MOMENT

MOMENT
Part 13




...Moment...


...|Part 13|...


...Happy reading...


...[•]...


“Kita putus!”


“Kenapa?”


“Kamu masih tanya?!”


“Aku salah apa sih sampai kamu kayak gini, Lin?”


Linda melempar ponselnya diatas meja dengan sorot mata tajam, dan ekspresi wajah tanpa mau mengalah. Tak menunggu lama, mata Retno langsung melihat apa yang berusaha disampaikan Linda padanya. Sebuah foto yang menunjukkan pertemuannya dengan seorang perempuan.


“Kamu salah besar jika mengambil keputusan seperti ini hanya karena foto itu. Dia itu temen aku, Lin!” sentak Retno yang mulai kesal karena sejak kedatangannya didepan Linda, kekasihnya itu selalu memojokkannya dengan alasan yang tidak masuk akal. “Dia temen satu manajemen. Dia manager juga—”


“Tau kenapa aku semarah ini?” tanya Linda dengan nada suara rendah dan dingin. Sedangkan Retno, menatap Linda dengan sikap diam penuh antisipasi. Dia bersiap menerima apapun kalimat yang hendak dilontarkan gadis itu padanya.


“Kamu bisa menganggap dia hanya teman. Kamu bisa bilang kalau dia cuma orang yang berada satu manajemen sama kamu. Tapi sebagai sesama wanita, aku tau arti tatapan itu, Nok.”


“Aku nggak peduli dia natap aku seperti yang kamu katakan, seperti yang kamu tebak dari matanya. Yang jelas aku nggak suka sama dia. Aku sukanya sama kamu. Kamu harus catat itu.”


Linda tersenyum disudut bibir. Memang, alasan tersebut cukup masuk akal. Tapi isi pesan balasan dari Retno pada wanita itulah, yang membuatnya sakit hati.


Sayang?


Wanita mana yang tidak sakit hati jika pasangannya menyebut dan memanggil wanita lain dengan kata tersebut? Dengan sebutan ... sayang? Bohong jika ada yang menjawab tidak.


“Lalu, kenapa kamu panggil dia sayang? Bukankah itu seakan-akan kamu memberinya peluang dan kesempatan untuk mencoba dekat denganmu?”


Retno yang saat itu amat sangat frustasi, meraup wajahnya dengan ekspresi tidak habis pikir. Kenapa pemikiran Linda sedangkal itu? Seperti anak labil saja?


“Kalau nggak percaya, tanya Tyra. Dia juga tau kalau panggilan itu umum di manajemen kami.”


“Sayangnya, aku tidak suka.”


Retno mendecak, Linda ini kekanakan. “Ck! Terus apa arti tiga tahun ini buat kamu kalau cuma gara-gara chat yang lumrah begitu kamu udah nyerah?” sudut Retno pada Linda. Emosinya akhirnya terpancing juga untuk menggertak Linda agar mengubah keputusan yang diambil sepihak tersebut. “Kita bukan anak kecil lagi, Lin—”


“Tapi itu sama sekali nggak lumrah buat aku, Nok.” lirih Linda memotong ucapan Retno yang terucap semakin menyakiti hatinya, tanpa setitikpun airmata. “Aku tetap pada keputusanku. Kita putus!” tegasnya tak mau dibantah. “Dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat, jangan pernah temui aku lagi apapun yang terjadi.


Linda masih ingat hari itu, hari dimana dia mengambil keputusan yang sungguh diluar keinginan dan hatinya. Dan sekarang adalah buntut dari apa yang dia ambil tempo hari, menahan malu.


Retno tak putus menatap kehadiran Linda yang memang tidak dia sangka. Mereka tidak membuat janji atau sejenisnya. Dan yang ada, sekarang Linda ada di depan matanya, bertemu dengannya.


“K-kamu ngapain disini, Lin?” tanya Retno terkejutnya bukan main. Sedangkan Linda, dia memilih tersenyum kaku karena tidak tau juga mengapa dia harus sampai disini dan menemui orang yang seharusnya tidak dia temui lagi—seperti yang pernah dia katakan ketika memilih berpisah dengan Retno. Tapi sekarang? Linda merasa seolah sedang menjilat lu-dahnya sendiri. Linda sudah menduga pertanyaan ini akan di sodorkan Retno padanya. Untung saja, semalam dia sudah menyusun jawabannya agar tidak terlalu malu.


“Mbak Tyra bilang kamu balik Kalimantan. Aku cuma pingin ngucapin selamat jalan sama om Kurniawan.”


Jawaban yang masuk akal namun janggal. Retno sampai berfikir jika Linda sedang berbohong. Gadis itu sedang berdalih bertemu ayahnya, tapi pada kenyataannya tidak. Pasti Linda memiliki tujuan lain datang jauh-jauh kesini.


“Oh,” jawab Retno tenang dan pendek. Dia tidak mau ambil pusing dengan semua asumsi yang muncul di kepalanya. Ia lantas memilih duduk di samping pak Kurniawan.


“Itu buat kamu.”


Oh wow. Linda yang memancing pembicaraan dengannya adalah sebuah keajaiban. Apa gadis itu kesambet sesuatu?


“Ya?” tanya Retno masih tidak percaya. Antara terkejut, kaget, dan bingung melihat apa yang dilakukan Linda, adalah sesuatu yang sedang memenjara isi otaknya. Ia hanya ingin memastikan jika dia tidak salah dengan dan berakhir dianggap besar kepala jika langsung menjawab ucapan Linda itu dengan kata ‘Terima Kasih’.


Retno mengerjap cepat. Apa ini mimpi? Diam-diam Retno mencubit kulit tangannya diatas paha yang memang tertutup meja, lalu dalam batin dia menjerit kesakitan. Ternyata ini, nyata.


“Buat aku ya? M-makasih.” tuturnya dengan kata-kata yang terbata.


Dulu, saat pertama kali jadian dengan Linda, Retno juga gugup seperti ini. Apakah mungkin apa yang dia rasakan sekarang masih sama seperti yang terjadi saat itu. Jika diraba jauh kedalam lubuk hati, jawabnya ... memang iya, sih. Lha wong dia memang masih sayang dan cinta sama Linda.


“Ah, oke. Lebih baik jangan besar kepala dulu, Nok.” batin Retno dalam hati, mencoba menguatkan hati dan iman nya. Lho?!


Akan tetapi, jangan ditanya apa yang terjadi selanjutnya pada Retno ketika pandangan matanya bertemu dengan manik indah kesukaannya yang hanya dimiliki oleh sang mantan. Lalu senyuman manis itu, membuat Retno seakan menerima double kill saat merasakan betapa cepat degup jantungnya saat ini. Retno salah tingkah. Ia memilih membuang arah pandangannya kemanapun, asal jangan menatap Linda karena sangat berbahaya, efeknya. Bisa-bisa Retno mengemis ingin balikan kalau terus dihadapkan pada pemandangan yang selalu membuatnya suka itu.


Dan ketika suara empuk dan halus bak kue sponge milik Linda itu kembali mengudara, Retno mengangkat wajah.


“Ajeng suka sama, bonekanya.”


Kenapa harus Ajeng? Ingin sekali Linda menepuk mulutnya sendiri karena berbohong. Pasalnya, dia lah yang sangat suka dengan boneka panda raksasa yang ia terima dari Retno, si mantan kekasih yang masih membekas di hati.


“O-oh ... syukurlah kalau begitu.”


Linda mengerutkan kening. Seharusnya, Retno juga bertanya bagaimana pendapatnya tentang boneka itu, kan? Kenapa tidak bertanya?


Sedangkan di kubu Retno, sudah menduga jika Linda tidak menyukai pemberiannya. Mungkin memang begitu seharusnya, dan alasan Linda kesini, mungkin memang hanya ingin mengucapkan selamat jalan untuk ayahnya saja. Bukan untuk dirinya.


“Ajeng sempat ketakutan dengan boneka yang besar.” alibi Linda mencari alasan untuk kembali mulai memancing Retno. Meskipun dengan sebuah kebohongan, Linda harap akan berhasil.


“Ya Tuhan benarkah? Aduh, tau begitu aku tidak usah membeli yang besar juga ya? Apa Tyra tidak memberikan boneka itu padamu?”


Nah, umpan sudah disambar. Linda tinggal menarik kail.


“T-tadi pagi, m-mas Atan membawa boneka itu kerumah.”


Ya, dasar naif bin labil. Ngapain pake bohong segala sih mulutnya?


“Lalu, kamu suka boneka itu?” tanya Retno khawatir jika Linda juga akan ketahuan dan menangis seperti Ajeng, keponakan jadi-jadiannya.


Wajah Linda semakin merona. Lengan kanannya terangkat untuk menyelipkan anakan rambutnya dibalik telinga. Kepalanya mengangguk lemah dengan senyuman yang disembunyikan.


“Y-ya. Aku suka.”


Retno merasa lega. Dia mengembuskan nafasnya cukup besar mendengar jawaban Linda. Rasa khawatirnya mendadak sirna.


Aduh berlebihan. Linda juga tidak mungkin juga menangis lah?! Orang Linda itu suka banget sama bentukan panda kok?!


Pak Kurniawan yang menjadi saksi ke-anehan sikap keduanya, hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum sedikit girang. Mungkin dia akan punya mantu lagi dalam waktu dekat.


Lalu dia berceletuk, “Udah, ngapain pakai ngambek pisah-pisah segala.”


Kalimat Kurniawan membuat dua anak manusia itu menoleh kasar ke arahnya. Lalu, pria itu menoleh secara bergantian kepada putranya sendiri dan—mungkin—calon mantunya.


“Retno. Kamu itu laki-laki. Yang tegas dong, ambil sikap. Jangan sampai nanti Linda keduluan orang, nanti nangis ke ayah.”


Jika yang bicara itu Tyra, Retno pasti akan menjejalinya dengan kain lap kotor bekas membersihkan meja. Sayangnya, yang bicara itu ayahnya. Alhasil, Retno hanya bisa melotot lebar. “Ayah ngomong apa sih?!”


Linda, hanya bisa menundukkan kepalanya menahan malu dan rasa bahagia yang membuncah.


“Jadi, Lin. Kapan om bisa bertemu ibu dan kakak laki-laki mu untuk bicara serius tentang kalian?” []


...To be continue...


###


Ayo, Om. Segerakan, biar nggak main kucing-kucingan Mulu. Biar main kuda-kudaan aja. *eh 👀