
"mama enggak kirim sopir buat jemput aku?" sambil berjalan menyeret koper ditangan kirinya, seorang wanita cantik berdandan ala ABG sibuk menelepon.
"mama lupa kalau kamu hari ini datang, entar lagi pak Tono mama suruh jemput kamu kebetulan Zi lagi enggak minta dijemput sekolah"
"ya udah aku tunggu" wanita itu menutup teleponnya dan membalikkan badannya.
Brak
Seorang laki-laki yang berjalan dibelakangnya menabraknya, barang yang dibawa laki-laki itu terjatuh tepat dikaki wanita cantik itu.
"kalau jalan matanya juga dipakai dong, jangan asal jalan, kaca mata aja tebal tapi tetap tidak bisa mengarahkan" wanita itu marah sambil mencoba menghentak-hentakan kakinya yang penuh tanah.
"kamu yang tiba-tiba berbalik arah, kenapa jadi nyalahin orang, lagian ini saya yang rugi, tanaman saya hancur, ini tanaman langka"
"yeilah... tanaman kayak gini aja, gak sebanding dengan sepatu saya yang limited edition ini jadi kotor semua" wanita itu malah menginjak-injak tanaman yang jatuh dikakinya.
"kok malah kamu injak" laki-laki itu mencoba mengangkat kaki wanita itu dari tanamanya.
"eh.. Jangan kurang ajar ya, pegang-pegang kaki saya.. dasar kakek-kakek mesum" wanita itu memukul kepala laki-laki itu dengan tasnya.
"aduh" laki-laki itu memegang kepalanya sambil berusaha berdiri, "siapa juga yang mau mesum ama kamu, dasar abg gila, enggak punya sopan santun, lagian saya bukan kakek-kakek"
"saya gak ada waktu ribut ama anak gila kayak kamu" laki-laki itu segera mengambil tanamannya yang masih bisa diselamatkan lalu pergi meninggalkan wanita cantik itu.
"kamu yang gila, dasar kakek-kakek mesum" wanita itu berteriak kearah laki-laki yang sudah pergi meninggalkannya.
"Non Elma ya?" suara seseorang menyapa wanita itu.
"iya saya, kamu siapa?"
"saya pak Tono, sopir yang disuruh ibu jemput non"
"ok, ini bawakan koper saya" wanita itu kemudian melenggang mengikuti sopir ke parkiran.
****
"papa" Zahra berteriak dalam mobil memanggil papanya yang berdiri didekat tempat penjemputan.
Papanya tersenyum dan berjalan ke arah mobil mas Udin, "papa udah nunggu lama?" Zahra keluar dari mobil mencium punggung tangan papanya lalu membantu membawakan barang yang dibawa papanya, mas Udin memasukan koper papa di bagasi.
"kok tanamannya rusak gini pa?" Zahra melihat tanaman yang dia ambil dari tangan papanya udah tidak berbentuk.
"tadi ada anak gila yang menginjaknya" papa duduk di depan disebelah mas Udin.
"wah sayang sekali, ini kan tanaman langka yang kita belum punya, mudah-mudahan masih bisa diselamatkan"
Zahra sibuk dengan tanaman yang rusak sampai lupa ada Zivana disebelahnya, "apa kabar om?" Zi menyapa papa Alex juga tidak memperhatikan ada Zi di dalam mobil.
"loh Zi ikut juga, maaf om sampai enggak liat" Zi mencium punggung tangan papa Alex.
"ini kita langsung ke rumah pak?" mas Udin menanyakan sebelum meninggalkan area bandara.
"kita makan dulu aja gimana? Kalian belum makan kan"
"belum pa, tadi makan sing kita batal gara-gara Zi..." belum selesai Zahra bicara Zi menutup mulut Zahra dengan tangannya.
"Zi kenapa, bertengkar lagi?" papa Alex mengatakan dengan tersenyum.
"ya gitu deh pa, Zi menyalurkan bakat terpendamnya menjadi pegulat" Zahra tersenyum sementara Zi menahan malu karena merasa terkesan menjadi cewek bar-bar.
"enggak apa-apa mbak Zi, siapa tau bisa ikut jadi peserta WWE smackdown cewek" mas Udin ikut menggoda Zi.
"apaan sih pada enggak bener semua" Zi cemberut dua centi bibirnya.
"tenang Zi, om yakin kok Zi gadis baik dan manis" papa Alex memberi semangat pada Zi.
"makasi om, om emang paling baik sama Zi"
Setelah beberapa saat mas Udin membelokan mobil ke parkiran sebuah rumah makan khas sunda dengan model saung-saung yang dikelilingi kolam ikan.
"kalian udah sholat ashar?"
"udah pa tadi sebelum pulang kita sholat di sekolah"
"ya udah, papa mau sholat kalian pesan aja makanannya"
"siap pa" Zahra dan Zi segera memesan makanan dan minuman.
Ketika papa Alex kembali dari sholat makannya belum datang, hanya minuman saja yang sudah diantar.
"kalian hari sabtu minggu besok libur atau ada kegiatan disekolah?"
"weekend ini kami tidak ada kegiatan disekolah om" Zi yang menjawab karena Zahra sibuk memberi makan ikan bersama mas Udin.
"nanti ikut papa gimana, mau enggak?"
"papa mau cari tanaman di salah satu pulau di kepulauan seribu, entar kita camping semalam disana"
"mau pa, mau, udah lama kita enggak camping, kamu mau ikut kan Zi?"
"pasti lah" Zi menjawab dengan penuh antusias.
"papa bawa oleh-oleh apa buat kami?" Zahra mengelayut manja dilengan papanya.
"ada lah... nanti aja, oleh-olehnya di dalam koper"
"asik" dua gadis ABG itu bersorak bersama.
Waktu hampir magrib ketika mereka meninggalkan rumah makan, jalanan yang sedikit macet karena bertepatan dengan para pemburu rupiah pulang.
"kita antar pulang Zi dulu aja" papa meminta Mas Udin mengarahkan mobilnya ke rumah Zi.
Sampai dirumah Zi, papa melihat dua gadis yang duduk dibelakang itu ternyata sama-sama tertidur.
"pantesan tidak ada suara berisik, ternyata baterainya low bat" papa Alex tersenyum melihat mereka berdua tidur bersandar di kursi dengan kepala sama-sama mendongak ke atas dan mulut terbuka, sungguh tidur pun mereka begitu kompak.
"Zi, bangun... Udah sampai rumah kamu" papa Alex menggoyang tangan Zi.
Zi terbangun dan diikuti Zahra yang juga terbangun, "maaf om saya ketiduran"
"enggak apa-apa"
"makasi ya om" Zi mengambil punggung tangan papa Alex dan memciumnya.
"salam buat Oma kamu" ucap papa Alex sebelum Zi keluar dari mobil.
"iya om... Za aku pulang dulu ya" Zi berpamitan pada sahabatnya itu dan keluar dari mobil.
Mas Udin segera melajukan mobil setelah Zi keluar.
"dari mana aja kamu?" suara yang tidak Zi kenal tiba-tiba terdengar ketika dia hendak naik tangga ke kamarnya.
Zi menoleh ke arah pemilik suara itu yang ternyata sedang duduk di meja makan dan Zi dapat melihat dengan jelas siapa wanita itu, "bukan urusan kamu" Zi kembali melangkahkan kakinya.
"ZIVANA" wanita itu berteriak menyebut nama Zi sambil berdiri mendekati tangga.
Zi tersentak mendengar wanita itu berteriak keras, dia membalikan badan berjalan turun mendekati wanita itu, "tidak usah berteriak memanggil saya, saya tidak tuli" Zi mengatakan dengan nada amarah sambil menunjuk telinganya.
"kamu dari mana saja selarut ini baru pulang sekolah" wanita itu dengan gaya ketusnya seakan mengintimidasi Zi.
"bukankah tadi saya sudah jawab bukan urusan kamu" mata Zi menatap tajam ke arah wanita itu.
"Zivana, jangan kurang ajar kamu, mami bertanya baik-baik"
"harusnya Zi yang bertanya, dari mana aja kamu selama ini?" Zi mengatakan dengan raut muka sinis.
Wanita itu diam, namun terlihat raut mukanya menahan marah, "jangan makin kurang ajar kamu, aku mami kamu, harusnya kamu berlaku sopan pada mami"
"apa layak kamu aku panggil mami, bahkan mendengar suara kamu aja aku sudah lupa" Zi semakin terlihat tidak suka pada wanita yang melahirkannya itu.
"Zivana" wanita itu sudah kehilangan kesabarannya dan tangannya hendak menampar muka Zi.
"Elma" panggilan itu menghentikan tangan mami Elma yang hendak mendarat di wajah Zi.
Seorang wanita separuh baya mendekat ke arah Zi dan maminya, "jangan pernah kamu memukul Zi, atau mama yang a, akan ganti memukulmu"
"biarkan mama, biar dia puas menyakiti Zi" Zi menantang mendekatkan wajahnya ke arah mami Elma, "ayo pukul yang keras, biar lengkap kamu menyakiti hati dan raga saya"
"mama terlalu memanjakannya hingga dia jadi anak kurang ajar kayak gini"
"Zi anak yang baik, mama bahkan tidak pernah melihat Zi kurang ajar pada mama dan papa"
"Zi mau sholat magrib dulu ma, waktunya sudah hampir habis" Zi berpamitan pada mama sebelum naik menuju kamarnya tanpa memperdulikan mami Elma.
"lihat, apa nampak Zi anak yang tidak baik? Dia selalu ingat sholat, mama tidak ingin mengulang kesalahan yang sama ketika salah mendidik kamu dulu" mata mama seperti berkaca-kaca.
"terserah mama, namun bagi aku anak itu sangat tidak sopan padaku"
"itu karena bentuk kekecewaan dia terhadap kamu yang tidak pernah ada sama sekali buat dia"
"mama tau sendirikan, saya sibuk dengan sekolah dan bekerja"
"jangan kamu pikir mama tidak tau apa yang kamu lakukan disana... Sudahlah Elma, mama capek...mama mau istirahat dulu, mama harap kamu tidak pernah menyakiti Zi" mama kemudian meninggalkan mami Elma yang masih terdiam berdiri ditempatnya.
......Apa yang kamu tanam hari ini, maka itu yang akan kamu tuai esok hari......
......* * *......