
...Moment...
...|Part 10|...
...Happy reading...
...[•]...
“Sumpah, maksud dia dateng kesana itu apa sih?!” dumal Linda tak terima setelah tadi siang bertemu Retno di cafe langganan dekat kantornya. Di sisa jam kerja kantor tadi, Linda jadi uring-uringan sendiri karena kesal bertemu Retno dalam situasi tak terduga seperti itu. Dipikir beberapa kali pun, tidak masuk akal jika datang hanya untuk membeli kopi dan makanan. Di dekat hotel tempatnya menginap kan banyak? Kenapa harus didekat kantor tempatnya bekerja?
Linda keluar dari kamar karena perutnya merasa lapar. Tadi dia menolak perintah ibunya untuk makan malam dengan dalih kenyang, padahal kenyataannya dia belum makan apapun sejak makan siang di kantor.
Moodnya kacau. Nafsu makannya mendadak sirna. Ia berjalan ke dapur, mencari sisa-sisa makanan yang mungkin sengaja di tinggalkan sang ibu untuknya, di dalam lemari pendingin. Ia melihat ada gudeg dan juga beberapa perkedel jagung yang bisa ia panaskan. Linda meraih semua itu dan mulai menyalakan kompor untuk memanasi gudeg buatan ibunya yang selalu top. Lalu menyalakan satu lagi kompor untuk menggoreng perkedel jagung.
Ditengah-tengah aktifitas goreng-menggoreng, tiba-tiba saja wajah Retno yang ia lihat tadi siang berkelebat di ingatannya. Linda mendecak sebal lalu mematikan kompor. Dia tidak akan rela jika perkedel jagungnya hangus cuma gara-gara memikirkan hal—nggak—penting itu.
Selesai dengan perkedel jagung, ia berjalan menuju penghangat nasi yang masih menyala. Ia mengambil piring dan mengambil dua centong nasi. Makan malam hari ini harus ukuran dobel. Dia tidak ingin terlihat mengenaskan dan disangka gizi buruk karena berat badan turun akibat putus cinta. Naif kan? Memang. Otak Linda terkadang memang labil kayak bocil baru kenal apa itu pacaran, lalu nggak terima diputusin dan balas dendam. Ya kira-kira seperti itu.
Ia kembali menuju kuah gudeg yang semakin surut karena masih mendidih diatas bara api, lalu mematikan kompor dan menuang dua sendok sayur yang ukurannya lumayan besar berisi gudeg ke atas piring. Lanjut menuju meja makan dan siap menyantapnya.
Demi menghilangkan otaknya yang terus diliputi rasa gelisah, Linda memilih menyalakan ponsel dan memilih salah satu Chanel yutup favoritnya sebagai pengalihan.
Ada balon pesan di bagian paling atas ponsel. Linda ingat jika sejak tadi sore dia tidak memeriksa ponsel sama sekali dan menyebabkan bukan diri dengan bersih-bersih kamar, mencuci baju, dan berberes rumah.
Ia ketuk balon pesan WhatsApp dan muncul beberapa pesan dari orang berbeda. Dua diantaranya dari kakak laki-laki dan kakak iparnya, lalu dari teman-teman grup, Tika, dan juga ... Retno?
Oh my God.
Linda tiba-tiba saja berdebar. Telapak tangannya berubah dingin. Sudah hampir dua bulan Retno tidak mengiriminya pesan, lalu malam ini tiba-tiba saja dia mendapati nomor asing tanpa nama yang memang masih dia hafal betul kombinasinya itu, terasa sangat mengejutkan untuknya. Linda juga tau betul siapa pemilik nomor tersebut, yang tak lain adalah Retno.
Sorry ganggu Lo malem-malem gini, Lin.
Gue cuma mau bilang terima kasih, karena Lo masih mau ladeni sapaan & obrolan gue tadi siang
Makasih banget ya,
Oh iya, dapat salam dari bokap
Met malem, sorry and thank you.
Retno
Ingat teori jatuh cinta dan mencintai yang pernah ia bicarakan dengan Tika, Linda mendadak sesak. Matanya berkabut, dan tanpa diduga air mata jatuh begitu saja.
Sepertinya, dirinya masih belum bisa melepas Retno begitu saja. Linda bisa berbohong kepada siapapun dengan berkata dia baik-baik saja, atau dia sudah lupa kepada seorang Retno. Tapi tanya kembali hati kecilnya? Linda tau, dia masih belum bisa untuk melupakan semua kenangan bersama Retno.
Linda mencoba acuh, tapi mengapa terasa semakin menyakiti hatinya?
Pada akhirnya dia meraih ponsel dan mengetik balasan dengan beberapa deret kalimat.
Aku yang harusnya minta maaf karena jutek ke kamu.
Aku-kamu?
Linda jadi ingat sendiri jika panggilan itu mungkin sudah kadaluarsa, sudah tidak berlaku untuk pasangan gagal pelaminan seperti mereka. Linda buru-buru mengedit ketikan ‘Aku’ dan menggantinya dengan ‘Gue’, kemudian mengganti kata ‘Kamu’ dengan ‘Elo’.
Gue yang seharusnya minta maaf sama Lo karena jutek
Salam balik ke Om Kurniawan, semoga selalu sehat dan di lindungi Tuhan.
Dan diakhir pesan-pesan tersebut, masih terselip sebuah image yang harus tetap dia jaga dan junjung setinggi tower SUTET di desa tetangga.
Ngga usah ketik nama, gue ngga suka baca nama Lo. Sawan.
Astaga Lin, momennya udah pas lho. Kenapa di tutup dengan galak-galak minta di manja gitu sih? Kan Retno yang baca disana jadi gemes sendiri.
Mungkin, pesan yang dia terima dari Linda dua hari lalu itu merupakan lampu hijau bagi Retno sudah mendapatkan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan juga Linda.
Biarkan saja Retno yang mengalah, toh semua juga sudah terjadi bahkan, sudah ia anggap berlalu. Jika memang ditakdirkan hanya menjadi pasangan teman, ya sudah, berteman saja. Nggak perlu dendam atau saling menjelekkan jika sudah jadi mantan begini.
Setidaknya begitulah pandangan Retno tentang kandasnya sebuah hubungan. Jika memang bukan jodoh, mau apa lagi? Dipaksa juga tidak mungkin. Di pertahankan juga tidak akan membuat yakin. Ya kan, bu-ibu?
Baiklah. Kembali saja ke masa kini, banyak yang perlu di lakukan kedepannya. Membangun pribadi yang lebih baik, misalnya.
Besok pagi Retno sudah harus kembali ke Kalimantan. Bisnis yang hendak dibangun bersama teman ayahnya itu bisa dikatakan deal. Retno dan pak Kurniawan bersedia dan siap menjadi pemasok ikan dan unggas ke pabrik milik Tio yang memang sudah diakui dan legal oleh pemerintah.
Banyak sekali yang harus Retno urus sebelum kembali ke Kalimantan. Diantaranya mengembalikan mobil sewaan, mengurus tiket pesawat, cek out hotel, dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain itu, Retno juga menyempatkan diri untuk membuat janji bertemu sekali lagi dengan Tyra untuk sekedar pamit. Akan tetapi Tyra mendadak membatalkan janji yang sudah mereka sepakati karena ada urgent yang tidak bisa dia tunda dan tinggalkan begitu saja di butiknya. Ajeng juga kurang sehat sejak sehari lalu. Alhasil, Retno memutuskan jalan-jalan sendirian di pusat perbelanjaan ibukota untuk membeli oleh-oleh keluarga dan keponakannya yang lucu-lucu di Kalimantan sana.
Namun saat sampai didepan sebuah toko boneka, Retno jadi ingat Ajeng yang suka dengan boneka panda. Lalu mengingat panda, Retno jadi ingat juga dengan Linda, yang juga sama-sama suka boneka binatang berbulu putih hitam dengan bulatan mata yang juga dilingkari warna gelap itu.
Seulas senyum terukir di bibir Retno. Kakinya melangkah masuk begitu saja kedalam toko boneka dan menuju rak berisi berbagai macam ukuran hewan yang berasal dari negri bambu itu.
Seorang pegawai menemani Retno memilih-milih boneka menggemaskan tersebut, lantas memberi rekomendasi sesuai umur yang di katakan Retno saat mbak-mbak itu bertanya, tadi.
Akhirnya, pilihan jatuh pada sebuah boneka panda cantik berukuran 70cm untuk Linda, dan boneka panda 50cm untuk Ajeng.
Setelah membayar, Retno yang juga membawa beberapa oleh-oleh di tangan kanan dan kirinya sedikit kesulitan saat berjalan menuju arah parkiran mobilnya berada. Perhatian orang-orang juga tak luput padanya, tapi dia tetap fokus pada jalanan berlantai keramik itu dengan hati-hati.
Akan tetapi, tetap saja hal-hal diluar prediksi dan kehati-hatian yang sudah dia upayakan itu, terjadi. Dia menabrak seseorang yang tidak dia sangka kemunculannya didekat lobby yang menghubungkan dengan pintu keluar. Dua boneka panda yang dia bawa susah payah itu jatuh ke lantai. Tidak jauh berbeda dengan nasib boneka-bonekanya, orang yang ia tabrak pun jatuh terduduk dengan wajah kesal bukan main.
“Punya mata nggak sih?!” protesnya kesal penuh kemarahan.
“Sorry, ngga bisa lihat jalan, Lin. Mataku ketutup boneka—”
Mendengar namanya disebut, Linda mengangkat wajah karena suara yang sampai di pendengarannya pun begitu familiar. Dia melihat Retno yang sedang menatapnya, lalu mengulurkan tangan untuk mencoba memberinya bantuan. Tapi dengan bibir yang masih maju seperti bebek, Linda menepis tangan Retno dan berdiri dengan gerakan kasar juga cepat.
“Makanya, beli boneka itu ukurannya yang wajar saja.”
Tuh, nyolot. Salah lagi kan Retno jadinya?
“Kalau begini kan jadi nyelakai orang lain.”
“Maaf.” jawab Retno yang tidak mau memperpanjang masalah. Otaknya sibuk mempertimbangkan antara memberitahu Linda jika boneka itu untuk dia, atau tidak.
Melihat kemarahan Linda, Retno urung memberikannya disini dan mutuskan untuk menitipkan pada Tyra saja. Biar kakak iparnya itu yang kena semprot. Retno menyunggingkan senyum saat membayangkan bagaimana nanti Tyra mendapat omelan Linda.
“Ngapa senyum-senyum?!”
Buru-buru Retno menghapus senyuman dibibirnya. Momen di juteki mantan pacar seperti ini yang pernah ia rindukan. Dan sekarang sudah terlaksana, sudah terwujud.
“Sorry Lin—”
“Dari kemarin, sorry-sorry mulu! Nggak ada kata-kata lain apa?”
Dengan polosnya Retno menjawab, “Maaf.”
Linda sampai emosi dibuatnya. Jika bisa digambarkan, mungkin kepalanya sekarang sedang berasap seperti cerobong kereta uap yang sedang beroperasi. Lalu Retno kembali menyematkan senyuman dan bicara.
“Makasih udah muncul dan berdiri di depanku dua kali, bukan dalam wujud bayangan. Rinduku sudah terobati. Jadi, makasih, ya.”
Linda diam seribu bahasa tak memiliki daya untuk membalas dengan kata-kata. Sampai Retno sudah tidak lagi ada di depannya, Linda memutar tumit. Sekali lagi hanya bisa melihat punggung lebar pria itu yang semakin menjauh darinya. Linda berkata dalam hati, “Apa ini bisa di katakan sebuah momen yang indah?” []
...To be continue...
###
Tuh, udah disalami langsung didepan kamu, Lin. Gimana? Kesemsem lagi sama abang jerapah nggak Lin?
Hok ya ...
Ramaikan komen untuk mereka yuk 😉