
Zivana
Seorang gadis menuju remaja berusia 12 tahun, tumbuh besar bersama Oma Opa yang dia panggil mama papa, sejak kecil sangat membenci wanita yang melahirkannya. Persahabatannya dengan Zahra membuatnya mulai dapat menerima kekurangan orang lain.
Zahra
Gadis 12 tahun yang terbiasa mandiri dan berlimpah kasih sayang walaupun hanya dari seorang ayah, ibunya pergi meninggalkan dia sedari kecil, namun Zahra tetap selalu merasa ditelapak kaki ibunya terdapat surga.
Elma
Wanita yang melahirkan Zivana disaat umurnya belum genap 16 tahun, dan menjadi janda ketika umurnya baru 18 tahun, selalu santai dalam menghadapi segala hal, tidak pernah punya tujuan jelas dalam hidupnya, baginya kesenangan hari ini harus dinikmati tidak peduli akan ada masalah setelahnya.
Alex
Seorang ilmuwan yang begitu terencana dalam berbagai hal, hingga membuatnya menikah di usia yang hampir kadaluarsa, dan memiliki Zahra disaat usianya sudah 37 tahun, terlalu sibuk dengan pekerjaannya membuat wanita yang melahirkan anaknya pergi meninggalkannya dengan laki-laki lain.
****
"kenapa pagi-pagi sudah cemberut?" Zahra merangkul pundak Zivana yang baru turun dari mobil Alphard yang mengantarnya.
"miss failed (nona gagal) akan datang, kenapa juga dia harus kembali" berjalan dengan lesu Zivana menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya itu.
"bukannya kamu harusnya senang mami kamu datang" mereka duduk dibangku depan kelas.
"aku lebih senang jika dia tidak pernah hadir lagi dihidupku, sepuluh tahun dia tidak pernah ada untuk aku, sekedar telepon pun tidak pernah, sesibuk apa sih kerjaan dia, toh juga akhirnya dia gagal dalam karirnya yang enggak jelas itu"
"mungkin memang benar-benar sibuk, syukurilah setidaknya mami kamu masih ingat kamu walau terlambat, sedangkan aku tidak pernah tau mama aku ada dimana"
"tapi setidaknya kamu punya papa yang hebat"
"udahlah, kita masuk yuk" Zahra menggandeng tangan. Zivana masuk ke dalam kelas.
Mereka saling menguatkan satu sama lain, mereka tidak memiliki ikatan darah namun mereka saling melindungi, dimana ada Zivana pasti disitu ada Zahra. Sering kali orang menganggap mereka saudara kembar. Keduanya sama-sama memiliki wajah yang sedikit oriental, mata mereka sedikit sipit, hidup mancung namun Zahra lebih runcing, kulit putih yang bersemu merah jika terkena sinar matahari, rambut lurus hitam dengan potongan yang sama berponi seperti pemeran kartun Dora.
Mata sipit Zivana diwarisi dari Kevin Wijaya, ayah biologis Zivana yang meninggal karena overdosis ketika Zivana masih berumur belum genap dua tahun. Sedangkan Zahra wajah orientalnya warisan dari mama Aiko yang masih ada keturunan Jepang.
"papa aku hari ini pulang dari Belanda, aku mau jemput dibandara, kamu mau ikut?" Zahra mengemasi buku yang ada dimejanya.
"boleh, tapi aku telpon mama dulu ya, biar sopir enggak usah jemput aku nanti" Zivana menelpon mamanya untuk minta ijin ikut Zahra.
"gimana, boleh sama Oma?"
"beres, mama aku emang paling ok" mama dan papa Zivana yang sejatinya adalah Oma dan Opanya sangat memanjakan Zivana.
"ayo kita ke kantin hari ini aku tidak membawa bekal makanan, aku traktir kamu Zi" Zahra mendorong sahabatnya itu untuk keluar kelas.
"boleh enggak traktirnya bukan dikantin, aku paling males ke kantin, kita bisa makan berdua bekal aku ditaman belakang" Zivana berusaha untuk tidak bergerak dari tempatnya berdiri sambil memeluk bekal makanannya.
"ayo lah Zi, aku hanya punya uang buat traktir di kantin" Zahra tersenyum sambil menyeret tangan Zivana.
Sampai di kantin mereka mengambil duduk dekat dengan jendela dan meletakan bekal makanan Zi di meja, "kamu mau makanan apa?" Zahra menawarkan menu makanan.
"aku minum aja deh aku kan udah bawa bekal, boba boleh lah" stand yang berjualan dikantin sekolah itu cukup lengkap, mulai dari makanan berat sampai makanan ringan.
"ok, aku pesankan" Zahra berjalan menuju stand minuman boba dan memesan dua minuman, kemudian beranjak pada stand penjual kentang goreng, belum menyelesaikan menulis pesanannya dia mendengar keributan, dan nampak Zivana bertengkar saling mencambak rambut dengan Mela, Zahra segera mendekati sahabatnya yang nampak seperti adu gulat dengan lawannya.
"Zi, lepaskan" Zahra berusaha melerai pertengkaran itu dengan menarik tubuh Zivana. Namun dua orang yang sedang adu kekuatan itu seakan tidak mau melepaskan tangan mereka. Zahra dan beberapa teman Mela yang berusaha melerai tidak mampu memisahkan dua banteng yang sedang adu kepala itu.
Sampai akhirnya Pak Aldo guru fisika yang sedang lewat memisahkan mereka, "kalian apa-apaan, ini sekolahan bukan arena gulat, kenapa bisa bertengkar seperti itu?" hardik Pak Aldo dengan wajah yang mengeras.
"dia yang duluan mencambak rambut saya pak" Mela menuding ke arah Zivana.
"mulut loe kayak comberan pantas kalau gue jambak rambut loe" Zivana membela diri dengan berapi-api.
"sudah cukup, kalian berdua ikut bapak ke ruang BP" pak Aldo berjalan meninggalkan mereka berdua, namun kedua banteng itu masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"ayo, kenapa masih diam disitu" Pak Aldo membalikkan badan dan membentak mereka untuk segera ikut dengannya.
Zivana dan Mela berjalan mengikuti pak Aldo ke ruangan BP, Zahra mengikuti mereka dari belakang.
"kamu juga ikut bertengkar Zahra?" Bu Ayu bertanya dengan nada lembut ke arah Zahra.
"ti..tidak bu" Zahra mengeleng pelan dengan suara gemetar.
"lalu kenapa kamu ikut masuk? Biarlah kali ini Zivana menyelesaikan masalahnya sendiri, kamu tidak perlu terlalu melindungi dia, kamu boleh tunggu di luar" Bu Ayu meminta Zahra keluar dari ruang BP.
Zahra menunggu diluar dengan cemas, selama ini jika Zivana terkena masalah Zahra seakan menjadi malaikat pelindungnya, menyelesaikan masalah Zevina menjadi rutinitas bagi Zahra sejak mereka bersahabat tiga tahun lalu.
Pintu ruang BP terbuka nampak Mela keluar dulu sambil memandang ketus kearah Zahra gadis berambut panjang itu pergi berlalu, dibelakangnya Zivana keluar diikuti bu Ayu dan pak Aldo, "tolong kamu jaga saudara kembar kamu ini, jangan sampai bertingkat bar-bar lagi" Pak Aldo seperti sudah bosan dengan kelakuan Zivana yang hobi membuat masalah.
"kami bukan saudara kembar pak, tapi saya janji akan menjaga Zivana" Zahra menatap memelas pada pak Aldo dan bu Ayu.
"sudah, kalian kembali ke kelas, tolong kamu jangan mengulangi seperti itu lagi ya Zi" Bu Ayu dengan penuh kelembutan mengusap punggung Zivana.
"baik bu, pak, kami kembali ke kelas" Zahra segera menarik tangan Zivana.
Zahra tidak berusaha bertanya apa yang terjadi, karena dia yakin nanti Zivana pasti dengan suka rela menceritakan disaat hatinya sudah tenang.
Membereskan mejanya nampak Zivana masih dalam suasana hati yang terlihat tidak baik, Zahra mendekati dan berusaha membantu Zivana memasukan alat tulis pada kotak pensilnya.
"kamu jadi ikut aku jemput papa atau mau aku antar pulang aja?"
"aku mau ikut jemput papa kamu, justru semakin bete kalau di rumah" Zivana sudah memasukan semua bukunya ke dalam tasnya.
"ok, kita jemput papa, pasti papa bawa oleh-oleh buat kita" Zahra merangkul tubuh Zevina untuk membuat anak itu lebih tenang.
Sopir kantor papa Zahra yang bertugas antar jemput Zahra sudah menunggu di depan gerbang sekolah, "mas Udin, kita ke bandara ya jemput papa"
"baik mbak" Mas Udin melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan karena antrian penjemput nampak mengular.
"aku ingin pindah sekolah aja" Zivana mengatakan dengan perasaan tertekan.
"karena masalah tadi? Bukannya udah biasa kamu bertengkar dengan Mela sejak dulu, bahkan sejak kita kelas empat sekolah dasar"
"tadi ini tadi sungguh perkataan si Melamin itu tidak layak masuk ke telinga"
"emang dia berkata apa?"
"dia bilang darah aku ini mengandung narkoba karena bapak ibuku pecandu narkoba, emang bener gitu Za?" Zevina bercerita dengan mata berkaca-kaca.
"mana ada kayak gitu, nanti coba kita tanya papa" Zahra mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"aku ingin pindah sekolah saja, aku enggak kuat jika harus tiap hari mendapat ejekan dari Melamin dan kawan-kawannya itu" kini airmata Zevina benar-benar jatuh berderai.
"ada aku Zi yang akan melindungi kamu dari mereka, biarlah mereka menghina kita, yang penting kamu tidak seperti itu, aku tau kamu anak baik Zi" Zahra memeluk sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang.
...Sahabat adalah orang yang tetap ada untuk kita walau seluruh dunia berkata kita tidak berharga...
...^^^******^^^...
.
.
.
.
.
Hai, Bertemu lagi dengan tulisan saya yang masih receh ini, semoga masih berminat membaca tulisan saya.
Kali ini kita akan berkelana dengan persahabatan Zahra dan Zivana, dan ikuti keseruan mereka untuk menggabungkan cinta luar biasa mami Elma dan Papa Alex.
Jangan lupa kasih like, dan komen untuk penyemangat saya.
Tetap prokes, banyak berdoa dan jaga imun kita, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan pandemi ini cepat pergi menghilang.