Merger Of Love

Merger Of Love
Berkorban



Elma masih terdiam menunggu Zi yang menangis hingga nafasnya tersengal sengal. Bingung harus bersikap seperti apa, ingin memeluknya namun dia yakin anak itu akan menolaknya, hanya kata maaf yang berulang kali dia ucapkan, "maafkan mami ya Zi, mami akan menembus semua waktu Zi yang hilang bersama Mami"


Zi menghentikan tangisnya, mengambil tissu dan membasuh air mata yang bercampur ingusnya, "mami enggak akan pernah bisa menggantinya"


"mami akan berusaha, percayalah, apapun akan mami lakukan untuk menembus semua kesalahan mami pada Zi" Elma mendekatkan tubuh dan wajahnya ke arah Zi, ditatapnya dengan penuh perasaan sayang putri kecilnya itu.


"termasuk mami tidak akan menikah lagi?" Zi menatap Elma dengan tatapan tajam.


Elma terdiam, diluar dugaan Zi akan mengatakan seperti itu "Jika memang Zi ingin mami tidak menikah lagi, mami akan lakukan"


"baiklah, Zi pegang janji mami" Anak itu tersenyum penuh kemenangan.


Sejak itu hubungan Elma dan Zi semakin dekat, mereka sering jalan bersama, meskipun terkadang Zi masih ingin Zahra menemaninya jalan bersama Elma. Mereka bertiga hampir seperti teman, jarak umur yang tidak jauh membuat mereka memiliki kegemaran yang sama.


Yang mungkin menjadi masalah bagi Elma adalah kehadiran Alvin, laki-laki itu hampir setiap hari menelponnya, bahkan sering mengajak makan siang bersama. Elma sadar Alvin mengharap hubungan yang lebih dari sekedar teman, perhatian yang diberikan pada Elma kadang membuat Elma sedikit berbunga-bunga, bagaimanapun usia Elma masih tergolong muda, ada rasa ingin diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenisnya. Namun janji Elma pada Zi mengharuskan dia mundur teratur menghindari Alvin, karena dia tidak mau baik Alvin maupun dirinya sama-sama terluka.


POV Alvin


Bertemu lagi dengan Elma membuatku mengingat kenangan lima belas tahun lalu, awal aku melihatnya ketika hari pertama masuk sekolah menengah pertama, gadis cantik berambut indah, sampai saat ini pun rambutnya masih begitu indah.


Dulu selama tiga tahun aku sangat menyukai Elma, mungkin cinta monyet anak ABG yang baru mengalami baliq. Hampir semua cowok di sekolah sangat menginginkan menjadi kekasih Elma, meskipun Alma kembarannya sama-sama cantik dan lebih pintar namun pesona Elma lebih meracuni pikiran cowok disekolah, Elma lebih pandai bergaul, lebih sedikit terlihat sexy, tidak dipungkiri waktu itu melihatnya memakai seragam atasan sedikit ketat dan rok yang lebih pendek dari anak cewek lain membuat jantungku berdebat bila didekatnya. Aku seakan tidak punya nyali untuk mengatakan rasa suka pada Elma, terlalu banyak pesaing berat yang juga menginginkan Elma.


Kevin, dia menjadi sahabatku sejak kami masuk kelas sembilan, pesona Kevin membuat semua cewek disekolah berlomba-lomba ingin menjadi pacarnya, namun Kevin tidak pernah perduli dengan keberadaan mereka.


Sampai pada saat kami pulang dari study tour, aku melihat Kevin dekat dengan Elma, dan didepan umum mereka seakan memprokramirkan mereka telah menjadi pasangan kekasih, bahkan seakan tidak tau tempat mereka sering menunjukan kemesraan ala anak ABG disekolah. Saat aku bertanya pada Kevin tentang hubungannya dengan Elma, laki-laki bermata sipit itu dengan senyum bangganya mengatakan dia sudah jadian dengan Elma, sejak itu aku harus mengubur rasa sukaku pada Elma.


Untuk menghindari hatiku yang terluka bila melihat kemesraan mereka, aku tidak melanjutkan SMA yang sama dengan mereka, aku memilih sekolah negeri yang dekat dengan rumah, dan sejak itu aku putus komunikasi dengan Kevin. Setelah satu tahun kemudian aku mendengar kabar bahwa Elma dan Kevin tidak melanjutkan SMA karena Elma hamil.


Sekarang aku kembali bertemu dengan Elma, pertemuan tak terduga di Cineplex tempat aku bekerja, gadis itu tetap cantik, tidak berubah sama sekali penampilannya, rambutnya tetap indah, tubuhnya tetap terlihat sexy, sungguh menggetarkan hatiku untuk bisa dekat dengannya. Sejak pertemuan itu, aku sering berkomunikasi lagi dengan Elma, bahkan beberapa kali kami sering keluar untuk makan siang bersama karena jarak tempat Elma bekerja tidak jauh dari tempatku. Namun ada yang berbeda seminggu ini, aku merasa Elma menghindari aku, telepon maupun pesanku tidak pernah dia balas, aku cari ditempat kerjanya pun dia tidak mau menemuiku, sampai pada akhirnya sore ini aku putuskan untuk menunggunya keluar dari butik tempat dia bekerja.


"hai El" aku menyapanya ketika dia membuka pintu mobilnya yang diparkiran di pinggir jalan.


"hai Vin" dia terlihat terkejut melihat aku tiba-tiba ada dibelakangnya.


****


"bisa kita bicara sebentar,"


"ada apa, aku ada janji dengan Zi" Elma kembali menutup pintu mobilnya dan menghadap ke arah Alvin.


"kita bicara di cafe depan aja, enggak enak berdiri dipinggir jalan begini" tangan Alvin segera mengambil tangan Elma dan menggenggamnya dengan lenbut mengajaknya menyeberang jalan menuju cafe yang tidak begitu ramai.


Akhirnya mereka duduk berhadapan di dalam cafe, "apa yang ingin kamu bicarakan" Elma membuka suara terlebih dahulu setelah pelayan cafe mencatat pesan mereka dan berlalu.


"apa kamu menghindariku El?" Alvin menatap lembut wajah Elma.


"saya sibuk, banyak design kain yang harus segera aku selesaikan, maaf jika kamu merasa terabaikan" Elma berusaha bicara sediplomatis mungkin, agar tidak membuat Alvin kecewa.


"El, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu, sesuatu yang sudah lama aku pendam" Alvin mencoba meraih tangan Elma, belum sempat Elma menarik tangannya Alvin telah menggenggam tangannya dengan erat.


"El, mau kah kamu menjalin hubungan serius dengan aku?"


"maksudnya" Elma merasa bingung harus bersikap seperti apa, untuk menyembunyikan kegugupannya dia balik bertanya.


"aku ingin menjadikan kamu pendamping hari-hariku, jika kamu siap menikah denganku aku lebih suka, namun jika kamu belum siap aku akan sabar menunggu dengan menjadi pacar kamu"


Elma tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Alvin.


"aku serius El, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita masuk SMP" tatapan Alvin penuh kejujuran.


"maaf Vin, aku tidak bisa menjalin hubungan serius, bukan hanya dengan kamu tapi dengan laki-laki manapun" Elma mengatakan dengan kehati-hatian.


Elma tertawa lepas, suaranya terdengar sedikit riuh membuat orang yang ada di cafe menatapnya, "ups" Elma menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"kamu pikir aku lesbong gitu?" Elma tertawa lagi namun kali Ini suaranya lebih lirih.


"emang enggak?" Alvin bertanya dengan muka serius.


"enggak lah, aku masih normal, cuman maaf saat ini aku tidak bisa menjalin hubungan serius dengan laki-laki manapun" wajah Elma nampak sedikit menahan rasa keterpaksaan.


"kalau boleh tau karena alasan apa, apakah kamu masih trauma dengan pernikahanmu yang gagal?"


Elma menggeleng pelan, "bukan itu alasannya, tapi karena aku ingin memperbaiki hubungan dengan Zi terlebih dahulu, selama ini banyak kesalahan yang sudah aku buat pada anak itu"


"tapi aku siap menjadi ayah bagi Zi, aku akan menyayangi anak Itu juga, percayalah padaku El, aku melamarmu maka aku juga tau konsekuensinya, kamu satu paket dengan Zi" wajah Alvin memelas penuh permohonan.


"banyak gadis diluar sana yang bisa kamu jadikan pendamping" Elma menggenggam tangan Alvin memberikan kekuatan.


"tapi aku menyukaimu Elma" suara Alvin kali ini terdengar penuh penekanan.


"tapi Vin, aku mohon kamu mengerti aku seorang ibu yang akan berkorban apapun untuk kebahagian anaknya, meskipun harus mengorbankan kebahagiannya sendiri"


"baiklah, aku tidak akan memaksa kamu El, aku akan memberikan ruang padamu untuk dekat dengan Zi, namun aku akan tetap berharap kita dapat saling berkomunikasi dengan baik"


"makasi ya Al" mereka berdua saling memberikan kekuatan.


Elma merasa lega karena Alvin dapat menerima dengan baik keputusannya.


Elma melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena dia terlalu terlambat memenuhi janji untuk mengantar Zi periksa rutin ke dokter gigi.


Tok


Tok


Elma mengetuk pintu kamar Zi dan memutar handle pintu kamar Zi, "boleh mami masuk?"


Nampak Zi tiduran diatas ranjangnya dengan memainkan ponselnya, melihat sekilas ke arah Elma kemudian kembali menatap layar ponselnya.


Elma duduk dipinggir ranjang, "maafkan mami ya terlambat datang, ada klien yang mendadak datang" Elma terpaksa berbohong.


"ya" Zi menjawab dengan singkat tanpa melihat ke arah Elma.


"Zi maafin mami kan?" Elma mengusap lembut rambut anak gadisnya itu.


"besok kita jadwal ulang ke dokter giginya ya?"


"heemmm" jawaban Zi yang membuat Elma bingung mengartikannya.


"oiya Zi, mami lupa bilang boneka treasure udah dikirim teman mami yang di Paris, mungkin minggu depan sampai"


"beneran?" mendengar boneka group k-pop kesukaannya bakalan datang kemarahan Zi pada Elma seketika menguap.


Elma tersenyum sambil mengangguk pelan, "selusin boneka itu buat Zi semua" dengan terpaksa Elma merelakan selusin boneka kesayangannya yang dia kumpulkan dengan cara yang tidak mudah, namun demi kebahagiaan anaknya lagi lagi seorang ibu akan berkorban merelakan apa aja yang dimilikinya bahkan termasuk nyawanya sekalipun.


"makasi mami" Zi memeluk Elma dengan erat.


Jika dulu seakan Elma tidak memiliki tujuan hidup maka sekarang dia tau harus kemana arah tujuan hidupnya, membahagiakan putrinya itulah tujuan hidupnya sekarang, melihat putrinya bahagia adalah kebahagian hakiki yang paling indah dirasakannya.


...***hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia***...


...___****___...