Merger Of Love

Merger Of Love
Aku Ingin Bahagia



"kalau kamu merasa berat melanjutkan cerita kamu, kita break dulu" mbak Ratih membiarkan Elma menangis.


"saya akan lanjutkan mbak, saya ingin segera melupakan masa lalu saya dan menatap masa depan saya" Elma mengusap air matanya dengan tissu.


POV Elma


Empat hari kami mengikuti ujian nasional, selama itu pula aku tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Kevin. Hari terakhir ujian aku bergegas menuju parkiran, aku berharap bertemu Kevin, dan benar dugaanku Kevin berada diparkiran dan sedang berbicara dengan temannya.


"bisa kita bicara sebentar" aku mendekati Kevin dan mengajaknya berbicara, dia kemudian mengajak aku masuk ke dalam mobilnya.


"apa kamu sibuk hingga tidak pernah menghubungi aku? Aku mencoba menghubungi ponselmu tidak aktif" aku mengatakan dengan suara lirih.


"aku ingin konsentrasi ujian" jawabnya santai tanpa memandangku.


"apa kamu menghindari aku setelah kejadian di villa itu?" aku menatap tajam ke arah Kevin.


Dia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan, aku mulai meneteskan air mataku, ada perasaan kecewa, menyesal ternyata semua tidak seindah yang aku bayangkan.


"apakah kamu pernah melakukan dengan cewek lain?" aku berusaha untuk menahan airmataku.


"tidak, kamu jangan berfikir aku seburuk itu, terus terang sejak dari villa itu aku juga ada perasaan takut, perasaan bingung, sama seperti kamu aku juga baru itu melalukannya, jadi kamu jangan berfikir aku menghindari kamu, aku hanya ingin menenangkan diri, apalagi kita menghadapi ujian"Kevin membelai rambutku dengan lembut.


Aku menangis, aku peluk tubuhnya, "jangan tinggalkan aku, aku takut kamu meninggalkan aku"


"aku tidak akan meninggalkan kamu" Kevin mengusap lembut punggungku, aku merasakan kenyamanan.


Sejak itu hubungan kami berdua kembali seperti layaknya pasangan ABG yang kasmaran, kami berusaha melupakan dosa besar yang telah kami perbuat, dan kami tidak pernah ingin melakukan itu lagi, meskipun dosa lain seperti berciuxxx tetap kami lakukan.


Sebulan berlalu begitu cepet, tibalah pengumuman kelulusan, kami berdua lulus walaupun dengan nilai yang tidak pada kategori bagus. Seminggu setelah kelulusan kami masih ke sekolah untuk menyelesaikan beberapa kelengkapan kelulusan.


Pagi itu aku masih harus kesekolah, namun bangun tidur aku merasakan pusing yang teramat sangat, sampai rasanya aku susah bangun, mama menghampiri aku dikamar.


"kamu sakit?" mama memdekati aku yang masih tidur di ranjangku.


"kepalaku pusing sekali, rasanya sulit untuk bangun"


" ya sudah, kamu istirahat saja tidak usah ke sekolah, sarapan kamu biar dibawakan bibi ke atas" mama lalu keluar meninggalkan kamarku.


Seharian aku hanya tidur di kamar, pusing dikepalaku seperti hilang timbul. Satu minggu pusing itu hilang timbul tak kunjung hilang padahal aku sudah meminum obat anti nyeri.


Sampai pada saat aku ingat aku belum mengisi buku tanggal menstruasiku bulan ini, dari kami menstruasi pertama mama memberi aku dan Alma buku note kecil untuk mencatat tanggal menstruasi kami setiap bulan, kata mama untuk memantau apabila ada masalah dengan menstruasi kami. Aku buka buku mestruasiku, aku terakhir selesai menstruasi empat hari sebelum kejadian di villa itu, seketika aku merasa takut, apakah aku hamil. Setelah kejadian di villa itu aku mencari tau lewat internet apakah akibat jika kita melakukan hubungan badan, dan kemungkinan kita bisa hamil. Aku menghubungi tiga sahabatku, menceritakan semuanya dan mereka terkejut ketika aku bilang tentang kejadian di villa, besoknya aku ke rumah Sandra.


"gila kamu, melakukan begituan tanpa pengaman" Sandra dengan nada tinggi memarahiku.


"pengaman apa maksud kamu?" aku benar-benar tidak mengerti pengaman yang dimaksud Sandra.


"makanya banyak belajar dulu kalau mau begituan jangan nyosor aja" kembali Sandra memarahiku.


"sudahlah, sekarang kita tes aja apakah kamu hamil atau tidak?" Debi mendekati aku dan memberikan sebungkus alat tes kehamilan.


"bagaimana cara pakainya?" aku bingung ketika mereka minta aku memakai alat itu dikamar mandi.


"aduh, emang ini anak.... Pinter melakukannya aja" Sandra segera menyeretku masuk kamar mandi, setelah itu dia menyuruh aku menampung air kencingku di gelas bekas air mineral dan setelah itu Sandra memasukan isi kotak yang aku bawa, benda pipih itu satu menit dicelupkan pada air kencingku.


"gimana?" Debi dan Olivia tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"garis satu, berarti kamu enggak hamil" Sandra menjelaskan setelah melihat satu garis yang muncul di alat tes pect.


Seketika kami berempat melompat kegirangan dan saling berpelukan.


Sejak itu aku merasa tenang, karena hasil tes menyatakan aku tidak hamil. Mama mendaftarkan aku dan Alma sekolah di tempat yang sama dengan sekolah aku sebelumnya.


Hari ini hari pertama masuk sekolah sebagai siswa SMA, hatiku bahagia karena Kevin juga bersekolah ditempat yang sama begitu pula dengan ketiga sahabatku.


Hari pertama pembukaan masa pengenalan sekolah dilakukan upacara bendera, beberapa saat setelah upacara bendera dimulai tiba-tiba aku merasakan tubuhku seperti lemas tidak bertenaga, pandanganku seketika menjadi gelap.


"aku dimana?" aku bersuara lirih, pertama kali aku membuka mataku, aku melihat mama dan papa duduk disofa, mata mama terlihat sembab seperti habis menangis, tau aku terbangun mama menghampiri ranjangku dan dengan gerakan cepat mama menampar aku.


Plak


Rasa panas di wajah dan rasa bingung dipikiranku bercampur jadi satu.


"mama" papa mencoba menahan tangan mama ketika akan memukul aku lagi.


"biar aku hajar anak tidak berguna ini" mama melontarkan kata-kata pedas seperti biasanya namun aku tidak tau maksudnya kali ini, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan.


"katakan siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu?" Mama berteriak mengatakan sesuatu yang membuat aku terkejut merasakan tubuhku seperti disengat aliran listrik.


"maksud mama apa?" aku masih bingung dengan pertanyaan mama.


"jangan pura-pura bodoh, katakan siapa laki-laki itu" mama semakin histeris dan menggunjang-gunjang tubuhku.


Tidak sampai sehari aku di rawat di klinik aku diperbolehkan pulang, aku mengurung diriku di kamar, aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku menelpon Kevin aku ceritakan semuanya, dia terdiam namun diakhir percakapan kami dia akan segera kerumahku untuk menemui mama dan papa.


Dan ternyata Kevin memang laki-laki yang bertanggung jawab, dia menemui mama dan papa menjelaskan semuanya, dia berjanji akan berbicara dengan mami dan papinya setelah mereka pulang dari luar negeri.


Seminggu kemudian Kevin memberitau bahwa mami dan papinya ingin membicarakan masalah ini dengan mama dan papaku direstoran yang telah disiapkan oleh mami Kevin.


Aku, mama dan papa datang ke restoran yang telah ditentukan orang tua Kevin, didalam private room aku melihat Kevin bersama mami dan papinya, kami semua saling berkenalan dan pembicaraan dimulai.


"saya tidak ingin terlalu berbasa basi" mami Kevin memulai pembicaraan, "saya tau mereka berdua sudah melakukan kesalahan, dan sangat berdampak pada masa depan mereka yang masih panjang, kami berharap mereka dapat melanjutkan sekolah mereka, untuk itu kami ingin bayi yang sudah terlanjur ada itu di gugurkan saja"


"mami" Kevin bersuara keras memandang kearah maminya.


"benarkah apa yang mami hilang, kalian tidak akan punya masa depan jika tetap mempertahankan bayi itu, kalian masih terlalu muda untuk menjadi orang tua" mami Kevin mengatakan dengan nada sinis


Papa merasa tidak terima dengan perkataan mami Kevin, "Jika keluarga anda dan anak anda tidak mau bertanggung jawab saya tidak memaksa, saya tidak mau anak saya mati konyol karena harus melakukan aborsi dan saya tidak mau menambah dosa dengan jadi pembunuh" papa lalu mengajak aku dan mama meninggalkan restoran itu.


"sebentar pak Burhan" Suara papi Kevin mencegah kami untuk pergi, dan kami kembali duduk.


"maafkan istri saya, secara pribadi saya minta maaf atas kesalahan anak saya"


"papi" mami Kevin merasa kesal dengan sikap suaminya.


"sudahlah mi, mungkin mengambil langkah menikah kan mereka adalah yang terbaik, Kevin sudah salah, biarlah dia bertanggung jawab atas kesalahannya"


Akhirnya diputuskan untuk segera menikahkan kami, karena kami berbeda keyakinan disepakati kami menikah di Singapura, dan dengan bantuan saudara Kevin yang ada di Singapura proses pernikahan kami berlangsung cepat dan lancar, aku hanya didampingi mama dan papa.


Sebulan setelah menikah Kevin mengajak aku pindah ke apartemennya, aku dan Kevin sama-sama bersekolah secara Home scholing dengan guru datang ke tempat kami.


Awal-awal pernikahan semua berjalan baik, Kevin sangat perhatian dan sayang padaku, menginjak usia Kehamilanku delapan bulan sikap Kevin berubah, dia lebih banyak keluar rumah untuk main bersama teman-temannya, pulang dalam keadaan mabuk sering dia lakukan, dan pertengkaran antar aku dan Kevin tidak terhindarkan lagi, usia yang sama-sama masih terlalu muda membuat kami mudah terpancing emosi, ditambah pengaruh alkohol membuat Kevin menjadi pribadi yang kasar dengan sering melakukan kekerasan fisik padaku, pernah kepalaku harus dijahit karena kekerasan yang dilakukannya, namun aku tetap bertahan tidak berani mengeluh pada siapapun termasuk pada mama. Inilah awal dukaku kembali aku nikmati.


****


"sudah El, cukup sekian kita lanjut lagi besok" mbak Ratih memeluk Elma yang menangis dengan terisak-isak.


"aku ingin bahagia mbak"


"kamu pasti akan bahagia El, percaya dan berusahalah"


Dengan mencurahkan semua rasa sedih yang pernah dia alami, Elma merasa lega setidaknya beban yang selama ini dia pendam sendiri sedikit demi sedikit menguap dari hatinya, saatnya dia menatap masa depannya.


Setelah dari tempat mbak Ratih dengan mata yang masih sembab meskipun Elma sudah berusaha mengurangi dengan polesan make up, Elma menuju tempat Zi dan Zahra berlatih gymnastic untuk menjemput mereka. Jika biasanya mereka berlatih sepulang sekolah maka minggu ini karena pts mereka berlatih pada hari sabtu.


"tante" Zahra menyapa Elma dengan antusias.


"mau pergi sekarang atau kalian masih ada keperluan?" Elma berusaha merangkul pundak Zi, namun anak itu hanya diam tanpa ekspresi.


"kita jalan langsung aja tante keburu tiketnya habis" Zahra kembali bersuara.


"ok, kita lets go" Elma berjalan mendahului Zi dan Zahra.


Sampai di bioskop antrian tampak sudah mengular, dan ternyata antrian telah di tutup, Elma melihat kekecewaan di wajah Zi.


"besok kita coba datang lebih awal, besok kalian tidak ada kegiatan kan?" Elma sebenernya tidak ingin mengecewakan anaknya, karena perlahan dia mulai dapat merengkuh hati Zi.


"atau kita lihat yang jam berikutnya saja" Zi berharap dia bisa menonton hari ini.


"untuk hari ini semua sudah penuh, mami tadi sudah bertanya... Enggak apa-apa kan kalau besok saja" Elma berusaha merayu putri kesayangannya.


"iya Zi besok kita berangkat lebih awal, atau kita beli via online dulu aja" Zahra berusaha juga membujuk Zi.


"tapi Zi ingin nonton hari ini" Zi memang jika sudah memiliki keinginan susah dipatahkan.


Ketika mereka masih berdiri di depan pintu masuk seseorang menyapa Elma, "Elma ya?"


Elma melihat ke arah laki-laki yang menyapanya, seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu tersenyum pada Elma.


"pasti kamu lupa ya... Aku Alvin, teman SMP kamu" Alvin menyodorkan tangannya pada Elma untuk bersalaman.


"ohhh maaf kalau aku lupa, kamu sungguh berubah" Elma menyambut tangan Alvin.


"kamu apa kabar El, masih tetap cantik aja, tidak berubah sama sekali masih tetap seperti waktu SMP dulu" Alvin menatap Elma dengan tatapan yang penuh arti.


Melihat maminya berintersksi dengan laki-laki ada perasaan kecewa dari Zi, dia mulai dekat dengan maminya, jika Elma berhubungan dengan laki-laki., Zi takut kembali kehilangan Elma.


...***Semua sudah ada waktunya hanya tinggal kita bersabar untuk menantinya ***...


...___****___...