Merger Of Love

Merger Of Love
Bangkit Dari Keterpurukan



POV Elma


Kulanjutkan menceritakan masa laluku yang ingin aku kubur dalam-dalam.


Setelah acara study tour itu Kevin intens meneleponku, bahkan di sekolah Kevin tidak segan sering menghampiriku di kelas, betapa bangganya aku semua mata memandang kagum padaku, namun tidak sedikit para cewek yang menunjukan sikap iri atas keberhasilanku menggait seorang Kevin Wijaya.


Oh dunia terasa sungguh indah bagiku saat itu, hari-hari benar-benar aku lalui hanya dengan sentuhan dan kata-kata manis dari Kevin. Setiap hari dia menungguku datang di pagar sekolah, menggandeng tanganku dengan lembut mengantar sampai di depan kelasku, setiap jam istirahat dia menjemputku di kelas, kami bergandengan tangan menuju kantin sekolah, dia memanjakan aku, mengambilkan makanan dan minuman untukku, bahkan terkadang menyuapkan makanan padaku, entah kemana perginya urat malu kami berdua. Alma tau akan kedekatanku dengan Kevin namun dia tidak pernah mengusikku, bahkan aku sering menyuruhnya berbohong pada mama saat seharusnya kami bimbel aku malah pergi bersama Kevin.


Meskipun belum mengantongi surat ijin mengemudi namun Kevin sudah membawa mobil sendiri.


"kamu cantik" dengan lembut Kevin membelai rambutku ketika mobilnya dia parkiran rest area tol, aku tersipu malu mendapat pujian dan sentuhan dari Kevin.


"apa bibir ini sudah ada yang menyentuh" dia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, rasanya bulu-bulu tanganku berdiri dan jantungku berdetak tak beraturan.


Aku hanya mengeleng pelan sambil tertunduk malu, aku tidak sanggup menatap matanya yang seakan selalu menghipnotisku.


Usia kami masih lima belas tahun, namun Kevin seperti jauh lebih dewasa dari usianya, cara memperlakukan aku seperti dia telah ahli melakukannya, sentuhannya ke tubuhku membuat aku melayang ingin lagi lagi dan lagi untuk diisentuhnya, sepertinya setan sudah berteman dengan kami waktu itu, setiap kali kami berdua kami selalu naik level melakukan dosa, awalnya hanya pegangan tangan, kemudian mulai berani mencium pipi, merasa kurang greget ingin lebih berdebar kami melakukan cxxman bibir.


"maaf" kata yang diucapkan Kevin ketika melepas bibirnya dari bibirku.


"enggak apa-apa" aku jawab dengan rasanya melayang yang masih tertinggal.


"bibirmu manis" dia mengusap lagi bibirku dengan ibu jarinya.


"apakah aku boleh menciumnya lagi?" mata kami saling beradu, rasanya aku benar-benar seperti terhipnotis dengan mata sipitnya yang terlihat indah itu.


Aku menggangguk sambil tersenyum bahagia, setan telah merasuk dalam pikiranku, tanpa menunggu lama kembali bibir kamu saling terpaut, jika awal tadi hanya cxxman singkat, kali ini begitu dalam dengan rasa yang berbeda dan aku seperti terbang ke langit ketujuh untuk menikmatinya.


Sejak itu kami lebih berani lagi untuk bercxxman, bahkan tidak jarang kami melakukan di sekolahan, kami mencuri kesempatan mencari tempat yang aman. Oh sungguh aku merasa ingin dunia berhenti berputar agar waktuku bersama Kevin tidak segera berakhir.


Dua hari menjelang ujian akhir sekolah, disaat semua murid sibuk untuk menyiapkan menghadapi ujian, namun tidak dengan aku dan Kevin, kami makin saling tergila-gila melakukan dosa. Kevin menjemput aku di tempat bimbel, hari itu materi terakhir bimbel sebelum senin kita sudah ujian nasional.


"kita mau kemana?" tanya ku ketika memasuki mobil Kevin.


"ketempat surga dunia" dia tertawa lirih sambil melajukan mobilnya.


****


"kamu ingin melanjutkan ceritamu?" mbak Ratih bertanya pada Elma yang nampak terdiam cukup lama, sambil menghapus air matanya yang menetes pelan.


"Jika kamu belum siap melanjutkan ceritamu, kita bisa rehat, besok kita lanjutkan lagi" mbak Ratih menghampiri Elma dan mengusap lembut punggung Elma.


"saya orang paling hina mbak, pantas jika mama dan anak saya sendiri tidak menyukai saya" Elma tertunduk mengingat betapa dia sudah banyak melakukan dosa dan menghancurkan hati keluarganya.


"semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, namun jika hanya menyesali kamu hanya akan semakin terpuruk, sekarang waktunya kamu bangkit dari kegagalan yang pernah kamu lalui El"


"apakah saya masih bisa memperbaiki semuanya mbak?"


"yakinlah kamu pasti bisa, selain berusaha dekatkanlah dirimu dengan Tuhanmu, itu penting untuk membuat hatimu tenang"


Elma hanya mengangguk pelan sambil ngusap air matanya, dosanya tidak hanya pada keluarganya, pada yang menciptakan hidupnya pun dia banyak berdosa, dia sangat jauh dari Tuhannya, mama dan papanya tidak pernah mengenalkan dia pada Tuhan, agama hanya bagai formalitas belaka dikeluarga Elma.


"makasi mbak, saya merasa lebih baik sejak mengikuti terapi mbak Ratih, saya akan mencoba menjadi manusia yang bermanfaat, setidaknya saya ingin bermanfaat bagi Zivana"


"kamu pasti bisa El, Zivana pasti akan bangga padamu nantinya, jadikan kegagalanmu sebagai cambuk buat kamu memperbaiki semuanya, termasuk memperbaiki hubunganmu dengan Zivana"


"tapi sampai sekarang saya belum bisa mendapatkan hati Zivana walau hanya secuil, yang ada dia malah terlihat sangat membenci saya"


"semua harus kamu perbaiki secara perlahan, mulai dari hal kecil yang bisa membuat zivana tertarik padamu, carilah apa kesukaan dia, coba selami hatinya"


"iya mbak, bantu saya ya mbak" "Elma memeluk tubuh mbak Ratih.


"pasti El, saya akan membantu kamu berjuang memperbaiki semuanya" mbak Ratih mengusap rambut Elma.


Pukul sebelas siang Elma keluar dari kantor mbak Ratih, dia menghubungi Alma untuk mengajak saudara kembarnya itu makan siang di mall dekat rumah sakit tempat Alma bekerja.


"sorry, apa kamu menunggu lama?" Alma datang dan mengambil duduk di depan Elma.


"enggak apa-apa, aku juga belum terlalu lama?" Elma dan Alma memutuskan makan siang di restoran makanan jepang favorite mereka sejak dulu.


"bagaimana terapimu dengan mbak Ratih?" Alma membuka pembicaraan setelah memesan makanan.


"lancar, dan terima kasih kamu mengenalkan aku pada mbak Ratih, aku banyak terbantu, setidaknya ada orang untuk aku meluapkan perasaanku"


"maafkan aku ya EL, selama ini aku tidak bisa menjadi saudara yang baik buat kamu, harusnya aku ada disaat kamu terpuruk, namun aku justru menjauhi kamu, seandainya dulu kita bisa dekat...."


"sudahlah Al, jangan ungkit masa lalu, sekarang saatnya memperbaiki semuanya, sekarang maukan kamu menjadi saudara kembarku yang akan selalu mensupport aku, seperti ketika kita masih bersama di dalam perut mama, kita berbagi semua"


"insyaallah El, aku akan selali disamping kamu memperbaiki semuanya"


Makanan pesanan mereka datang, mereka menikmati makanan dengan saling berbincang dan bercanda untuk menguatkan satu sama lain.


"menurutmu aku harus bagaimana mendekati Zivana, anak itu begitu membenciku" Elma memasukan potongan ayam kemulutnya.


"mungkin kamu bisa memulai dengan mendekati Zahra, dia seperti separo nafasnya Zi, hanya Zahra yang bisa membuat Zi melakukan apa yang dia tidak suka"


"kamu ada nomer ponsel Zahra?"


"ada, nanti aku akan kirim ke kamu"


Setelah makan siang dengan Elma, Alma kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Elam memilih jalan-jalan di mall.


Dia ingin membeli sesuatu untuk Zi, dia ingin mencoba memdekati anak itu dengan.beri perhatian memberikan sesuatu yang mungkin disukainya, ketika kakinya melangkah nyusuri mall yang nampak mulai ramai karena weekend, Elma dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.


"Elma" suara wanita yang amat dikenal Elma, suara yang membuat ingatannya kembali ke masa lalunya yang begitu menoreh banyak luka. Suara itu pernah membuat hatinya terluka.


Elma melihat wanita itu mendekat padanya, sungguh jika dia bisa memilih dia tidak menginginkan pertemuan ini.


...***lebih baik sibuk mencari cara untuk bangkit, dari pada sibuk mencari kesalahan dan mengeluh***...


...__***__...