MOMENT

MOMENT
Part 12




...Moment...


...|Part 12|...


...Happy reading...


...[•]...


Sesampainya di rumah, hujan tiba-tiba turun. Suasana rumah juga sepi karena Lastri memutuskan untuk segera beristirahat setelah melihat Linda sampai dirumah dengan selamat dan sudah makan malam.


Linda yang sudah kelelahan akhirnya merebah, mencari celah untuk tubuhnya mendapatkan balasan yang setimpal—beristirahat.


Lalu, pikiran yang semula memang sudah berisik, semakin berisik saja oleh suaranya sendiri yang berbisik. Kenangan-kenangan yang pernah terjalin dalam hidupnya, mendadak mencuat ke permukaan. Tentang bagaimana dulu sang ayah yang masih hidup dan menyayangi keluarganya. Tentang bagaimana perjuangan Atan menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya tiada, dan tentu saja berujung pada kenangan kisah cintanya yang dimulai dari A sampai Z.


Well, anggap saja Retno ada di posisi Z. Posisi terakhir yang tidak akan ada lagi selanjutnya. Linda sudah capek mengikuti alur kisah cintanya sendiri yang memang selalu berakhir menyedihkan.


Pertama kali Linda mendapat pernyataan cinta itu, ketika usia SMP. Saat itu dia masih di Surabaya dan mengenyam pendidikan di salah satu sekolah negeri ternama di sana. Tapi, Linda selalu menolak dengan baik semua ungkapan perasaan yang memang belum ingin ia rasakan, dan nantinya akan berujung pada bea siswa yang dia dapatkan.


Lalu saat usia SMA, Linda harus pindah ke ibu kota karena Atan diterima kerja di sana. Mereka menjual rumah di surabaya, dan membeli rumah sederhana yang sampai sekarang mereka tinggali.


Sejak lulus SMA, Reza mulai mendekati Linda, karena Atan tidak melarang atau bereaksi menolak, malah terkesan mendukung. Namun, Linda yang saat itu belum siap sebab, ingin fokus dengan Ospek dan semester awal perkuliahan.


Ah, ngomong-ngomong soal Reza, Linda jadi ingat sekali bagaimana perjuangan pria itu dulu untuk mendekatinya. Reza itu tipikal cowok yang santai tapi sekali gerak, si target tidak akan bisa lagi mengelak apalagi lolos. Tapi dasarnya Linda saja yang pandai berdalih dan berkilah saat itu, akhirnya Reza membiarkannya lepas dengan alasan yang logis dan masuk di akal.


Berbanding terbalik dengan Retno yang basic orangnya memang humble dan banyak nyerocos macam bebek kelaparan. Keduanya memang memiliki perbedaan yang begitu berbanding terbalik.


Selama menjalin hubungan, Retno menunjukkan kasih sayangnya itu dengan cara yang agak menyebalkan, sebenarnya. Retno juga terkadang tidak kalah posesifnya seperti Linda disaat tertentu. Terkadang perhatian, terkadang ya ... kalian tau sendiri bagaimana lika-liku orang pacaran.


Linda mengubah posisinya menjadi menyamping. Dia meraih ponsel dan kembali mengecek, barangkali ada pesan yang tidak dia ketahui. Dan benar saja, ada tiga pesan masuk dari nomor tanpa nama yang memang sudah Linda hafal diluar kepala.


Buru-buru dia menggesek layar ponsel, dan menekan aplikasi WhatsApp.


Semoga suka hadiahnya, ya


Maaf kalau gue tiba-tiba kasih Lo boneka segede gaban begitu. Nggak ada niat apa-apa, kok. Cuma inget Lo aja pas tadi ada didepan toko boneka. Gue juga beli buat Ajeng, jadi gue nggak punya tujuan khusus selain hanya memberikannya sebagai hadiah.


Ada rasa tidak terima dalam hati Linda. Harusnya Retno tidak usah membeli dan mengiriminya pesan seperti ini.


Gue besok udah balik ke Kalimantan, jadi sorry kalau kehadiran gue di Jakarta bikin lo nggak nyaman. Makasih sekali lagi udah muncul didepan gue ya, Lin. Jadi gue nggak cuma berkhayal ketemu Lo di Jakarta. Sekali lagi gue minta maaf kalau selama ini, gue ada salah sama Lo, baik yang gue sengaja atau enggak. Bye.


Dalam sekejap, Linda pun meneteskan air mata. Kepergian Retno yang sekarang bukan siapa-siapa baginya, justru membuat hatinya semakin perih. Dia ingin sekali menyangkal perasaan yang ternyata memang masih ada. Tapi, ternyata begitu sulit dan menyakitkan.


Tak mau meninggikan ego lebih dari detik ini, Linda pun membalas pesan tersebut dengan air mata yang tak kunjung surut.


Lo bilang nggak ada maksud apa-apa, tapi tanpa sengaja, Lo udah bikin gue sakit hati, Nok.


Lo udah bikin gue balik ke masa lalu yang menyakitkan. Tapi memang itu udah jadi keputusan kita kan? Ya udah lah.


Linda menarik nafas dalam, lalu mengembuskan dengan kasar hingga bersuara. Ia mengesat airmata yang masih saja jatuh, kemudian menatap langit-langit sejenak untuk menenangkan diri. Benar kata Atan, bagaimanapun juga dia harus mengucap terima kasih.


Linda melempar ponselnya ke atas kasur, merebahkan dirinya dengan keras diatas kasur, kemudian menutup wajahnya dengan bantal. Putus asa adalah istilah yang pas untuk dia sekarang. Semua kenangan bersama Retno seakan menyiksanya bertubi-tubi hingga diliputi rasa bersalah yang amat sangat mendera. Ia tau, image yang dia jaga mati-matian itu, berubah menjadi ego yang terlalu dia junjung tinggi hingga kini hanya tersisa sebuah penyesalan.


Kesalahpahaman yang ia tuduhkan itu, membuatnya begitu patah hingga sulit untuk kembali bangkit dan membuka hati untuk orang lain. Retno terlalu berharga untuknya.


***


“Udah nggak ada yang ketinggalan kan, yah?” tanya Retno pada sang ayah ketika dia juga sibuk mengecek beberapa barang bawaan yang semalam ia kemas. Dia tidak ingin sesampainya di Kalimantan, harus kehilangan salah satu barang miliknya di Jakarta.


“Sudah kayaknya. Tadi sudah ayah cek lagi.”


“Ya sudah.” Retno memakai topi hitam berlogo NY dan merapikan penampilan. Setelah itu meraih dua koper dan menariknya sambil berjalan. Seminggu di jakarta, seperti hanya sehari. Entah mengapa hari terasa begitu cepat berlalu.


Setelah check out hotel, Retno dan pak Kurniawan menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Sesekali Retno mengecek ponsel, dan tidak ada sesuatu yang istimewa selain pesan-pesan yang dikirim oleh rekan bisnis sang ayah yang sekarang sudah mulai beralih hubungan dengannya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Oh ya, ayah dapat salam dari Linda.”


Pak Kurniawan sontak menoleh dan menatap putranya yang sekarang terlihat lebih macho itu dengan tatapan menyelidik. “Kamu diam-diam ketemuan sama dia?”


Retno yang dituduh mengerucutkan bibir. “Cuma kirim pesan. Ketemunya cuma sama Tyra dan anaknya.”


Pak Kurniawan mengangguk paham. Ia pun tidak berharap banyak karena dari pihak putranya sendiripun, seperti tidak ada niat untuk menjalin hubungan lagi dengan Linda. Apa mau dikata?


Tak lama kemudian mobil datang. Retno dan si sopir memasukkan dua koper kedalam bagasi, sedangkan Kurniawan sudah terlebih dahulu masuk kedalam. Setelah itu mereka meluncur ke bandara Soetta untuk terbang kembali ke Kalimantan.


Dan sesampainya di bandara, Retno yang sudah bersahabat dengan situasi dan kondisi disana, langsung saja mengarahkan ayahnya agar menunggu di ruang tunggu yang tersedia di setiap gate, saat dirinya melakukan check-in.


Kurniawan memilih memeriksa ponsel yang memang selalu ia pergunakan untuk bisnisnya. Tanpa ia duga, seseorang tiba-tiba duduk dihadapannya, menyuguhkan se-cup minuman hangat yang ia sukai, teh.


“Lho, nak Linda?”


Yang disebut namanya tersenyum hangat.


“Selamat pagi, om.” sapanya ramah, lalu melatakkan cup lain berisi americano dingin kesukaan seseorang. “Linda belum terlambat untuk ngucapin selamat jalan, kan?”


Pertanyaan klise yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan karena jawaban sudah ada didepan mata. Namun rasa senang Kurniawan akan kehadiran Linda terlihat begitu besar. Pria yang berusia hampir tujuh puluh tahun itu tersenyum. “Tentu tidak, nak. Bagaimana kabarmu?”


“Baik, om.”


Kurniawan masih menyuguhkan senyuman, dan tak lama kemudian Retno kembali. Tatapannya terkunci pada kehadiran Linda. Keduanya saling tatap, dan Linda menyuguhkan senyuman termanisnya.


“Hai, gimana kabarnya?”


Apa inilah saatnya? Apakah ini sebuah moment? []


...To be continue...


###


Hayo coba tebak, balikan nggak nih?