
"Hai girl, boleh mami masuk?" Elma mengetuk pintu kamar Zi yang sedikit terbuka.
"Assalamualaikum mam," Zi sedikit banyak ingin merubah Elma mulai hal yang sederhana.
"Waalaikumsalam, sorry mami lupa mengucapkan salam," Elma duduk di tepi ranjang sambil mengamati Zi yang sibuk mengerjakan tugas di meja belajarnya.
"Tumben mami pulang cepat, biasanya lepas magrib baru sampai rumah," Zi tetap fokus dengan pekerjaan rumahnya.
"Hari ini pekerjaan mami tidak seberapa banyak....Zi lagi bikin apa?" Elma berdiri mendekati Zi dan melihat apa yang dikerjakan Zi.
"Ada tugas menggambar tokoh di film kartun, susah banget dari tadi Zi bikin enggak jadi-jadi," anak itu tampak frustasi dengan gambarnya yang terlihat kotor karena terlalu banyak di hapus.
"Zi ingin gambar tokoh kartun apa?" Elma menarik kursi lain dan duduk disamping Zi.
"Pengen membuat gambar putri salju," Jika dilihat gambarnya sama sekali jauh dari wujud putri salju.
Elma melihat ke arah buku gambar Zi, nampaknya bakat menggambarnya sama sekali tidak menurun pada putrinya itu, "Coba mami betulkan gambarnya biar lebih terlihat karakter putri saljunya," Elma mengambil satu pensil Zi lalu mulai sedikit membuat goresan dan menghapus beberapa goresan yang telah dibuat Zi.
"Sebenarnya gambar Zi sudah bagus, cuman kurang rapi dan bikinnya jangan langsung tebal, tipis-tipis dulu aja biar kalau dihapus tidak bikin kotor," dengan telaten Elma mengajari Zi menggambar, atau tepatnya Elma yang mengambil alih tugas Zi.
"Mami pandai menggambar ya?" Zi nampak kagum dengan cara Elma mengoreskan pensil.
"Dari kecil mami hobi menggambar, hanya..." Elma menghentikan ucapannya, karena dia tidak ingin nantinya Zi menyalahkan mama yang tidak pernah memberikan jalan bagi Elma untuk mengembangkan bakatnya.
"Hanya apa?" Zi penasaran dengan ucapan Elma yang seakan digantung.
"Hanya mami waktu itu tidak menyadari mami punya bakat menggambar...udah nih, bagus enggak?" Elma menyelesaikan skesta gambarnya.
"Bagus banget mi, entar guru menggambar Zi pasti tau kalau bukan Zi yang menggambar," anak bermata sipit itu tertawa lirih.
"Bilang aja mami saya yang bantuin... apa masih Mr. Nugroho yang mengajar menggambar?"
"Iya, kok mami tau?"
"Kamu lupa mami kan juga alumnus sana... besok bilang saya dibantu gambarnya sama mami saya... Mr. Nugroho dapat salam dari Elma, entar pasti dia kenal mami," Elma ingat Mr. Nugroho waktu itu masih sangat muda, dia sempat sedikit menaruh hati pada Elma.
"Ok, besok Zi sampaikan salam mami, tapi mami jangan naksir Mr. Nugroho," Zi seperti masih belum rela Elma menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.
Elma tertawa lirih, "Tenang Zi, ketika Mr. Nugroho muda aja mami tidak tertarik apalagi sekarang dia udah tua,"
"Tapi kata anak-anak Mr. Nugroho itu cakep loh mi, gayanya masih kayak anak muda banget,"
"Tapi kayaknya dia bukan selera mami deh... oiya, mami lupa...mami punya ini buat kamu," Elma menyerahkan tiket yang diberikan Alvin.
"Wah, tiket Trens.. banyak banget, mami beli?" Zi seakan tidak percaya melihat tiket permainan berjumlah sangat banyak, rasanya dia bisa puas bermain disana hingga satu tahun.
"Mami dikasih teman mami,"
"Siapa?" seketika Zi meletakan tiket di meja dan memandang penuh tanya pada Elma.
"Om Alvin," Elma menjawab tanpa ragu, meskipun dia tau pasti Zi akan bereaksi tidak suka.
"Zi enggak mau, kembalikan aja tiketnya." wajah Zi berubah menjadi kecewa, menggeser tiket ke arah Elma, dia kemudian kembali pura-pura sibuk menggoreskan pensil di buku gambarnya.
"Memang kenapa tidak mau, Om Alvin memberi dengan ikhlas, bahkan tadi dia titip salam buat Zi," Elma mencoba menjelaskan dengan tutur kata yang halus.
"Jadi selama ini mami masih bertemu dengan dia?" kobaran kemarahan terlihat di mata Zi.
"Mami sama om Alvin itu hanya berteman, mami tetap memegang janji mami pada Zi untuk tidak menikah lagi, percayalah saat ini tujuan hidup mami hanya untuk membahagiakan kamu,"
"Tapi buktinya masih menemui laki-laki itu, itu tandanya mami ingin menjalin hubungan dengan dia," sungguh Zi merasa kecewa dengan maminya.
"Zi, dengarkan mami.... berteman bukan berarti menjalin hubungan lebih, mami juga butuh teman," menggeser duduknya lebih dekat dengan kursi Zi, Elma mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Kan masih banyak teman mami yang lain, tidak harus dia, Zi dapat melihat om Alvin itu suka sama mami,"
"Baiklah kalau memang Zi tidak ingin mami bertemu om Avin, mami akan menghindarinya, tapi Zi terima tiket ini ya,"
"Enggak mau, Zi bisa beli sendiri... mami buang aja atau berikan pada orang lain," ternyata sifat keras hati Elma menurun ke Zi.
"Baiklah, nanti mami kasih ke Zahra aja," Elma mengambil tiket itu dari meja.
"Berikan pada orang lain bukan pada Zahra," mata sipit Zi berusaha melotot menatap Elma namun jadi terkesan lucu.
Elma tersenyum melihat ekspresi lucu wajah Zi.
"Kenapa mami tersenyum,?"
"Kamu lucu kalau berusaha melotot gitu, mami jadi ingat papi Kevin.. mata sipitnya papi Kevin seakan memberi kesan lucu kalau sedang marah," Elma tersenyum.
"Apa papi dulu suka marah sama mami?" wajah Zi berubah menjadi sendu.
"Mami jangan bohong, tadi mami bilang papi lucu kalau marah,"
"Maksud mami, waktu papi marah sama temannya... Zi pernah ke makam papi?" Elma berusaha mengalihkan pembicaraan.
Zi hanya mengeleng tanpa ada jawaban dari mulutnya.
"Bagaimana jika besok sabtu kita mengunjungi makam papi," bagaimanapun buruknya Kevin padanya namun Elma ingin tetep Zi mengenang Kevin sebagai ayah yang baik.
"Iya" Zi menjawab dengan suara lirih.
"Nanti kita juga kunjungi Oma dan Opa, sudah lama kan Zi tidak pernah bertemu Oma dan Opa?"
"Zi tidak suka bertemu mereka," wajah Zi berubah menjadi murung.
"Kenapa?"
"Mereka selalu memaksa Zi tinggal di rumah mereka, Zi enggak mau."
"Zi, Oma dan Opa itu sama kayak mama dan papa, mereka juga sayang sama Zi, hanya mungkin karena Zi belum terbiasa dengan mereka jadi Zi tidak tau kalau mereka sangat sayang sama Zi."
"Baiklah, Zi mau bertemu dengan mereka tapi Zi enggak mau kalau disuruh menginap dirumah mereka,"
"Emang kenapa enggak mau menginap disana? Rumah Oma dan Opa kan bagus,"
"Pokoknya Zi enggak suka, mami jangan memaksa Zi menginap disana,"
"Ok, mami enggak memaksa Zi," Elma berdiri dan merangkul Zi dari belakangan, "Mami sayang sama Zi, mami akan berusaha berbuat yang terbaik untuk Zi"
Terdengar adzan magrib dari ponsel Zi, anak itu memasang alarm adzan, "Beneran mami sayang sama Zi?"
"Kenapa tanya begitu, ya pasti jawaban mami bener-bener sayang Zi."
"Kalau mami bener-bener sayang Zi, sekarang mami ambil wudhu dan sholat sama Zi."
Elma sedikit tersentak dengan omangan Zi, selama ini hati Elma seakan masih tertutup untuk mendekatkan diri pada Tuhan, "Mami tidak pernah sholat, mami tidak tau cara Sholat."
"Zi akan mengajari mami." sungguh Elma seperti mendapat tamparan keras, seharusnya dia yang mendidik anaknya untuk mengenal agama, namun ini justru kebalikannya anaknya yang membimbingnya untuk mengenal Tuhan.
Elma sungguh sangat beruntung, setidaknya Zi memiliki pedoman agama yang kuat, tidak seperti dirinya yang dari kecil tidak pernah dikenalkan akan pentingnya agama, sepertinya Zahra yang banyak mengenalkan Zi akan nilai-nilai agama, karena mama dan papa tidak mungkin mengenalkan Zi tentang agama.
Zi dengan telaten mengajari Elma sholat, berkali-kali Elma salah dalam melakukan gerakan dan bacaan sholat membuat pembelajaran sholat itu disertai tawa antara mereka.
"Susah banget bacaannya, mami gak bakalan hapal deh," Elma seperti putus asa dengan dirinya yang susah sekali menghapal bacaan sholat.
"Semangat lah mi, kalau dibaca berulang-ulang pasti nanti lama-lama mami hapal,"
Menatap begitu antusiasnya Zi membawa dirinya dalam kebaikan, Elma tiba-tiba memeluk Zi, "Terima kasih Zi sudah jadi anak yang baik, maafin mami jika belum bisa menjadi mami yang baik."
Zi menerima pelukan Elma, mereka berdua tenggelam dalam suasana dan perasaan haru, selama sepuluh tahun mereka terpisah selama itu pula tidak pernah ada pelukan hangat antara mereka. Menangis bersama, mereka ingin membuat hati mereka semakin terikat satu sama lain.
****
Sabtu pagi seperti rencana mereka berdua, Elma dan Zi mengunjungi makam Kevin. Berbekal bertanya pada petugas makam Elma dapat menemukan makam Kevin, dia terakhir ke makam Kevin sehari sebelum dirinya berangkat ke luar negeri.
Mereka berdua duduk bersimpuh di makam Kevin yang terletak di kompleks pemakaman elit, berdoa dengan khusuk, meskipun berbeda keyakinan Zi tetap ingin mendoakan papinya.
Selepas dari makam, Elma melajukan mobilnya ke arah perumahan mantan mertuanya itu, karena sudah lama dia tidak pernah mengunjungi rumah orang tua Kevin, beberapa kali dia salah rumah, namun akhirnya sampai juga mereka di rumah mewah dengan pagar tinggi yang di jaga dua orang satpam.
"Siang pak, apa Bu Cristine ada?" Elma sengaja tidak memberitahu kedatangannya pada mantan ibu mertuanya itu.
"Maaf mbak dari mana, apa sudah ada janji?" satpam itu bertanya dengan sopan.
"Bisa disampaikan saya Elma dan Zi ingin bertemu,"
"Baik bu," satpam itu lalu berlalu menuju pos satpam.
Beberapa saat kemudian satpam itu menghampiri mobil Elma kembali, sedang satpam satunya membuka pintu gerbang, "Silakan masuk mbak,"
"Terima kasih pak," Elma melajukan mobilnya masuk ke pelataran rumah mewah itu.
Berdua mereka berjalan beriringan menuju teras rumah, tangan Zi yang digenggam Elma terasa begitu dingin, sepertinya ada persaan tidak nyaman yang dirasakan Zi, begitu pula Elma bayangan kenangan buruk akan rumah itu sepuluh tahun lalu, namun Elma mencoba menepis segalanya, dia hanya ingin bersilaturahmi.
Sampai diteras rumah seorang wanita cantik yang usianya sedikit lebih tua dari Elma, menyambut mereka dengan tatapan sinis dan tidak bersahabat, "Kalian kesini mau meminta bagian warisan?"
Sungguh penyambutan yang membuat Elma dan Zi terhentak, hilang sudah rasa ingin memperbaiki segalanya.
...Luka terdalam terkadang bukan karena pukulan tapi karena perkataan yang tidak seharusnya lontarkan...
...__****__...