
Seperti biasa di hari Sabtu pagi Elma mengunjungi kantor mbak Ratih untuk melanjutkan terapinya, namun sabtu ini hatinya sungguh bahagia.
"pagi mbak" Elma mengambil duduk di depan mbak Ratih setelah asisten mbak Ratih mengantar Elma masuk.
"pagi El, kelihatannya happy banget ini?" senyum mbak Ratih menyambut Elma.
"mbak Ratih emang paling top bisa menebak suasana hati aku" Elma berganti duduk di sofa panjang favoritenya.
"senyuman kamu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia kamu El... gimana, ada yang bikin kamu bahagia?" mbak Ratih duduk di sofa single berhadapan dengan Elma.
"habis dari sini saya mau nonton bareng sama Zi mbak" Elma menceritakan dengan raut muka bahagia.
"wow...kemajuan pesat ini"
"tapi nontonya enggak berdua sih mbak, ama Zahra juga"
"enggak apa-apa, seperti saya bilang semua butuh proses, pelan-pelan aja, biar kamu bisa menikmati setiap prosesnya"
"iya mbak, namun sebenarnya saya juga masih belum merasa percaya diri menjadi seorang mami, masih banyak kekurangan saya, apalagi jika mengingat kesalahan saya di masa lalu" mata Elma kembali redup seperti beban kesedihan kembali hadir menghantuinya.
"untuk itu kamu disini, lepaskan semua yang masih mengganjal dihatimu, mari kita sama-sama urai satu persatu untuk menjadikan semuanya tidak kusut lagi" mbak Ratih memberikan semangat pada Elma.
"Jika kamu sudah siap, ceritakan lagi apa yang ingin kamu ceritakan pada saya"
Elma tersenyum, mengangguk pelan dan kemudian mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kisahnya pada mbak Ratih.
POV Elma
Surga dunia, surga dunia, surga dunia.... Kata-kata itu terus berputar-putar dipikiranku.
Didalam mobil yang melaju cukup kencang membelah jalan tol yang lumayan padat karena weekend, aku masih melamunkan kata surga dunia yang diucapkan Kevin.
"kamu kenapa melamun terus?" tangan kiri Kevin membelai pipiku dengan lembut.
Aku tersentak, merasakan debaran karena sentuhan yang begitu lembut dipipiku, "enggak apa-apa" aku menjawab dengan suara lirih sambil tersenyum pada Kevin, tangan kirinya sekarang beralih menggenggam tanganku.
Hampir dua jam perjalanan karena kemacetan yang sering kami temui akhirnya kami sampai di sebuah Villa indah yang begitu megah, mama dan papa juga punya villa namun tidak semegah ini, villa yang bagai istana itu keindahannya seakan menghipnotisku.
"ayo masuk" Kevin menggandeng jemari tanganku dengan lembut, mengajak aku masuk ke dalam villa.
Kami disambut bibi penjaga villa, "mas Kevin kesini sama Tuan dan Nyonya?"
"enggak, aku sama pacarku... kenalkan ini pacarku bi, namanya Elma" Kevin mengenalkanku sambil terus menggenggam tanganku, hatiku rasanya berbunga-bunga mendengar Kevin mengenalkan aku sebagai kekasihnya.
Kami kemudian naik ke lantai dua, disana ada beberapa kamar, Kevin mengajakku masuk ke salah satu kamar, kamar yang begitu indah, terlihat interior kamar tidur dengan nuasa liburan yang kental ala resort karena penggunaan seprai dan selimut putih di dalam kamar yang menggunakan warna netral. Adanya bed day, karpet dan bukaan lebar membuat interior kamar terasa hangat dan nyaman. Kamar dihubungkan dengan balkon yang terdapat sofa panjang yang menghadap ke kolam renang dibawahnya.
"kamu suka di sini?" suara Kevin yang berdiri disebelahku mengalihkan pandanganku, aku menatapnya dengan tersenyum.
"suka, tapi besok senin kita ujian, harusnya kita kesini setelah ujian" aku menggosok-gosokkan telapak tanganku mencoba mencari kehangatan.
"justru karena akan ujian aku mengajak kamu kesini, untuk merilekskan pikiran kita" Kevin mengambil duduk di sofa, pandangan matanya masih mengarah padaku dengan begitu lembut.
"kamu sering kesini?" aku bertanya pada Kevin sambil duduk disebelah Kevin, berharap dengan duduk rasa dinginsedikit berkurang.
"tidak, aku jarang ikut kegiatan keluarga, kalau mami dan papi bikin acara keluarga disini aku menghindar untuk ikut"
"kenapa?" ternyata hawa dingin makin menusuk ketulang, mungkin karena kami berdua di lantai dua hembusan angin sangat terasa.
"tidak nyaman saja, kamu suka pergi dengan keluarga kamu? Aku lihat kamu tidak akrab dengan saudara kembar kamu?"
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, "kamu punya saudara?" aku malah balik bertanya pada Kevin.
"punya, satu kakak perempuan aku, dia lagi kuliah di luar negeri.. apa kamu kedinginan?" Kevin merangkul aku dari samping, sikapnya seperti laki-laki dewasa.
"sedikit.... apa kamu tidak takut bibi yang dibawah bilang ke mama kamu kalau kamu kesini sama teman perempuan?" aku menikmati pelukan Kevin yang terasa sedikit menghangatkan tubuhku.
"enggak, kenapa mesti takut kalau bibi bilang ama mami, lagian kalau pun mami tau pasti dia juga enggak peduli dengan apa yang aku lakukan" kini tangan kanan Kevin menggenggam tanganku, sungguh tubuhku seperti dialiri sinar matahari.
"jam berapa kira akan pulang?" aku menyandarkan kepalaku dibahunya, mungkin ini yang diartikan Kevin sebagai surga dunia, menikmati keindahan alam dan villa dengan deburan cinta kami yang mengelora.
"kita baru sampai, kita nikmati dulu udara segar disini, atau mungkin kamu mau berenang?" tangannya sekarang mengusap lembut rambutku.
"aku enggak bawa baju renang, lagian disini terlalu dingin untuk berenang" tanganku mulai berani memeluk tubuhnya.
"apa kamu mau aku beri kehangatan?" kata-kata rayuan yang terasa sedikit aneh keluar dari mulut anak ABG, Kevin merengkuh wajahku untuk menatapnya, dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, hanya dengan hitungan detik bibir kami saling menyatu, kali ini terasa nikmat, entah karena aku sudah terbiasa atau karena ciuman itu membuat tubuhku merasakan kehangatan.
Kami berciuman cukup lama, mungkin benar apa yang dikatakan orang, jika kita sudah merasakan sentuhan laki-laki maka kita seperti ketagihan untuk disentuh lagi, kebahagian hanya itu yang kurasakan saat itu. Tangan Kevin mulai menyusuri bagian dadaku, aku semakin menggeliat, entah rasa apa yang aku rasakan waktu itu yang jelas aku tidak menolak Kevin meraba dua kepemilikanku yang mungkin belum berkembang terlalu besar.
Kami masih dua bocah amatiran yang mungkin terbawa arus nafsu yang alami ada dalam tubuh kami, atau karena kami ingin mencoba yang pernah kami tonton di film yang belum seharusnya kami tonton. Yang jelas kami sudah berada di posisi tubuh kami sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Entah kapan kami sama-sama melepas baju kami, semua terjadi seakan begitu cepat, aku baru tersadar kami sudah berpindah tempat di ranjang dalam kamar. Kami berdua belum pernah melakukan hal terlarang itu sebelumnya, mungkin ini kali pertama kami akan melakukannya, ada rasa sama-sama bingung.
Setelah kami berdua saling berhadapan dalam posisi rebahan di atas ranjang, tiba-tiba rasa malu memasuki pikiranku, aku menarik selimut tebal berwarna putih yang ada diatas tempat tidur untuk menutupi tubuh polosku, berhenti sejenak ada perasaan ragu dan takut untuk meneruskan dosa ini, namun rupanya bisikan setan lebih kencang dari rasa takut kami, kepemilikan Kevin yang telah bangun dari tidurnya rupanya membuat dia tersiksa, sepertinya dorongan dalam tubuhku pun menginginkannya dan pada akhirnya apa yang merupakan dosa terbesar yang harusnya kami hindari justru kami lakukan.
Rasa sakit sungguh terasa dibagian inti tubuhku, aku seperti takut menggerakan tubuhku, perasaan sakit juga menyelinap di hatiku, mungkin lebih tepatnya perasaan menyesal, tangisanku belum juga berhenti. Begitulah dosa, terasa nikmat ketika kita melakukannya namun ada penyesalan ketika kita tersadar akan akibatnya. Aku menatap Kevin yang tertidur disampingku, wajahnya begitu polos, nampak wajah anak yang belum dewasa. Kevin tertidur setelah kami melakukan dosa itu, kami hanya melakukan satu kali itupun dengan durasi yang sangat cepat karena aku menangis kesakitan dan sepertinya Kevin merasa kasihan padaku, namun bagaimanapun dosa itu telah kami perbuat dan Kevin telah menumpahkan benih kedalam tubuhku.
..."Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS al-Isra ayat 32)...
...___****___...