
POV Elma
Sepuluh tahun yang lalu aku meninggalkan anakku karena rasa frustasiku, usiaku masih 18 tahun namun semua beban yang menderaku terasa begitu berat.
Masalahku berawal dari kedekatanku dengan Kevin Wijaya , siswa satu sekolah denganku namun beda kelas, dia menjadi idola banyak gadis di sekolah. Wajah oriental yang putih mulus seakan tidak ada noda sedikitpun, salah satu putra pemilik beberapa hotel dan mall, benar-benar kategori anak sultan. Menjadi pacarnya impian semua gadis disekolah, termasuk aku. Keberuntungan seakan berpihak kepadaku, aku satu kelompok dengan Kevin ketika kami melakukan study tour dua bulan menjelang kelulusan sekolah.
Kelompoku terdiri dari empat puluh siswa dan kami mendapat tugas belajar tentang segala kegiatan di kota penghasil kerajinan perak. Di sana kami melakukan study tour selama lima hari. Kami tinggal di penginapan yang berbeda antara siswa laki-laki dan perempuan namun saling berdekatan.
Aku sendiri kategori cewek yang paling diinginkan para cowok di sekolah, wajah cantik pasti hal pertama yang mereka liat, rambutku panjang lurus yang hitam berkilau menandakan aku sangat merawat rambutku, mata sedikit menonjol yang orang bilang bawang sebongkol, alis tebal mempertegas area mataku ditambah bulu mata yang begitu lentik, hidungku mancung namun tidak runcing, bibirku berwarna pink asli sedikit tipis namun tidak terlalu tipis, menurutku bibirku kurang sexy, keseluruhan wajahku sembilan puluh persen menuju sempurna.
Jika ditanya soal kecerdasan aku jauh dibawah kembaran aku Alma yang dari kategori wajah sama cantiknya denganku, sungguh Alma gadis yang sempurna. Bayang-bayang Alma yang begitu sempurna membuat aku selalu dibanding-bandingkan dengan saudara kembarku itu, termasuk mama dan papa.
Aku selalu ingin mendapat pengakuan dari semua orang bahwa aku bisa lebih dari Alma, namun aku tidak punya kelebihan selain wajah cantikku, jika Alma bisa mengkoleksi piala dan mendali satu lemari kaca sampai tidak muat aku justru hanya punya satu piala kelulusan TK saja. Mama dan papa tidak pernah berusaha menggali apa kelebihan yang aku miliki, mereka seakan sudah puas dengan kesempurnaan Alma tanpa pernah melihat aku juga butuh pengakuan.
Aku sendiri bingung apakah aku memiliki bakat atau kelebihan, rasa insecure bila berada di samping Alma membuat aku semakin terpuruk, sebisa mungkin aku menghindari kembarku itu, meskipun kita satu sekolah aku tidak pernah dekat dengannya, karena bagiku dekat dengannya membuat aku nampak tidak sempurna.
Aku lebih banyak bergaul dengan teman yang membuat aku merasa sempurna di dekat mereka, bisa dikatakan mereka teman unfaedah, yang kita bahas hanya soal make up, perawatan tubuh, baju bagus, group band idola, dan yang pasti masalah lawan jenis. Kami berempat terkenal sebagai ikon gadis cantik dan sexy disekolah. Jika aku masih memilih untuk tidak dekat dengan lawan jenis, namun tidak dengan ketiga sahabatku itu, mereka tidak terhitung berapa kali pacaran, padahal usia kami belum genap lima belas tahun.
Kesibukan mama dan papa membuat mereka melupakan aku dan Alma, jika Alma akan duduk manis dirumah untuk belajar, tidak dengan aku yang selalu mencari alasan untuk berkumpul dengan sahabatku. Debi, Sandra dan Olivia ketiga sahabat unfaedahku juga korban dari orang tua yang sibuk dan menghujani mereka dengan materi. Rumah Sandra tempat kami selalu berkumpul, awalnya kami hanya melakukan keisengan anak seusia kami yang ingin dewasa namun belum saatnya, di dalam kamar Sandra kami selalu mencoba make up, memutar musik idola kami dan bernyanyi menirukan seakan kami berada ditengah konser. Keisengan yang mulai membosankan bagi kami, sehingga kami mulai menaikkan level keisengan kami, melihat film dewasa yang awalnya kami tonton film dengan genre romantis, berubah menjadi menonton film dengan semi adegan yang harusnya belum layak kami tonton, namun semakin hari kami semakin terjebak untuk mencari film-film liar tersebut. Ketiga sahabatku selalu memamerkan padaku mereka sudah melakukan ciuman pertama mereka, aku hanya bisa tersenyum getir, bukannya tidak ada yang mau berpacaran dengan aku, namun aku ingin mendapatkan pacar yang bisa membuat orang bangga padaku.
Inilah saatnya bagiku mendapatkan Kevin Wijaya, idola sekolah kategori anak sultan yang pasti akan membuat semua orang bangga padaku jika dapat menaklukannya. Tidak akan aku sia-siakan waktu lima hari untuk dapat menggaitnya. Hari pertama dia masih belum memperhatikan aku sama sekali, bajuku terlalu biasa kurang sexy sehingga nampak tidak ada bedanya dengan lima belas teman perempuan yang satu kelompok denganku. Hari kedua aku lebih berani tampil sedikit sexy untuk ukuran anak kelas tiga SMP, kaos ketat yang menonjolkan bagian dadaku yang mulai berkembang, dan rok berbentuk A diatas lutut yang dengan gamblang memperlihatkan kaki jenjangku yang mulus. Bu Ira guru pendamping kami sempat menegur cara berpakaiaku namun aku anggap angin lalu, rupanya umpan baju sexy yang aku pakai membuat Kevin mulai menatap aku.
Hari ketiga kami mulai dibagi menjadi sepuluh kelompok kecil yang terdiri lima orang tiap kelompok, dan keberuntungan kembali aku dapatkan, aku dan Kevin dalam satu kelompok. Saling mengenalkan diri dan berlanjut membahas tugas kami lakukan di taman penginapan yang nampak asri, mata Kevin selalu mencuri pandang padaku, kali ini aku memakai dres terusan warna biru laut sedikit diatas lutut dengan lengan sedikit terbuka model cold shoulder. Kami duduk dibawah membuat paha mulusku sedikit tereksplor, ketiga anggota kelompok yang lain sibuk membahas tugas, aku dan Kevin yang duduk berhadapan saling bertukar pandangan, menjelang istirahat makan siang tugas telah kami selesaikan, aku memilih duduk sendiri dibangku taman sambil bermain ponsel.
"boleh saya duduk disini?" suara yang begitu terdengar dingin namun sungguh menusuk kalbu.
Aku mengarahkan pandangan pada pemilik suara, "silakan" aku sedikit tersenyum namun tidak mau terkesan mengharapkan, aku harus sedikit jual mahal untuk mendapat seorang Kevin Wijaya.
"kamu Elma atau Alma?"
"aku Elma" aku menyodorkan tanganku padanya.
"Kevin" dia menggenggam lama tanganku, oh sungguh terasa aliran darahku berdesir membuat badanku merinding.
"bisa aku minta nomer ponsel kamu?" seorang Kevin Wijaya yang tidak pernah meminta nomer ponsel gadis disekolah, kali ini meminta nomer ponselku, bagaimana apa harus aku beri atau aku harus tetap bersikap jual mahal.
"apa kamu akan menelpon jika aku memberikan nomer ponselku" sedikit aku tarik ulur untuk membuatnya penasaran.
Dia tersenyum, OMG begitu manisnya lesung pipinya begitu sempurna bentuknya ketika tersenyum, "apakah kamu berharap aku akan menelpon kamu?" ucapnya dengan santai.
Aku seperti terjebak sendiri oleh kata-kataku, sebelum tarik ulurku membuat putus benang kesempatan yang ada didepanku, akhirnya aku menghiraukan rasa jual mahalku.
"berapa nomer ponselmu biar ku miss call nomer aku"
"0811xxxxxx" dia menyebutkan dengan agak cepat.
"sebentar dong, agak dilambatkan" aku memohon dengan manja dia mengulang nomernya.
Aku menekan tanda menelepon dan nada sambung terdengar dari ponselku namun aku tidak mendengar suara telepon berdering.
"aku tidak membawa ponselku, nanti aku telepon balik kamu" dia berdiri dari duduknya, dan berjalan berlalu menuju penginapan, bentuk tubuh yang begitu sempurna terlihat ketika dia berjalan.
Hatiku masih merasa shok karena serangan mendadak berbincang dengan Kevin. Yes aku pasti akan mendapatkannya
......***sesuatu yang terlihat indah belum tentu akan membawa kebaikan****......
....... ****.......