MOMENT

MOMENT
Part 05



...Moment...


...|Part 05|...


...Happy reading...


...[•]...


Setelah semingguan kerja luar kota, malam ini Linda baru saja sampai di Jakarta dan langsung menuju kediaman Atan untuk menjemput ibunya. Selama keluar kota, Linda meminta Atan menggantikan sementara tugasnya menjaga ibu. Dan syukurnya, Tyra tidak pernah keberatan untuk ikut merawat dan menjaga ibunya yang memang sudah tua. Tyra justru selalu welcome dan senang jika ibu ada disana. Jadi ada teman ngobrol, ada yang memberinya cerita jaman dahulu saat Atan dan Linda masih kecil sembari mendapat pengalaman baru untuk mendidik anak, dan yang paling menyenangkan bagi Tyra, ada yang mencicipi masakan buatannya.


Linda mendorong pintu pagar rumah Atan, sudah bersiap masuk namun langkahnya terhenti karena ada telepon masuk dari seseorang yang entah siapa, karena namanya belum Linda simpan di dalam kontak. Ia mengerutkan keningnya karena ingat, jika nomor ini juga yang semalam menghubunginya namun tidak dia hiraukan. Malas saja menanggapi nomor tidak di kenal yang nanti ujung-ujungnya minta kenalan dengan alasan tidak masuk akal.


Tapi, tapi nih ya, Linda juga harus menjawab telepon itu. Takutnya telepon tersebut berasal dari rekan kerja atau atasan yang membutuhkan sesuatu informasi penting dari dirinya. Serba salah memang, tapi ya mau bagaimana lagi?


“Halo,” sapa Linda sambil terus mendorong pintu pagar agar kembali tertutup. Karena tidak ada jawaban, Linda menjauhkan sejenak ponselnya untuk memastikan sambungan itu masih berlangsung. Dan memang benar, hitungan detik panggilan memang masih terus berubah, tapi tidak ada sahutan sama sekali meskipun Linda kembali menyerukan kata sapaan. “Halo?” sapa Linda yang ketiga kali. “Siapa sih?!” lanjutnya mulai kesal karena merasa dipermainkan oleh seseorang yang bahkan tidak ia tahu siapa. “Sorry ya! kalau nggak niat dan nggak ada urusan itu, nggak usah telepon gue!”


Ketika Linda hendak mengakhiri panggilan tersebut, suara seorang pria menyahut.


“Gitu aja marah. Ntar cepet tua lho.” godanya. Suaranya benar-benar familiar dan sangat Linda kenali.


“Mas Reza jangan usil deh!”


Padahal, Linda sudah berharap besar si penelepon tanpa nama itu, adalah orang yang ia rindukan. Ia sudah berdebar diawal, karena ingat saat pria yang dirindukan olehnya itu juga melakukan hal seperti ini, dulu, saat pertama kali teleponan.


Setelah tau Linda putus dari Retno, Atan sempat memberitahu Linda tentang Reza. Ya meskipun terkesan kakak laki-lakinya itu mencoba mendekatkan lagi mereka, tapi Linda tetap memilih slow, dia masih belum ingin mencari tambatan hati lain karena masih tidak bisa melupakan kenangan tiga tahunnya bersama sang mantan kekasih, Retno.


Atan bilang, Reza sedang pergi ke salah satu tempat di Bandung. Meninjau lokasi untuk membuka usaha disana.


Usaha Reza ini bisa dikatakan sangat sukses karena dari cabang-cabang yang ia buka dibeberapa titik di sekitaran ibu kota, usahanya itu tak pernah sepi. Selalu banyak pengunjung dan menghasilkan uang yang lumayan banyak. Namun Reza tetap menjadi sosok Reza yang rendah hati dan tidak pernah putus komunikasi dengan keluarga Atan, meskipun sekarang jatuhnya dia adalah orang sukses yang punya banyak uang.


“Kamu itu, jangan suka marah-marah. Keriput baru tau rasa ye?” goda Reza dengan kikikan kecil yang membuat Linda tertular dan ikut-ikutan tertawa.


“Ya memang udah tua, mas. Masa nggak mau menerima kodrat. Menolak tua, begitu?”


Reza tertawa lantang diseberang.


“Kata mas Atan, mas Reza lagi di Bandung?”


“Ini perjalanan balik. Lagi di stasiun nunggu Ralin jemput.”


Ralin itu, adik Reza yang usianya dua tahun diatas Linda, dan belum menikah juga. Katanya, jalannya masih panjang. Karirnya masih menunggu untuk dijemput agar cemerlang.


“Ya sudah, pulang dulu lah. Kenapa malah telepon aku?” cebik Linda, ia sudah sampai diteras rumah Atan yang pintunya tertutup rapat. Tadi, Linda datang dengan menaiki grab car karena tidak mau merepotkan Atan.


“Oik. Nanti aku telepon lagi, ya?”


Linda tertawa kecil kemudian menjawab, “Iya.”


Memang, selama tau dirinya menjalin hubungan dengan Retno, Reza tidak pernah lagi menghubunginya. Kata Atan, Reza bilang jika dia tidak ingin menjadi orang ketiga yang akan mengganggu atau merusak hubungan Linda dengan sang kekasih. Untuk itu dia memilih mengalah dan mencari pelarian lain untuk menunggu, jika memang masih ada kesempatan. Kata orang, sebelum janur kuning melengkung, apa salahnya menunggu?


“Hati-hati dijalan, mas Re. Tadi pas aku di jalan macet banget.”


“Oke, cantik.”


Cantik? Wajah Linda tiba-tiba menghangat. Andai saja dia tidak sedang patah hati, mungkin Linda akan membuat gerakan kayang karena ucapan Reza yang menyebutnya ‘cantik’.


“Nggak usah puji-puji! Ntar naksir baru tau rasa!” kutuk Linda yang justru membuat Linda malah melotot lebar.


“Amin,”


Pria tiga puluh tiga tahun itu meng-amini kutukan Linda. Astaga, Linda sampai menahan nafasnya karena tidak percaya. Apa memang Reza masih mencintainya? Masih menunggunya?


Atau ... tidak salah?


Linda jadi salah tingkah dan mematikan panggilan tersebut sepihak. Lalu buru-buru mengetuk pintu rumah Atan karena suasana hatinya semakin kacau. Dia takut kalau tiba-tiba kesurupan. Kan nggak lucu?


***


“Reza kayaknya udah balik jakarta.” kata Atan menginterupsi Linda yang sibuk dengan gadget bergambar apel poteknya.


“Ah, iya. Tadi dia sempat telepon Linda juga kok.”


“Telepon kamu?”


Linda hanya memberi anggukan tanpa mengangkat pandangan pada kakaknya.


“Memangnya mas Reza mau bukan cabang disana, nggak kejauhan apa?”


Atan mendengus. Adiknya ini memang cetek kalau masalah bisnis berbisnis begini. Untung saja dulu Atan tidak jadi menanam modal untuk ide Linda jualan. Yang ada nggak dapat untung, modal gak bakal balik juga kalau Linda yang buka usaha.


“Ya itu salah satu risiko, Lin.” kata Atan yang tentu saja diangguki Linda. “Tapi, apa kamu pernah lihat bisnis Reza yang nggak berhasil?”


Linda tersenyum, masih nyaman dengan gadgetnya, menyusun beberapa laporan yang lusa harus ia serahkan kepada atasan.


“Ya juga sih. Mas Reza itu kreatif dan inovatif. Itu alasan mengapa usahanya masih terus jalan sampai sekarang.”


“Nah, itu tau. Untung saja dulu mas nggak jadi investasi sama usaha imajinasi kamu. Bisa-bisa auto bangkrut kalau kamu nyerah.”


Linda tertawa. “Ya kan cuma pingin coba mas. Kalau nggak untung ya banting stir. Buktinya memang Linda nggak mahir dalam hal begituan.” Linda tertawa lantang pada akhir ucapannya karena merasa konyol pada diri dan kalimatnya sendiri.


“Kalau misal, Reza balik deketin kamu, kamu terima nggak?”


Pertanyaan Atan membuat suasana berubah seketika itu juga. Tebakan Linda tidak salah, Atan memang sedang membuat jalan untuk Reza dan Linda kembali. Tapi, entah mengapa tidak ada sebuah keinginan yang terbesit dalam hati Linda untuk berkata ‘ya’ pada usulan pertanyaan Atan itu.


“Ya elah, mas. Putus juga baru dua Minggu. Apa kata Retno kalau denger berita tentang Linda yang udah pacaran lagi. Kan nggak enak juga didengernya sama keluarga sana kalau tau Linda punya pacar lagi. Kesannya ngebet banget gitu.”


Tidak ada salahnya, sih, sebenarnya. Hanya saja Linda belum ingin dan tidak ingin membuat Retno berasumsi buruk dengan memutar balikkan fakta nanti. Dia takut dituding jika dia lah yang sebenarnya berselingkuh.


“Ya juga sih. Tapi Retno pasti juga ngerti, dia juga tau kan kalau ada yang naksir kamu jauh sebelum kalian pacaran.”


Linda kembali menatap layar gadgetnya. Dalam hati membatin, sebenarnya Atan ini mau buat dia senang lalu move on, atau justru sebaliknya, sih?


“Tau, Linda tau. Tapi masalahnya, keluarga Retno itu udah pernah ada niatan kesini mas. Nggak enak Linda kalau mereka tiba-tiba tau Linda sama Retno putus, lalu tiba-tiba lagi tau Linda pacaran sama orang lain. Nggak etis mas, takut nama baik ibu dan mas Atan buruk Dimata mereka.” sanggahnya, masih mencoba membuat penolakan halus atas usulan sang kakak. “Intinya Linda nggak mau deket apalagi pacaran dalam waktu dekat. Kalau memang mas Reza cuma mau temenan, ayo aja. Linda masih oke.” cerocosnya panjang lebar. “Tapi kalau untuk pacaran, Linda skip dulu deh.” kelakarnya sambil membuat gestur garis lurus di udara dengan jarinya.


Atan menatap lekat mimik wajah Linda, yang ternyata tersisa kesedihan disana. Adiknya itu, apa masih mengharapkan Retno?


“Kamu masih ngarepin Retno balik?”


Pertanyaan Atan kali ini membuat ulu hati Linda bagia diremas kuat. Ngilu dan sakitnya luar biasa.


“Kamu, masih cinta sama dia?”


Haruskah jujur? Tapi semua kejujuran dan pengakuan itu akan sangat memalukan.


Linda menarik nafas dalam, kemudian mengangkat wajah menatap lagi sosok kakak yang menjadi tameng hidup dan pelindungnya setelah kepergian sang ayah. Sebuah seringai kecil penuh kemirisan tersungging di sudut bibirnya, lantas menjawab. “Memangnya boleh?”[]


...To be continue...


###


Dahlah, Lin 🙂