Merger Of Love

Merger Of Love
MAMAAAA...........



POV Elma


Apa yang aku takutkan benar terjadi, Pak Emier yang ternyata Om Alex begitu dulu aku memanggilnya mengajukan permintaan seperti keinginan Zi.


Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang seumuran mama, selama ini aku saja tidak pernah satu frekuensi dengan mama, tidak bisa aku bayangkan menikah dengan orang yang sefrekuensi dengan mama yang ada pasti banyak perbedaan pada kami.


Aku menolak tegas keinganan Zi maupun ajakan Pak Emier, dan sepertinya Pak Emier dapat memahami keputusanku. Keinginan Zi kali ini aku benar-benar tidak bisa mengikuti, walaupun anak itu berusaha keras merayuku, bahkan mama dan papa juga ikut mendukung keinginan Zi.


Sudah satu minggu Zi tidak mau bicara denganku bahkan dia tidak mau aku dekati sama sekali, sepertinya gadis kecilku sedang melancarkan perang dingin demi menggapai keinginannya. Aku berusaha tidak memperdulikannya, bagiku selama Zi masih terlihat sehat aku akan bertahan untuk tidak menuruti kemauannya, ada kalanya Zi dilatih untuk tidak selalu mendapatkan apa yang dia mau.


****


Suasana rumah terlihat sepi ketika Elma memasuki rumah hanya bibi asisten rumah tangga yang nampak sedang sibuk di dapur.


"Sepi banget, pada kemana semua bi?" Elma duduk di kursi yang tidak jauh dari dapur.


"Eh mbak Elma," nampak bibi terlihat sedikit kaget, "Semua pada pergi dari tadi... emang mbak Elma enggak dipamiti?"


"Enggak, apa mereka tidak bilang ke bibi mau pergi kemana?" Elma berdiri mendekat pada bibi.


"Enggak mbak,"


"Ya sudah bi, nanti saya coba telepon mama," Elma lalu melangkah naik menuju kamarnya.


Menjelang makan malam semua penghuni rumah nampak belum kembali, Elma menikmati makan malam sendiri, sedari tadi dia mencoba menghubungi nomer mama, papa dan anaknya namun tak ada satupun yang aktif, bahkan nomer Alma juga tidak aktif. Rasa lelah fisik dan fikiran membuat Elma langsung menuju kamarnya setelah makan malam, membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa menunggu lama matanya terpejam.


"Mbak... Mbak Elma," suara dari luar kamar Elma terdengar beriringan dengan suara pintu yang diketuk.


Elma dengan masih setengah sadar berusaha untuk membuka matanya dan duduk, setelah sedikit dapat menguasai tubuhnya Elma berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar.


Dengan berusaha membuka lebar matanya Elma membuka pintu, "Ada apa bi?"


"Mbak Elma ditunggu Pak Tono di bawah, katanya Pak Toni diminta jemput mbak Elma,"


"Jemput saya, siapa yang nyuruh?" dengan menahan rasa kantuk Elma berusaha memahami perkataan bibi.


"Nyonya katanya,"


"Emang mama dimana?" Elma semakin bingung mamanya minta dia pergi dengan sopir saat tengah malam.


"Pak Tono enggak bilang mbak,"


"Ya sudah, bilang Pak Tono suruh tunggu, saya mau ganti baju dulu," Elma lalu menutup pintunya setelah bibi turun ke bawah.


Sepuluh menit kemudian dengan memakai celana panjang dan baju hangat Elma menemui Pak Tono yang sedang duduk diteras sambil menikmati kopi.


"Malam Pak Tono," Elma menyapa Pak Tono dengan suara lirih takut mengagetkan laki-laki tua yang sudah lama ikut keluarganya itu.


"Malam mbak Elma," Pak Tono bergegas berdiri dari duduknya.


"Enggak apa-apa Pak Tono habiskan saja dulu kopinya,"


"Sudah habis kok mbak kopinya, kita berangkat sekarang mbak?"


"Ok," Elma berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi, "Emang mama minta Pak Tono antar saya kemana?" sambil membuka pintu mobil Elma berusaha tau kemana tujuan mereka.


"Ke villa?" Elma duduk dibangku belakang, rasanya dirinya semakin bingung dengan kemauan mamanya.


Mobil melaju meninggalkan rumah, karena masih mengantuk Elma melanjutkan tidurnya di mobil, waktu menunjukan pukul 2 malam ketika mereka berangkat. Perjalanan hampir dua jam dinikmati Elma dengan tidur lelap.


"El...bangun," suara mama membangunkan Elma.


Dengan mata yang rasanya masih lengket susah untuk dibuka Elma berusaha bangun dari tidurnya, "Mama...." Elma melihat mamanya udah disampingnya.


"Kamu kebiasaan kalau di mobil tidur susah bangun,"


"Siapa suruh juga tengah malam waktunya orang tidur malah disuruh pergi, seperti tidak ada hari lagi aja," Elma mengikuti mamanya turun dari mobil.


Mama berjalan mendahului Elma, tidak memperdulikan anaknya yang menggerutu, seperti biasa mereka berdua tidak pernah akur dari dulu.


Elma berjalan dengan malas masih menahan kantuk dan lelah, terdengar sayup-sayup suara Adzan dari masjid yang letaknya cukup dekat dengan villa. Masuk ke dalam villa Elma mencium bau bunga sedap malam dan bunga melati yang begitu menyengat hidungnya, dilihatnya suasana ruang depan sudah ditata begitu indah, seperti akan ada acara. Beberapa orang masih nampak menghias ruangan dan terdengar kesibukan di dapur. Elma coba mengingat hari ini ulang tahun siapa atau Anniversary mama papanya, namun seingat Elma tidak ada yang berulang tahun dan Anniversary mama papanya baru tiga bulan lagi. Elma mengambil duduk di sofa ruang tengah sambil melihat beberapa orang yang menata dan menghias ruangan.


"Kamu kenapa duduk disini?" mama mendekati Elma.


"Emang mau ada acara apa sih ma?"


"Acara penting.... udah sana kamu masuk kamar atas yang biasanya kamu pakai,"


"Acara penting apa?" Elma masih penasaran dengan jawaban mama.


"Udahlah nanti kamu akan tau sendiri," mama tersenyum sambil meninggalkan Elma.


"Apa Zi juga di sini?" Elma sedikit berteriak mengatakannya karena mamanya sudah berjalan menuju dapur.


"Dia ada di kamar mama," mama juga berteriak mengatakannya sambil terus berjalan menuju dapur.


Dengan malas Elma bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua, villa dua lantai dengan empat kamar itu memang selalu dijadikan tempat keluarga Elma jika ada acara keluarga atau hanya untuk refresing dikala weekend. Elma membuka kamar yang biasa dia tempati bila berada di villa, begitu pintu terbuka kamar telah dihias penuh dengan bunga-bunga, Elma seketika menutup pintu kamar lagi, "Apa aku salah masuk kamar," bisiknya dalam hati, dilihat sekeliling sepertinya dia tidak salah masuk kamar, meskipun hampir lima belas tajun dia tidak pernah berkunjung ke villa itu namun dia masih ingat betul letak kamarnya karena tidak ada yang berubah dari villa itu.


Elma mencoba membuka kembali pintu kamarnya, kali ini dia beranikan diri untuk masuk, begitu terkejutnya dia membaca tulisan yang terpampang di dinding kamarnya. Paru-parunya seketika seperti kekurangan pasokan oksigen, darah seakan berhenti mengalir ke jantung, tubuh Elma serasa lemas tak mampu untuk berdiri, hanya teriakan yang dia bisa lakukan "MAMAAAAAAAAAA.....,"


Elma tau hanya mamanya yang sanggup melakukan ini semua padanya.


......***Tidak semua ibu sempurna, namun semua ibu merelakan tubuhnya untuk kehidupan anaknya***......


.


.


.


.


Maaf jika tulisan ini lama updatenya, kesibukan sebagai emak membuat susah untuk menjalankan hobi kehaluan ini.


Terima kasih masih ada yang setia menunggu tulisan ini. Maaf jika masih banyak typo.


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, semangat prokes ya semua.