Merger Of Love

Merger Of Love
Berbenah



"saya rasa sudah cukup terapi kita hari ini" mbak Ratih seorang psikolog cantik yang direkomendasikan Alma untuk membantu Elma.


"terima kasih mbak Ratih" Elma masih duduk di sofa diruang kerja mbak Ratih.


"saya yakin kamu pribadi yang baik, kita bersama-sama membuat segalanya lebih baik" mbak Ratih menggenggam tangan Elma.


Setelah pertengkaran semalam di meja makan antara Elma dan Zivana, Alma masuk menghampiri Elma yang menangis di kamarnya, bagaimanapun Alma adalah saudara kembar Elma dia tau beban yang dirasakan saudara kembarnya itu. Alma merasa Elma butuh orang yang bisa membantu mengatasi masalahnya dengan Zi, dan Alma menyarankan untuk berkonsultasi dengan mbak Ratih.


Seseorang membutuhkan konsultasi psikologi jika mengalami masalah yang cukup berat bagi dirinya, apalagi sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan sehingga membutuhkan seorang psikolog yang ahli dalam masalah kejiwaan. Karena jika kondisi ini terus dibiarkan akan memicu kondisi depresif yang semakin berat.


Pagi itu melihat Zi berangkat camping, rasanya hati Elma teriris, anak yang lahir dari rahimnya itu benar-benar tidak menghiraukan perkataannya. Elma ingin memperbaiki hubungannya dengan Zi, dia putuskan menelpon membuat janji konsultasi dengan psikolog, dan ternyata mbak Ratih bisa membuat janji siang ini.


Sepulang dari tempat mbak Ratih, Elma melajukan mobilnya ke sebuah butik yang cukup mewah.


"siang, apa tante Weni ada?" Elma bertanya pada pegawai butik yang sedang melayani pelanggan.


"ada, bisa tunggu sebentar, nanti saya panggilan" Elma dipersilakan duduk di sofa.


Beberapa saat kemudian seorang wanita cantik dengan tampilan sederhana namun nampak begitu elegan dan percaya diri, "hai Alma?" wanita itu menyapa Elma.


"saya Elma tante kembarnya Alma" Elma berdiri menyalami tante Weni.


"maaf ya... Tante tidak bisa bedakan kalian berdua, ayo masuk ke ruangan tante" tante Weni mengajak Elma masuk ke dalam ruangannya.


"silakan duduk El, kamu mau minum apa"


"terima kasih tante.... enggak perlu repot - repot" Elma duduk di sofa panjang.


"bagaimana kabar mama kamu?" Tante Weni meletakan beberapa minuman kaleng di meja.


"mama sehat"


"kapan kamu kembali dari paris?" Tante Weni mengambil duduk disebelah Elma.


"empat hari yang lalu" Elma masih merasa canggung dengan tante Weni, walaupun sedari kecil Elma sudah akrab dengan tante Wani.


"gimana, ada yang bisa tante bantu?"


"gini tante" Elma diam sejenak merasa ada keraguan ketika ingin menyampaikan maksudnya.


"bolehkah Elma kerja di sini?" Elma mengatakan dengan suara sedikit lirih.


"kerja disini?, apa enggak salah, mama kamu bisa membuatkan kamu butik yang jauh lebih besar dari punya tante ini"


"saya ingin mandiri tante, tidak ingin selalu bergantung sama papa dan mama, biarlah Elma belajar sama tante dulu"


Tante Weni tersenyum sambil mendekatkan duduknya ke Elma, "tante senang kamu punya pemikiran seperti itu, baiklah tante dukung kamu, tapi tante tidak bisa memberi kamu gaji yang besar, karena butik milik tante ini bukan butik besar"


"enggak apa-apa tante, saya diterima disini saja rasanya sudah sangat berterima kasih, tapi tolong tante jangan bilang sama mama saya kerja disini"


"kenapa?"


"saya tidak ingin mama malu karena saya bekerja di butik tante, saya ingin mulai berbenah, membenahi hidup saya selama ini, bisakan tante rahasiakan pada mama?"


"baiklah, tante tau maksud kamu, semoga kamu bisa membuat mama kamu bangga, kapan kamu bisa mulai bekerja?"


"kapanpun saya siap" Elma mengatakan dengan penuh antusias.


"ok, senin kamu bisa mulai bekerja"


"terima kasih banyak tante" Elma memeluk tante Wina karena hatinya begitu bahagia diberikan kesempatan untuk bekerja.


****


Sementara Zi bersama Zahra dan papa Alex telah sampai di salah satu pulau di kepulauan seribu yang menjadi tujuan mereka.


"setelah ini kita naik apa pa?" Zahra dibantu Zi menurunkan barangnya dari kapal kecil yang membawa mereka mendarat di pelabuhan kecil yang hanya ada tiga bangunan disekitarnya.


"nanti ada teman papa yang akan jemput kita" papa Alex masih sibuk menghubungi temannya.


Tidak lama setelah menunggu teman pap Alex datang dengan membawa mobil, "sorry, apakah kalian lama menunggu?"


"tidak, hanya beberapa saat saja" jawab papa Alex.


"Zahra dan Zi, kenalkan ini om Aldo teman papa" Zahra dan Zi mencium punggung tangan om Aldo


"om Aldo tinggal di pulau ini?" tanya Zahra.


"iya, om tinggal disini" om Aldo mulai membantu mereka memasukan barang ke mobil.


"apa disini tidak ada sinyal?" Zi merasa kesal karena ponselnya benar-benar tidak bisa digunakan.


Om Aldo hanya tersenyum, "disini emang tidak ada sinyal, bagus buat kalian biar tidak bermain ponsel terus". Zi dan Zahra seperti generasi milenial lainnya yang tidak bisa lepas dari ponsel.


"tapi kenapa tadi papa bisa telepon om Aldo?" Zahra merasa penasaran.


"papa menggunakan telepon satelit, hanya itu yang bisa di pakai disini" papa Alex yang duduk disamping om Aldo menjelaskan pada putrinya itu.


"wah gak asik beneran kalau enggak ada ponsel" Zahra mulai kesal juga seperti Zi.


"sengaja papa ajak kalian camping biar kalian tidak hanya tau alam dari gambar di ponsel aja tapi kalian dapat menikmatinya secara langsung"


"tapi biasanya kalau kita camping masih ada sinyal meskipun enggak bagus" Zahra kembali protes.


"kali ini beda, papa ingin kalian dua hari hidup tanpa ponsel"


"mana bisa seperti itu?" Zahra dan Zi semakin frustasi membayangkan dua hari tanpa ponsel.


"bisa lah, kalian harus belajar hidup tanpa setan gepeng itu" papa Alex tersenyum mengatakannya.


"emang siapa setan gepeng itu om?" Zi merasa bingung dengan istilah setan gepeng.


"itu ponsel kalian itu, kan bentuknya gepeng atau pipih, bener-bener seperti setan yang membuat orang melupakan apa saja kalau sudah memegangnya"


"karena emang itu kebutuhan pa, ponsel kan sangat membantu kita" Zahra masih tidak terima dengan pernyataan papanya.


"untuk itu papa ingin tau sebesar apa sih ponsel itu penting bagi hidup kalian, papa ingin mencoba bagiamana kalian tanpa ponsel dua hari saja, apa kalian akan sesak napas?" Papa Alex dan om Aldi tertawa bersamaan, sementara Zahra dan Zi semakin cemberut.


Berbagai kemampuan yang dimiliki membuat ponsel pintar sangat sulit lepas dari genggaman generasi milenial.  Tidak bisa dimungkiri bahwa smartphone sudah menjadi kebutuhan prioritas dan kegunaannya membantu keseharian di dunia yang serba canggih. Maka tidak heran jika kehilangan kebiasaan menggenggam bahkan kehilangan ponsel dapat mengakibatkan kecemasan tinggi.


Setelah berkendara kurang dari tiga puluh menit mereka sampai di tempat camping yang sudah disiapkan oleh om Aldo.


"selamat datang, dua hari kalian harus bisa hidup dengan alam" papa Alex mencoba menyemangati dua gadis ABG yang masih nampak cemberut.


"sekarang kita dirikan tenda dulu" Om Aldo sudah siap dengan 2 kantong besar yang berisi tenda.


Setelah saling bekerja sama mendirikan tenda, akhirnya dua tenda bisa berdiri dengan baik.


"papa kami lapar" Zahra dan Zi mendekati papa Alex yang sibuk merapikan beberapa barang bawaannya.


"kalau mau makan kalian harus masak makanan yang tadi kita bawa, karena disini tidak bisa pesen deleveryfood" papa Alex tetap sibuk merapikan barang bawaannya.


"ok, ayo Zi kita memasak" Zahra mengajak Zi mencari tas yang berisi bahan makanan.


"tapi Za, aku enggak suka masak dan lagian kenapa kita enggak makan roti yang aku bawa aja" Zi mencoba menghindar dari kegiatan masak yang paling tidak disukainya.


"ayo lah Zi, aku juga tidak bisa memasak tapi benar kata papa kita harus belajar untuk bertahan hidup, anggap aja ini tantangan buat kita berdua"


"bukannya biasanya kalau kita camping papa kamu bawa satu pegawainya buat masakin kita"


"kali ini beda Zi, om ingin kalian belajar mandiri, umur kalian sudah dua belas tahun, harus mulai belajar memenuhi kebutuhan kalian sendiri" papa Alex tiba-tiba sudah berdiri didekat Zi.


"iya om" Zi merasa malu karena di sudah terlalu banyak mengeluh.


Zi dengan terpaksa membantu Zahra menyiapkan alat memasak dan bahan makanan yang akan kita masak, mereka berdua menikmati acara memasak dengan saling bercanda.


"gitu dong, lebih enak kan dari pada main ponsel terus" Om Aldo memberikan semangat pada Zi dan Zahra.


Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, Zi yang awalnya merasa berat harus memasak akhirnya bisa menikmati, "Zi, bisakah kamu siapkan piring, sebentar lagi masakan ini akan matang" Zahra sibuk mengoseng-oseng masakan yang dia masak.


"ok, aku akan siapkan tempatnya" Zi mencari piring yang diletakkab pada paper bag.


Ketika mengambil piring tiba-tiba seekor kalajengking yang bersembunyi didalam paper bag menyengat tangan Zi, "auh...aduh" Zi menjerit sambil mengibaskan tangannya sehingga piring yang dipegangnya jatuh.


Jeritan Zi membuat Zahra segera berlari menghampiri Zi, "Zi, kamu kenapa?"


Zi merasa kesakitan sambil memegangi tangannya, "aku digigit kalajengking"


Zahra yang merasa panik, berteriak memanggil papanya yang berada cukup jauh darinya, "papa... Papa"


Alex yang mendengar teriakan anaknya segera berlari mendekat, "ada apa?"


"Zi digigit kalajengking" Zahra mengatakan sambil menangis ketakutan.


...Burung tidak akan bisa terbang sebelum mengepakkan sayap. Seperti manusia juga, kita tidak akan bisa mengetahui apakah itu berhasil atau gagal, sebelum mencobanya....


......****... ...