MISFITS INCEPTION

MISFITS INCEPTION
Episode 17



Bar Itaewon...


.


Pukul 23.30 Pm...


.


Mereka minum sambil membahas hal-hal lucu yang pernah terjadi ketika menjalankan misi bersama.


.


Mereka berdua terus tertawa karena saling mengejek, Jisuu melupakan rasa sedihnya dan kembali bahagia.


.


"Hey Hao, apa cita-citamu saat masih kecil?" Tanya Jisuu.


.


"Ah, saat Aku masih sekolah Guru meminta kami untuk menuliskan cita-citanya, lalu Aku mengisinya. Aku bercita-cita ingin menjadi orang kaya" Jawab Minghao.


.


"Hahaha, sekarang kau sudah berhasil meraih cita-citamu" Ucap Jisuu, sambil tertawa.


.


"Haha iya, lalu bagaimana denganmu?" Tanya Minghao, sambil tertawa kecil.


.


"Aku ingin menjadi seorang chef, dan membuat banyak makanan enak" Jawab Jisuu.


.


"Hahahaha, konyol sekali kau bahkan tidak pernah memasak" Ucap Minghao, yang tertawa terbahak-bahak.


.


"Kau meragukan keahlian memasakku!" Tegas Jisuu, yang menatap sinis Minghao.


.


"Aku akan percaya jika kau menunjukkannya padaku" Jawab Minghao.


.


"Aku tidak ada waktu untuk melakukannya" Ucap Jisuu.


.


"Bilang saja kau tidak bisa masak, hahaha" Ucap Minghao, sambil tertawa.


.


Brukkk....


.


Tiba-tiba segerombolan pria masuk kedalam Bar, mereka semua memegang senjata tajam.


Mereka meminta minuman secara paksa sambil menodongkan senjata kearah bartender.


.


Keadaan Bar begitu sepi hanya ada beberapa orang saja disana, para pengunjung Bar yang lain begitu ketakutan.


.


"Wah, sepertinya mereka tidak sayang nyawanya sendiri" Ucap Minghao.


.


Dorr...


.


Tembakan dari Jisuu berhasil memecahkan kepala pria berbadan besar, yang sedang menodongkan sajam kearah bartender.


.


"Kenapa tidak memberiku aba-aba terlebih dahulu! Baiklah mari kita bersenang-senang" Tegas Minghao.


.


Hujan peluru membuat kegaduhan didalam Bar, banyaknya para berandalan yang datang membuat Jisuu dan Minghao kehabisan peluru.


.


Jisuu dan Hao pun berhenti menyerang dengan pistol dan mulai berkelahi menggunakan pisau andalan Jisuu.


.


Brum... brum...


.


Suara motor yang berdatangan terus-menerus membuat mereka saling menatap.


.


"Mereka terlalu banyak" Ucap Jisuu.


Minghao menggenggam tangan Jisuu dan membawanya lari lewat pintu belakang.


.


Aksi kejar-kejaranpun terjadi, Hao terus menggenggam Jisuu agar tidak tertinggal.


.


"Sudah lama Aku tidak bersemangat seperti sekarang" Teriak Minghao, sambil berlari.


.


"Kenapa kita kabur dasar bodoh" Jawab Jisuu, yang sedikit kesal.


.


"Hahaha, sudahlah untuk apa melawan mereka, toh bukannya kau sudah membunuh banyak orang tadi" Ucap Minghao.


.


Jisuu tersenyum sambil terus berlari menyeimbangi kecepatan Minghao.


.


Mereka berlari melewati rute gang kecil untuk menghindari kejaran dari para berandalan itu.


.


Mereka berhasil meloloskan diri dan berhenti ditaman...


.


Keringat membasahi tubuh mereka berdua,


"Aku akan mencari minimarket dan membeli minuman, kau tunggu sebentar disini" Ucap Minghao.


.


Jisuu menggenggam tangan Minghao yang bersiap pergi meninggalkannya.


.


Jisuu hanya terengah-engah sambil terus memegang dadanya, dia terlihat begitu kesakitan.


"Sakit sekali, Luka jaitanku masih belum pulih total, tapi Aku sudah berlari-lari"


.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Minghao, sambil berlutut didepan Jisuu.


.


"Aku baik-baik saja, pergilah dan hati-hati" Ucap Jisuu, sambil melepaskan genggamannya.


.


Minghao tersenyum dan segera pergi mencari minimarket...


.


Bar Itaewon...


01.20 Am


.


"Jisuu tidak ada disini!" Ucap Doyoung, yang sudah memeriksa seisi bar.


.


"Mobilnya masih terparkir rapih, sepertinya dia kabur lewat pintu belakang. Cari dia, Dia pasti masih di sekitar sini" Tegas Taeyong, yang begitu mengkhawatirkan Jisuu.


.


"Lalu bagaimana dengan mereka?" Tanya Doyoung, sambil menunjuk para berandalan yang tertangkap olehnya.


.


"Tahan mereka, Jika terjadi sesuatu pada Jisuu, Aku sendiri yang akan memberikan pelajaran untuk mereka" Tegas Taeyong.


.


Taeyong menyelidiki Jisuu menggunakan GPS yang terpasang di mobilnya, Taeyong begitu khawatir terjadi sesuatu pada Jisuu.


.


"Aku menemukan ponsel dihalaman belakang Bar, sepertinya terjatuh saat sedang berlari" Ucap Jeno, salah satu anggota Mafia Libertix.


.


"Ini milik Jisuu" Ucap Taeyong, setelah mengambil ponsel itu.


.


"Dia baru saja menjalankan operasi 3 minggu lalu, luka jaitannya belum pulih dengan sempurna" Ucap Doyoung.


.


Brughhh...


.


Taeyong menendang wajah salah satu berandalan itu untuk melampiaskan kekesalannya.


.


"Bangsa*t mati saja kalian Anj*ng" Gertak Taeyong, sambil terus menendang wajah berandalan itu hingga membuatnya tak dikenali.


.


"Aku berhasil membawa salah satu berandalan yang mengejar Nona Jisuu" Ucap Jungwoo, yang baru saja datang sambil membawa berandal yang tertangkap.


.


"Dimana dia" Tegas Taeyong, pada berandalan yang baru saja dibawa Jungwoo.


.


"Kami, kehilangan arahnya mereka berlari masuk kedalam gang gang kecil" Jawab berandalan itu, sambil menundukkan kepalanya.


.


"Bangsa*t!!!" /Brug


Taeyong terus menghantam pria itu menggunakan tangan kosong, sudah lama Taeyong tidak pernah berkelahi didepan para anggotanya.


.


Ini menjadi peringatan juga bagi mereka bahwa Jisuu sangat penting bagi Taeyong.


.


Taeyong menghajar semua berandalan yang tertangkap sampai mereka semua mati.


.


Taman....


.


Jisuu menahan sakitnya sampai dia tertidur dibangku taman dengan posisi duduk.


Minghao yang baru saja kembali sambil membawakan minuman, sedikit terkejut melihat Jisuu yang tertidur.


.


Dia tidak mau membangunkan Jisuu yang tertidur begitu lelap, dia melepaskan jaketnya untuk menyelimuti Jisuu.


.


Minghaopun duduk disamping Jisuu yang sedang tertidur, dia menyandarkan kepala Jisuu kebahunya.


.


"Dia bisa tidur dimana saja ya"


.


"Jung Jisuu, terimakasih untuk hari yang special ini"


.


"Berkat kehadiranmu, Aku bisa merasakan hidup yang sesungguhnya"


.


"Walaupun kau tidak akan pernah bisaku miliki"


.


"Aku sudah sangat bersyukur, karena bisa menjadi orang yang dekat denganmu"


.


"Aku sangat senang, karena kau mempercayaiku"


.


Bersambung....