MOMENT

MOMENT
Part 25 [End]




...Moment...


...|Part 24[End]|...


...Happy reading...


...[•]...


Hari berlalu dengan sangat cepat, mengalir begitu saja seperti air. Semua perjalanan masa lajang yang dilalui Linda dan Retno, hanya tinggal menunggu besok. Baik keluarga Linda maupun Retno, sudah mempersiapkan semua keperluan untuk prosesi pernikahan yang hendak dilaksanakan. Bahkan dari keluarga Retno, ada beberapa yang sudah sampai di Jakarta, termasuk kedua orang tua, dan kakak-kakak Retno yang sekarang tinggal di apartemen sewaannya.


Tak berbeda jauh dengan Retno, keluarga Linda pun mulai berdatangan dan menginap di rumah. Keluarga dari Surabaya memang tidak banyak jumlahnya, mengingat sang ibu hanya memiliki satu kakak laki-laki yang memang sampai sekarang masih menyambung tali persaudaraan.


“Linda kemana, Bu?” Atan datang mencari Linda yang tadi sempat pamit padanya untuk pergi keluar sebentar membeli sesuatu di minimarket dekat pintu keluar kompleks.


“Katanya beli pemba-lut. Nggak tau, kok belum balik sampe sak iki.”


Atan mengangguk. “Telepon aja lho, dad.” kata Tyra ikut bicara.


Seharusnya, menurut kepercayaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun untuk pengantin perempuan sejak zaman Lastri dulu, pengantin perempuan itu dipingit, tidak boleh bepergian sampai hari pernikahan berlangsung. Tapi emang dasarnya Linda ini keras kepala, agak bandel.


Tapi belum sempat menyambungkan telepon, Linda mengucap salam dan membuat Atan menghela nafas lega.


“Lama bener sih beli pemba-lut aja?” cerocos Tyra yang terlihat ikut khawatir.


“Ketemu temen mbak, jadinya ngobrol.” kata Linda cengengesan tanpa dosa.


“Yang dirumah udah kalang-kabut nyariin, lin.” sahut keponakan yang kebetulan juga menyandang status pengantin baru. Lalu melanjutkan, “Ndak ilok kemanten wedok blakrakan, wong sesok nikahan.”


“Maaf,” sahut Linda kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan urusan penting perempuan.


***


Hari ini, adalah hari yang akan menjadi sejarah dan akan dikenang seumur hidup oleh Linda.


Menikah, dan ya, dia akan menjadi seorang istri dari pria yang ia cintai.


Linda sudah memakai kebaya, riasan di wajah yang pas dan sangat cantik, begitu memukau untuk siapa saja yang melihatnya. Seluruh anggota keluarga juga sudah bersiap untuk melakukan prosesi ijab qobul yang akan di laksanakan di kediaman Lastri, dengan Atan sebagai wali.


Pukul sembilan tepat, Retno beserta rombongan keluarga besar sampai dirumah Linda. Para tetangga yang diundang sebagai saksi pun tak luput memandang sosok Retno yang terlihat begitu tampan dengan setelan hitam putih, dipadu dengan jas hitam dan peci hitam di kepalanya. Pria bermata sedikit sipit itu sangat tampan.


Retno pun diarahkan untuk duduk disisi meja yang berseberangan dengan seorang penghulu dan juga pria yang akan menjadi wali sekaligus kakak iparnya.


Jantungnya berdebar kencang, telapak tangannya mulai dingin dan berkeringat. Retno hanya berharap agar kalimat-kalimat yang sudah ia hafal diluar kepala, tidak kabur saat berjabat tangan dengan Atan untuk mengambil alih tanggung jawab atas perempuan yang ia cintai, yang bernama Belinda Adiyasa.


Pak Kurniawan dan juga kakak laki-laki Retno, duduk bersebelahan dengan Retno, si calon pengantin baru.


Suasana perlahan sunyi setelah pak penghulu mengetuk mikrofon untuk melakukan cek sound.


Selanjutnya, setelah membaca beberapa do'a dan memberi petuah tentang pernikahan, Ijab pun diucapkan oleh Retno dengan kondisi tubuh bergetar, telapak tangan dingin dan basah, serta keringat yang membasahi kening, karena gugup.


Ini adalah langkah awal yang sudah pasti baru baginya bersama Linda. Mereka akan hidup bersama dalam suatu ikatan sakral nan suci, yakni pernikahan.


“Sah ... ”


Seluruh isi ruang tamu yang sudah dihias sedemikian rupa itu berseru mengucap syukur. Retno resmi menyandang gelar baru, yakni menjadi seorang suami juga imam keluarga.


Setelah itu Linda berjalan keluar dari kamar, didampingi oleh istri dari sepupunya dan juga Tyra—kakak iparnya. Ia duduk di sisi Retno, menyalami telapak tangan milik si teman hidup, lalu mengecupnya sekilas. Lantas, sesuai arahan pak penghulu, Linda membubuhkan tanda tangan di atas sebuah buku kecil yang akan menjadi bukti, bahwa dia dan lelakinya adalah orang yang terikat dengan cinta dan kasih sayang sampai akhir hayat.


Rencananya, acara akan berlanjut di sebuah tempat yang sudah mereka sewa untuk melakukan resepsi. Kemudian para keluarga dan kerabat dari jauh akan menginap di hotel yang sudah disiapkan, tentu saja beserta pasangan pengantin baru ini.


Setelah rampung dengan menandatangani beberapa berkas dan buku nikah, Retno dan Linda melakukan sesi pemotretan yang didominasi oleh pose-pose mesra didepan para saksi.


***


Acara resepsi juga berlangsung begitu meriah. Dua keluarga beserta para undangan bersuka cita, menikmati hidangan yang tersedia, dan musik yang mengalun mengiring di acara resepsi. Ucapan do'a akan kebahagiaan untuk pasangan baru ini terus mengalir, yang membuat Linda juga Retno merasa sangat bahagia sekaligus bersyukur. Ini adalah moment yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup, akan menjadi cerita menyenangkan yang akan mereka ceritakan kepada anak, bahkan cucu mereka kelak.


“Mungkin sangat terlambat saat kamu mendengar ini, Nda. Tapi aku tidak mau ketinggalan sama orang-orang yang memujimu hari ini.” bisik Retno saat tak ada tamu yang naik ke atas podium pengantin. Linda menoleh seketika mendengar itu. Ia menatap wajah tampan sang suami dengan rasa penasaran.


“Memangnya, orang-orang bilang apa?” tanya Linda bernada ketus.


“Kamu cantik.”


Linda mengedip cepat. Ia mengalihkan pandangan ke arah para tamu yang terlihat ikut berbahagia hari ini. Hari dimana Linda bersama Retno menjadi pasangan raja dan ratu sehari. Mungkin jika tidak ada make up di wajahnya, Linda akan tertangkap basah sedang bersemu.


“Gombal.” sahut Linda lantas tertunduk malu dan menahan kedutan senyum di bibirnya.


“Serius.” bisik Retno sekali lagi, yang sekarang justru membuat bulu-bulu Linda meremang. Efek ciuman Retno setelah mereka sah tadi, begitu dahsyat. “Aku tidak akan melepasmu, sesampainya di hotel nanti.” lanjut Retno dengan nada rendah dan kerlingan mata menggoda.


Linda tidak bodoh, dia bisa menangkap maksud ucapan seduktif yang Retno katakan. Kedua pupil mata Linda melebar sejenak, tapi selanjutnya terlihat semburan tawa di bibirnya.


“Aku sedang ada tamu bulanan, Pah. Jadi aku menang telak hari ini.” sahutnya lancar. Mau bagaimanapun, tidak dibenarkan melakukan hubungan badan ketika si wanita sedang datang bu-lan.


Senyuman di bibir Retno memudar. Tatapan sedih tertangkap oleh pupil mata Linda, dan berhasil membuat Linda sendiri merasa tidak enak kepada sang suami.


“Kan bisa di lain waktu, Pah?” de-sah Linda sembari meraih telapak tangan Retno dan menepuk-nepuk lembut sebagai rayuan.


“Hah, ya mau bagaimana lagi?” keluh Retno putus asa dengan nada lesu penuh kekecewaan yang sangat jelas. Tapi, bukan Retno jika tidak bisa mencari jalan ninja untuk malam pertamanya yang terpaksa harus ditunda itu.


“Tapi, kan masih ada cara lain?” katanya berbinar setelah ide me-sum tiba-tiba terbesit. Ah, tidak apa-apa kan mesum sama istri sendiri? Toh udah sah. Jangan diprotes. Maklum pengantin baru, rasa penasaran yang timbul itu masih di level atas, alias tingkat dewa.


Sedangkan, si lawan bicara yang tidak tau menau isi kepala pasangan sahnya, hanya mengerutkan kening karena dilanda rasa ingin tau.


“Cara lain?” tanya Linda tidak terlalu polos, karena satu kemungkinan sudah muncul didalam kepalanya. “Apa?”


Retno tersenyum penuh kemenangan. Perempuan kesayangannya itu terlihat makin menggemaskan jika ekspresinya sedang penasaran begitu. Dan inilah tingkat ke-absurd-an mereka, membahas malam pengantin diatas podium, diantara banyak orang pula.


“Ada deh. Ntar aku ajari.” bisiknya nakal yang berhasil membuat darah Linda berderit cepat dan tubuhnya terasa menggigil—panas dingin. []


...—End—...


###


Besok, kalau tidak ada halangan bakalan update extra part ya pembaca tercinta MOMENT ☺️


Extra part yang di-update, (mungkin) akan berisi full tentang first Night dan juga honeymoon pasangan ini. Jadi, Othor saranin bacanya pas malem aja, pas udah buka puasa.🤭


Terima kasih sudah menemani author selama menulis MOMENT. Cerita merupakan spin-off dari cerita WE, dan tidak memiliki episode panjang. Konfliknya pun sangat ringan. Jadi, tidak ada adegan yang bikin pusing atau teka-teki yang harus di pecahkan. Semua hanya cerita ringan seperti slice of life/cerita keseharian yang alurnya sangat mudah diikuti.


Intinya, Vi's sangat berterima kasih kepada semua pembaca yang sudah setia membaca dan memberikan dukungan berupa Like, komentar, serta hadiah untuk pasangan Linda Retno dalam cerita MOMENT hingga akhir.


Mohon maaf bila Vi's ada salah, baik dalam menulis narasi, alur, atau diksi yang tidak sesuai dengan ekspektasi pembaca sekalian.


Sebagai kalimat penutup, Vi's juga ingin memberitahukan jika NIGHTFALL akan mulai update rutin setelah ini. Cerita yang diusung dalam cerita tersebut juga tidak akan kalah seru dan menguras emosi. Silahkan mampir jika berkenan.


Akhir kata,


Sekali lagi author Vi's mengucapkan banyak terima kasih untuk semua atensi dan juga dukungannya. I lop Yu Pull ❤️❤️❤️


See you,


Sampai jumpa di extra part yang akan tayang besok ya. ☺️