
POV Alex
Bodohnya aku kenapa aku sampai tidak tau kalau dia ternyata anak Rita, Weni juga tidak pernah cerita jika gadis itu anak Rita. Enggak bisa dibayangkan aku menyukai anak temanku yang pantasnya jadi anakku.
Penampilannya yang lebih dewasa ketika bekerja membuat aku tidak berfikir dia anak Rita, walaupun awalnya memang aku seperti familiar dengan wajahnya.
Rita menikah ketika masih kuliah semester 3, meskipun telah menikah dan melahirkan Rita tidak pernah cuti kuliah, dia menikah karena dijodohkan keluarganya sejak lama, suaminya Mas Burhan berumur lebih tua lima tahun dari Rita, setelah Mas Burhan lulus kuliah dan menjalankan usaha keluarganya mereka menikah. Aku sendiri dan Rita bersahabat sejak kecil karena kami bertetangga, dan ketika SMA kami bersahabat dengan Weni, Danu dan Candra, sayang Candra tidak berumur panjang dia meninggal tiga tahun lalu karena penyakit diabetes. Kami kuliah di Universitas yang sama namun beda jurusan, aku dijurusan kimia, Weni dijurusan design, Rita dan Danu dijurusan ekonomi sedang Candra memilih jurusan teknik sipil. Meskipun beda jurusan kami selalu menyempatkan untuk bertemu di kampus.
Ketika kuliah kami sudah memasuki semester akhir, kami tinggal mengerjakan skripsi dan mengulang beberapa mata kuliah, Rita karena sempat libur ketika melahirkan harus mengulang lebih banyak mata kuliah, waktu itu anak-anaknya sudah berumur satu tahun lebih, aku sangat ingat Rita sering membawa anaknya ke kampus dan kami berempat kebagian menjaga anak-anaknya ketika dia kuliah. Kami menjaga mereka di cafe depan kampus, dan Elma anak Rita lengket denganku, hanya aku yang bisa mendiamkan anak yang lebih lincah dari saudara kembarnya itu jika menangis, mungkin karena aku dan Rita bertetangga jadi Elma lebih sering bertemu denganku. Dan rasanya seperti sesuatu yang aneh dan mengerikan jika aku harus menjalin kasih dengan Elma, aku merasa seperti menjadi pedofilia.
Sepanjang perjalanan pulang Zahra terus memaksa aku untuk bersama Elma, katanya dia setuju sekali jika aku menikah dengan Elma. Ketika aku ingin mencoba serius dengan Elma awalnya memang karena Zahra, aku menganggap dengan usia dia yang masih muda bisa memahami Zahra, karena terus terang aku terkadang tidak paham dengan perkembangan pergaulan anak sekarang. Namun setelah tau dia ternyata anak Rita aku mundur teratur, rasanya aku harus memangkas rasa sukaku padanya.
****
"Kenapa masih pagi udah cemberut?" Zi yang baru datang melihat sahabatnya tidak ceria seperti biasanya.
"Lagi sebel ama Papa," Zahra meletakan kepalanya di meja dengan tangannya sebagai bantalan, benar-benar seperti tidak memiliki semangat.
"Tumben kamu sebel ama papa kamu, apa ada hubungannya dengan wanita yang dikenalkan ama papa kamu kemarin?" Zi duduk di kursi depan Zahra yang kebetulan penghuninya belum datang.
"Kamu tau enggak siapa wanita yang kemarin dikenalkan Papa?" Zahra mengangkat kepalanya dan wajah Zahra berubah menjadi berseri.
"Emang siapa?" Zi penasaran dengan perkataan Zahra namun pemilik bangku yang didudukinya membuat dia terkejut.
"Ngapain duduk disini, minggir sana pindah ke bangku kamu sendiri," Ellen salah satu anak buah Mela musuh bebuyutan Zi mendorong Zi untuk pergi dari kursinya.
"Jangan dorong-dorong dong," Zi berdiri sambil melotot ke arah Ellen, lalu berbalik hendak pergi sambil mengumpat lirih, "Dasar Gajah,"
Ellen yang mendengar umpatan dari mulut Zi menarik rambut Zi hingga tubuh Zi tertarik kebelakang dan hampir jatuh, "Apa kamu bilang?" Ellen yang badannya tiga kali lebih besar dari Zi tidak melepaskan rambut Zi.
"Aduh...." Zi berteriak kesakitan sambil memegang tangan Ellen yang menjambak rambutnya.
Zahra segera berdiri melerai pertengkaran yang ada di depannya, "Tolong lepaskan Ellen,"
"Tidak akan aku lepaskan sebelum temen kamu yang sialan ini minta maaf," Ellen semakin menarik rambut Zi.
"Minta maaf ya," Zahra berkata lembut pada Ellen sementara Zi berteriak kesakitan namun mulutnya enggan meminta maaf.
"Bukan kamu yang minta maaf tapi kecoa ini yang harus minta maaf," Ellen semakin marah karena Zi benar-benar tidak mau minta maaf.
"Aku gak akan minta maaf, biar kamu cabut sekalipun kepalaku, dasar Gajah bengkak," Zi yang keras kepala seakan tidak takut dengan Ellen.
"Sudahlah Zi mintalah maaf, kamu enggak boleh seperti itu, kamu salah kamu sudah menghina orang."
"Enggak akan, dia juga salah mendorong aku tadi,"
Pertengkaran itu menjadi tontonan seisi kelas, "Tonjok aja Zi," bahkan siswa-siswa cowok menyemangati untuk mereka bertengkar, "Cabut semua rambutnyq biar botak, biar enggak cantik lagi," bebetapa komplotan Mela menyemangati Ellen. Suasana makin gaduh dan mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah.
Zi berusaha melepaskan tangan Ellen dari rambutnya namun sia-sia, dia berusaha memukul badan Ellen tapi pukulan Zi seperti enggak berpengaruh bagi Ellen sampai suara bu Ajeng mengejutkan mereka .
"Apa-apaan ini pagi-pagi sudah bertengkar," Bu Ajeng yang biasnya begitu kalem terlihat sangat marah, "Zivana, Ellen ke ruang BP," dan seperti biasa Zivana berakhir dengan mendapat hukuman.
****
"Aduh.... sakit rasanya kepalaku," Zi memagangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kamu sih keras kepala... tinggal bilang maaf aja enggak mau... lagian kamu tuh salah harusnya minta maaf," Zahra membuka kotak makannya, mereka berdua duduk di taman belakang favorit mereka di sekolah.
"Kamu kok jadi belain si Gajah bengkak itu," Zi memasang muka cemberut.
"Aku bukannya belain Ellen, tapi apa salahnya kamu mengakui kesalahan kamu, meskipun aku tau Ellen juga salah,"
"Udah lah malas aku bicarakan Gajah bengkak itu lagi,"
Zahra tau Zi sangat keras kepala dan tidak pernah mau disalahkan, sungguh hanya Zahra teman yang mau bersahabat dengan Zi.
"Tadi kamu belum cerita siapa wanita yang dikenalkan papa kamu," Zi memasukan makanan kemulutnya.
"Kamu pasti terkejut jika aku beri tau," Zahra tersenyum tipis sambil mengaduk makanannya.
"Emang siapa?" Zi kembali memasukan makanan kemulutnya.
"Mami kamu," Zahra memandang kearah Zi.
"Maksud kamu?"
Huk
Huk
Zi tersedak, Zahra segera memberinya minum, "Makanya berdoa dulu sebelum makan"
"Apa... Mami aku?" Zi matanya hampir keluar manatap Zahra
"Iya, Tante Elma,"
"Kok bisa, lalu kenapa kamu sedih, apa kamu berubah pikiran dengan misi kita, apa Mami menolak papa kamu," Zi memborbardir Zahra dengan pertanyaan tanpa jeda.
"Kalau tanya satu-satu, bingung aku jawabnya,"
"Habis aku penasaran, cepat jawab dong," Zi tipikal anak yang tidak sabaran.
"Jadi gini...begitu aku lihat wanita itu mami kamu jelas dong aku bahagia banget, misi kita tak terduga akan menjadi nyata tapi....," Zahra diam tidak meneruskan ucapannya dan wajahnya berubah sedih.
"Tapi apa? Jangan bikin aku mati penasaran," Zi mengguncang bahu Zahra.
"Tapi Papa aku memutuskan enggak jadi menyukai mami kamu, sebel enggak?"
"Kenapa?" wajah Zi terlihat terkejut.
"Entalah Papa tidak menyebutkan alasan yang jelas,"
"Kenapa Mami enggak cerita sama aku kalau yang ditemui kemarin kamu dan papamu?"
"aku yang melarang mami kamu cerita, aku mau beri kejutan ke kamu tapi ternyata papa menghancurkan kejutan aku,"
"Tenang.... Kita cari jalan keluar biar mereka bisa bersama seperti keinginan kita," Zi memeluk bahu Zahra.
"Caranya?" Zahra seperti putus asa, otaknya sudah tidak bisa diajak berfikir.
"Papa kamu kan sayang banget sama kamu, gak mungkin dia tega biarin kamu mati kelaparan," Zi tersenyum sambil membereskan kotak bekal makanannya.
"Maksudmu aku harus mogok makan gitu?" Zahra bisa menebak maksud rencana Zi.
Zi mengangguk dengan semangat, "Gimana, bagus kan ideku?"
"Enggak ah, aku bukan tipe yang gituan,"
"Sesekali keluar dari habit kamu lah, sesekali kamu jangan jadi anak baik terus yang manis, yang enggak pernah bikin orang tua senewen,"
"Bukan begitu, aku cuman paling enggak tega kalau lihat papa sedih,"
"Tapi gimana lagi, rasanya cuma itu cara biar papa kamu mau menerima mami aku,"
"Tapi apakah mami kamu mau sama Papaku?" Zahra kembali belum yakin tante Elma bakalan mau.
"Tenang Mami urusan aku," Zi tersenyum sambil berdiri dari duduknya, "Ayo kita masuk," Zi mengulurkan tangannya membantu Zahra berdiri.
Pulang sekolah Zahra langsung mengunci diri dikamarnya, jika biasanya dia akan mencari papanya di kantor yang ada diselah rumah maka siang ini dia akan melancarkan aksi mogok makan seperti yang diusulkan Zi.
Akan kah berhasil, setidaknya ia akan mencoba, Zahra ingin dirinya dan Zi memiliki keluarga yang utuh. Jika cara ini tidak berhasil masih banyak cara untuk mencapai keinginannya.
...***Jangan pernah putus asa karena ada banyak jalan menuju Roma***...
.
.
.
.
Maaf kalau saya lama up nya, entah kenapa seperti kehilanhan gairah untuk menulis.
Srmoga tulisan ini masih bisa dinikmati dan bisa up date setiap hari.
"