Merger Of Love

Merger Of Love
Penyesalan



Alvin ternyata bekerja sebagai manajer di Cineplex, dengan bantuannya akhirnya mereka dapat menonton film yang mereka inginkan.


"makasi ya, mesti bayar berapa ini?" Elma menerima tiga tiket dari Alvin.


"bayarnya entar kamu traktir aku makan aja" Alvin tersenyum pada Elma.


"Boleh, setelah menonton aku traktir kamu"


"ayo, segera masuk keburu main filmnya" Zi yang nampak tidak suka dengan keakraban Elma dan Alvin menarik tangan Elma.


"ok, kami masuk dulu ya" Elma melambaikan tangannya pada Alvin, yang dibalas senyum manis oleh Alvin.


Setelah hampir dua jam menikmati film yang mereka inginkan, mereka keluar ruang studio dengan hati gembira, "apa kalian lapar?" Elma menawarkan untuk membeli makanan.


"aku ingin makan Pizza"


"Zahra suka pizza kan?" Elma bertanya pada Zahra.


"sukalah tante, apa yang di suka Zi pasti aku juga suka" Zahra merangkul Zi.


"kalian benar-benar seperti gadis kembar, mami yang kembar sama tante Alma aja banyak perbedaannya" Elma memandangan bahagia dua gadis yang memang memiliki wajah dan gaya yang hampir sama. Pepatah di banyak negara menyebut kalau setiap orang itu punya doppelganger, kembaran yang tidak berhubungan darah.


"tapi kita sholat dhuhur dulu ya tante" Zahra melihat jam ditangannya udah menunjukan pukul dua siang.


"ok" Elma mengangguk.


Mereka berjalan menuju pintu keluar bioskop untuk mencari mushola, "sudah selesai nontonnya" suara Alvin membuat ketiganya berhenti.


"hai Vin" Elma tersenyum pada Alvin.


"katanya mau bayar pakai traktir aku makan, aku udah siap ini" Alvin mengedipkan satu matanya pada Elma, berdiri dengan dua tangan masuk ke saku celana membuat tubuh atletisnya nampak begitu mempesona.


"kebetulan kita mau makan Pizza, suka pizza juga kan?"


"apa aja suka asal ditraktir ama kamu" Alvin menghiasi wajahnya dengan senyum terindah.


Zi makin telihat kesal dengan sikap Alvin yang kecentilan pada Elma, "lebih baik kita langsung pulang aja, sepertinya aku capek dan mengantuk" Zi mengatakan dengan bibir cemberut.


"loh, katanya tadi minta Pizza... Sebentar aja ya, enggak enak mami udah janji ama om Alvin mau traktir, kan om Alvin udah baik ama kita" Elma mendekat dan bicara dengan lembut pada Zi, anak itu harus sesekali diajari untuk menghargai kebaikan orang lain.


"iya ayo lah Zi, aku juga lapar dari siang tadi belum sempat makan siang" Zahra mencoba membujuk sahabatnya yang suka tidak memperdulikan orang lain itu.


"ok lah" jawab Zi dengan nada malas dan masih dengan ekspresi cemberut andalannya.


"tapi anak-anak mau sholat dulu, kamu tau dimana mushola terdekat?"


"disebelah Cineplex ini ada mushola" Alvin menunjuk ke sisi kanan.


Mereka berjalan menuju mushola, sampai depan mushola hanya Zahra dan Zi yang masuk sedang Elma dan Alvin menunggu di luar, hati Elma belum tergerak untuk melaksanakan kewajiban pada penciptanya, hidayah hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah.


"kamu sudah lama kerja di cineplex itu?" mereka duduk dibangku bersisian dengan bersandar pada tembok.


"lumayan, hampir tiga tahun"


"bukannya papa kamu ada banyak usaha, kenapa kamu kerja sama orang" Elma ingat dulu Alvin kategori anak sultan.


"aku enggak tertarik dengan usaha papa, aku lebih suka kerja begini, biar kakakku yang meneruskan usaha papa"


"memang kadang kita lebih nyaman bila kerja sesuai passion kita"


"kamu sendiri sekarang kerja dimana?"


"ada sedikit kerjaan sama teman" sambil menatap lantai dan menggerakan kakinya.


"teman spesial?"


"bukan teman biasa" jawab Elma sambil tertawa lirih.


"kalau teman spesial udah ada belum?" Alvin berbisik lirih mendekatkan wajahnya ke telinga Elma.


Ketika Elma terkejut dengan pertanyaan Alvin bersamaan Zi dan Zahra menghampiri mereka, "ayo, aku keburu lapar" Zi dengan posesifnya menarik tangan Elma.


Mereka berempat duduk berhadapan di dalam restoran pizza, Alvin duduk disamping Elma dan Zahra bersebelahan dengan Zi.


"yang Zi yang mana, yang Zahra yang mana, dari tadi om susah banget membedakan, kalian mirip banget" Alvin membuka kecanggungan dengan Zi.


"saya Zahra om" gadis murah senyum itu menjawab dengan tersenyum.


"kalian berdua sama cantiknya, jadi ingat mami kamu Zi, sama-sama cantiknya dengan Alma kembarannya" Alvin mengatakan sambil melihat kearah Elma.


"namanya cewek pasti Cantik lah" Elma berusaha menepis gombalan Alvin.


"tapi beneran kalian dulu idola di sekolah, cowok mana yang gak ingin jadi pacar kalian" Alvin menceritakan dengan antusias, sepertinya rasa sukanya pada Elma sudah bersemu sejak lama.


"wah pasti tante Elma dan tante Alma waktu muda cantik banget ya om?" Zahra menanggapi obrolan Alvin.


"banget, tapi papi Zi yang beruntung mendapatkan" Alvin menyungngging senyumannya.


Pesanan mereka datang, menghentikan pembicaraan nostaliagia yang tidak indah untuk dikenang, "makasi ya mbak" ucap Elma pada waitress yang mengantar makanan.


"sama-sama kak, silakan menikmati" waitress itu lalu meninggalkan meja mereka.


Mereka menikmati makanan dengan saling berbincang kecuali Zi yang tetap dalam mode diam dan cemberut.


"ok, mami bayar dulu ya" Elma kemudian melambaikan tangannya memanggil waiters yang ada didekatnya.


"bisa saya bantu kak?" waitres itu mendekati Elma.


"bisa minta Bill ya"


"baik kak, mohon ditunggu" waitres itu lalu pergi mengambil Bill Elma.


Setelah beberapa saat waitres membawa Bill dan Elma membayar dengan uang cash.


"kamu masih kerja atau udah selesai?" Elma bertanya pada Alvin ketika mereka keluar dari restoran.


"aku mau balik ketempat kerja, nanti jam lima baru pulang"


"sekali lagi makasi ya Vin"


"aku juga makasi kamu traktir aku, lain kali kalau mau nonton kontak aku aja" Alvin menghentikan langkahnya karena dia harus belok arah kembali ke cineplex.


"ok, see you ya" Elma menjabat tangan Alvin, yang dengan penuh kelembutan digenggam Alvin seakan tidak ingin di lepas.


"eehmmm..." Zi berdehem, membuat Alvin melepaskan tangan Elma.


"ok, hati-hati ya, sampai jumpa lagi dua gadis cantik" Alvin mengarahkan senyumannya pada Zahra dan Zi.


"makasi ya om," Zahra melambaikan tangannya kanannya dan tangan kirinya sudah diseret oleh Zi, sementara Elma dengan terpaksa mengikuti dua gadis itu tanpa berpamitan lagi pada Alvin.


Elma terlebih dahulu mengantar Zahra pulang, sampai dirumah Zahra sudah hampir pukul lima, rumah yang merangkap kantor itu terlihat sepi, "makasi ya tante" Zahra turun dari mobil Elma, namun sebelumnya mencium punggung tangan Elma.


"makasi juga ya Zi"


"sama-sama, salam buat om Alex ya" Zi membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Zahra yang membuka pagar rumahnya.


Elma melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, dia sengaja memperlambat laju mobilnya agar dapat berbicara dengan putrinya itu.


Zi menatap keluar jendela, sesekali dia menguap, entah menguap beneran atau hanya kamuflase menghindari berkomunikasi dengan maminya.


"kamu mengantuk?" Elma membuka keheningan antara mereka.


"sedikit" jawab Zi cepat dan singkat.


"udah pernah ikut kejuaraan gymnastic apa aja?"


"macam-macam"


"pernah ada yang juara?"


"ada beberapa kali"


"wah hebat dong, juara dimana aja?" Elma mencoba menumbukan rasa bahagia pada Zi karena merasa dipuji dan dihargai.


"liat aja sendiri piala dan medali aku yang dirumah"


"ok pasti nanti mami foto dan mami posting, biar seluruh teman mami tau mami punya anak hebat"


"biasa aja kali" dengan ekspresi datar seakan Zi merasa belum bisa terlalu dekat dengan Elma.


" maaf ya mami tidak pernah ada buat Zi saat Zi ikut lomba, maafkan mami banyak melewatkan peristiwa penting dalam hidup Zi selama ini"


"tenang aja, ada mama, papa dan tante Alma yang setia mendampingi Zi" pandangan Zi tetap mengarah keluar jendela.


Keheningan mulai kembali datang diantara mereka sampai Zi melontarkan pertanyaan pada Elma, "apa om.Alvin dulu pacar mami?"


Elma sedikit terkejut Zi memanggilnya mami, biasanya kata-kata itu susah keluar dari mulutnya, "bukan, dia hanya tenan SMP mami, selama SMP mami tidak punya pacar....."


"tapi punya suami" Zi mengatakan tanpa menatap Elma.


Elma hanya tersenyum, "mami tidak pernah punya pacar selain papi Kevin"


"mami harap Zi bijak dalam menyikapi apa yang dulu mami lakukan, mami sadar semua yang mami lakukan dulu salah"


"apakah papi Kevin laki-laki yang baik?" Kali ini Zi menatap ke arah Elma yang fokus menyetir.


"baik, papi Kevin sayang sama mami dan Zi, walaupun papi hanya memiliki waktu singkat bersama Zi"


"benarkah, tapi mengapa papi meninggal karena overdosis, bukankah seorang pecandu narkoba adalah sampah masyarakat, itu berarti orang yang tidak baik"


"darimana Zi dapat info seperti itu?"


"hampir seluruh teman Zi disekolah tau kalau papi Zi adalah seorang pecandu narkoba dan meninggal karena over dosis" Zi mengatakan dengan nada tinggi, hatinya seperti diliputi emosi dan air matanya ikut menetes.


Elma menepikan mobilnya, "Zi, maafkan mami dan papi ya, tapi percayalah papi Kevin sangat sayang sama Zi" Elma mencoba meraih tangan Zi namun ditepis anak itu.


"kenapa Zi harus lahir dari mami dan papi, Zi malu tiap orang memandang jelek pada Zi" anak itu seperti meluapkan segala gundah dihatinya selama ini.


"maafkan mami ya, jika mami bisa memutar waktu mami akan memilih melahirkan Zi dalam keadaan yang lebih baik, yang Zi harus tau mami tidak pernah menyesal memiliki Zi"


Zi menutup mukanya dengan isakan tangis yang semakin kencang, sungguh ini sangat menyayat hati Elma, bingung harus bagaimana membuat tangis Zi reda karena memang dia telah banyak menoreh luka dihati dan kehidupan putrinya itu, posisi seperti ini mengingatkan Elma ketika dia kebingungan menghadapi tangisan Zi bayi yang lapar namun ASInya tidak bisa keluar. Penyesalan mungkin yang dapat dia rasakan, menyesal melakukan kesalahan fatal yang rentetan akibat buruknya tidak sepadan dengan nikmat sesaat yang dirasakannya.


...***Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan, jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran***...


...___****___...