MOMENT

MOMENT
Part 15



...Holla, selamat pagi pembaca setia Moment sekalian....


...Maaf, sudah tiga hari tidak update karena author sibuk dan baru sempat mengedit naskah semalam, baru bisa update hari ini....


...Sekali lagi maaf ya, 🙏...


...Semoga update hari ini bisa menghibur pembaca sekalian....


...Jangan lupa untuk selalu mendukung Moment dengan cara Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan....


...Terima kasih, selamat membaca.☺️...



...Moment...


...|Part 15|...


...Happy reading...


...[•]...


Sebulan sejak Retno kembali ke Kalimantan, tidak ada acara bertukar pesan secara intens yang terjadi di antara keduanya. Linda juga masih ragu untuk kembali membangun perasaan. Dia takut jika akan gagal kemudian kembali terpuruk dalam kesedihan yang memang semula ia buat sendiri. Dan sekarang, Reza juga semakin gencar mendekatinya.


Linda sudah berkata jujur jika dia belum bisa membuka hati untuk siapapun, termasuk Reza sendiri yang masih bersikukuh dan percaya jika Linda pasti akan menerimanya suatu hari kelak. Tapi, Linda yang sudah terlanjur malas dan trauma dengan sebuah hubungan, hanya diam dan tidak ingin tau lebih lanjut perkara hati reza. Dia hanya menganggap pria itu sebagai kakak untuk saat ini, tidak lebih dari apapun.


Egois memang, tapi Linda munafik dengan perasaannya sendiri, dia tidak ingin sampai menyakiti hati Reza yang notabenenya adalah teman baik kakaknya yang nanti pasti sedikit banyak akan berimbas pada hubungan pertemanan mereka.


“Mas Reza sudah makan?” tanya Linda pada Reza yang tiba-tiba saja datang berkunjung kerumahnya, sejam yang lalu. Pria itu bilang jika dia hanya sekedar mampir setelah tadi ada urusan dengan Atan. Lalu, berhubung longgar, dia menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Lastri dan menyapa ibu sahabat karibnya itu.


“Udah, tadi sebelum berangkat ke rumah Atan.”


Linda mengangguk, meletakkan secangkir teh hangat beserta cemilan yang ia beli dari dinas luar kota dia hari lalu diatas meja, tepat didepan Reza duduk.


“Berapa hari ke Jogja nya?” tanya Reza memulai pembicaraan.


“Tiga hari kunjungan.”


Reza mengangguk tau, kemudian menatap Linda sedikit lama hingga manik mata mereka berhasil bertemu. Memang, sebelumnya Linda selalu menghindari tatapan mata Reza. Gerakan tubuhnya juga mengisyaratkan jika dia terlihat tidak nyaman ketika berada disekitar pria itu. Tapi Reza tidak menyerah, dia akan meyakinkan Linda jika dirinya memang bertujuan serius dengan wanita itu.


“Kenapa lihatin aku kayak gitu sih, mas?” kelakar Linda yang di-amini sebuah senyuman oleh Reza yang memang selalu menempatkan dirinya dengan santai.


“Habisnya kamu selalu ngehindar kalau mata kita ketemu. Ya udah, aku aja yang lihat terus meskipun nggak di respon.” lanjutnya cekikikan. Ia sengaja, biar Linda tau maksud dan tujuannya.


“Risih tau, mas. Udah jangan lihat-lihat terus ih!” cebiknya sedikit menepis kekesalan dengan candaan dan juga senyuman kaku.


“Terus aku kudu gimana, Lin? Ngomong langsung juga nggak kamu terima, lihatin gini juga kamu nggak ngizini.” keluh Reza yang mencoba kembali usahanya agar Linda bersedia membuka hati dan mengakhiri penantian yang sudah lama ia lakukan dengan perasaan yang terbalas. Begitu kiranya keinginan Reza saat ini. Menunggu terlalu lama tanpa balasan juga melelahkan, ternyata.


“Kan Linda udah bilang, mas Re. Mas Reza nggak perlu nunggu Linda, karena Linda masih nggak pingin punya hubungan setelah yang kemarin. Linda nggak enak juga sama mas Atan kalau sampai nanti ada apa-apa sama kita, lalu hubungan mas Atan sama mas Reza jadi ikutan kebawa-bawa.”


“Aku sama Atan nggak gitu, Lin.” tutur Reza lembut. “Kalaupun memang kita nggak bisa sama-sama, ya nggak bakal ngaruh sama pertemanan aku dan Atan. Kamu nggak usah khawatir untuk itu.”


Linda menunduk, kemudian tersenyum. “Maaf, mas Re. Linda belum bisa—”


Kalimat Linda terjeda karena seseorang mengucap salam. Mata Linda membulat sempurna ketika tau siapa yang datang, dan jemarinya berubah dingin dengan degupan kencang yang begitu mendera.


Linda kira, isi pesan Retno seminggu yang lalu hanya sebuah candaan kosong. Tapi ternyata, Retno datang dan hadir didepan matanya. Keduanya sama-sama canggung. Sedangkan Retno, mau kembali memutar tumit pun sudah terlanjur tertangkap basah oleh mata Linda dan Reza.


“A-ada tamu ya?” tanyanya canggung bukan main sembari menyuguhkan senyum dan sapaan kepada dua orang yang berada di ruang tamu itu. “Silahkan dilanjutkan obrolannya, saya tunggu didepan saja dulu.”


Linda mengambil inisiatif untuk berdiri dan menghampiri Retno yang sudah siap berubah haluan, namun suara Reza menginterupsi.


“Aku balik dulu, Lin.” langkah Linda terhenti. Tatapannya kembali berputar dan tertuju pada Reza yang merapikan jaket hitamnya dan mengambil kunci motornya diatas meja ruang tamu.


Dilema. Suasana ini seolah kembali menjadi dejavu, dimana dulu ketiganya pertama kali bertemu dalam satu situasi yang sama persis seperti malam ini. Tapi bedanya, saat itu Reza lah yang datang bertamu ketika ada Retno dirumah Linda.


“O-oh.” kata Linda singkat disertai kedipan lambat serta rasa tidak enak pada Reza. Teman kakaknya itu, selama ini selalu berbaik hati menunggunya hingga keadaan ini berubah menjadi boomerang yang berbalik ke arahnya.


Bagaimana pun dia harus mengambil keputusan. Mau bagaimana lagi?


“Lain hari aku kesini lagi.” lanjut Reza sambil tersenyum lembut, lalu menepuk pelan puncak kepala Linda. “Salam ke ibu.”


Linda hanya mengangguk sebagai balasan, lalu mengantar kepergian Reza dengan sorot mata lemah. Sedangkan Diluar, Retno yang belum sempat duduk harus memutar arah pandang saat siluet Reza terlihat keluar dari dalam rumah Linda. Pria matang itu tersenyum ke arah Retno, mengangguk dan segera bergegas pergi. Dia berfikir, jika Linda memang masih dan tidak akan mungkin pernah menerimanya karena, Linda masih mencintai orang yang sama. Bukan dirinya.


Manik mata Retno melihat Linda yang berdiri diambang pintu, menyaksikan Reza yang berlalu, kemudian menatapnya.


“Sorry ganggu, Lin. Aku kira teman kerja kamu—”


“Kenapa nggak kasih kabar kalau ke Jakarta?” tanya Linda nyolot, memotong ucapan Retno yang mencoba memberikan penjelasan. Linda kembali pada setelan jutek bin jual mahal jika bersama si jerapah yang selalu mampu membuatnya salting.


“Aku ... aku juga nggak tau kenapa.” jawab Retno dengan sejujur-jujurnya, karena memang begitu adanya. “Aku ... cuma pingin cepet-cepet ke jakarta dan ketemu sama ... kamu.”


Demi apapun, Linda tidak bisa berkata-kata. Retno sudah menjelaskan dengan keadaan sadar seratus persen jika merindukannya. Ya, katakan saja sedang merindukannya agar lebih mudah mengambil kesimpulan dari kata-kata yang terucap itu.


“Kamu—”


“Tapi sepertinya aku salah waktu ya?” sahut Retno sedikit kecewa karena adanya Reza dirumah Linda, yang notabenenya, pria itu dulu adalah orang yang juga menyayangi Linda. “Ada mas Reza—”


“Masuk dulu! Aku bikinin minum.” titah Linda tak ingin di tolak. Wajahnya juga sudah berubah serius dari sebelumnya. Retno tau, jika sudah mode seperti ini, Linda tidak ingin ada bantahan apapun dan harus dituruti.


Kaki telan-jang Retno pun bergerak mendekati pintu dan masuk ke dalam ruang tamu yang masih menyisakan aroma parfum milik Reza yang terhirup lembut di hidung. Dari sisi ini, Retno merasa bersalah.


Diatas meja sudah tidak ada cangkir teh yang tadi sempat tertangkap indra penglihatan Retno, dan setelah menunggu beberapa saat, Linda kembali dengan cangkir berisi kopi panas, lalu disusul Lastri yang juga turut menyapa Retno.


Pria jangkung itu berdiri dan menyalami telapak tangan berkerut milik Lastri lalu tersenyum.


“Kapan datang ke Jakarta, No?” tanya Lastri tanpa duduk. Dia berdiri disamping Linda berada.


“Baru tadi sore, Bu. Ada perlu sama rekan kerja.” jawabnya jujur. “Sama mau ngasih tau ibu, kalau ayah saya ingin menjalin silaturahim sama ibu dan mas Atan.”


Sebagai ibu yang tau apapun hal tentang sang anak, Lastri tau sekali jika Linda dan Retno sudah hampir tiga bulan putus hubungan. Tapi, mengapa tiba-tiba sekali orang tua Retno akan datang kesini? Apa Lastri hanya salah berasumsi?


Lastri menatap putrinya dengan ekspresi meminta penjelasan. Sedangkan Linda, terlihat sekali wajah terkejutnya saat ditatap sang ibu. Dia sendiri tidak menyangka jika Retno akan bertandang kesini dan memberitahu kabar mengejutkan tersebut.


“Ah, boleh. Keluarga akan sangat menerima. Ayah kamu sendiri kan?” tanya Lastri, yang amat sangat dengan mudah di tangkap serta diartikan maksud dan makna nya oleh Retno.


“Ayah saya,” Retno menjeda sembari mengangguk, kemudian meraup udara sebanyak mungkin untuk meredam kegugupan yang menderanya. “Ayah beserta keluarga besar. Mereka ingin saya segera meminang Linda, Bu.” []


...To be continue...