
...Moment...
...|Part 22|...
...Happy reading...
...[•]...
Siapapun tidak pernah menduga, jika baik atau buruk akan datang di tengah hidup, menyapa dalam waktu yang ditetapkan. Tapi satu hal yang harus dilakukan saat keduanya itu datang, yakni bersyukur jika itu baik, dan hadapi serta cari solusi jika buruk.
Satu hal yang kini sedang coba dilewati oleh pasangan Retno dan Linda yang hendak mengarungi bahtera rumah tangga adalah, sebuah rasa percaya yang memang sejak dulu menjadi kendala besar antara keduanya.
Linda tidak pernah mempermasalahkan jika Retno bertemu dengan seorang wanita, yang Linda kenal atau pernah diperkenalkan oleh Retno padanya, sebelumnya. Berbanding terbalik dengan prinsip Linda, Retno justru tidak suka jika Linda dekat dengan orang yang pernah ‘dekat’ dengan kekasihnya itu. Khususnya Reza. Retno tidak pernah suka melihat pria itu, karena dia tau, pria itu memiliki rasa kepada Linda.
Dan hari ini, entah angin apa yang sedang bertiup menerpa dirinya, Linda malah memergokinya dengan Sekar yang sengaja ingin dia bantu karena merasa iba, setelah mendengar cerita dari pak Ruslan tadi.
Setibanya dihalaman luar pagar rumah Linda, Retno bergegas turun dari mobil dan masuk ke pekarangan rumah yang tidak terlalu luas itu. Ia berjalan tergesa-gesa lantaran tidak sabar ingin bicara dengan Linda yang harus dan wajib mendengar penjelasannya agar tidak ada lagi kesalahpahaman antara mereka.
Retno sadar jika masalah yang baru saja menyambanginya ini adalah sebuah ujian untuk memantapkan perasaan keduanya. Tapi entah mengapa, isi kepalanya begitu berisik penuh ketakutan akan sebuah rasa kehilangan, lagi.
Pintu diketuk beberapa kali, dan daun kayu jati itu terayun terbuka. Sosok tua renta yang beberapa hari lagi akan menjadi mertuanya itu muncul dengan sebuah senyuman hangat.
“Lho, nak Retno?” tanyanya. Lastri sendiri cukup terkejut saat mendapati Retno datang tanpa ada Linda.
Retno menyalami telapak tangan Lastri kemudian tersenyum. Ia pikir, Linda pasti sengaja masuk rumah cepat-cepat dan menutup pintu agar dirinya merayu.
Tapi,
“Iya, Bu. Linda ada?”
Mendengar suara tanya Retno, Lastri curiga ada sesuatu antara putri dan calon menantunya ini.
“Lho, belum pulang, No. Nggak ngasih kabar ke kamu?” jawab Lastri dengan nada khawatir. Ia bahkan tidak mendapat kabar juga dari Atan, yang biasanya akan menjadi perantara jika si bungsu itu pulang terlambat.
Tidak jauh berbeda dengan Lastri yang terperangah penuh kejut, Retno pun kini menampakkan ekspresi datar di wajahnya. Dia tidak menduga jika Linda memilih tidak pulang setelah kejadian tadi.
“Belum pulang?” katanya mencari kejelasan.
“Tadi pagi, dia pamit mau pergi sama Tika ke salah satu butik untuk melihat-lihat kain dan model baju yang nanti akan dipakai saat resepsi. Dan sampai sekarang belum pulang.” jawab Lastri mencoba menjabarkan apa yang didengar dari Linda tadi pagi saat pamit berangkat kerja. “Kemana anak itu? Kenapa nggak ngasih kabar?”
Retno merogoh ponselnya di saku celana yang ia pakai. Ia buru-buru menghubungi nomor Linda, dan sialnya, nomor tersebut sedang tidak aktif. Dihubungi berkali-kali pun, tetap hanya suara mesin operator yang menjawab.
“Bagaimana nak?” lanjut Lastri bertanya. Ia juga khawatir karena hari sudah malam.
“Saya tidak bisa menghubunginya, bu.”
“Astaga, kemana dia? Atau jangan-jangan dirumah Atan?”
Retno masih belum mau memberitahukan tentang apa yang sedang terjadi pada mereka. Retno tidak ingin menambah kekhawatiran pada Lastri.
Setelah mendapat persetujuan dari Lastri, Retno pun bergegas pergi ke kompleks sebelah, dimana Atan dan Tyra tinggal.
Tapi sesampainya disana, sosok Linda tak juga ditemukan. Rasa khawatir Retno berubah menjadi rasa takut. Takut jika terjadi sesuatu pada Linda, yang lengah dari pengawasan dan perlindungannya.
“Dia nggak kasih kabar ke kamu?” Atan bersuara, dia jadi ikut cemas dan menghubungi Linda berkali-kali. Tapi jawaban yang ia terima, sama dengan jawaban yang diterima Retno. Nomor Linda sedang tidak aktif.
Retno yang merasa bersalah, meremas surainya frustasi. Nafasnya memburu, dadanya naik turun karena jantungnya memompa lebih cepat karena sekarang, rasa takut sudah berubah menjadi sebuah perasaan yang amat sangat mengerikan, dan tidak mampu ia deskripsikan. Bagaimana jika memang terjadi sesuatu pada Linda? Jika iya, Retno tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
“Tadi kami sempat bertemu di supermarket.”
Atan terpaku, mengehentikan gerakan jarinya yang terus berusaha menyambungkan panggilan ke nomor Linda yang jelas-jelas tidak bisa dihubungi.
“Ketemu? Terus kenapa kamu nyariin dia dan dia nggak pulang? Kalian ada masalah?” sergah Atan menginterogasi. Dia berhak mempertahankan itu, karena Linda adalah adik perempuan yang menjadi salah satu tanggung jawab besar di pundaknya.
Retno mengangguk kecil sembari menunduk. Dia tidak bisa menatap manik mata Atan yang terlihat menggelap. “Ada kesalahpahaman yang terjadi. Dan aku butuh menjelaskan padanya. Tapi, ternyata Linda juga belum pulang.”
Mendengar alasan itu, otak Atan memutar dari menghubungi nomor Linda yang tidak bisa dihubungi, menjadi nomor teman-teman lama Linda yang dulu sempat ia simpan di kartu memori telepon genggamnya.
Tanpa banyak bicara, Atan mulai menghubungi seseorang yang menjadi tujuan pertamanya. Ita, teman SMA Linda yang dulu cukup dekat, bahkan sering menginap tanpa alasan yang jelas.
Dari sambungan telepon tersebut, Atan tidak mendapatkan apapun tentang keberadaan adiknya. Ia lalu menghubungi nomor selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya hingga tersisa satu nomor kontak yang belum ia sentuh. Yakni milik teman dekat dan sahabatnya, Reza.
Tatapan Atan beralih sejenak ke arah Retno, kemudian kembali pada display ponselnya yang sudah meredup. Jika memang prediksinya tepat, apa yang akan terjadi nanti? Retno pasti tidak akan diam begitu saja, karena dulu juga Linda pernah lari ke tempat Reza ketika mereka ada masalah. Lalu endingnya, berujung runyam.
Dengan ragu, jari telunjuk Atan menekan nomor ponsel Reza. Dan hanya tiga kali nada hubung, suara Reza terdengar diseberang.
“Linda ada di tempat kamu, nggak?”
***
Lima belas menit yang lalu, Reza menerima kehadiran Linda yang cukup membuatnya khawatir. Motor penuh dengan barang belanjaan, dan wajah yang sembab seperti baru saja tuntas menangis.
Tanpa berkata apapun, Reza mempersilahkan Linda masuk ke area cafe miliknya yang saat itu tidak terlalu ramai. Ia mempersilahkan Linda masuk kedalam ruang kerjanya, dan perempuan itu kembali menitihkan air mata.
Reza yang melihatnya ikut merasa sedih dan terluka. Bagaimana tidak? Linda adalah gadis yang ia sayangi seperti layaknya orang paling istimewa dalam hatinya. Dan melihatnya sekarang menangis, membuat Reza penasaran diselimuti amarah yang cukup mematik sisi laki-lakinya.
“Katakan, ada masalah apa.” tanya Reza mencoba ikut menyelami kesedihan Linda. Sejak pertama kali mengenal Linda, hatinya seakan terkunci untuk wanita lain. Dan Linda lah yang menjadi tujuan utama kisah asmaranya. Namun nahas, Linda lebih memilih orang lain ketimbang dirinya yang sudah bersedia menunggu tanpa diminta, secara bertahun-tahun. “Tentang Retno?” lanjutnya. Sudah hampir lima belas menit juga Linda menangis dihadapannya.
Belum juga rampung dengan rasa penasaran mengapa Linda sampai menangis seperti ini, ponselnya di atas meja bergetar. Seseorang yang tidak ia ketahui namanya sedang mencoba melakukan panggilan suara dengannya. Ia lantas meraih ponsel tersebut dan menjawabnya dengan nada suara rendah penuh intimidasi. Ia tau jelas siapa yang sekarang. Reza yakin tebakannya tidak akan meleset.
Dan benar saja, setelah dia menyapa, suara seseorang yang familiar menyapa dari seberang telepon. “Aku datang untuk menjemput Linda, calon istriku.”
“Mau apa kamu dengannya?”
“Berikan telepon ini padanya!” kata Retno penuh penekanan. “Aku ingin bicara dengannya.” []
...To be continue...