MOMENT

MOMENT
Part 24




...Moment...


...|Part 24|...


...Happy reading...


...[•]...


“Kalau kamu bikin dia nangis kayak gitu, kamu pasti tau apa yang akan aku lakukan, kan?”


Retno dan Linda menoleh bersamaan. Kemudian diwaktu yang sama, Retno mengepalkan telapak tangan saat melihat presensi Reza yang datang mendekati mereka.


“Ini bukan urusanmu. Tolong jangan ikut campur masalah kami.” seru Retno memperingati. Nadanya cenderung rendah dan dingin.


“Aku tidak akan ikut campur, jika perempuan itu bukan Linda.” sahut Reza cukup tegas dan mengintimidasi sosok Retno. Tatapan mereka saling menghujam, seolah akan terjadi peperangan sengit antara dua kubu yang memiliki visi dan misi yang bertolak belakang.


Retno menyeringai. “Pantaskah seperti itu?”


Reza yang memang tidak punya hak apapun, memilih diam. Wajahnya mengeras dengan jari-jari tangan yang mengepal perlahan diantara gelapnya malam yang melingkupi sekitar. Rasa ingin marah masih ia redam kuat-kuat agar tidak meledak.


“Mana kunci motor kamu, Lin. Biar aku yang bawa motormu pulang.” kata reza pada akhirnya. Dia memilih topik lain untuk mengalihkan letupan emosi yang semakin meruncing di ubun-ubun.


“Tapi mas,”


“Selesaikan masalahmu sama dia. Aku nggak akan ikut campur.” katanya sembari mengulurkan tangan, menadah meminta apa yang dia butuhkan. Sedangkan Linda, merogoh tas selempang miliknya ragu, kemudian menyerahkan kunci motor kepada Reza. “Dan kamu,” Reza menjeda kalimatnya dengan tatapan tajam menghujam ke arah Retno. “—jangan pernah menyakiti Linda. Atau kamu akan benar-benar berurusan denganku.” lalu dia berlalu meninggalkan dua presensi yang membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Entah mengapa, apapun yang berhubungan dengan Linda, sinyal protektifnya selalu aktif. Dia tidak ingin perempuan yang ia sayangi itu tersakiti.


“Ayo masuk ke mobil. Kita bicara sambil aku antar pulang.” titah Retno tak ingin dibantah. Dia berjalan mendahului Linda dan membuka pintu penumpang bagian depan untuk Linda. Dan setelah kekasihnya itu masuk, Retno berjalan memutar kap depan mobil, kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


Mobilpun berjalan membaur bersama kendaraan lain.


“Aku ... nggak bohong soal perempuan itu, Lin.” kata Retno memulai. “Namanya Sekar, dia anak dari pemilik tanah yang aku beli.”


Linda masih terlihat acuh. Dia nyaris tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh Retno padanya.


“Aku sengaja menawarinya pergi bersama, karena dia punya tujuan yang sama denganku.”


Retno menoleh sejenak demi melihat wajah Linda. Dia juga ingin memastikan jika apa yang disampaikannya itu benar-benar bisa membuat Linda luluh dan kemudian percaya.


“Dia anak bungsu. Usianya sama seperti kamu. Dia punya kakak laki-laki, dan suka menghabiskan uang hasil kerja kerasnya.”


Linda menoleh. Topik yang tidak terduga. Se-plot twist inikah rasa malu dan sesalnya karena sudah berprasangka buruk pada kekasih yang bahkan akan menjadi suaminya? Astaga, Linda ingin sekali menampar egonya sendiri dengan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada Retno.


“Dia tulang punggung keluarga. Dan pak Ruslan, pemilik tanah yang aku beli itu, sedang terlilit hutang cukup besar nominalnya.”


Tidak peduli didengar atau tidak, Retno tetap melanjutkan penjelasannya agar semua clear dan tidak ada lagi prasangka-prasangka buruk lain yang tersisa di dalam diri Linda, padanya.


“Kakak laki-laki Sekar menggadaikan sertifikat rumah pada rentenir, dan dalam waktu dekat jika tidak dibayar, rumah tinggal mereka akan disita.


Setelah bercerita panjang lebar bersama pak Ruslan, Sekar keluar dan berpamitan hendak ke super market. Berhubung aku juga hendak membeli beberapa keperluan rumah, aku mengajaknya berangkat bersama.


Tapi, malah bikin kamu salah sangka kayak gini, Lin.” terangnya penuh sesal. Ia tidak pernah punya maksud menyakiti, apalagi mengkhianati Linda. Tidak, sama sekali tidak ada.


Retno mengedarkan pandangannya lurus kedepan. Ia tak ingin melakukan kesalahan serta pelanggaran lalu lintas hanya karena pikirannya sedang kacau.


Linda yang masih diam, kini merasa bersalah karena sudah cemburu buta tanpa mendengar alasan sebenarnya terlebih dahulu.


“Oke aku salah karena nggak izin sama kamu lebih dulu, tapi—”


“Maaf.”


Retno yang cukup terkejut mendengar permintaan maaf Linda yang tiba-tiba, hampir saja menginjak rem mendadak. Beruntung itu tidak terjadi dan ia memilih menepi, mencari tempat pemberhentian di bahu jalan yang terdapat rambu bebas parkir.


“Kenapa?” tanya Linda bingung karena Retno terlihat mengerutkan keningnya cukup dalam. “A-aku minta maaf karena udah salah sangka sama kamu.” lanjut Linda dengan mata berkedip cepat dan wajah yang hampir merona. Bibir ia lipat setelahnya.


Satu kata yang terbesit dalam otaknya sendiri. Labil.


“Aku yang salah—”


“Enggak. Aku yang salah, udahlah. Sekarang udah jelas masalahnya, kan? Aku yang salah disini. Kamu nggak perlu minta maaf ke aku.” potongnya cepat menghentikan suara Retno yang mencoba kembali meluruskan rasa bersalahnya kepada Linda, hingga membuat perempuan itu marah.


Tapi, setelah mendengar Linda berkata demikian, Retno menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi kemudi. Nafas ia hembuskan lega karena Linda mau menerima penjelasannya dengan lapang dada.


“Makasih udah percaya ya, Lin. Aku takut kalau kamu bakalan keras kepala, dan kita akan berakhir seperti—”


Kalimat Retno terputus karena Linda meraih pergelangan tangan dan menggenggamnya.


“Maaf, kalau sikap aku kayak gini.” kata Linda pelan, menyelam pada pupil mata Retno yang terlihat mengkilat di antara gelapnya suasana kabin mobil. “Aku harap, kamu nggak lelah dengan aku yang kayak gini,”


Retno membalas genggaman tangan Linda dengan memberikan genggaman yang amat sangat lembut dan juga penuh kenyamanan.


“Kamu pasti pernah dengar tentang kutub sebuah magnet memiliki sisi yang sama, jika didekatkan akan menjauh, kan?”


Linda diam memperhatikan, kemudian mengangguk.


“Kita tidak seperti itu, Lin. Kita punya sikap yang bertolak belakang, berbeda. Sifat kita ini, ibarat seperti kutub Utara dan Selatan sebuah magnet. Jika disatukan, kita tidak akan saling menolak satu sama lain, Lin. Kita akan saling menarik dan pada akhirnya bersatu.” kata Retno memberi perumpamaan untuk hubungan mereka. “Jadi, jangan pernah kamu berfikir jika aku akan ninggalin kamu, cuma karena kamu memiliki sifat seperti sekarang, sifat yang seperti ini yang menurut kamu tidak baik. Justru,” Retno menjeda, melepas seatbelt nya kemudian mendekati Linda. “—justru sifat kamu yang seperti ini, sangat menggemaskan di mataku, semakin buat aku tunduk, dan jatuh cinta sama kamu.” lanjutnya, kemudian mencuri kecupan singkat dibibir ranum Linda yang begitu menggoda. “Ingat dan catat hal ini baik-baik.” Linda memperhatikan lekat dengan nafas tertahan. Wajah keduanya masih saling berdekatan. Kedua pupil mata mereka saling bersitatap. “Aku nggak akan berpaling, apalagi ninggalin kamu demi cewek lain. Aku cinta sama kamu. Cuma kamu, dan nggak akan pernah ada yang lain.”


Linda kembali merasakan sentuh Han lembab pada bibirnya. Telapak tangan mereka bersatu dan saling menggenggam di sela ciuman panjang yang mereka buat.


Setelah bibir mereka berjauhan, suara Retno kembali mengisi kabin yang sunyi.


“Percaya sama aku. Kita akan hidup berdua selamanya. Dan aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, sweet heart.” []


...To be continue...


###


E-ekhmmm ...


*Mereka udah baikan lho, dan bentar lagi mau kawin.


Jadi intinya, Linda itu memang labil, ngeselin, tapi dia berusaha memperbaiki dirinya. Dia berusaha meminta maaf jika memang dirasa bersalah. Dia mencoba mengikuti saran Tika untuk menurunkan ego*. Makasih mbak Tika, karena kamu, Linda kini mau meminta maaf meskipun masih gengsi. ☺️


Terima kasih juga buat readers yang sudah dan masih setia mendukung serta bertahan berada di lapak Author ya 🙇


Semoga rezeki kalian dilancarkan, Amiiin ...