MOMENT

MOMENT
Part 07



...Sebelum mulai membaca, luangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan ya ......


...☺️...


...Terima kasih...


...❣️❣️❣️...


...Moment...


...|Part 07|...


...Happy reading...


...[•]...


Bandara Soekarno Hatta, sudah lama Retno tidak menghirup udara ibukota. Rasanya rindu pada semua kenangan hidup puluhan tahun disini. Tapi buru-buru ia tepis karena kedatangannya kesini bukan untuk bersenang-senang atau bernostalgia. Dia harus segera membawa ayahnya menuju hotel yang sudah ia booking jauh hari sebelum besok melanjutkan agenda untuk bertemu teman ayahnya. Letak hotel itu sendiri tidak begitu jauh dari bandara, dan tidak terlalu jauh juga dengan pabrik milik teman ayahnya yang katanya, akan menjalin kerja sama itu.


Retno sudah mencari tau tentang pabrik tersebut, yang memang mendapat penilaian cukup baik dari lembaga sertifikasi kehalalan produk, dapat penilaian baik juga dari warga sekitar dan lembaga instansi pemerintahan yang melakukan peninjuan, juga rekan kerja dan karyawan yang bekerja disana.


Kata Kurniawan, Retno akan di kenalkan kepada temannya itu sebagai salah satu orang yang akan melanjutkan bisnis yang sedang dijalankan olehnya. Karena usia Kurniawan yang memang sudah tidak lagi muda, membuat Retno menuruti keinginan ayahnya itu untuk menjadi penerus bisnis yang sudah berjalan baik, dan bisa dikatakan sukses itu.


Sebuah taksi online berhenti didepan mereka dan mulai membantu mengangkut barang bawaan ke dalam bagasi mobil.


“Sesuai di aplikasi ya, pak.”


“Ya.” jawab Kurniawan karena Retno kini sibuk dengan ponselnya. Memang, sejak ikut berkecimpung di dunianya, Retno lebih sering aktif di media sosial, khususnya media sosial khusus bisnis yang dibuat Reno kemudian mangkrak. Dan sekarang, Retno mencoba aktif kembali disana, dan beruntungnya, banyak yang merespon positif dan justru usaha Kurniawan semakin di ketahui banyak orang, juga semakin berkembang pesat.


Retno mungkin memang bukan orang awam dalam perkara seperti ini, namun rana sosialnya saja yang berbeda. Jika dulu dia mengurus promosi Tyra untuk para wanita serta anak muda yang glamour dan suka fashion, sekarang Retno harus berurusan dengan bapak-bapak pemilik usaha rumah makan, perusahaan/ritel khusus yang bergerak dibidang perikanan atau unggas, bahkan terkadang ibu-ibu yang datang langsung ketempat budi daya untuk membelinya.


“Kasih tau ibumu. Bilang kita sudah sampai di jakarta.” kata Kurniawan yang berhasil menginterupsi Retno, dan langsung dituruti tanpa ba-bi-bu.


“Ayah nggak mau sekalian telpon saja?” tawar Retno daripada ribet berbalas pesan.


“Nanti saja. Telinga ayah rasanya masih budek.”


Jawaban ayahnya itu justru membuat Retno tersenyum. Jetlag memang mengganggu. Bahkan Retno pernah mengalami lebih dari telinga budek. Dia pernah lesu sampai nggak doyan makan karena mual.


Ia pun bergegas mengetik pesan untuk sang ibu yang mungkin memang sedang menunggu kabar dari mereka berdua. Lalu, Retno juga mengirim pesan untuk Tyra.


Bubu


Mak, bapak sama ***** udah di Jakarta


T-rex


Gue di Jakarta. Meetup ngga?


Tak berselang lama Tyra membalas.


T-rex


Malesin.


Retno mendecak sebal, tapi belum juga rasa kesalnya bertambah, pesan kembali masuk.


T-rex


Stay dimana?


Boleh ajak Lin?


Retno melebarkan mata. Buru-buru dia menjawab.


Awas lu coba-coba!


Gua tunggu di cafe biasa, besok sore. Ajak ponakan gue sekalian. Dateng lu, gak pake alasan!


Sebagai kawan lama, tentu saja dia merindukan Tyra. Apalagi dulu mereka sering tinggal dan menghirup udara yang sama, susah senang bersama, nangis tertawa bersama. Naluri sebagai kakak laki-lakinya pun muncul saat mengingat semua itu ia lewati bersama Tyra.


Pesan lain masuk.


Bubu


Hati-hati dek, jaga Ayah baik-baik


Retno menjawab,


Ya, kanjeng mami 🙇


Retno memasukkan ponselnya kedalam slingbag nya, kemudian menyandarkan kepalanya pada jok taksi online. Pikirannya sudah melayang entah kemana, lalu tanpa dia sadari tertidur begitu saja.


***


Jam menunjuk angka delapan pagi, janji ketemu jam setengah sepuluh pagi, tapi pak Kurniawan sudah mengajak Retno buru-buru berangkat takut terjebak macet.


“Langsung ke tempat Om Tio, yah?”


Pak Kurniawan mengangguk. “Iya. Nanti biar janjiannya terpenuhi dulu. Takutnya telat karena disini macetnya lumayan lama.”


Retno mendengus dengan alis yang sudah terangkat naik karena sudah hafal jam-jam sibuk ibukota.


“Kamu kok betah tinggal disini, Nok? Kalau ayah, pasti—”


“Justru disinilah tantangannya, yah. Kalau kita bisa melewati kemacetan dengan jiwa raga yang tetap tenang dan sabar, fix kita tergolong orang baik nggak ketulungan.”


Kurniawan tergelak, jawaban dan ekspresi Retno ketika mengatakan itu sungguh lucu dimatanya. Ya memang betul sih, orang yang bisa melewati padatnya lalu lintas tanpa emosi itu orang yang sangat luar biasa. 11-12 sama pejuang yang sedang berperang di medan yang penuh dengan—


“Ayah jadi kangen sama Linda. Rumah Linda jauh nggak dari sini?”


Ini orang tua mau ngapain sih?


Retno membatin uring-uringan. Dia sudah mencoba biasa saja sejak menginjakkan kaki di sini, tapi mengapa ayahnya malah berkata se-enteng itu didepannya?


Retno yang hampir meraih tas dia atas nakas harus membeku mendengarnya.


“Jauh, yah. Lagian ngapain ayah mau ketemu dia? Kan Retno udah nggak sama dia lagi? Nggak enak kalau tiba-tiba ngajak ketemu.” kelitnya yang memang benar harus seperti itu. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan selain berbisnis disini.


“Ya itung-itung jalin silaturahmi aja, Nok. Apa salahnya?”


Tidak ada yang salah. Tapi hati eike yang akan bermasalah, ayah ...


“Udah deh, yah. Nggak usah, orang Retno juga udah nggak nyimpen nomor dia. Retno nggak bisa hubungi dia.”


Kurniawan diam. Namun memendam rasa kecewanya karena Retno dan Linda benar-benar sudah loss kontak setelah putus.


Akhirnya, Retno dan pak Kurniawan berangkat menuju lokasi pabrik milik temannya dengan taksi online lagi. Ayahnya sudah kembali bersikap seolah tidak bicara apapun tadi. Sedangkan Retno, entah bagaimana perasaannya saat ini.


Sakit, iya.


Hancur, iya.


Nostalgia, iya.


Kecewa, iya.


Bahkan ingin menemui Linda, juga iya.


Sebenarnya Retno tidak pernah menghapus nomor Linda dari daftar panggilan di ponselnya. Bahkan seluruh pesan dan riwayat panggilan dari Linda saja masih tersimpan apik di sana. Retno semakin merasa rindu. Dia ingin bertemu, meskipun tidak membahas tentang hubungan yang sudah kandas, minimal bertukar kabar dan melihat keadaan satu sama lain. Memastikan jika dia maupun Linda, baik-baik saja setelah mereka putus.


***


“Retno lagi di jakarta.”


Seperti petir menyambar, namun diperindah oleh pelangi, hati Linda seakan porak-poranda. Tyra memberitahukan hal ini begitu tiba-tiba, apalagi saat ini dia ingin kembali menata hatinya yang sedikit demi sedikit membaik.


“Ya, biarin aja, mbak.” jawab Linda, pura-pura acuh dan kembali menyusun puzzle bergambar Unicorn milik Ajeng.


“Ya kali aja mau ketemu, gitu. Ngobrol. Putus nggak harus jadi musuh kan?” goda Tyra, perempuan yang sedang berbadan dua itu kini duduk di samping Linda sambil memangku toples berisi kudapan kesukaannya. Hamil kedua kali ini, tidak se-menyiksa ketika mengandung Ajeng dulu.


Linda tersenyum getir. “Engga deh, mbak. Takut Retno nggak nyaman.”


Tyra meletakkan toplesnya di atas lantai beralas karpet bulu berwarna coklat tua itu, lalu mulai memperhatikan Linda.


“Retno itu orangnya nggak begitu, Lin. Dia orangnya baik, kok. Nggak pernah naruh dendam.”


Linda memalingkan wajah menghadap Tyra, kemudian tersenyum kecil hingga bibirnya sedikit terbuka.


“Aku tau, mbak. Tapi aku nggak pingin jadi masalalu yang akan membuat dia merasa nggak betah disini.” kata Linda pengertian. “Kalaupun memang kita akan bertemu, biarkan saja kita bertemu dengan hati yang sudah membaik. Yang bisa melihat masa lalu hanya sebagai masalalu.”


“Lalu, bagaimana kalau misalnya dia masih berharap sama kamu.”


Kali ini Linda tidak mampu berkata-kata. Diapun masih menginginkan Retno. Tapi apa daya.


“Ada dua hal, yang ingin aku percaya bisa mempertemukan kami lagi.” kata Linda pelan.


Tyra mengerutkan kening, mencoba mengerti kalimat si adik ipar yang terlalu sulit ditebak oleh otaknya. Kemudian Linda melanjutkan


“Momen dan, jodoh.” []


...To be continue...