mereka.
Semua persiapan pernikahan juga hampir rampung, bisa dibilang sudah 75 persen teratasi. Mulai dari tempat dilaksanakannya ijab, tempat diadakannya resepsi, undangan, catering, dan semua bentuk persiapan lain yang bisa dikatakan cukup menguras energi dan finansial, sudah siap.
Selain itu, kedua calon mempelai juga sudah membicarakan tentang kehidupan yang akan mereka jalani setelah menikah nanti. Mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, hingga anak, sudah mereka bicarakan dari hati ke hati. Tak terkecuali tentang sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu yang pasti suatu saat nanti akan menjadi sesuatu yang tabu untuk kembali disinggung.
Semalam, Retno yang datang ke rumah Linda untuk memberikan makanan yang dipesannya, mereka juga sempat membahas tentang solusi jika ada perbedaan pendapat hingga menjadi perseteruan antara keduanya. Dan sore ini, Linda meminta izin kepada Retno untuk pergi bersama ke sebuah pusat perbelanjaan untuk mencari beberapa kosmetik, dan menuju ke sebuah butik untuk melihat-lihat bahan yang akan dipergunakan sebagai dresscode keluarga pada pernikahan nanti. Ia memutuskan pergi bersama Tika karena Retno juga sedang sibuk dengan bisnis yang hendak ia jalankan setelah menikah nanti.
“Pulang dulu nggak sih, ntar pake mobil suamiku aja.”
“Naik motor aja, Tik. Deket aja kok.”
Tika setuju, karena dia juga tidak harus menyetir mobil di jam-jam krusial seperti ini.
Linda dan Tika berjalan menuju parkiran motor dan setelahnya, ikut membaur bersama pengendara lain di jalanan ibu kota yang sudah semakin padat oleh para pekerja keras yang hendak kembali ke peraduan.
Dan setelah sampai disana, kedua perempuan itu segera masuk ke dalam bangunan berlantai tiga itu untuk menuju salah satu stand brand makeup yang biasa di pakai Linda. Ia membeli beberapa produk dengan fungsi berbeda, dengan uang yang diberikan oleh Retno semalam.
Linda mengajak Tika untuk mampir ke salah satu stand minuman yang lumayan enak dan ternama sambil mengobrol ringan sembari menikmati minuman.
“Kalau lihat temen mau nikah gini, jadi inget pas nikah dulu.”
Linda menyesap minuman miliknya, mendengarkan Tika mulai bercerita.
“Kalau mau nikah itu, ada aja godaannya, lin.” lanjutnya. “Gue dulu, mantan tiba-tiba balik dari Jepang, terus nyamperin ke rumah tanpa ngasih tau. Dan apesnya, di rumah pas ada suami gue, saat itu.”
Linda menyemburkan tawa. “Perang ngga?”
“Perang dingin. Suami ngambek tiga hari tiga malam nggak kasih kabar, gue panik dong. Bayangin, undangan udah disebar, dia ngambek gara-gara mantan main kerumah. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba dia berubah pikiran dan batalin pernikahan.”
Raut serius mulai muncul di wajah Linda. Dia bisa membayangkan bagaimana panik dan khawatirnya Tika saat situasi seperti itu.
“Terus gimana kamu baikan sama dia?”
“Ya gue nyamperin dia dirumah bahkan tempatnya kerja. Gue bahkan nggak peduli kalau orang ngomongin gue. Yang penting dia nggak ngambek dan nggak batalin pernikahan.”
Linda mendengarkan lamat-lamat apa yang dikatakan Tika. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan di ponselnya masuk. Telinga Linda masih mendengarkan cerita Tika, namun tatapan matanya kini beralih pada balon pesan yang muncul di layar ponselnya. Retno mengirim dua pesan secara beruntun.
Udah nyampe?
Oh iya, aku mau izin ketemu teman sebentar ya sayang?
Sorot datar menjadi reaksi atas pesan Retno tersebut. Namun Linda tetap berusaha memberikan balasan.
Udah. Lagi beli minuman sambil istirahat sebentar, sama Tika.
Hati-hati kalau gitu.
Tak lama setelah pesan tersebut dikirim Linda, persegi pintar itu kembali bergetar.
Iya nda. Kamu juga hati-hati pulangnya.
“Dan pas udah baikan, giliran mantan dia yang ketemuan sama dia. Dan itu terjadi tanpa sepengetahuan dari gue. Ada yang ngasih tau gue, dan dia juga ngaku. Kita perang besar empat hari sebelum nikah, sampe dua keluarga ketemuan dan nyari solusi karena gue waktu itu nggak terima.”
“Tapi sekarang hubungan kalian baik-baik aja kan?” tanya Linda penasaran. Kisah Tika ini sudah seperti cerita drama saja.
“Ya setelah keluarga gue dan keluarga suami ketemu, akhirnya ya kita baikan. Suami gue minta maaf dan janji nggak bakal ngelakuin seperti itu lagi. Dan gue percaya.”
Linda menelan ludahnya susah payah. Bayangan buruk tiba-tiba terbesit dalam pikirannya. Bagaimana jika seandainya hal serupa terjadi padanya? Masih bisakah dia bertahan seperti Tika?
“Syukurlah sekarang kita makin sayang, makin manis, dan makin perhatian satu sama lain. Mungkin semua yang terjadi sebelum nikah merupakan kunci sukses agar kita saling mencintai satu sama lain sampai akhir hayat.” celetuk Tika sambil tertawa jenaka seolah tidak pernah terjadi hal mengkhawatirkan sebelum pernikahannya digelar saat itu.
“Ibu juga pernah ngasih wejangan ke aku, Tik. Masalah godaan sebelum nikah. Kata ibu, aku harus sabar jika memang diberi cobaan baik yang berhubungan dengan rasa percaya, atau bahkan tentang finansial.”
Tika mengangguk paham Karena dia juga sudah merasakan asam manis perjalanan menuju sah.
“Kuncinya, Lo harus bijak aja sih, Lin. Jangan Lo gedein gengsi, dan akhirnya salah langkah, terus nyesel belakangan. Jangan sampe itu terjadi.”
Wejangan seperti inilah yang dibutuhkan Linda. Dia tidak mau munafik jika merasa sedikit takut mendengar pengalaman sang sahabat yang berhasil melewati cobaan se-dahsyat itu sebelum pernikahan mereka sukses. Namun tidak semuanya memang, mendapatkan cobaan. Tapi sebagai antisipasi, Linda akan mendengarkan apa yang dikatakan Tika.
“Lo harus saling memahami, lalu cari jalan keluar yang tentu saja akan berimbas baik untuk hubungan kalian berdua.”
Linda mengangguk paham, lalu tersenyum. “Terima kasih sudah mau berbagi pengalaman ke aku ya, Tik. Semoga aja, jika memang ada cobaan baik kecil atau cukup besar, aku akan berusaha bersikap sewajarnya. Nggak akan mentingin ego karena menyangkut nama baik dua keluarga.”
“Nah, bener. Tumben Lo nggak ngeyel pas di kasih tau?!” ketus Tika yang seketika membuat Linda menatap tajam setengah kesal. Ucapan Tika terasa menancap di ulu hati, karena terlalu benar.
“Ya ... karena sudah saatnya aku bersikap seperti ini, Tik. Masa iya aku ngeyel? Perasaan selama ini juga selalu nurut kalau di kasih tau.” canda Linda dengan ekspresi wajah yang menyebalkan dimata sahabatnya.
Tika yang melihat, merespon dengan melengkungkan bibir dan berkata, “Ngelindur!”
***
Usai beres dengan urusan membeli *peningset dan memilih baju seragam untuk dresscode anggota keluarga, Linda mengantar pulang Tika dan berlanjut mampir di salah satu super market karena ingat jika beras dirumah tinggal sedikit.
Ia memutuskan untuk belanja bulanan juga agar nanti tidak keteteran saat hari H pernikahan, saat saudara jauh datang dan menginap dirumah.
Mungkin akan sedikit kerepotan saat membawanya pulang nanti, tapi daripada merepotkan kakaknya, atau Retno, Linda memilih mandiri.
Linda kembali mengecek barang-barang yang dia beli dan ada didalam keranjang dorong. Lalu bergegas membawanya ke counter kasir. Dan benar saja, barang bawaannya cukup berat dan merepotkan. Linda sampai berkeringat saat mengangkat karung beras dan belanjaan lainnya menuju parkiran motor.
Dan ketika ia sampai dan berhasil menata belanjaan yang ia beli. Linda mengedarkan pandangan saat memasang helm di kepalanya. Nahas, pemandangan yang tidak ia sangka tertangkap pupil matanya.
Meskipun hari sudah hampir gelap, dia bisa melihat dengan cukup jelas, jika orang yang baru saja keluar dari mobil adalah Retno, calon suaminya.
Tapi yang membuat Linda sedikit gemetar dan terpaku dalam diam adalah, siapa wanita yang bersama calon suaminya itu? Lantas, mengapa Retno tidak memberitahunya jika dia pergi bersama seorang perempuan?
Tubuhnya mendadak menggigil. Telapak tangannya berkeringat dingin, dengan pupil mata bergetar menahan tangis.
Apakah ini cobaan untuknya?
Lantas bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan?
Linda mendadak berubah menjadi seperti orang bodoh yang hanya bisa melihat tanpa bertindak. Tapi pertanyaan terakhirnya kembali muncul.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? []
...To be continue...
###
*Paningset atau peningset alias seserahan adalah salah satu kelengkapan dalam rangkaian upacara pernikahan adat Jawa. Peningset ini adalah berbagai barang yang diberikan oleh pihak CPP kepada CPW sebagai simbol kesanggupan seorang lelaki untuk mencukupi kebutuhan calon istrinya.