Merger Of Love

Merger Of Love
Sejuta Keraguan



Seharian Zahra mengurung diri di kamar, berharap papanya akan merasa iba padanya karena tidak mau makan, sebenarnya perutnya terasa sangat lapar tapi demi menjalankan misi menyatukan papanya dan maminya Zi dia harus bertahan.


Sampai malam menjelang pukul sembilan Papa Alex tidak juga menemui Zahra untuk membujuknya makan, padahal biasanya papanya jika di rumah selalu menyambutnya pulang sekolah. Akhirnya dengan menahan lapar Zahra tertidur, ketika adzan subuh membangunkannya perut Zahra terasa sakit, berlari ke kamar mandi Zahra memuntahkan isi perutnya.


"Zahra, kamu kenapa?" Papa Alex yang hendak mengajak Zahra subuhan berjamaah melihat Zahra berdiri didepan wastafel sambil mengelap mulutnya.


"Kamu sakit?" Alex mengusap rambut Zahra.


Zahra terdiam lemas, keringat dingin bercucuran dari keningnya, dengan digandeng papanya dia melangkah keluar dari kamar mandi dan berbaring di ranjangnya kembali.


"Papa suruh Bik Yati bikinkan teh panas dulu ya," Alex lalu turun ke bawah, meminta Bik Yati membuatkan teh panas dan dia bergegas sholat subuh.


Setelah sholat subuh Alex kembali masuk ke kamar Zahra, dilihatnya Bik Yati duduk di pinggir ranjang sambil memijat kaki Zahra, wanita yang sudah bekerja dengan keluarga Alex lama itu sangat menyayangi Zahra.


"Sepertinya Kakak Zahra masuk angin, kemarin dari pulang sekolah enggak makan" Bik Yati berbicara pelan sambil tetap memijit kaki Zahra.


"Kenapa enggak makan?" Alex nampak terkejut mendengar penjelasan Bik Yati.


"Sudah saya tawarin makan namun Kakak Zahra enggak mau pak,"


"Ya sudah, sekarang tolong Bik Yati bikinkan bubur buat Zahra," Alex tau pasti ada yang tidak biasa dengan anaknya dan mereka perlu bicara berdua.


Alex menutup pintu kamar Zahra setelah Bik Yati keluar lalu duduk di pinggir ranjang Zahra yang terlihat tidur membelakanginya.


"Ada apa, tidak biasanya anak Papa merajuk seperti ini," Alex mengusap rambut Zahra dengan lembut.


Zahra tetap diam dan masih memunggungi papanya, Alex terdiam mencoba mengingat apa dia telah melakukan kesalahan, "Maafkan Papa kalau mungkin Papa ada salah, kemarin Papa memang sibuk, seharian ada Audit dari lembaga Akreditasi, Papa enggak sempat bertemu kamu,"


"Maafkan Papa ya," Alex mengusap lembut kepala putrinya itu.


"Zahra sebel sama Papa, sebel banget," Zahra menutup kepalanya dengan bantal.


Alex semakin bingung, anaknya bukan tipe anak yang suka merajuk, "Papa harus bagaimana, Papa kan udah minta maaf,"


"Untuk menembus kesalahan Papa, Zahra mau apa entar Papa belikan... mau merchandise BTS terbaru, gimana?"


"Enggak mau," Zahra tetap dalam mode merajuk.


"Zahra pengen apa entar Papa belikan, asal Zahra maafin Papa ya,"


"Beneran Papa mau kasih yang Zahra mau?" Zahra bangun dari tidurnya dan menatap ke arah papanya.


Alex mengangguk sambil tersenyum pada Zahra, "Papa akan turuti semua kemauan putri papa yang cantik ini," Alex memeluk Zahra.


"Zahra minta Papa menikah sama Tante Elma," Zahra mengatakan sambil memeluk erat papanya.


"Apa?" Alex melepaskan pelukannya dari Zahra.


"Papa tadi sudah janjikan mau menuruti semua permintaan Zahra,"


"Tapi bukan untuk yang satu itu,"


"Emang apa susahnya Papa menikah dengan Tante Elma, Zahra sudah mengenal baik Tante Elma, bahkan Tante Elma sangat sayang sama Zahra,"


"Zahra... Menikah itu bukan main-main, bukan untuk sehari dua hari tapi untuk seumur hidup," Alex berusaha memberi pengertian pada Zahra.


"Sekarang Zahra tanya Papa, kenapa Papa waktu itu kenalkan Zahra pada Tante Elma?"


"Eeeee... karena Papa..." Alex seakan tidak ada kemampuan menjawab pertanyaan Zahra.


"Karena Papa suka Tante Elma kan," Zahra tersenyum.


"Bukan seperti itu," Alex mencoba berkelit dengan pernyataan Zahra.


"Papa enggak bisa membohongi Zahra, Papa bahkan semangat ingin Zahra mengenal wanita yang ternyata Tante Elma,"


"Ok, Papa akui awalnya Papa memang ingin menjalin hubungan serius dengan wanita, dan memang Tante Elma yang Papa anggap cocok buat kamu, tapi.." Alex berpikir sejenak, tidak meneruskan ucapannya.


Zahra menunggu lanjutan apa yang akan dikatakan Papanya, "Tapi apa Pa?" Zahra semakin penasaran.


"Mungkin Tante Elma cocok dengan kamu, tapi tidak dengan Papa... terlalu banyak hal yang membuat kami tidak mungkin bisa menjadi pasangan,"


"Tapi Papa suka kan dengan Tante Elma?"


Alex hanya diam, dia bingung harus berkata apa, jika bisa mengaku dia memang suka pada Elma sejak pertama berkenalan di butik Weni namun hatinya harus mengubur rasa suka itu karena dia tidak mungkin menyukai anak sahabatnya sendiri yang lebih pantas jadi anaknya.


"Papa," Zahra membuyarkan lamunan Alex.


"Papa harap Zahra bisa paham maksud Papa," wajah Alex penuh permohonan pada anaknya.


"Zahra hanya mau Papa menikah sama Tante Elma, kalau Papa enggak bisa menuruti kemauan Zahra berati Papa enggak sayang sama Zahra," kembali anak cantik itu memasang muka masam.


"Zahra," Alex sedikit meninggikan suaranya.


"Selama ini Zahra tidak pernah meminta sesuatu diluar keperluan Zahra... dan sekarang Zahra hanya minta Papa menikah dengan Tante Elma saja Papa enggak mau... Zahra minta ini juga demi kebahagian Papa, Zahra yakin kita bisa menjadi keluarga yang utuh,"


"Elma itu anak teman Papa, enggak mungkin Papa menikah dengan orang yang pantas jadi anak Papa," akhirnya Alex menjelaskan alasannya tidak mau menikah dengan Elma.


"Bukannya sebelum Papa tau bahwa itu Tante Elma, Papa sudah melihat wanita yang Papa sukai itu jauh lebih muda dari Papa,"


"Iya, Papa tau dia lebih muda dari Papa tapi Papa pikir tidak selisih begitu jauh dengan Papa,"


"Intinya Zahra ingin Papa menikah dengan Tante Elma, kalau enggak Zahra enggak mau makan,"


Pintu kamar diketuk Bik Yati yang mengantar makanan, dan Alex membukakan pintu kamar Zahra.


"Bawa balik makanannya Bik, aku enggak mau makan," Zahra kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang dan menutup mukanya dengan bantal.


"Terserah kamu mau makan atau tidak... Papa capek," Alex sedikit berteriak sambil bergegas keluar dari kamar Zahra.


Bik Yati terkejut melihat ayah dan anak yang saling berteriak tidak seperti biasanya, diletakannya nampan yang berisi makanan di atas nakas.


"Kakak kenapa marahan ama Papa, enggak seperti biasanya seperti ini." Bik Yati dengan suara penuh kehati-hatian mendekati Zahra.


"Udah Bik enggak usah ikut-ikut, bawa aja makanan itu, Zahra enggak mau makan, biar Zahra mati sekalian, percuma juga Papa enggak sayang sama Zahra," gadis ABG itu berbicara sambil menangis.


"Sudah sana Bik Yati keluar, Zahra pengen sendiri," Zahra kembali membenamkan mukanya di atas bantal sambil menangis.


Bik Yati semakin bingung, karena tidak biasanya majikannya itu merajuk sampai seperti itu, dengan langkah lemas Bik Yati terpaksa keluar dari kamar Zahra.


****


Seharian Zahra tetap tidak mau keluar dari kamarnya, dia pun tidak mau makan makanan yang diantar Bik Yati, anak itu benar-benar menginginkan Papanya menikah dengan Elma.


Bagaimanapun Alex sangat kawatir dengan anak semata wayangnya itu, dia dengan sangat terpaksa memasuki kamar Zahra lagi.


"Kamu beneran tidak lapar, ini Papa belikan steak kesukaan kamu," Alex meletakan steak yang baru dikirim itu di atas meja belajar.


Zahra tetap tidak bergeming, posisinya tetap membelakangi Alex, "Jangan seperti ini, kalau kamu sakit yang rugi kamu sendiri, enggak bisa sekolah,"


"Zahra enggak peduli, Papa aja enggak sayang sama Zahra," suara Zahra semakin terdengar lemah.


"Lalu Papa harus bagaimana?" Alex seperti frustrasi menghadapi anaknya.


Zahra membalikan tubuhnya dan menatap ke arah papanya, "Papa cukup memenuhi keinginan Zahra untuk menikah dengan Tante Elma,"


Alex mengambil nafas panjang, rasanya dia berada diantara pilihan yang sungguh sulit, "Ok, Papa akan bicara dulu dengan Tante Elma, karena belum tentu Tante Elma mau menikah dengan Papa," dengan sangat terpaksa Alex mengalah pada anaknya.


"Sekarang kamu makan dulu," Alex menyerahkan steak yang tadi dia pesan untuk Zahra.


Zahra mengangguk pelan, dan menerima makanan yang diberi papanya.


Sementara Zi juga berusaha membujuk maminya, setelah Zahra menelponnya kalau dia sedang berusaha membuat papanya untuk mau menikah dengan maminya, Zi juga berusaha membuat maminya mau menikah dengan papa Zahra.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin Mami menikah, bukannya kamu menentang Mami untuk menikah?" Elma yang sedang membersihkan wajahnya setelah pulang kerja, merasa bingung karena tiba-tiba putri cantiknya itu masuk ke kamarnya dan bilang mami harus menikah.


"Karena kali ini Zi yang menentukan Mami menikah dengan siapa,"


"Emang kamu mau Mami menikah dengan siapa?" Elma menatap ke arah Zi yang duduk bersila di atas tempat tidur Elma.


"Dengan papanya Zahra," Zi mengatakan dengan muka serius.


"Hahahaa....." Elma tertawa sambil mendekati Zi dan duduk disebelah Zi, "Kamu enggak salah milih calon buat Mami?"


"Emang kenapa, Papa Zahra itu baik,"


"Papa Zahra itu seumuran Mama, lebih pantas jadi Papanya Mami dari pada jadi suami Mami,"


"Tapi Om Alex tidak terlihat tua, bahkan terlihat jauh lebih muda dari umurnya,"


"Tapi tetap aja usianya tua Zi, pasti akan banyak perbedaan antara Mami dan Papanya Zahra, dan Mami tidak ingin gagal untuk kedua kalinya, Mami lebih memilih untuk tidak menikah lagi karena sekarang tujuan Mami hanya membuat kamu bahagia," Elma mengusap lembut kepala Zi.


"Bagaimana jika yang membuat Zi bahagia itu memiliki keluarga yang utuh," Zi menunduk matanya mulai berkaca-kaca.


"Apakah kehadiran Mami tidak cukup membuat kamu bahagia, bukannya ada Mama dan Papa juga yang melengkapi hidup kamu,"


"Tapi beda Mi,"


"Bedanya dimana?" Elma mengambil tangan Zi dan menggenggamnya, "Zi, tatap mata Mami,"


Zi menatap mata Elma, tanpa sadar airmata yang dia tahan menetes, "Kamu menangis?" hati Elma seakan teriris melihat anak kesayangannya meneteskan air mata.


"Zi ingin punya saudara seperti Zahra, selama ini Zahra yang selalu melindungi Zi, dan Zi juga ingin punya Papa seperti Om Alex yang selama ini sudah banyak mengajarkan kebaikan pada Zi, jika tidak berteman dengan Zahra belum tentu Zi seperti ini, bisa jadi Zi seperti Mami salah bergaul,"


" Zi... "Elma terkejut dengan ucapan Zi, apa yang diucapkan Zi benar dia salah pergaulan ketika seusia Zi namun Elma tidak menyangka anaknya akan mengatakan itu.


"Maaf, bukan maksud Zi mengungkit masa lalu Mami," Zi tertunduk, dia merasa bersalah mungkin perkataannya menyakiti hati maminya.


"Maafkan Mami ya, Mami bukan contoh yang baik, tapi Mami bangga pada Zi yang mampu belajar dari kegagalan Mami, terima kasih Zi mau menerima Mami dan menjadi anak yang baik," Elma memeluk Zi dengan erat, dia merasa beruntung anaknya tidak seperti dirinya dulu.


"Mami harusnya banyak berterima kasih pada Zahra dan Om Alex,"


"Iya...." Elma menjawab dengan pelan sambil terus memeluk Zi.


****


"Bisa bicara sebentar," suara yang mengejutkan Elma yang berjalan menuju butik setelah memarkir mobilnya di depan butik.


"Pagi Pak, kenapa tidak menunggu di dalam," Elma berusaha tetap menganggap Alex kliennya.


"Saya bukan ingin membicarakan masalah pekerjaan, saya tadi sudah minta ijin Weni untuk mengajak kami berbicara sebentar di cafe depan," ketika baru datang tadi Alex mengirim pesan ke Tante Weni untuk mengajak Elma bicara sebentara, dengan alasan membicarakan anaknya yang ternyata satu kelas dengan anak Elma.


Cafe yang baru buka masih sangat sepi pengunjung, bahkan para pegawainya masih sibuk berbenah, "Apa yang ingin Bapak bicarakan?" Elma seakan ingin segera menuntaskan pertemuan yang membuat mood paginya menjadi buruk.


"Sekarang kita sudah sama-sama tau ternyata kita sudah saling mengenal sebelumnya," Alex nampak bingung memelui pembicaraan.


"Lalu?"


"Saya sama sekali tidak menyangka kalau kamu ternyata anak Rita dan Maminya Zi," kembali Alex diam sejenak.


"Saya bingung harus mengatakan mulai dari mana, dan saya yakin kamu pasti akan tidak setuju dengan apa yang akan saya ungkapkan ini,"


Hati Elma merasa gelisah, dia takut apa yang akan diungkapkan Alex sama dengan yang dibicarakan Zi semalam.


"Bagaimana menurutmu jika kita menikah?" Alex mengatakan dengan suara lemah dan terdengar banyak keraguan.


...***ketika permasalahan sulit untuk dipecahkan, banyak keraguan untuk tetap bertahan ***...


.


.


.


.


Akhirnya bisa up setelah sekian lama berjuang melawan rasa malas untuk menulis. Semoga tulisan receh ini masih bisa dinikmati.