
...Moment...
...|Part 19|...
...Happy reading...
...[•]...
Haniman, hanimun. Belum juga sah, sudah mikir sejauh itu. Rasanya Linda ingin mencuci isi pikiran Retno yang secara tidak langsung sudah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah mereka menikah nanti. Ngeres kan?
Linda melirik sinis ke arah Retno yang ternyata sudah mulai terkikik geli melihat ekspresi kekasih sekaligus calon istrinya itu.
“Kenapa wajahnya ditekuk begitu? Kan aku cuma nanya aja, Lin.”
“Tapi, secara nggak langsung kamu pasti sudah berfikir yang tidak-tidak, kan?” cerocos Linda dengan wajah mulai bersemu merah. Ia memang malu, tapi juga ikut kepikiran tentang apa yang akan terjadi setelah pernikahan mereka nanti. Sialan kan?
“Ya gimana ya,” de-sah Retno dengan nafas yang terembus besar dari hidung. “Mau itu nanti, atau kapan, juga bakalan terjadi, kan? Ya cuma bikin rencana aja, siapa tau kamu setuju. Kalau enggak ya ... ngga masalah.” lanjut Retno sembari mengedikkan bahu seakan acuh dan tidak terbebani dengan apa tanggapan Linda selanjutnya yang akan ia dengar. Tapi, detik itu juga Retno kembali tertawa karena melihat tatapan Linda yang berubah lucu.
“Y-ya ... setidaknya nggak usah diomongin sekarang. Malu.”
Retno berhenti kembali karena lampu lalu lintas berubah merah. “Ya udah, mau bahas apa kalau gitu?” tanya Retno dengan gestur menahan tawa. Linda sangat menggemaskan dan membuat bibirnya selalu berkedut ingin tertawa.
“Udah dapat lahan?”
Retno menoleh kasar. Pembahasan yang sangat bertolak belakang. Ibarat tidur diatas kasur, bangun-bangun sudah terkapar dilantai. Super sekali bukan?
“Ada sih yang nawarin, baru mau lihat buat survey nya besok.” jawab Retno gamblang, tidak ada yang ditutup-tutupi. “Tukang juga udah ada yang nawarin, dari kenalan juga.”
Rencananya, Retno akan membuka peternakan lele dan jenis ikan lainnya untuk memasok beberapa perusahaan di Jakarta, yang sudah bekerja sama dengan bisnis di Kalimantan.
“Terus nanti, yang ngelola?”
“Ya aku sendiri, beb.” jawabnya tenang. “Ada lah nanti orang dari dinas perikanan yang akan bantu aku untuk memulai semuanya di sini.” lanjutnya.
Mereka pada akhirnya sampai di depan rumah Linda, Tyra yang menyambut karena kebetulan ada disana. Ajeng tak kalah heboh karena melihat om alien-nya benar-benar datang.
“Aku mandi sebentar.” pamitnya pada Retno, kemudian berlalu masuk rumah setelah mencubit kecil pipi keponakan tersayang.
Retno mengangguk dan memperhatikan punggung kekasihnya hingga menghilang di balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Kemudian mulai menyapa Ajeng dan ngobrol dengan Tyra.
“Udah ketemu Yusuf?”
Yusuf itu, nama pemilik WO yang hendak mereka datangi.
“Belum. Ya ini mau kesana.”
Tyra melihat perubahan signifikan yang terjadi pada Retno. Pria itu kini terlihat sangat gentlemen, dan semakin tampan dengan badan sedikit berisinya.
“Nggak nyangka bakal jadi keluarga.” kata Tyra sembari mengedarkan pandangan keluar pagar rumah ibu Atan ini.
“Ya udah takdir, Rex.”
“Kamu jangan pelit-pelit sama ponakan. Jari Om yang baik—”
Retno menyentil kening Tyra hingga si empu meringis dan menggosok keningnya.
“Dari dulu gue juga baik kok. Lo aja yang kurang bersyukur.”
Akhirnya Tyra bisa bercanda seperti ini lagi bersama orang yang memang sudah ia percaya sejak dulu. Apalagi sekarang mereka akan menjadi ipar.
“Panggil kakak ipar dong. Masa kakak iparnya dipanggil kasaran gitu?”
Retno mendecak kesal karena Tyra masih juga suka usil padanya. “Iya, par.”
“Par? Lo kira gue tampar apa?” kesal Tyra yang justru membuat Retno terpingkal.
Dua puluh menit berlalu, Linda keluar dengan pakaian warna senada dengan Retno. Kaos oversize warna putih, celana jeans warna langit dan sepatu santai yang seminggu lalu dibelikan Retno. Mereka kembali membaur bersama pengendara lain untuk menuju tempat WO berada.
Setelah sepakat dan membayar uang muka, Retno dan Linda melakukan fitting baju pengantin, lalu menuju toko emas untuk membeli cincin pernikahan. Setelah itu menuju sebuah toko pernak-pernik untuk memesan sovenir, dan berlanjut mencari makan malam di jam sebulan malam.
“Nanti kalau udah nikah, kamu yang masak buat aku.” kata Retno membuat topik. Ia letakkan ponsel diatas meja dan mulai memandangi wajah ayu calon istrinya. Rambut yang diikat menjadi satu bagian, dan beberapa helai jatuh didepan wajah, mempercantik wajah Linda yang memang sudah cantik.
Linda yang mendengar Retno bicara pun mengakhiri tatapan dari layar ponsel dan mulai fokus pada pembicaraan. Mereka selalu seperti itu. Jika sedang bermain ponsel, kemudian salah satu dari mereka bicara, ponsel harus mengalah.
“Eumm, tenang aja. Aku jago masak kok.”
“Masak air?”
Seketika mata Linda melebar. Ia kesal sekali di goda seperti itu.
“Nggak percaya?”
“Percaya dong, tadi itu cuma canda sayang ... ” kata Retno mulai khawatir Linda kesal.
“Nanti, kamu mau langsung punya baby?”
Retno cukup terkejut dan tercengang mendengarnya. Tapi dia juga bahagia karena setidaknya Linda juga memikirkan hal itu.
“Ya iyalah. Pingin satu dulu, yang kayak Ajeng.” kata Retno bersemangat sambil menegakkan punggung kekarnya.
Seketika wajah Linda merona.
“Kenapa tanya gitu?” sergah Retno mencoba menelisik dalam hati Linda.
“Ya pengen tau aja, mana tau kamu belum siap.”
“Siap lahir batin. Langsung dikasih dua juga bersyukur.”
Dua? Kembar?
“Memangnya, ada keturunan kembar di keluarga kamu?” tanya Linda penasaran. Jika memang keluarga Retno memiliki keturunan kembar, tidak menutup kemungkinan nanti, mereka juga dikasih yang kembar-kembar menggemaskan. Linda jadi antusias.
“Ada. Dari mama.”
Obrolan mereka terjeda oleh kedatangan makanan yang datang beruntun. Berbagai jenis lauk-pauk terhidang diatas meja.
“Kalau gitu, moga kita dikasih ya.”
Retno tersenyum hangat. Antusias di binar mata Linda membuatnya tak sabar ingin segera berumah tangga dengan perempuan yang sangat ia cintai ini.
“Amin.” sahut Retno mengamini, karena dia juga sudah membayangkan betapa menyenangkannya suara celoteh anak-anaknya nanti.
“Ah, aku jadi ingat pingin tanya sesuatu ke kamu, Nda.”
“Em, tanya aja.” jawab Linda sambil mengambil sepotong daging sapi rendang yang terlihat menggiurkan, membuat liur nyaris menetes.
“Kamu butuh perjanjian pranikah, atau tidak?”
Linda menatap wajah Retno yang juga sedang memperhatikan lekat padanya.
“Enggak. Karena aku sayang sama kamu. Aku percaya, kita akan bersama sampai kita tua, sampai kita berpisah karena panggilan sang Kuasa.”
***
Mobil sedan hitam itu berhenti didepan pagar rumah. Linda melepas seatbelt dan bersiap keluar dari mobil untuk segera pulang karena jam sudah menunjuk angka sebelas malam, dan besok dia harus bekerja.
Tapi,
“Besok aku jemput aja pulangnya.” suara Retno menginterupsi gerakan Linda, yang kemudian terdiam saat manik mata mereka bertemu. Lantas kepala Linda mengangguk.
“Hati-hati dijalan, ya.”
Linda meraih telapak tangan Retno dan menggenggamnya lembut tanpa memutus pandangan mata mereka. Dan seperti memiliki daya tarik bak magnet, wajah Retno mendekat kepada Linda. Bibir mereka bertemu, dan ciuman itu saling berbalas dengan lembut.
Ketika bibir mereka berpisah dengan suara decapan lembut, Retno meraih satu sisi wajah Linda dan mengusapnya penuh kasih sayang.
“Aku cinta kamu, Nda. Mimpi indah.” []
...To be continue...