
POV Zivana
Sebenernya mami sudah ingin mengajakku pergi meninggalkan rumah itu ketika sambutan tante Eliza kakak papi Kevin yang begitu sinis, namun Oma Cristine keburu keluar dan melihat kedatangan kami.
Oma begitu bahagia aku datang berkunjung, mengajak aku duduk di ruang keluarga, terus menggenggam tanganku seakan tidak mau melepaskan.
"Makin besar kamu makin mirip Kevin," Oma menatapku dengan raut muka yang bahagia. Tapi entah mengapa aku merasa mereka tidak menyayangiku dengan tulus.
Oma menunjukan foto papi waktu seusiaku, benar memang mirip denganku, "Liat, mirip kamu kan Zi, matamu, hidungmu, bibirmu, semua mirip Kevin, tidak ada yang kamu turun dari mami kamu," ucap Oma dengan nada sinis, dan mami hanya tersenyum santai.
Aku berulang kali memberi kode pada mami untuk pamit pulang, tapi sepertinya Oma tidak rela kami cepat pulang, akhirnya aku membuat alasan aku ada ekskul di sekolah, dan terpaksa Oma mengijinkan aku pulang.
"Kamu harus sering ke sini, kalau perlu setiap hari sabtu kamu ke sini, entar biar sopir Oma yang jemput kamu," aku hanya bisa tersenyum mendengar permintaan Oma.
****
"Lega rasanya," Zi menarik nafas lega ketika masuk ke dalam mobil.
Elma hanya tersenyum melihat putrinya yang seperti lepas dari perangkap.
"Apa dulu mami tinggal dirumah Oma?" meninggalkan rumah yang tidak memancarkan aura kebahagiaan membuat Zi seperti mendapatkan oksigen.
"Tidak, papi memilih mengajak mami tinggal di apartemen, kami ingin belajar mandiri,"
"Beruntung mami tidak tinggal di rumah Oma, bayangin tiap hari harus menghadapi mak lampir," Zi tertawa lirih sambil menutup mulutnya.
"Siapa mak lampir?"
"Oma"
"Enggak boleh gitu Zi, bagaimanapun Oma adalah ibunya papi, nenek Zi, jadi harus dihormati" Elma menatap sekilas ke arah Zi.
"Iya sih, cuman sebel banget liat orang cerewet macam Oma gitu,"
"Zi harus sabar menghadapi orang tua seperti Oma yang terkadang sangat cerewet, karena mereka merasa lebih berpengalaman, merasa melindungi anak cucunya, atau kadang karena sifat mereka kembali seperti anak kecil,"
"Entar kalau udah tua Mami cerewet juga enggak?"
"Kalau misal Mami cerewet gimana?" Elma balik bertanya pada Zi, dia ingin tau seberapa besar rasa sayang anak itu padanya.
"Ya enggak apa-apa, paling Zi taruh Mami di panti jompo," Zi tertawa, membuat Elma mencibir cemberut.
"Ingat Zi surga itu ditelapak kaki Ibu, jadi kalau Zi pengen masuk surga harus sayang ama Mami," Elma tersenyum, merasa diatas angin, tapi sebenernya Elma tidak pernah menuntut Zi untuk menyayanginya karena takut dicap sebagai anak durhaka, dia ingin Zi menyayanginya sebagaimana dia menyayangi Zi.
"Iya sih, tapi kenapa Mami enggak pernah akur sama Mama?"
"Bukannya tidak akur, tapi berbeda pendapat, seperti Zi ama Mami kan sering berbeda pendapat, kalau enggak berbeda pendapat malah enggak seru, yang penting kan kita saling menyayangi," Elma mengusap lembut rambut Zi, apa yang kamu tunjukan itu yang akan ditiru anak.
Mereka berdua memutuskan jalan-jalan ke mall. Hari sabtu ini benar - benar dihabiskan mereka dengan menikmati kuliner dan belanja.
Ketika melewati restoran steak Zi melihat sahabatnya sedang duduk menikmati makanan di dalam restoran, "Mami kelihatannya itu Zahra,"
"Mana?" Elma mencoba melihat kedalam restoran.
"Yang duduk di pojokan itu loh mi, aku sapa Zahra ya... Mami mau ikut masuk?"
"Mami enggak ikut masuk ya, Mami mau cari buku buat referensi design Mami, entar kalau Zi udah selesai sama Zahra, Zi telepon Mami aja," setelah memastikan Zi masuk ke restoran dan bertemu Zahra, Elma berjalan kearah toko buku yang letak dua lantai diatas restoran steak.
Sementara Zahra senang sekali begitu mengetahui Zi menghampirinya, "Kamu sendirian ke sini Zi?"
"Ya enggak lah, aku sama Mami," Zi mengambil duduk di sebelah Zahra.
"Terus mana Mami kamu?" Zahra melihat ke arah sekeliling restoran.
"Mami ke toko buku, ini minum kamu kan, aku minta ya," Zi mengambil gelas berisi orange juice dan meminumnya.
"Kamu mau pesen minum, biar aku pesankan,"
"Enggak usah, nanti aja kalau haus lagi.... emang kamu kesini sama siapa?"
Belum sempat Zahra menjawab papa Alex datang dan menyapa Zi, "Wah ada Zi,"
Zi menatap Papa Alex dengan tatapan bingung, berbisik ke telinga Zahra, "Ini siapa?"
Zahra seketika tertawa, kemudian menutup mulutnya ketika beberapa tamu restoran menatap ke arahnya, "Emang kamu enggak kenal beneran,"
Zi menggeleng pelan sambil terus mantap Papa Alex yang ikut menertawakan kebingungan Zi.
"Ini Papa Zi.... kamu pasti pangling ya, Papa jadi cakep kan?" Zahra masih tertawa lirih sambil memeluk Papa Alex dari samping.
"Siapa itu Gong Yoo?" Papa Alex memasang muka bingung.
"Pemain drama Korea, idola Mami,"
"Zi mau pesan makan?" Papa Alex bertanya pada Zi.
"Enggak om, terima kasih... tadi Zi sudah makan sama Mami,"
"Mana Mami kamu?" Alex tidak melihat orang lain selain Zi.
"Ke toko buku di atas Om,"
"Zahra mau ikut Papa cari bahan untuk Lab enggak, atau mau disini aja sama Zi?"
"Zahra tunggu disini aja ama Zi Pa," Zahra sudah pada posisi nyaman karena wifi di restoran itu lancar sehingga dia lebih betah.
"Ya sudah, Papa tinggal sebentar ya, nanti kalau kalian udah bosan di sini telepon Papa aja." Alex keluar dari restoran.
"Om Alex kenapa tiba-tiba berubah penampilan gitu?"
"Aku yang make over Papa, biar terlihat keren,"
"Emang kamu enggak takut?, kalau Om Alex jadi keren gitu pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar Papa kamu?"
"Ngapain takut, justru aku ingin Papa nikah lagi," Zahra menjawab santai sambil menikmati french-fries.
"Whats?... Emang kamu enggak takut punya Ibu tiri, entar kayak dicerita sinetron kalau ibu tiri itu kejam," Zi membayangkan betapa ngerinya kisah ibu tiri.
"Sejak kapan kamu suka nonton sinetron," Zahra menertawakan sahabatnya itu.
"Aku aja ogah kalau Mami aku nikah lagi, entar kalau nikah lagi pasti Mami perhatiannya pada suaminya dan bayangin jika aku punya Papi baru yang enggak sayang ama aku,"
"Emang kamu enggak kasihan ama Mami kamu?"
"Ngapain kasihan, Mami udah punya aku enggak perlu orang lain untuk menemaninya."
"Kalau misal Mami kamu menikah sama orang yang sayang sama kamu, apa kamu masih enggak setuju mami kamu menikah lagi?"
"Mana ada orang yang menyayangi aku dengan tulus, pasti mereka menyayangi aku karena ada pamrih karena ingin mendapatkan Mami aja,"
"Ada kok orang yang menyayangi kamu dengan tulus." Zahra tersenyum ambil memainkan sendok yang terletak diatas piring yang sudah tidak ada isinya.
"Siapa?" Zi mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra, dia penasaran dengan perkataan Zahra.
"Papa,"
"Maksud kamu?"
"Papa ku, Papa Alex," Zahra tersenyum.
Zi nampak berfikir keras, "Kamu mau Mami aku nikah sama Papa kamu gitu?" Zi masih seperti belum yakin dengan perkataan Zahra.
"Iya," Zahra mengangguk dengan antusias, "Tapi itu kalau kamu setuju,"
"Kalau ternyata Papa kamu enggak mau sama Mami aku gimana? Sepertinya Mami aku bukan cewek tipe Papa kamu,"
"Kalau Papa gampang, itu urusan aku, justru Mami kamu apa mau sama Papa aku? Papa kan udah berumur Mami kamu masih muda banget."
"Ya nanti aku coba ngobrol sama Mami pelan-pelan,"
"Senang ya Zi kalau kita beneran jadi saudara, aku punya Mama dan kamu punya Papa, kita bisa tinggal satu rumah, kita bisa sekamar berdua, bercerita sepanjang malam." baru membayangkan saja dua gadis itu sudah sangat senang.
"Iya, semoga misi cinta kita ini berhasil," Zi tersenyum penuh harap.
Sementara di toko buku Elma sibuk mencari buku, beberapa buku telah dia dapatkan dan diletakkan di keranjang yang dia bawa. Kali ini Elma menuju rak buku tentang tanaman, Tante Weni berpesan untuk mencari buku tentang tanaman langkah, karena pesanan disain Pak Emier bertema tanaman langkah, melihat buku yang diinginkannya ada di atas Elma mencoba mengambilnya dengan berjinjit, saat mendapatkannya buku yang cukup tebal itu malah lepas dari tangannya dan jatuh dengan sempurna kebelakang Elma.
"Aduh..." suara yang seperti kesakitan bertepatan dengan buku yang melayang di belakang Elma.
Elma menoleh ke belakang, dilihatnya seorang laki-laki menunduk sambil memegangi kepalanya, "Maaf pak, saya tidak sengaja, saya enggak tau kalau ada orang di belakang saya," Elma mencoba meminta maaf.
Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan pandangan mereka saling bertemu, "Kamu,"
"Pak Emier," mereka berdua saling menunjuk.
...Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai." (Ali bin Abi Thalib)...
...___****___...