
"selamat sore om" Zi menyapa papa Alex yang sedang sibuk dengan tanamannya di Green house yang ada di belakang rumah yang merangkap kantor papa Alex.
Zi mendekat lalu mencium punggung tangan papa Alex, "kamu udah izin Oma kalau kesini?"
"udah om.... ini tanaman yang kemarin rusak ya om?" Zi melihat papa Alex dengan telaten merawat tanaman yang sudah hampir mati itu.
"iya... Semoga bisa bertahan, om udah lama ngincar tanaman ini, kemarin ada teman dari Peru yang membawakan ketika kita berkumpul di Belanda"
"papa" Zahra yang sudah berganti baju memeluk papanya dan mencium pipi papanya.
Zivana sering merasa iri jika Zahra bisa begitu bahagia bermanja dengan papanya, seandainya papa kandungnya masih hidup apakah akan menyayangi dia.
"mau kemana sepertinya kalian akan pergi jalan-jalan" papa Alex melihat Zahra tidak memakai pakaian rumah.
"kita mau cari jaket buat Zi, boleh ya pa?" Zahra bergelayutan di lengan papanya.
"saya ingin cari jaket buat besok kita camping, jaket yang saya punya udah terlalu kecil"
"mau beli jaket dimana?"
" di mall" jawab Zahra cepat.
"kalian mau pergi berdua saja di mall?" papa Alex meletakan tanamannya ditempatnya kembali.
"diantar mas Udin, boleh ya pa, please"
"papa enggak kasih izin, kalau hanya untuk cari jaket aja kalian bisa ke outlet milik om Danu kan, disana lengkap peralatan untuk camping termasuk jaket"
"ya bener Za, kita cari di outlet milik om Danu aja"
Dengan diantar mas Udin mereka berangkat ke outlet milik Om Danu yang letaknya tidak jauh dari rumah Zi.
Om Danu teman papa Alex sekolah yang juga teman Oma Zi, memiliki beberapa outlet perlengkapan untuk camping dan mendaki gunung.
"assalamualaikum om" Zahra dan Zi menyapa bersamaan Om Danu yang sedang sibuk menata barang di outletnya.
"hai cewek - cewek cantik" balas om Danu sambil menghampiri Zi dan Zahra.
Zi dan Zahra mengambil punggung tangan om Danu bergantian dan menciumnya, "papa kamu tadi telepon katanya Zi yang mau cari jaket ya?"
"iya om" jawab Zi cepat
"kebetulan untuk jaket baru datang model-model baru, kamu bisa pilih disebelah sana" om Danu menunjuk ke arah jaket yang dipajang.
"wah bagus-bagus Zi" Zahra memilih-milih jaket yang di gantung pada tempatnya.
"bagusnya warna apa ya pink atau tosca?" Zi menunjukan dua jaket yang dipegang di kedua tangannya pada Zahra.
"aku lebih suka yang warna tosca" Zahra mendekati Zi.
"ok, aku pilih tosca, kamu enggak beli?" Zi menatap Zahra yang seperti ingin membeli juga.
"pengen sih, tapi jaket aku masih ada beberapa" Zahra memegangi jaket yang berwarna tosca.
"ambil aja, aku yang bayar, anggap aja seperti Jersey kita waktu camping"
"iya ya, keren kali ya jika kita punya Jersey buat camping, entar papa juga pakai Jersey yang sama"
"gimana, udah dipilih mau jaket yang mana" Om Danu memdekati mereka berdua.
"udah om, kita pilih yang warna tosca ini aja, kita ambil dua ya om" Zi memperlihatkan jaket warna tosca yang dipilihnya.
"wah, kalian berdua ini emang bener-bener seperti anak kembar, selera jaket aja juga sama"
"kita kan emang kembar om, cuman beda pabrik aja" ucap Zahra sambil tersenyum.
"iya om, ibarat barang itu kita sama persis, cuma Zahra produksi Jepang sedang saya produksi Cina, tapi jangan salah om meskipun produksi Cina saya bukan barang KW" Zi memberikan komentar sambil tertawa lirih.
Om Danu tertawa mendengarkan penuturan kedua gadis ABG didepannya itu, "semoga aja meskipun produksi Cina enggak gampang rusak ya Zi"
"enggak lah om, sekarang barang produksi Cina malah banyak yang menguasai dunia, Amerika aja sekarang mulai terancam ama kehebatan Cina"
"emang cucu Oma Rita ini pinter ngeles, jadi inget masa muda Oma kamu Zi, kalau bicara persis kamu, makanya sekarang enggak salah jika dia bisa jadi konsultan hebat"
"mama emang hebat dalam karirnya, namun tidak hebat mendidik anaknya" Zi tersenyum sinis.
"enggak juga, oma kamu juga hebat mendidik putri-putrinya, buktinya Alma jadi dokter yang hebat"
"bagaimana dengan kembaran tante Alma, bukannya dia produk gagal mama" wajah Zi berubah menjadi tanpa ekspresi.
"jangan bicara seperti itu, bagaimanapun itu mami kamu yang membuat kamu ada didunia ini, yang penting sekarang Zi jadi produk yang berguna yang membanggakan Oma, ok girl?" om Danu memeluk pundak Zi dari samping.
"makasi om" Zi tersenyum dengan terpaksa.
"karena kalian berdua beli dua, om kasih discon banyak deh"
"asik" dua gadis itu berteriak kegirangan.
Setelah dari outlet om Danu, mas Udin melajukan mobilnya ke rumah Zi, adzan magrib berkumandang ketika mobil mas Udin berhenti di depan rumah Zi.
"makasi ya mas Udin" Zi berpamitan pada mas Udin.
"gitu aja pamitannya, enggak pakai cupika cupiki" mas Udin tertawa lirih.
"mas Udin cupika cupika ama ini aja" Zi melempar boneka babi yang ada di kursi belakang ke arah mas Udin.
"haram dong ciuman ama babi" mas Udin menangkap boneka babi yang dilempar kearahnya.
"makasi ya mas Udin penyok" Zi tertawa sambil menutup pintu mobil.
"enak aja udin penyok, banyak yang bilang saya ini mirip oppa di drama korea"
"udah jangan menghayal terus, ayo jalan mas, keburu habis magribnya" Zahra menyuruh mas Udin segera menjalankan mobilnya.
Sampai dikamarnya Zi segera mandi dan sholat magrib, dicobanya jaket yang baru dibelinya tadi didepan kaca.
"emang mau kemana pakai jaket gunung gitu?" suara yang paling tidak disukai Zi terdengar di depan pintu kamarnya yang terbuka.
"bukan urusan kamu" Zi hanya menatap sekilas wanita cantik yang berdiri bersandar pada pintu kamar Zi.
"kamu jadi urusan saya karena saya mami kamu, ingat itu" wanita itu mengatakan sambil berlalu dari kamar Zi.
Zi mengeraskan wajahnya hendak membalas omongan maminya namun wanita itu sudah hilang dari pandangnya.
"malam mama, papa" Zi yang baru turun mencium bergantian Oma dan Opanya yang sudah duduk dimeja makan.
Zi mengambil duduk disebelah Oma yang berhadapan tepat dengan maminya, namun Zi seakan tidak memperdulikan keberadaan maminya.
"assalamualaikum" suara Alma yang baru datang mengalihkan pandangan semua orang.
"waalaikumsalam"
"tante Alma" Zi segera berdiri menyambut Alma dan memeluknya erat.
"Zi, tante kangen banget" Alma mempererat pelukannya ke tubuh Zi.
"Zi juga, tante kenapa lama sih perginya, mana om Aldy?"
"om Aldy tadi langsung ke rumah sakit ada pasien emergency" Alma melepaskan pelukan Zi.
"wah anak tante ini tambah tinggi sekarang, padahal baru ditinggal satu mingu" Alma mengukur tinggi Zi dengan dirinya.
Elma melihat kedekatan Zi dan Alma dengan raut muka yang terlihat kecewa, karena anaknya begitu memperhatikan kembarannya itu dibanding dirinya.
Alma mendekati meja makan, kemudian mencium pipi mama dan papanya secara bergantian.
"apa kabar El, kapan datang?" Alma menghampiri saudara kembarnya, dan mereka masih terlihat sama-sama canggung.
"baik, kemarin" jawab Elma singkat.
"gimana bulan madunya?" Opa mencairkan suasana yang nampak sedikit kaku.
"asik pa, cuman jadi agak gosong aja kulit kebanyakan berjemur" Alma mengambil duduk disebelah Elma.
"tapi enggak apa-apa tante malah kelihatan tambah cantik, karena tidak terlihat pucat" Zi berkomentar sambil menaruh nasi dipiringnya.
"wah omongan kamu sama kayak om Aldy aja" Alma mengambil buah yang ada dimeja makan.
"kamu enggak makan Al?" tanya Oma yang duduk tepat didepan Alma.
"masih kenyang ma, tadi kita mampir makan dan sholat di restoran"
"ma, besok Zi mau ikut Zahra dan papanya camping di pulau seribu" Zi mengucapkan sambil memasukan makanan ke mulutnya.
"apa, camping" tiba-tiba Elma bersuara mendengar Zi minta ijin camping.
"iya camping, kemarin om Alex sudah minta ijin mama untuk mengajak Zi camping" mama mencoba menjelaskan pada Elma.
"mama mengijinkan Zi pergi camping dengan orang lain?" nada bicara Elma sedikit meninggi.
"iya mama yang mengijinkan Zi ikut camping, mama sudah kenal baik sama om Alex, dia udah mama anggap seperti saudara, bahkan Zahra anak om Alex itu seperti saudara bagi Zi"
"tapi bagaimanapun mereka tetap orang lain ma, saya enggak setuju Zi pergi camping" Elma menatap tajam ke arah mamanya.
"siapa yang minta persetujuan kamu?, tanpa persetujuan kamu saya tetap pergi, karena bagi saya kamu bukan siapa-siapa, kamu itu yang orang lain" Zi menatap tajam ke dalam mata Elama, lalu dia berdiri dari duduknya dan pergi berlari menuju kamarnya.
"Zivana" Elma hendak mengejar Zi namun lengan tangannya di tarik Alma, "lepaskan, biar aku kasih pelajaran pada anak kurang ajar itu" Elma berusaha menepis tangan Alma.
"pergilah kasih pelajaran dia jika kamu ingin benar-benar kehilangan Zivana" Alma melepaskan tangannya dari lengan Elma dan pergi meninggalkan meja makan.
Mama beranjak dari duduknya dan mendekati Elma "mama bukan keledai yang bodoh yang akan terjatuh lagi pada lubang yang sama, cukup mana gagal mendidik kamu" mama lalu naik ke atas menuju kamar Zivana.
Tinggalah Elma dan papa yang masih di meja makan, namun mereka hanya saling diam.
...Hargai mereka yang membencimu, karena dia telah banyak menghabiskan banyak waktu hanya untuk melihat kesalahanmu....
...*****...